Mencobanya

1183 Kata
Samuel terus mendobrak pintu yang tertutup rapat. Natalie terdiam kaku berharap tidak terjadi apapun dengan kondisi Sultan di dalam. Samuel tidak menyerah. Dia mengambil senjatanya, dan menembakkan tepat di kunci otomatis. Namun tetap saja gagal. Pintu otomatis itu masih saja tertutup rapat. "Samuel, lewatlah jendela. Masuk ke ruangan sebelah, pecahkan kaca dan masuklah." Perkataan Natalie membuat Samuel menganggukkan kepala. Tentu saja itu adalah ide cemerlang untuk masuk ke dalam walaupun sangat berbahaya karena ruangan berada di lantai lima. Samuel mengarahkan tangannya kepada beberapa pengawal. Dia berjalan keluar, lalu masuk mendadak di ruangan sebelah dan mengejutkan semua pegawai. Dia menembakkan peluru hingga menembus kaca dan spontan meretak. Tembakan kedua membuat kaca itu pecah. Natalie di ruangan, mendekati kunci otomatis. Dia terdiam memejamkan kedua matanya. "Bagaimana mungkin mereka tidak mengetahuinya. Selama ini Devoni yang sudah mengatur ini semua. Kenapa mereka tidak mengetahuinya?" batinnya. Spontan dia membuka kedua matanya, menatap tombol kunci otomatis. "Semua ini ternyata kantor milik Devoni dan ruangan ini dibuat khusus untuk Sultan. Bagaimana jika ternyata kode itu ada hubungannya dengan Sultan." Perlahan Natalie menekan beberapa nomor dan ternyata, "Ceklek!" Pintu terbuka saat Natalie menekan tanggal lahir Sultan. Jantung Natalie berdetak kencang seketika. Sementara Samuel masih berusaha masuk melalui jendela kaca yang sangat membahayakan. Dia mendorong pintu itu dengan keberanian. Natalie segera masuk ke dalam tidak percaya melihat sebuah pistol terarah kepadanya. Dugaan Natalie tentang dokter itu memang benar.  "Kau dokter penipu. Kenapa kau lakukan ini?" Natalie semakin resah saat melihat Sultan sudah tergeletak pingsan di kursi pasien. "Apa yang kau berikan kepadanya? Apa!" teriak Natalie keras. Sang dokter masih saja mengarahkan pistolnya sambil perlahan melangkah pelan mendekati pintu keluar untuk melarikan diri. Natalie berlari mendekati Sultan dan memeluknya dengan menangis. "Prang!" Samuel berhasil masuk ke dalam ruangan, terkejut melihat Natalie sudah memeluk Sultan. Namun sang dokter sudah berhasil kabur. "Sam. Dia tidak terlalu jauh. Kejar dia! Aku akan menjaga Sultan!" ucap Natalie sembari terisak. Samuel berlari bersama semua pengawal untuk mengejar wanita misterius yang selama ini memeriksa Sultan. "Kekasihku, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini? Bangunlah, aku mohon," gumamnya masih terisak sambil memikirkan cara untuk membuat Sultan terbangun. Hingga pandangannya terfokus pada beberapa butir pil di atas meja. Natalie perlahan melepaskan tubuh Sultan. Dia meraih pil yang berwarna-warni. "Ini pasti pil untuk tertidur. Aku pernah meminumnya saat tidak bisa terlelap gara laki-laki yang sekaranga ada di hadapanku. Huh. Tenangkan hatimu Natalie. Itu sudah masa lalu. Paling tidak aku merasa lega mengetahui apa yang sudah diminumnya." Natalie kembali mendekati Sultan dan memeluknya. Dia tersenyum melihat wajah tampan yang sangat dirindukannya. "Hmm, dia, kan tidur. Aku mau cium. Sama seperti dia saat mencuri bibirku ketika tertidur namun tidak mau mengaku. Menyebalkan." Perlahan Natalie mulai akan mengecup bibir Sultan. Tapi, "Uhuk!" Sultan tiba-tiba terbangun mendadak. Natalie melotot, segera memalingkan wajahnya. Sultan masih berusaha membuka kedua matanya. Dia mengedarkan pandangan ke semua arah, untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi karena dia tidak mengingatnya. "Apa yang sudah terjadi? Kenapa wajahmu sangat dekat denganku? Apa kau mau menciumku? Aku sudah bilang tidak suka dicium. Kenapa kau melakukannya! Bahkan saat tertidur 'pun aku juga tidak mau dicium! Apa kau mengerti dengan perkataanku? Nat!" Natalie menarik napas panjang. Di samping dia kesal mendapatkan kemarahan Sultan, dia merasa lega Sultan baik-baik saja. Natalie terduduk sembari bersedekap dengan menyorotkan tatapan kesal. "Natalie Leteshia. Di mana Samuel? Dan kenapa aku pingsan? Bisakah kau menjawab semua pertanyaanku ini?" tunjuk Sultan tepat di wajah Natalie sambil berdiri di hadapannya.  "Dokter itu adalah suruhan Devoni. Selama ini kenapa kalian sangat ceroboh dan tidak mengetahuinya? Menyebalkan. Hah ... untung ada Natalie menggelora dan cerdas bisa membongkar semua kasus ini. Save my Boss. Hahah sangat keren," gumam Natalie semakin membuat Sultan tidak mengerti. Dia menggeleng keras. "Ibuku yang merekomendasikan dokter ini. Tidak mungkin ada kesalahan." "Tapi, memang Nyonya ternyata salah. Sekarang, mana ada dokter seksi seperti itu? Menyebalkan! Kalau aku sampai tahu kau diperiksa dokter seperti itu lagi, akan aku koyak-koyak tubuhnya!" Natalie berdiri dari duduknya dengan kesal karena cemburu, kemudian meninggalkan Sultan yang masih bergeming tidak mengerti. "Ternyata aku selama ini terjebak? Apa Ibu ada hubungannya dengan ini semua?" batin Sultan memegang kepalanya yang masih terasa pening. Dia mengatur napasnya yang masih sesak, lalu berjalan keluar ruangan menyusul Natalie. Samuel bersama beberapa pengawal berlari mendekati Sultan. Dia merasa lega melihat Sultan baik-baik saja. Sementara Natalie masih diam dengan kecemburuannya. "Tuan, kita sebaiknya pulang saja. Anda terlihat tidak baik. Dokter itu akan saya temukan segera." Sultan menggeleng keras. "Tidak!" ucapnya tegas. "Aku mau ke kantor. Aku tidak mau terlihat lemah. Masalah ini jangan kau beritahukan Ibu. selidiki dia apakah ada hubungannya dengan masalah ini." Sultan berjalan mendekati Natalie dan menariknya. "Kenapa harus cemburu dengan sesuatu yang tidak jelas?" "Kalau gitu, cium aku. Biar tidak cemburu lagi," ucap Natalie tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya. "Selalu saja genit! Seharusnya aku yang cemburu denganmu. Pasti kau melakukan dengan semua laki-laki!" "Kok malah marah sih? Kan, aku yang cemburu! Tidak adil!" protes Natalie sambil menahan cengkeraman Sultan yang sangat keras di pergelangan tangannya. Dia berusaha mengikuti langkah jenjang Sultan untuk memasuki mobil. Mereka duduk dengan perasaan kesal masing-masing. Natalie segera menatap jendela. "Aku harus menenangkan hatiku. Huf," batinnya memejamkan kedua mata. "Nanti di kantor kamu duduk saja di sofa, karena itu tugasmu. Jangan membuat keributan!" Natalie sontak membalikkan tubuhnya dan memandang Sultan dengan kesal. "Kenapa aku selalu mendapat pekerjaan itu? Cuman duduk itu sangat mengantuk! Lagi pula kalau tertidur ada yang diam-diam mencuri ciumanku. Aku takut." Sultan berusaha mengatur dirinya mendengar perkataan Natalie. Dia melonggarkan dasinya dan mencari cara untuk mengalihkan perhatian. "Ambilkan tisu itu. Aku sangat gerah." Natalie terkesiap kaku mendengar pinta Sultan. Dia menggeleng tidak percaya. Hanya selembar tisu saja dia harus mengambilkannya. Namun dia tetap akan melakukannya. Natalie dengan cepat mengambilnya, lalu menyodorkan tepat di hadapan Sultan. Namun dia malah mendapat tatapan tajam Sultan. "Kurang banyak! Apakah kamu pikir selembar tisu tipis itu bisa membuat wajahku yang basah ini mengering?" Dengan cepat Natalie mengambil berlembar-lembar tisu dan kembali menyodorkannya. Sultan mengkerut dalam, dengan sorotan yang masih tajam. "Terlalu banyak!" jawabnya keras. Natalie menarik napas, berusaha mengatur amarahnya. Dia tersenyum, saat Sultan mengambil ponselnya dan menunjukkan nama Dady di sana. Natalie spontan mengembalikan separo dari tisu ke dalam kotak.  "Usap keringat wajahku ini!" "Aku harus menurut. Dia Sultan dan sangat mengancam kehidupan dan hatiku. Dasar tampan!" teriaknya membuat Sultan tidak merespon. Natalie mendekati Sultan mulai membersihkan semua keringat di wajahnya. "Dasar sok ganteng, kaya, arogan, dominan. Sok Sultan! Huh! Rasakan ini, agar wajah tampanmu ini tidak membuatku lemah! Argh!" "Natalie, apa yang kau lakukan?" Tanpa sadar Natalie berada di pangkuan Sultan dan membuat wajah Sultan dipenuhi tisu yang melekat di sana. "Kau tahu akibatnya dengan Dady?" ancam Sultan sekali lagi membuat Natalie melotot. "Hah ... haha. Maafkan. Aku bersihkan ya, sayang bos." Dia perlahan akan menuruni tubuh Sultan. Namun tanpa sadar Sultan menahannya. Dia menekan tombol yang membuat penutup otomatis menyala. Samuel dan sang sopir kini tidak bisa lagi melihat mereka. "Kenapa menahanku? Tidak kuat dengan kecantikanku?" tanya Natalie manja. "Iya benar. Aku tidak tahan," jawab Sultan semakin memandang Natalie. "Kita akan mencobanya," ucap Sultan membuat Natalie tidak percaya. "Mencoba apa?" tanya Natalie memastikan. "Ciuman!" "Ah ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN