Saling Meluapkan Hati

1054 Kata
Tamparan keras dari telapak tangan kanan Natalie mendadak menyerang pipi Sultan. Dia melakukan itu untuk menyadarkan luapan emosi Sultan yang sudah tidak terkendali. Kecemburuan yang sama sekali tidak beralasan itu, tidak bisa dia biarkan. Pertanyaan tentang kesucian dirinya, membuat emosi Natalie seketika keluar. Dia selama ini selalu menjaganya. Itu aturan mutlak baginya. Sebelum menikah, kesucian akan selalu dia jaga. Kini mereka saling diam. Hanya tatapan dan hembusan napas yang bisa bersatu. Natalie mendekatkan bibirnya. Sultan sedikit menjauh. Tuan Muda itu masih saja mengalami trauma dengan ciuman. Kedua tangan Natalie menahan erat. Dia mulai megeluarkan suara. “Aku menunggumu, kekasihku. Janji untuk betemu, membuatku sangat bahagia. Aku seharian menyiapkan semua. Bahkan aku rela bergelut di dapur untuk memberikanmu masakan hancurku.” Natalie semakin sendu mengingat peristiwa paling menyedihkan yang dia alami. Ditinggalkan sosok laki-laki impiannya. Sangat menyiksa batin. Dia mendekatkan keningnya hingga bersatu dengan kekasih pujaannya yang diam menatapnya. Wajah angkuh dan dingin, hilang seketika melihat kesedihan Natalie. “Hujan yang semakin deras, aku terobos. Dinginnya tubuhku, tidak membuatku menyerah. Aku berlari menikmati air hujan dalam senyuman bahagia. Hingga aku menggigil berdiri di bangunan itu menunggumu selama berjam-jam.” Kini wajah yang selalu ceria milik Natalie semakin tegang. Dia menahan air matanya. Menangis adalah hal yang juga dibencinya. “Aku terus mengamati jalan masuk dengan semua rumput alang-alang itu untuk menunggumu. Namun kau masih saja tidak datang. Suara keras terdengar dari belakang tubuhku dengan mendadak. Aku bersemangat untuk menolehkan pandanganku. Seketika, kekecewaanku semakin datang. Roy yang berada di hadapanku untuk mendekatiku. Kenapa bukan dirimu? Itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku.” Natalie kini menunduk lemas, melepaskan keningnya. Dia berkata, “Sultan harus mewarisi semua kekayaan Abraham. Dia tidak bisa denganmu, Natalie. Aku bertugas untuk menyampaikan ini kepadamu. Itu yang Roy katakan kepadaku. Kau tahu …” Natalie semakin memejamkan kedua matanya. Dia teringat dengan jelas hatinya ketika itu. Kotak berisi kue buatannya terjatuh seketika. Semua roti bergambar cinta dari bahan tepung dan mentega itu keluar dan basah terkena air hujan. Kue cinta yang dia buat, hancur, pecah, dan menebar bersama derasnya air hujan. “Aku saat itu hancur. Roy memelukku. Siapa yang bisa aku harapkan untuk bersandar? Dia yang berada di hadapanku. Awalnya aku tidak percaya, dan menamparnya. Namun, setelah aku menunggumu sampai pagi, aku baru mempercayai perkataan Roy. Itulah yang sesungguhnya.” Sultan memeluk Natalie. Di atas ranjang yang selalu saja membuat Natalie melamunkan sosok Sultan dalam lukisan, kini sangat nyata dia rasakan. Perasaan masing-masing sudah terluapkan. Kelegaan terlihat dalam wajah yang kini dihiasi senyuman. “Kaulah segalanya bagiku. Maafkan aku, Putri,” ucap pelan Sultan. Natalie memejamkan kedua mata, memajukan bibirnya. Sultan terkekeh pelan. Dia mengetahui jika Natalie sangat menginginkan ciumannya. Sultan diam, dan akan mencobanya. Saat bibirnya sudah akan menerima bibir tipis kemerahan di hadapannya, dia undur seketika. Sultan kembali mengingat ciuman yang dia paksakan di kantor saat Natalie tertidur. Dia awalnya menikmatinya. Namun, bayangan pelakuan kejam Devoni membuat bibirnya melepas mendadak. Keringatnya bercucuran, membuat napasnya sesak kembali. Sultan tetap akan melakukan jika saatnya tiba. “Mulutmu seperti ikan. Bergerak begitu. Maunya apa?” Wajah bersemu yang sudah siap menerima hangatnya bibir Sultan, menciut seketika. “Dasar pelit!” protes Natalie. Dia mendorong tubuh Sultan yang sedikit bergeser dari posisinya. Kini tubuh seksi yang semula di hadapan Tuan Muda menjauh dan menuruni ranjang. Natalie menatap nakas. Beberapa obat tertata rapi di sana. Senyuman kembali terhias di wajahnya. “Hmm, dia tidak menyukai obat. Akan aku paksa dia meminumnya. Saatnya balas dendam. Rasakan!” batinnya sembari melangkah mendekati meja kotak di pinggir ranjang itu. Perlahan jemarinya mengambil botol berisi kurang lebih sepuluh kapsul. Kini tubuhnya berbalik memandang Sultan yang masih terduduk di atas ranjang sambil menatapnya. Kedua tangannya ke belakang, semakin membuat Sultan curiga. “Kenapa? Kamu membawa sesuatu?” tanyanya menggeser posisinya untuk bisa menengok apa yang ada di genggamannya. “Tidak ada apa-apa,” jawabnya. Natalie melangkah pelan mendekati Tuan Muda yang masih memasang rasa penasaran. “Natalie Lethesia, aku sangat tahu kau menyembunyikan sesuatu. Dan … aku akan sangat marah jika kau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak aku sukai. Aku bisa menghukummu tanpa ampun, Natalie!” Sultan semakin kesal. Dia sama sekali tidak dihiraukan Natalie. “Buka Mulut!” Sontak kedua mata Sultan melotot. Dia akhirnya paham kalau obat pahit yang berada di tangan Natalie. Jemari lentik dengan cat kuku merah mulai bergerak. Membuat kapsul kecil kini berada di ujung dua jemari yang menjepitnya. “Baiklah, aku akan memaksamu, Tuan Muda,” katanya segera menaiki ranjang. Tubuh kekar yang semula terduduk, kini terlentang. “Kamu, tidak akan pernah aku biarkan memasukkan obat pahit itu!” “Diam, dan jangan pernah berbicara!” balas Natalie tengkurap di atas tubuh Sultan. “Tidak!” teriak Sultan saat  tangan Natalie memaksa memasukkan obat ke dalam mulutnya. Sultan menahan dengan tangan kirinya. Tapi … ada sesuatu yang membuat Sultan kaku, begitu juga dengan Natalie. Mereka diam mendadak saling menatap. “Gawat, dia mau menusukku,” Natalie merasakan sesuatu yang menegang menyentuh pahanya. Wajah Sultan yang kaku, kali ini tidak melakukan apapun. Dia hanya menelan saliva. “Hup!” Natalie tidak melupakan obat yang masih di jemarinya. Dengan cepat dia memasukkan ke dalam mulut Sultan dan menutup dengan kedua tangannya. Sultan tanpa sengaja menelannya. “Bagus, anak baik,” kata Natalie tersenyum, kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping. Dia segera menuruni ranjang, berdiri menarik napasnya. “Aku bukan anakmu!” protes kesal Sultan kini kembali mengangkat tubuhnya hingga terduduk. Natalie kembali dan menyodorkan Sultan air mineral yang dia ambil dari lemari es kecil di dalam kamarnya. Sultan segera meneguknya hingga habis agar rasa pahit obat yang dikunyahnya menghilang. “Kau menyebalkan, Natalie,” protesnya sekali lagi dan hanya dibalas senyuman oleh Natalie. “Besuk, akan aku ajak ke supermarket. Kita belanja. Sekarang, tidur,” kata Natalie masih tidak menghadap Sultan karena masih malu melihat sesuatu milik Sultan terlihat jelas menegang. Dia kini berjalan untuk menuju keluar kamar. “Hehhh, udah aku tutup. Balik!” Suara Sultan membuat langkah Natalie terhenti. Dia kini kembali masuk ke dalam ranjang. Mereka saling merentangkan tubuh menatap langit kamar. Natalie menarik guling dan meletakkan di tengah. “Aku tidak mau ada guling ini!” Sultan menarik dan membuangnya hingga jatuh ke lantai. Dia kini menarik Natalie ke dalam dekapannya, walaupun tangan kanan masih saja terasa perih. “Enak saja pakai pembatas. Menyebalkan,” katanya yang hanya mendapat lirikan Natalie.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN