Natalie terkejut melihat Samuel di belakangnya. Dia tidak menyangka jika pengawal Sultan itu akan dengan cepat mengetahuinya. Namun Natalie resah jika Devoni tidak akan menemuinya jika mengetahui Samuel menghampirinya.
“Samuel, kau harus pergi dari sini. Jika tidak, aku tidak akan bisa menemuinya. Ini sangat penting buat aku. Devoni akan membantuku mengetahui semua rahasia Sultan,” kata Natalie namun masih tidak mendapat respon Samuel.
“Samuel, jangan pernah menghalangiku. Aku mohon,” pintanya sekali lagi. Samuel akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah, Nona Natalie. Namun aku menunggumu di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau jangan pernah melakukan apapun yang bisa membuat dia marah. Akan sangat membahayakan dirimu,” kata Samuel membuat Natalie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Samuel segera meninggalkan Natalie yang tetap diam di posisinya. Samuel yang kali ini mengenakan kaos biasa dan celana jeans dengan topi dan kaca mata, tidak membuat Devoni mengetahui jika itu adalah pengawal yang sangat dibencinya. Dia tanpa sadar melewati Samuel saat memasuki toko. Samuel diam dan terus berjalan seperti pengunjung lainnya.
Natalie terkejut sosok laki-laki bertubuh kurus semampai menatapnya berjarak sepuluh langkah. Kulitnya sangat putih bersih, bahkan terlihat gagah. Natalie tidak menyangka Devoni sama sekali tidak etrlihat menyeramkan. Pemuda baik-baik dengan berkaca mata, itulah yang terlihat. Perlahan Natalie mendekatinya. Mereka saling bertatapan.
“Devoni, apakah itu kau?” tanya Natalie pelan. Devoni mengembangkan senyumannya. Natalie menelan saliva menahan tubuhnya yang bergemetar.
“Baiklah, apa yang harus aku ketahui, Devoni?”
Devoni melangkah semakin mendekatinya. Dia menatap Natalie dari atas sampai bawah. “Kita keluar, dan berbicara di dalam mobilku. Aku memaksamu. Ingat, aku tidak menyukai perempuan. Jadi kau bisa tenang. Namun aku menyukai cairan merah di tubuh manusia. Itu merupakan seni buatku.”
Natalie terdiam mendengar perkataan Devoni sekaligus ancaman buatnya. “Baiklah,” balas Natalie. Mereka akhirnya berjalan menuju mobil sport kuning yang biasa Devoni kendarai. Natalie sedikit mengamati semua arah dengan diam-diam. Dia ingin memastikan Samuel tidak terlihat. “Syukurlah, mereka tidak terlihat,” batin Natalie merasa lega.
Di dalam mobil, mereka masih saja diam menatap. Natalie memutuskan untuk memulai percakapan. “Devoni. Apa yang kau inginkan?” tanya Natalie pelan. Devoni terkekeh mendengarnya. Namun beberapa detik seperti biasa, kekehan itu berubah menjadi kaku kembali. Tatapan tajam kembali terlihat.
“Aku menginginkan Sultan. Dia milikku sejak awal. Kenapa kau merebutnya?” katanya pelan dengan wajah dingin bercampur senyuman mengerikan. Kedua mata hitamnya menatap Natalie seolah mangsa untuknya. Natalie menarik napas panjang, berusaha untuk mengatur hatinya.
“Aku adalah pacarnya sejak sekolah. Apa kau lupa? Sudah jelas aku yang mendahului kamu, Devoni,” balas Natalie spontan membuat Devoni memukulkan telapak tangan di kemudi. Natalie terperanjat seketika. Dia semakin tergang menatap Devoni.
“Devoni. Kau jika mencintainya, kenapa menyiksanya? Seseorang yang saling mencintai itu tidak pernah menyakiti. Kenapa kau melakukan itu. Dengan begitu kau akan dibencinya seumur hidupmu.” Natalie memberanikan diri mengatakan hal itu. Devoni masih diam menatapnya tajam. Namun beberapa menit kekehan semakin keras terdengar.
“Merasakan cairan itu dan mendengarkan teriakannya, adalah kesukaanku. Aku semakin mencintainya jika mendengar itu. Aku hanya ingin selalu berada di sampingnya. Aku membutuhkan dia. Kau tahu …” Natalie semakin resah Devoni mendekatkan wajahnya. Kini jarak wajah mereka hanya dua senti saja. Napas Devoni terdengar keras. Natalie masih bergeming berusaha mengatasi situasi mengejutkan ini.
“Aku hanya ingin memilikinya. Kau sudah menghancurkan impianku, Natalie Leteshia!” teriaknya tiba-tiba. Tangan Devoni menarik kepala Natalie dan mencengkeram lehernya. Natalie semakin ketakutan, namun dia masih saja berusaha tidak memperlihatkannya.
“Aku akan menyingkirkan siapa saja yang akan menghalangiku untuk mendapatkan Sultan kekasihku,” lanjut Devoni semakin membuat Natalie kesakitan hingga tidak bisa bernapas dengan benar. Dia mulai sesak.
“Dia kekasihku, Devoni. Kita pasangan normal. Kau tidak akan aku biarkan kau melakukan itu. Aku akan mencegahnya. Kau …” Natalie berusaha menahan lehernya yang semakin sakit. Bahkan dia sekarang kesulitan bernapas. “Ti-dak … a-kan bisa mendekatinya,” sambung Natalie membuat Devoni kini mencekik dengan kedua tangannya.
“Kau, sudah membuatku marah. Cairan merah di tubuhmu ini, akan aku ambil dan aku minum. Aku pastikan kau akan menghilang,” balas Devoni namun Natalie tertawa sembari menahan napasnya yang tersendat.
“Uhuk. Ha .. hah …”
Devoni terkejut melihat Natalie tidak takut dengannya. Satu hal yang membuatnya semakin tertantang adalah seseorang yang tidak takut akan ancamannya. Itu malah membuat Devoni akan melepaskannya.
“Uhuk!” Natalie merasa lega bisa mengatur napasnya kembali. Dia tetap menyorot Devoni dan akan melakukan sesuatu agar terlepas dari tahanannya.
“Kita bersaing. Apa kau lemah? Kau sepertinya hebat. Tapi, ternyata kau penakut,” kata Natalie membuat Devoni tercengang. Dia mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat membenci siapa saja yang mengancamnya. Dia tidak bisa membunuh siapapun yang mengancamnya seperti itu.
“Apa maumu, Natalie?” tanyanya resah.
“Kita akan bersaing, dan kau aku pastikan akan kalah dariku. Itu adalah aturan mutlak bagiku!” teriak Natalie. Devoni mengangkat kedua tangan untuk mencengkeram leher Natalie kembali, namun dia hentikan ketika melihat Natalie memberikan tatapan tajam.
“Baiklah. Kita akan bersaing,” jawab Devoni kini menunduk dan menangis terisak-isak. Natalie menghembuskan napas panjang, merasa lega bisa menghadapi Devoni yang memiliki kelainan sifat. Paling tidak dia bisa selamat saat menemuinya.
“Kenapa kau menangis?” tanya Natalie. Devoni berubah menjadi laki-laki yang sangat terpuruk dan siapa saja yang melihatnya akan merasa iba. Namun Natalie berusaha mengangani tipuan ini.
“Kau bisa menangis? Aku tidak menyangkanya. Seseorang yang hebat bisa menangis. Tapi tidak masalah. Karena aku sangat menyukai tangisan itu. Suara itu, membuat telingaku bergetar. Kau memang benar. Tangisan adalah alunan musik indah. Hah … aku menikmatinya.”
Devoni melotot tajam, mendengar perkataan Natalie barusan. Dia tidak percaya mendapatkan balasan dari seseorang yang selama ini tidak pernah melakukan itu kepadanya. Kini senyuman kembali mengembang di wajahnya. Namun terhenti di tengah seperti manekin.
“Jangan kau lakukan itu! Wajahmu tidak akan menakutiku!” teriak Natalie dengan amarah. Dia berusaha sekali lagi menahan ketakutannya dengan berteriak ketika melihat wajah mengerikan itu terpampang jelas di wajah Devoni.
“Plak! Hentikan!”
Dari kejauhan, Samuel merasakan sesuatu yang tidak enak. Dia memutuskan untuk menuju mobil Devoni dan menyelamatkan Natalie. Namun, langkahnya terhenti melihat sesuatu yang tidak dia sangka.
“Nona?”