Natalie tidak percaya Sultan akan berbuat sangat mengejutkan. Apalagi dia memang benar-benar menginginkan satu ciuman. Senyumannya mengembang. Dengan percaya diri, Natalie memejamkan kedua matanya dan memajukan bibirnya.
Kali ini Natalie benar-benar yakin jika Sultan akan melakukannya. Dia ingin sekali menerimanya. Karena selama 7 tahun dia sudah menunggu hari ini akan terjadi. Biasanya Natalie selalu membayangkan dalam mimpinya bahkan ketika dia melihat sebuah acara televisi yang sangat romantis, dalam pikirannya selalu saja terbayang jika dia bersama Sultan yang melakukannya, dan kali ini semua itu harus terwujud. Natalie akan membuat ciuman itu kembali menjadi nyata.
Sultan mengernyit berusaha mengatur dirinya yang memang sangat bergemetar.
Sultan masih saja mengatur hatinya ketika dia melihat dan akan melakukan ciuman kepada Natalie. Namun, seketika otak Sultan terus berputar kembali ke masa 7 tahun lalu di mana Devoni melakukan pelecehan dengan dirinya. Saat itu Sultan tidak menyangka jika bibirnya dimainkan oleh Devoni dengan sangat mengerikan. Hal itu yang membuat dirinya semakin tidak bisa melakukannya bersama Natalie. Tapi, dia sudah berjanji melakukannya. Sultan harus memutuskan masa lalu itu. Dia akan mencobanya.
Natalie masih memejamkan kedua matanya. Apalagi bibirnya sudah maju ke depan dan siap menerima ciuman Sultan. Sementara Tuan Muda akan berusaha mencapainya. Dia menarik napas panjang dan mulai mendekati bibir Natalie secara perlahan yang sudah sangat semakin dekat, bahkan napas keduanya terdengar dengan keras. Permukaan bibir indah Natalie sudah mulai sedikit disentuhnya. Namun, kedua matanya melotot, serta tidak percaya jika wajah Natalie berubah menjadi wajah Devoni yang seketika itu juga membuatnya menjauh.
"Tidak, ini tidak boleh. Dia bukan Devoni, dan aku akan tetap mencobanya," batin Sultan kembali menarik Napas Panjang. Kedua matanya kembali menatap Natalie yang masih setia menunggu.
"Dia sudah siap dengan ciumannya. Aku masih tidak bisa. Bagaimana cara membatalkannya, ya?" batin Sultan kebingungan. Dia masih saja menatap Natalie yang terus memajukan bibirnya.
"Baiklah, akan aku coba." Sultan kembali membatin dan mulai mendekati bibir tipis kemerahan milik pujaan hatinya.
"Cup!"
Natalie membuka kedua matanya mendadak. Dia tidak percaya dengan apa yang Sultan lakukan.
"Apa?" ucapnya sembari melotot tajam. Kedua tangannya bersedekap. "Kenapa hanya pipi? Untuk apa ditutup? Ciuman pipi saja aku bisa melakukannya dengan siapapun. Bahkan dengan Samuel!"
Sultan spontan menekan tombol dan membuka pembatas yang sudah ditutupnya. Dia menyorotkan tatapan tajam ke arah Samuel yang mengernyit dalam tidak percaya dengan tatapan Sultan tiba-tiba. Sementara Natalie membalikkan tubuh dan menatap jalanan dari jendela dengan kesal.
"Kenapa kau juga akan melakukan dengan pengawalku? Aku tidak akan mengijinkannya!" Sultan menarik lengan Natalie agar menatapnya.
"Jawab!" bentak Sultan membuat Natalie semakin kesal.
"Terserah aku mau melakukan kepada siapa saja, dan kau tidak perlu membentakku! Menyebalkan!"
"Jika kau melakukannya, aku akan membunuh dan mencincang dia!" balas Sultan sangat keras.
Di kursi depan Samuel menggeleng tidak mengerti dengan perdebatan yang dia dengar. Namun dia sudah menduga pasti Natalie dengan sengaja membuat Sultan cemburu dan menyangkut namanya. "Pasti Nona melakukan sesuatu, dan itu namaku," batinnya sembari menarik napas panjang.
Sepanjang perjalanan Natalie masih saja memalingkan tubuhnya. Sultan juga melakukan hal yang sama. Mereka tidak bertegur sapa hingga sampai di kantor megah Sultan.
Natalie membuka pintu tanpa menunggu Samuel melakukannya. Dia berjalan cepat meninggalkan Sultan begitu saja.
"Tuan Muda, silahkan," ucap Samuel menundukkan kepala saat membuka pintu mobil Sultan.
"Kau tahu. Dia berkeinginan untuk mencium pipimu. Kalian berselingkuh?" tanya Sultan tiba-tiba membuat Samuel mengangkat wajah dan menatap Tuan Muka yang masih melotot ke arahnya.
"Saya tidak mungkin melakukan itu, Tuan Muda," jawab Samuel menundukkan kepalanya kembali.
"Bagus! Jika sampai itu terjadi, aku akan memakanmu hidup-hidup," balas Sultan kemudian melangkah.
Natalie di dalam ruangan Sultan masih saja kesal. Seperti biasa dia duduk di kursi sofa karena memang itu pekerjaannya.
"Tuan Muda tidak tahu diri. Berani-beraninya dia melakukannya. Emangnya, aku w************n. Lemah dengan tawaran ciuman," gerutunya kesal. Spontan dia mencengkeram dadanya dan berkata, "Tapi, aku memang lemah jika mendapat tawarannya. Hah ... menyebalkan."
Pandangan Natalie teralihkan saat ponselnya berdering. Dia segera mengambilnya di dalam tas dan melihat siapa yang sudah menghubunginya. Kedua matanya melotot, menatap nomor tidak dikenal.
"Siapa ya? Aku tidak kenal. Ah, tidak usah aku angkat. Pasti itu penggemar aku. Yah, maklum saja, aku adalah si Natalie yang menggelora."
Natalie mengabaikan ponselnya begitu saja. Namun masih saja berdering dan semakin membuatnya penasaran.
"Kenapa sih? Mengganggu sekali!" teriaknya kesal, namun, "Halo, aku Natalie paling cantik. Aku tahu kamu adalah pengg--"
"Nat, aku Roy."
"Roy?"
Natalie seketika menghentikan ucapannya. Dia tidak menyangka jika Roy mengetahui nomor ponselnya. Dalam benaknya semakin bertanya. Kenapa dengan Roy yang tiba-tiba menghubunginya?
Memang masalah ini ada kaitannya dengan Roy, dan kebetulan Roy menghubunginya, sehingga bisa membuat Natalie dapat mengetahui semua informasi yang bisa membuatnya menemukan sosok Devoni dengan mudah hingga kali ini dia berencana untuk mengangkat tanpa berpikir panjang lagi.
"Roy, kenapa kau menghubungiku? Apa kau tidak tahu jika Sultan mengetahuinya akan sangat marah? Aku sangat membencimu! Selama tujuh tahun kau sudah membohongiku! Apa kau sadar?"
Roy di seberang menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menenangkan dirinya menghadapi semua pertanyaan amarah Natalie.
"Nat. Dengarkan aku."
"Untuk apa?"
"Aku tidak seperti yang kau kira. Dan aku mempunyai alasan kuat untuk hal ini. Semuanya ada alasan. Satu hal yang kau tidak akan percaya. Aku bisa mengatakan semuanya kepadamu."
Natalie semakin terdiam. Dia menarik napas berusaha menenangkan hatinya yang terus bergetar. Dia berharap tidak mendapatkan hal buruk yang akan menimpanya. Dia kembali memfokuskan pikirannya dengan Roy. "Apa yang dia mau? Tapi aku penasaran sekali. Lebih baik aku menanyakannya," batin Natalie dan segera menanyakannya.
"Baiklah, apa maumu, Roy?" tanya Natalie resah. Dia sebenarnya tidak mau bertemu dengan Roy. Tapi, ini harus dia lakukan. Menyelamatkan Sultan adalah segala-galanya bagi Natalie.
"Sultan tidak seperti yang kau sangka, Nat. Dia itu sangat berbeda. Percayalah denganku." Perkataan Roy semakin membuat Natalie menggeleng keras. Dia tidak mengerti dengan maksud yang keluar dari mulut Roy.
"Apa maksudmu?" tanya Natalie sekali lagi untuk memastikan hatinya.
"Dia sebenarnya gila, Nat. Dia pernah melecehkan seorang gadis dan sekarang di rumah sakit jiwa."
"Apa? Baiklah kita bertemu."
Roy akhirnya di seberang merasa sangat senang. Dia berhasil meyakinkan Natalie untuk menemuinya. Dia akhirnya bisa menemui wanita yang dicintainya hingga saat ini. Perasaannya sama sekali tidak berubah untuk Natalie.