Samuel tidak percaya melihat Natalie keluar dari mobil Devoni dengan wajah santai. Devoni membuka kaca jendela, menatap Samuel yang akan menghampiri mobilnya. Devoni sangat kesal, lalu melesatkan mobilnya.
Namun Samuel lega melihat Natalie bisa selamat. “Samuel, kenapa kau terlihat? Hah! Untung saja kamu tidak membuat dia marah. Jika dia marah, aku akan dicekik.” Natalie melangkah menuju mobil Samuel dan memasukinya. Di dalam dia masih saja resah. Kehidupannya akan dia lalui dengan membahayakan karena dia bersaing dengan psikopat.
“Hah. Aku akan menjadi gila,” batinnya sembari terus menggelengkan kepala.
Mobil telah sampai ke apartemen. Natalie segera keluar dan berharap Sultan tidak bangun. Jika hal itu terjadi, maka masalah akan semakin rumit. Dengan cepat Natalie bersama Samuel menuju kamar. Perasaan Natalie sangat lega melihat Sultan masih terlelap. Begitu juga dengan Samuel.
“Sam, besok kita akan menuju psikiater. Aku sebenarnya sangat takut. Namun aku akan memberanikan diri untuk mendengarkan semuanya.”
“Nona Natalie, Anda harus kuat dan jangan memperlihatkan kesedihan. Saya mohon. Tuan Muda membutuhkan pendamping yang kuat.”
Mereka saling bertatapan tegang. “Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi …” Natalie menghentikan ucapannya, membuat Samuel mengernyit. “Bagaimana dengan Cantik. Apa kau tidak mau menemuinya?” kata Natalie membuat Samuel menelan saliva. Hatinya bergetar kencang mendengar nama sahabat Natalie yang merupakan mantan pacar yang juga ditinggalkannya sejak kejadian mengerikan menimpa Sultan.
“Saya sudah selesai dengan Anda, Nona Natalie. Sebaiknya Anda tidur dan mempersiapkan untuk kegiatan besok.” Samuel menundukkan kepalanya, segera membalikkan tubuh dan berlalu menuju kamarnya. Natalie bersedekap sembari mengangkat pucuk bibirnya.
“Hmm. Aku akan membawamu kepadanya. Lihat saja pipimu itu. Kau akan ditamparnya sampai merah! Menyebalkan!” gerutunya kesal. Mereka berdua adalah wanita yang sangat rapuh dan patah hati saat Sultan menghilang tiba-tiba selama tujuh tahun, dan Samuel melakukan hal yang sama.
***
Pagi menjelang dengan cepat. Natalie menguap di sebelah Sultan yang masih terlelap. Dia terduduk dan memandang ketampanan wajah Sultan saat terkena sinar matahari. “Hmm, sangat tampan. Tidak aku sangka akan melihat ketampanan wajahnya dengan nyata dan jelas di hadapanku. Biasanya aku melihatnya melalui lukisan itu. Menyebalkan!”
Natalie menoleh ke jam dinding. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Lukisan itu? Kok … ada di sana? Kan, sudah aku robek semua? Apakah ada hantu di rumah ini? Argh!” teriak Natalie spontan membuat Sultan menariknya.
“Hah, bibirnya …”
Natalie tidak percaya Sultan tanpa sadar menciumnya dalam keadaan masih terpejam. Natalie tersenyum menikmati bibir Sultan. Namun, “Hah!” Sultan membuka kedua matanya, mendorong cepat tubuh Natalie.
“Kok dilepas sih? Itu, kan, sudah aku tunggu selama ini. Menyebalkan, dasar Tuan Muda pelit!” teriak Natalie menuruni ranjang dengan kesal.
“Kenapa lukisan jelek ini ada di dalam kamarku?” tanyanya sembari menunjukkan jemari ke arah Sultan.
“Wah. Samuel benar-benar hebat. Dia bisa menyusunnya. Padahal lukisan itu sudah robek semua. Hahah, dia memang pengawalku terhebat,” kata Sultan tersenyum segera menyusul Natalie yang masih bergeming.
“Dia memang hebat dan tampan. Semua wanita akan tergila-gila dengannya,” gumam Natalie membuat Sultan menatapnya tajam.
“Jika kau memujinya lagi, akan aku congkel kedua matanya!” balasnya keras, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Natalie tersenyum senang melihat Sultan cemburu dengannya.
“Natalie, ayo kita mandi berdua!”
Natalie melotot mendengar perkataan Sultan. “Tidak akan!” jawabnya singkat.
Waktu berjalan cukup singkat. Keributan di dalam kamar Natalie akhirnya mereda saat Samuel memasuki kamarnya dan memisahkan keduanya saat berebut kamar mandi. Sultan yang akhirnya mengalah, membiarkan Natalie menggunakan kamar mandinya.
“Hah, aku hanya mau mandi dengannya. Kenapa harus berbagi. Besok siapkan kamar dengan kamar mandi dua.”
“Tuan, Anda dengan Nona belum menikah. Sebaiknya tidak melakukan hal-hal demikian,” ucapan Samuel membuat Sultan mengangkat pucuk bibirnya.
“Ck! Iya!” jawabnya keras.
***
Mobil melesat cukup kencang. Mereka segera menuju psikiater untuk menolong psikis Sultan. Natalie terus menggenggam erat telapak kanan Sultan dan memberikan senyuman hangat. Sultan masih diam, tidak berekspresi sama sekali.
Namun Natalie tidak menyangka jika dokter itu sangat canti dan memakai busana seksi. “Apa? Kok terbuka pakaiannya? Apakah selama ini dia menemui dokter dalam keadaan seperti ini?” batin Natalie mengernyit. Sang dokter ‘pun terkejut melihat kedatangan Natalie. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Sultan seorang diri.
“Selamat pagi, Tuan Muda. Bisakah kita menuju ke dalam?” Dokter masih saja tersenyum. Apalagi Sultan melepaskan telapak tangan Natalie dan akan mengikutinya.
“Tunggu!” Natalie mencegah, menarik lengan Sultan yang masih saja diam dengan wajah tegang.
“Aku akan masuk. Aku adalah kekasihnya. Kenapa dia harus sendiria? Dan kau … berpakaian seperti itu,” tunjuk Natalie tepat di gunung menjulang yang terlihat belahan dengan jelas membuat dokter bernama Sarah menatapnya tajam.
“Jangan menghalangi pemeriksaan rutin yang sudah biasa aku lakukan. Akan membuat keadaan Tuan Muda menjadi sangat parah. Anda sebaiknya diam, dan menunggu di luar!” bentaknya keras. Samuel yang sedari tadi diam berdiri di depan pintu, segera melangkah mendekati Natalie.
“Nona, mengertilah. Dia sudah menjadi dokter Tuan Muda sangat lama, dan kami mengenalnya dengan baik. Lagipula ini adalah perintah Nyonya Jovanka.”
Natalie menarik napas, lalu menenangkan dirinya. “Baiklah, aku akan membiarkannya.” Natalie melunak, dan segera duduk di sofa.
Namun kedua matanya melotot saat melihat pergelangan kanan sang dokter saat membuka pintu. “Tato mawar? Bukankah itu mirip dengan …”
Natalie kebingungan dengan itu semua. Dia berjalan mondar-mandir. Dia memutuskan untuk tidak mengatakan kepada Samuel karena keadaan akan menjadi semakin buruk.
“Sultan sudah sangat lama menjalani pengobatan di sini. Lalu, dia masih saja trauma, dan tidak menunjukkan hasi. Apalagi busana dokter itu tidak seperti dokter pada umumnya. Aku harus melakukan sesuatu untuk ini. Ini tidak bisa dibiarkan terjadi. Akan sangat buruk untuk keadaannya. Aku harus melakukan sesuatu,” batinnya kini menatap Samuel yang mengernyit melihatnya.
“Argh, kepalaku sakit. Aku sangat pusing, Samuel. Bisakah kau mengambilkan aku minuman hangat?” Natalie tidak membuat Samuel percaya begitu saja. Dia berjalan mendekati Natalie dan menatapnya.
“Nona, aku mohon. Biarkan pengobatan ini berjalan dengan baik.”
“Sam! Apa kau tidak lihat keanehan? Lihatlah tato itu. Aku melihatnya dengan jelas.”
“Tato?” tanya Samuel semakin mengernyit dalam. “Bisakah Nona menjelaskannya?”
“Sam, aku melihatnya dengan jelas. Jangan pernah mencegahku untuk membuka pintu itu. Apa kau tidak merasakan keanehan? Selama tujuh tahun Sultan melakukan pengobatan, namun tidak menunjukkan kemajuan.”
“Tapi, dokter ini adalah rekomendasi Nyonya,” balas Samuel.
“Apakah Nyonya mengetahuinya, Sam. Dia hanya memerintahkan seseorang untuk mencari seorang dokter buat Sultan!”
Samuel segera membuka pintu yang memang terkunci rapat. “Ceklek!”
“Buka, atau aku dobrak!” teriak Samuel.
Natalie memegang kepalanya karena panik. “Kenapa kau tidak mendengarkanku, Samuel!”
Dengan cepat Samuel mengambil kursi. Sementara Natalie berlari memanggil pengawal dan meminta mereka masuk.
“Dobrak Sam!” teriak Natalie dengan cemas.
Berkali-kali Samuel bersama bantuan ketiga pengawalnya, masih saja tidak berhasil membuka pintu yang memang sangat kokoh.
“Sam. Jika terjadi hal buruk kepada Tuan Muda, kau akan menyesal!”