Pesan Di Ponsel

1250 Kata
Natalie tidak segera menolehkan pandangannya. Dia masih kaku seperti patung. Semua terlihat jelas di hadapannya. Namun Sultan masih saja berdiri tidak segera menutupnya kembali. Dia malah berkacak pinggang di hadapan Natalie. “Kau … apa yang sudah kau lakukan? Apa ini yang kau inginkan?” tanya Sultan membuat Natalie tersadar dan akhirnya menutup kedua matanya. Dia menggeleng keras sembari mengulurkan kedua tangannya. “Aku … aku tidak sengaja. Aish! Apa yang sudah aku lakukan? Memalukan, Natalie …,” gumamnya pelan. “Tanggung jawab!” bentak Sultan membuat Natalie menunjukkan jarinya tepat di milik Sultan yang masih terlihat. “Ama itu?” tanya Natalie menelan saliva. Dia menggeleng kembali, berusaha memfokuskan pandangannya. “Aku akan bertanggung jawab dengan menutupnya kembali,” katanya cepat sambil meraih handuk yang tergeletak di lantai. Natalie menutup kedua matanya, mendekati Sultan yang terkekeh pelan. “Untuk apa menutupinya? Kau sebelumnya sudah mengetahuinya.” Natalie tidak melakukan perkataan Sultan. Dia terus menutupi milik Sultan dengan handuk. “Sekarang katakan. Siapa yang kau hubungi tadi?” tanya Sultan kembali berkacak pinggang. Natalie masih diam, sedikit bersenyum. Dia memikirkan cara untuk mengatakan alasannya. “Katakan, gadis genit,” kata Sultan sekali lagi. Dia kali ini mendekati Natalie yang masih melotot di hadapannya. “Aku, tidak dengan siapa-siapa. Itu sahabatku, Cantik. Kau ingat, dia mantan Samuel,” balas Natalie membuat Sultan menghentikan langkah. Natalie menguap tiba-tiba. “Huaa. Aku sangat mengantuk. Kita sebaiknya tidur saja. Badanku pegel, mulutku capek, tanganku nyilu, kepalaku pusing, perut--” Sultan menutup mulut Natalie dengan jemari kanannya. “Kau itu selalu saja berisik. Tapi aku tidak ingat siapa itu, Cinta. Dia siapa, dan apa hubungannya dengan Samuel, aku tidak mengingatnya. Sudahlah, aku mau tidur.” Natalie mengangkat pucuk bibirnya. Dia geram melihat Sultan masih saja berpura-pura tidak mengingatnya. “Dasar, sok pelupa,” gerutunya. Namun beberapa saat Natalie tersenyum mengingat apa yang barusan dilihatnya. “Hihi. Kenapa aku merasa panas? Tidak aku sangka miliknya sangat … ah, sudahlah. Kenapa aku berpikiran gila?” Dia kembali berjalan dan memasuki kamarnya. Natalie mengendap pelan, memastikan Sultan sudah tidur. Di ingin sekali menemui Devoni yang sudah melakukan janji dengannya untuk bertemu. “Natalie, aku tahu kau mengintip. Jika kau ingin melihatnya, aku bisa membukanya kembali. Sekarang masuk, dan tidurlah. Sebelumnya ganti dulu bajumu. Kau pasti sangat bau,” gerutu Sultan. Natalie sontak melotot, segera melangkah masuk ke dalam kamar. “Aku, Natalie membahana dan menggelora, pasti tidak akan bau! Itu adalah hal yang sangat membuatku jelek,” ucapnya lemas segera berjalan memasuki kamar mandi dan menutup pintu dengan keras. “Brak!” Natalie berjalan mondar-mandir di dalam. Dia masih memikirkan cara untuk keluar dari apartemennya tanpa ada yang mengetahui. Apalagi Samuel dengan semua pengawal mengamati mereka dengan ketat. “Bagaimana aku bisa membuat Bos tertidur?” gumamnya. Dia terkejut mendengar Sultan mengetuk pintunya keras. “Tok, tok!” “Nat, keluar! Lama sekali mandinya?” Natalie masih saja memandang wajahnya di wastafel. Dia menarik napas, sejenak menenangkan hatinya. Dengan cepat dia menyalakan air shower dan memutarnya keras. “Aku masih mandi, Bos!” balasnya segera menyegarkan tubuhnya. Natalie tidak akan berlama-lama di sana. Dia memutuskan untuk segera berpakaian dan keluar. “Lama sekali. Kamu tidur di sana?” Sultan menggeleng dan menarik tubuh Natalie Hingga masuk ke dalam selimut dan mendekapnya. “Kenapa wanita selalu menyukai kamar mandi?” tanya Sultan sekali lagi. Natalie mendorong tubuhnya, dan menatapnya kesal. “Kamar mandi itu syurganya wanita. Menyebalkan sekali. Jika aku memasukinya, jangan pernah diganggu! Gara-gara kamu, aku selalu saja terburu-buru di sana,” balasnya kesal sembari bersedekap. “Bedanya apa, kamu lama atau tidak. Sama saja wajahnya,” gumam Sultan semakin mendapatkan lirikan tajam Natalie. “Apa? ulangi sekali lagi! Das--” Natalie terdiam saat Sultan mendekatkan wajahnya hingga hidung lancip mereka bersentuhan. “Aku ngantuk. Tidak perlu memajukan bibir. Aku tidak akan menciummu.” Sultan spontan memasang wajah cemberutnya. Ciuman yang selama ini ditunggunya, selalu saja gagal. “Menyebalkan, dasar pelit!” gerutu Natalie akhirnya mendekap Sultan. Natalie berpura-pura memejamkan kedua matanya. Dia terus melirik jam, dan berharap Sultan bisa tertidur lelap. Namun Sultan sepertinya sangat gelisah dan selalu saja bergerak. Itu membuat Natalie tidak bisa menemui Devoni tepat waktu. “Bos, kenapa ga bisa tidur? Apa yang harus aku lakukan?” Sultan membuka selimutnya, dan menyingkirkannya. Dia menatap Natalie tajam. “Bos, apa kau perlu sesuatu?” tanya Natalie membelai wajah Sultan dengan lembut. “Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku sangat takut kalau dia tiba-tiba masuk ke dalam sini,” jawab Sultan gelisah sembari mengamati jendela kaca. Natalie menarik napas, menarik tubuh Sultan dan memeluknya. “Aku tidak akan membiarkan dia masuk, Bos. Aku akan menolongmu melupakan dia.” “Bagaimana bisa kau menolongku? Tubuhmu kecil,” ejek Sultan. Natalie kembali bersedekap menatap Sultan kesal. “Oh ya! Lihat saja nanti. Aku akan memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian, dan akan memasaknya!” jawaban Natalie spontan membuat Sultan melotot. “Kau kejam sekali. Bahkan lebih kejam dari dia.” Sultan terkekeh sambil menggeleng. “Yah! Aku kejam. Sekarang, tutup kedua matamu itu dan tidurlah anak bandel!” “Aku bukan anakmu!” Natalie menarik selimut dan kembali merebahkan tubuhnya. Sultan kali ini tidak memeluknya. Dia malah memalingkan tubuhnya. Natalie sangat senang Sultan melakukan itu walaupun dia tahu Sultan melakukan itu karena gelisah. Dia tidak akan bersusah untuk berusaha melepaskan tangan Sultan yang selalu dengan kuat mendekapnya. Setelah beberapa menit, dengkuran mulai terdengar. Natalie perlahan membuka selimut dan menatap Sultan yang memang sudah terlelap. Dia menarik napas lega. Namun dia masih memikirkan cara untuk melewati semua pengawal yang berjaga di depan kamarnya. Apalagi Samuel pasti memasang kamera cctv di kamarnya. “Bagaimana aku bisa kabur dari situasi ini?” Natalie menunduk, dan terus berpikir. Samuel di kamar sebelah berdiri tegak, memandang Natalie yang sangat mencurigakan melalu layar yang terhubung dengan kamera cctv. “Kenapa Nona seperti itu?” batinnya. Natalie tersenyum, menemukan sebuah cara setelah beberapa menit berpikir. Dia dengan santai menuju kamar mandi dan mengganti pakaian. Dia meraih mantel seperti biasa. Samuel mengarahkan pengawal untuk menjaga kamera cctv dan mengamati Sultan. Sementara dirinya berjalan keluar kamar dan menemui Natalie yang sudah keluar kamar. “Nona, Anda mau ke mana?” tanya Samuel tegang. Natalie tersenyum ke arahnya. “Aku mau membeli sesuatu yang sangat aku perlukan. Kau tahu, kan?” Natalie melangkah mendekati Samuel, dan menatapnya. “Cairan merah itu keluar. Apakah aku harus menunjukkanmu? Kamu mau lihat? Apakah aku harus membukanya. Kau--” “Pergilah! Beberapa pengawal akan mengantar Anda,” jawab Samuel kemudian memasuki kamar kembali. Natalie tersenyum puas rencana dia berhasil. Dia segera berjalan, dengan dua pengawal yang akan mengikutinya. Natalie mengambil ponselnya, dan membalas pesan Devoni di dalam mobil yang sudah melesat. “Aku menuju ke sana,” ucapnya sangat pelan. Dia segera menutup ponselnya dan memajukan tubuhnya. “Supermarket itu. Kita ke sana. Aku mau membeli keperluan wanita.” Pengawal mengangguk, segera menuju ke sana atas perintah Natalie. Dengan bergemetar, Natalie berusaha untuk membuat dirinya tenang. Hingga dia sampai di supermarket. “Aku mau membeli pembalut. Apakah kalian harus mengikutiku?” Kedua pengawal yang duduk di kursi depan mobil, saling menoleh. “Aku hanya melewati satu pintu dan akan keluar dari pintu yang sama. Apa yang harus dikhawatirkan?” “Baiklah, Nona. Kami akan menunggu Anda. Kami harap Anda bisa cepat.” Natalie hanya diam tidak membalasnya. Natalie segera keluar mobil saat kedua pengawal itu menganggukkan kepala. Dia berjalan tegang hingga menuju ke pojok lorong. “Ke mana dia?” batin Natalie masih mengedarkan pandangannya. Hingga dia terperanjat. “Kau? Kok bisa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN