Natalie terkejut melihat Sultan menarik semakin mendekapnya.
"Sultan mah bebas. Apapun dilakukan. Jangan sampai kau melakukan hal diinginkan. Nanti aku hamil, bagaimana aku mengatakan kepada anakku jika dia mengetahui dirinya anak diluar nikah," kata Natalie sewot. Sementara Sultan menatapnya, lalu tertawa.
"Hahaha. Dia akan berterima kasih kepadamu. Karena menjadi anakku. Dia akan bangga mengetahui jika ayahnya adalah Sultan," balas Sultan semakin membuat Natalie kesal. Dia mendorong tubuh Sultan namun tidak berhasil. Sultan masih saja menahannya.
“Besuk aku mau belanja. Jika masih tidak kuat, biar Samuel yang mengantarku.”
“Aku kuat, dan akan mengantarmu!” jawab tegas Sultan sedikit melepaskan dekapannya dan menatap wajah Natalie yang mengernyit.
“Kamu, kapan terakhir belanja? Oh, Tuan Muda tidak pernah berbelanja. Haha, aku lupa,” kata Natalie membuat Sultan memutar bola matanya. “Aku berbelanja, kok. Hmm, perusahaan penerbangan, dan beberapa gedung yang akan aku buat pusat perbelanjaan baru. Lalu—” Natalie menutup mulut Sultan mendadak.
“Hmm, itu bukan belanja namanya. Dasar sok kaya,” ucapnya kesal.
Sultan melepas jemari Natalie yang masih menutup mulutnya. “Aku sangat kaya, dan itu nyata. Satu menit saja uangku bertambah sebesar gajimu sebulan.” Natalie memasang wajah melongo.
“Jadi, aku menikahi bos, dari bosnya para bos?” tanyanya lemas.
“Yup! Udah, aku mau tidur!”
Kini mereka telelap di atas ranjang dengan saling berpelukan. Di kamar sebelah, Samuel masih saja mengamati mereka melalui kamera cctv yang terpasang di setiap sudut ruangan kecuali kamar mandi. Dia bersama kedua pengawal yang Jovanka utus untuk mendampinginya menjaga Sultan. Samuel memasangnya tanpa sepengetahuan Sultan. Jovanka memerintahkannya, karena dia tidak mau Sultan mengalami bahaya. Mata elang Samuel harus selalu menngamatinya.
“Sam, kau sebaiknya beristirahat. Biarlah kami yang mengamati mereka,” ucap salah satu pengawal yang membuat Samuel mengangguk dan akhirnya berjalan masuk ke dalam kamar. Dia mengganti semua bajunya, dan akhirnya terlelap.
***
Pagi menjelang. Natalie mulai terbangun setelah sinar yang menyerang itu membuatnya sedikit berkeringat. Dia perlahan membuka kedua matanya. Pandangannya mengarah semua sudut ruangan dan tidak melihat sosok Sultan. “Di mana dia?”
Natalie menuruni ranjang, segera mencari semua ruangan dan masih saja tidak menemukannya. “Dia selalu saja seprti itu. Menyebalkan! Menghilang tanpa kabar. Kekasih berengsek!” teriaknya kesal sembari mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Natalie membuka bajunya. Dia masih saja menguap. Kini tangan kanannya mulai membuka selambu putih yang menutup air shower.
“Kreeek!”
Dua pasang mata saling melotot tajam. Bola mata masing-masing menyorot sosok di hadapannya yang sama-sama polos. Seketika mereka kaku tidak bergerak. Natalie tidak menyangka Sultan sebenarnya sedang berada di dalam kamar mandi.
“Itu, kekar, panjang, tegang, dan aku ….” Natalie terus mengawasi sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.
“Dia, kenapa tidak mengetuk? Apa memang ingin mandi denganku? Tubuhnya sangat indah. Tapi milikku ….” Sultan mengernyit.
“Tidakk! Arghhh!” teriak mereka bersama-sama. Spontan tangan Sultan menarik kelambu untuk menutupi dirinya. Sementara Natalie membalikkan tubuhnya dan mengambil handuk kemudian dililitkan di tubuhnya.
“Hah, aku ternodai oleh laki-laki. Tubuhku sudah tidak suci! Argh!” Natalie semakin menegluarkan pekikan khasnya.
“Sudah diam! Kamu memejam, aku akan keluar!” kata Sultan sedikit berteriak. Natalie segera menutup kedua mata. Sultan berjalan keluar dengan sedikit tersenyum.
“Tidak aku sangka, akhirnya dia melihatku polos,” katanya terkekeh.
Waktu berjalan selama satu jam. Setelah kejadian memalukan itu, mereka saling memalingkan wajah.
“Katanya mau belanja?” tanya Sultan yang akhirnya memberanikan diri menatap Natalie yang terus berusaha tidak melihatnya. Tanpa menjawab, Natalie meraih dompet. Kali ini dia tidak membawa tasnya.
“Hmm, masih tidak mau berbicara? Gara-gara melihat menara? Kamu pasti akan menikmatinya juga, nanti.” Candaan pertama kali Sultan yang membuat Natalie terkejut. “Hmm, kekasih berengsekku kini bercanda? Aku suka,” jawabnya dengan suara mendesah manja. Sultan kembali tersenyum. Natalie menarik tangan dan mengajak keluar kamar.
Samuel segera menyapanya di depan pintu kamar. Dia sudah siap siaga dengan penjagaannya terhadap Tuan Muda. “Anda selalu saja segar, tuan Muda. Begitu juga dengan Anda, Nona Nat,” sapa Samuel.
“Tentu saja, kami selalu segar,” jawab Natalie. Sementara Sultan hanya diam tanpa ekspresi. Tangannya menarik lengan kurus Natalie. Dia mulai melangkah menuju pintu pintu lift yang sudah terbuka. Di dalam, Sultan masih tidak menyapa Samuel. Dia kesal karena membiarkan dokter memberikan obat yang sangat dibencinya. Samuel yang sebenarnya sangat tahu, masih diam dan tidak berkomentar. Itu semua dia langgar untuk kebaikan kesembuhan Sultan.
Pintu lift terbuka. Langkah kaki bersamaan keluar dari dalam untuk menuju mobil yang sudah siap melaju di depan pintu keluar. Sultan menghentikan langkah. “Hmm, Sam! Aku mau naik mobil VW Natalie. Siapkan!”
“Tuan, lebih baik denganku karena lengan Anda masih terluka,” balas Samuel. Sultan mendekatinya dengan pandangan dinginnya yang kembali melekat.
“Siapkan!” katanya singkat.
Samuel menarik napas, mengangkat tangan kanannya agar pengawal yang juga ikut dengannya mendekat. Dia membisikkan perintah Sultan. Pengawal mengangguk, dan melakukannya. Mobil Natalie yang semula terparkir di basement, sudah melaju di hadapan Natalie yang tersenyum seketika.
“Mobilku yang cantik. Aku akan mengendaraimu,” ucapnya menyodorkan telapak kanannya agar pengawal memberikan kuncinya. Dia semakin tersenyum saat kunci sudah didapatkannya.
“Sam, aku yang mengendarai. Kau, jangan kawatir oke!” Natalie menarik lengan kiri Sultan yang tidak berbalut perban. Mereka segera masuk ke dalam mobil. Sementara Samuel mengarahkan tangannya kembali agar kedua pengawal ikut mengikuti Sultan di dalam mobil yang akan dia pakai.
“Ikuti mereka! Jangan melepaskan pandangan!”
“Baik.”
Kini mobil melaju cepat. Natalie mengendarai dengan lumayan kencang. Sultan tersenyum senang melihatnya. “Kau sangat hebat, Wanita Genit,” katanya mendapat senyuman balasan dari wajah wanita di depan kemudi.
Kini mereka sampai di supermarket mini. Sultan menatapnya dengan mengernyit. “Ini apa?” tanyanya penasaran. Natalie melepaskan sabuk pengaman. Dia segera keluar, berjalan memutar. Kini dia membuka pintu mobil Sultan.
“Tuan Muda, ini supermarket. Oke! Ayo keluar!” Natalie mengulurkan tangannya. Sultan tidak menerimanya. Dia sedikit memiringkan tubuhnya ke kanan, untuk melihat jelas toko yang sama sekali tidak pernah dia kunjungi itu karena terhalang tubuh Natalie. Spontan Natalie mengikuti gerakan Sultan. “Eh, kok malah gitu sih! Ayo, masuk!” Tangan kurus mulus itu akhirnya menarik lengan kekar kiri yang menurutinya.
Samuel yang sudah memarkirkan mobil, ikut masuk ke dalam supermarket. Dia terus mengamati dari kejauhan.
“Ini adalah toko langgananku. Aku sering berbelanja di sini,” ucap Natalie. Dia mengambil keranjang dan memasukkan semua barang yang ingin dia beli. Sultan berjalan mengambil beberapa snack yang memang tidak pernah dia makan sama sekali.
“Tidak enak!” ucapnya meletakkan begitu saja snack yang sudah dibuka dan mengambil yang lain.
“Ini juga tidak enak,” katanya sekali lagi dan melakukan hal yang sama.
Samuel di pintu masuk, mendapati ponselnya yang berdering. Dia menengok Sultan yang asik membuka semua snack dengan seenaknya sendiri. Samuel mendekati salah satu pelayan yang sedikit emosi melihat kelakuan Sultan. “Aku akan membayar semuanya. Jangan kawatirkan itu. Total saja berapa biayanya.” Pelayan itu tersenyum lega mendengar apa yang Samuel katakan. Kini Samuel kembali menengok Sultan untuk memastikan dia dalam keadaan aman sebelum keluar menerima panggilan dari Jovanka.
Natalie masih saja sibuk dengan isi keranjangnya. Hingga kedua matanya melotot melihat semua sncak terbuka dan tercecer begitu saja di lantai. “Bos! Ini belum dibeli kenapa seperti ini?” protesnya mengembalikan snack yang hampir saja dibuka Sultan.
“Aku mau mencoba semua kue ini, dan aku akan membeli supermarket ini jika kau suka,” kata Tuan Muda semakin membuat Natalie melongo hingga bibirnya terbuka. Dia menggeleng cepat sambil memejam untuk memusatkan pikirannya kembali.
“Bos, tidak boleh!” ucapnya singkat dengan jari telunjuk mengarah tepat di wajah Sultan. “Bos, aku mau ke toilet. Kebelet. Jaga belanjaanku, dan jangan mengambil apapun atas seijinku!” Natalie menurunkan jarinya. Kini dia berjalan cepat menuju toilet.
“Aku sama sekali tidak pernah memakan semua makanan ini. Apakah aku tinggal di dunia lain?” gumamnya mulai akan mencari makanan jenis lain.
“Siapa?” Sultan tersentak saat lengan kirinya tersentuh jemari yang membuatnya begidik. Dia langsung menoleh.
“Kau …”
Napasnya mendadak sesak. Kecepatan jantungnya meningkat drastis. Sosok laki-laki yang sangat dibencinya ada di tepat di hadapannya. Sedikit sentuhan yang dia berikan, membuat Tuan Muda ingin meledak dengan kemarahan. Sultan tidak percaya sosok itu bisa masuk ke dalam padahal ketiga pengawal hebatnya menjaga di depan.
“Devoni!”