Senyuman itu dengan jelas terpampang di sana. Devoni perlahan mendekati Sultan yang mengepalkan kedua tangannya. “Kau sangat tampan. Aku merindukanmu, adikku,” ucap Devoni pelan sembari tersenyum tipis.
“Aku bukan adikmu. Pergilah dari hadapanku, atau Samuel akan menyiksamu,” balas Sultan masih bergemetar.
“Hmm … oh, Samuel? Aku juga merindukannya.” Sultan merasakan sesak. Jantungnya semakin kencang. Dia masih bergeming kaku. Ingatan masa lalu kembali hadir. Otaknya terselimuti kenangan buruk yang sudah dia lupakan sejenak, namun kini tampil kembali.
“Aku akan memilikimu, adikku.” Devoni perlahan mengangkat jemarinya, menyentuh wajah Sultan yang sudah berkeringat.
“Hentikan … aku bilang …” Suaranya mulai tersendat. Kedua matanya memejam. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Alisnya mulai mengkerut. “Aku bilang …” Sultan masih saja melawan rasa takutnya. Sementara jemari Devoni masih saja mengikuti pola wajah tampan Sultan.
“Aku bilang hentikan!”
Sultan menampis tangan Devoni dan menamparnya. “Plak!”
“Merdu sekali suara tangisan itu. Hah, aku akan memilikimu, segera,” ucap Devoni tersenyum sembari membelai pipinya yang memerah. Sultan terduduk, sembari memegang kepala dengan menggeleng keras.
“Tidak! Argh!”
“Sultan?” Natalie berlari memeriksa semua lorong. Dia semakin kebingungan tidak menemukan kekasihnya.
“Tuan Muda!” teriak Samuel. Natalie berlari mendekatinya. Mereka saling menatap tajam.
“Di mana dia, Samuel? Aku mendengar suara teriakan. Samuel!” Natalie berteriak keras saat Samuel meninggalkannya begitu saja. Natalie melempar keranjang yang semula masih saja dia genggam. Dia berlari keluar dari supermarket, mengedarkan pandangannya ke semua arah.
“Kekasihku, kau di mana?” gumamnya tidak peduli air hujan menderas menerpa tubuhnya. Natalie menerobos rintikan hujan bercampur angin yang menghalangi pandangannya. “Sultan!” teriaknya keras. Dia masih saja memutari jalanan yang lumayan sepi. Semua pejalan kaki berteduh dan mengamatinya.
“Kenapa dia seperti ini?” gumamnya gelisah tiada henti. “Sultan!” teriak Natalie sudah mulai putus asa. Tubuhnya ‘pun, sudah mulai menggigil. Kedua tangannya mengerat di lengan. Pandangannya masih berusaha menatap tajam semua arah berharap menemukan Sultan.
“Argh!”
“Sultan?”
Natalie kembali berlari saat mendengar teriakan di belakang sebuah pohon besar di tengah taman kota. Natalie terhenti ketika melihat Samuel dan beberapa pengawal hanya berdiri menatap Sultan berteriak histeris sambil tertunduk.
“Jangan pernah menyentuhku, Samuel. Dia datang dan mengatakan jika aku miliknya. Dia akan mengambil diriku. Aku tidak bisa berbuat apapun di hadapannya. Tubuhku kaku, Sam. Aku … aku membencinya! Argh!”
Plak!
Natalie spontan datang, mendekat dan menampar Sultan dengan keras. Kedua mata Sultan melotot tajam melihat Natalie yang masih berdiri di hadapannya.
“Aku akan menyelamatkanmu, Bos. Percayalah,” ucap Natalie pelan. Perlahan dia melangkah, mendekati Sultan dan memeluknya. Natalie melirik Samuel agar segera mendekatkan mobilnya.
Dengan cepat Samuel melakukannya. Natalie menarik tubuh Sultan, untuk masuk ke dalam mobil. Natalie menarik napas, merasa resah dengan apa yang dilihatnya. Dia segera meraih kotak tisu, mengambilnya beberapa lembar.
“Seperti anak kecil saja menangis,” ejek Natalie mencuri perhatian Sultan yang kini menatapnya tajam.
“Kau mau melucutiku?” tanya Sultan saat Natalie membuka semua kancing bajunya. Natalie masih diam dan tetap membuka kemeja Sultan yang sangat basah.
“Kau merabanya. Apa yang mau kau lakukan?” Natalie menghentikan gerakannya. Dia menepuk jidat, lalu kembali menatap tajam.
“Iya. Aku mau melakukannya. Sekarang, bagaimana jika kita menyatukan bibir kita. Mmmuuahh!” Sultan segera memalingkan kembali wajahnya saat Natalie memajukan bibir di hadapannya. Natalie berani melakukannya karena memang dia sangat tahu jika Sultan tidak akan menerima ciuman itu karena trauma.
Natalie tersenyum, mulai membersihkan semua air hujan yang masih menempel di tubuh Sultan. “Kekar banget sih. Gimana aku bisa tahan dengannya. Apalagi basah begini. Gemas sekali,” batinnya tersenyum.
“Kenapa senyum-senyum sendiri? Tidak jelas!” Sultan semakin membuat Natalie terkekeh. “Hehehe. Pengin makan roti sobek. Roti yang kena air hujan,” jawab Natalie sembari mengedipkan salah satu matanya.
“Apakah kamu selalu genit seperti ini dengan semua laki-laki?” tanya Sultan mulai ketus.
“Tentu saja,” jawab singkat Natalie.
“Natalie!” teriak Sultan mendadak menarik tubuh Natalie. “Katakan, siapa nama laki-laki itu. Akan aku congkel kedua matanya! Sam, cari semua laki-laki yang pernah menerima kedipan wanita genit di hadapanku ini!”
Natalie menarik napas. Semakin memeluk tubuh kekar Sultan yang kini polos. “Bos. Jangan seperti tadi, ya. Aku takut,” rengek Natalie membuat Sultan melepaskan pelukannya seketika.
Sementara Samuel, segera menghubungi pihak Black Room untuk memeriksa yang sebenarnya terjadi. Dia saat itu menerima telepon dari Jovanka. Samuel meninggalkan supermarket dan menerima panggilan itu di luar. Jovanka sangat kebingungan ketika mendapat teror di ponselnya. Sebuah pesan yang mengatakan jika Sultan akan segera diambilnya.
Para pengawal yang berjaga tidak mencurigai Devoni yang tanpa sadar melewati mereka dengan memakai kaca mata dan topi hitam. Dia menunduk, berjalan sambil menggandeng anak kecil yang kebetulan bersama kedua orang tuanya yang memarkir mobil di sebelah mobilnya. Devoni mengambil kesempatan itu untuk memasuki toko bersama mereka dengan menggandeng anak mereka. Rencana cerdas Devoni membuat Sultan terkejut, terlebih Samuel yang berhasil dikecohnya.
Sultan segera keluar dari mobil saat sopir mulai menepikan sedan hitam mewah itu di parkiran apartemennya. Natalie terkejut, bergegas mengikutinya. "Bos! Kenapa cepat sekali?" Dia terus berusaha mengejar kaki jenjang Sultan hingga mereka kini memasuki lift disusul Samuel.
“Tuan Muda. Besok Nyonya Jovanka akan mengatur jadwal Anda menemui psikiater itu. Saya harap, Tuan menerimanya. Ini demi kebaikan, Anda,” kata Samuel membuat Natalie terkejut.
“Psikiater? Apakah itu perlu?” Samuel memicingkan kedua matanya, membuat Natalie menutup mulutnya. Sementara Sultan hanya terdiam, melangkah cepat menuju kamar saat pintu lift terbuka.
Natalie menarik lengan Samuel saat Sultan memasuki kamar. “Sam. Siapa yang melakukan ini? Aku harus mengetahuinya,” bisik Natalie namun Samuel menggelengkan kepala.
“Hmm, kau tidak mau mengatakannya? Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri!” balas Natalie ketus, kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Dasar pengawal tidak tahu diri. Emangnya, siapa dia yang berani seperti itu? Hah, tentu saja dia akan merahasiakan. Aku benar-benar bodoh!” gumamnya kesal tanpa henti.
Natalie menghentikan gerakannya saat mendengar ponselnya berdering di dalam tasnya. Dia segera mengambilnya. Kedua alisnya mengkerut dalam mengamati nomor tidak dikenal ada di layar ponselnya.
“Siapa ini?” batin Natalie, kemudian mengangkatnya.
“Halo, Natalie cantik membahana di sini. Ini siapa. Di mana, dan kenapa menghubungiku? Nama An--” Natalie menghentikan ucapannya saat mendengar suara yang sangat tidak asing baginya.
“Kau Natalie? Aku adalah seseorang yang kau cari. Kita bisa bertemu malam ini. Apa kau tidak penasaran denganku?”
“Devoni?”
Sultan menatap Natalie yang terdiam kaku, spontan membalikkan tubuhnya. “Aku akan menemuimu. Kirim alamatnya,” bisik Natalie kemudian menutup ponselnya dan membalikkan tubuhnya kembali.
“Hah!” Kedua matanya membelalak melihat Sultan hanya menutupi tubuh bawahnya dengan handuk.
“Kenapa seperti ini? Kan, takutnya … sesuatu tidak diinginkan terjadi?” gumamnya sembari mengigit bibirnya. Sultan menggeleng kesal, perlahan mendekatinya.
“Siapa yang menghubungimu? Katakan!” Natalie terkejut Sultan merebut ponselnya.
“Jangan!” Natalie mengulurkan tangannya. Dia tidak mau Sultan melihat isi pesan yang ada di dalam ponselnya. Apalagi itu adalah pesan yang dikirim Devoni.
“Kenapa? Kamu takut aku mengetahui kamu selingkuh?”
Natalie berusaha merebutnya kembali namun gagal. Sultan mengangkatnya tinggi. Sedangkan tinggi Natalie yang sebatas pundaknya, hanya bisa melompat untuk mendapatkannya, namun gagal.
“Tuan Muda tampan mempesona, berikan anak manis,” kata manja Natalie dengan meringis.
“Aku bukan anakmu!”
Natalie geram, menarik napas untuk menenangkan hatinya. Sultan mengernyit melihat ekspresi wajah Natalie.
“Aku bilang berikan!” bentak Natalie membuat Sultan semakin marah.
“Kau wanita genit!” balasnya.
Natalie semakin menahan amarah. Dia menarik tubuh Sultan dengan cepat. “Kau, Tuan Muda mengesalkan!” Kedua matanya mendadak melotot karena melihat sebuah menara sangat tegang terlihat dengan jelas di hadapannya. Tanpa sadar Natalie menarik sesuatu yang membuat dia melihatnya.
“Hah, itu ukurannya …”
“Argh!”