Kabar Mengejutkan

1157 Kata
Natalie segera memutus telepon Roy saat Sultan sudah memasuki ruangan. Dia kembali duduk sambil memalingkan wajahnya saat Sultan meliriknya. Natalie masih kesal dengan perlakuan Sultan di dalam mobil. “Aku tidak akan memaafkannya. Menyebalkan. Aku membencinya,” gumam Natalie kini mendapat respon Sultan. Tuan Muda berjalan mendekatinya. Dia duduk di hadapan Natalie yang membalas pandangan tampan seketika membuatnya lemah. “Jangan seperti itu! Aku lemah …,” rengeknya kemudian merebahkan tubuhnya di sandaran kursi. “Kenapa aku selalu lemah dengan pandangan itu? Ini sangat tidak adil. Argh!” teriakan melengking Natalie sekali lagi membuat Sultan menggelengkan kepala. “Aku akan menghadiri rapat. Kau diam di sini sampai aku datang. Jangan ke mana-mana dan tetaplah di sofa ini.” Natalie mengangkat tubuhnya yang semula menyandar. Dia melotot tajam. Sultan mengernyit dalam melihatnya. “Kau pikir aku pegawaimu?” protes Natalie sembari menunjukkan jarinya tepat di wajah Sultan. “Kalau tidak pegawai apa?” Sultan menggeleng pelan kemudian berdiri. Natalie mengangkat wajahnya. Pandangannya mengikuti Sultan yang kembali berjalan menuju kursi kerjanya. “Iya sih. Aku memang pegawai. Tapi, Bos--” “Diam, jangan berjalan dan tetap duduk di sana!” Spontan Natalie terdiam saat Sultan seketika menunjukkan jarinya, lalu berbicara keras. Dia mendengus kesal. Kembali merebahkan tubuh di sandaran kursi. Namun Natalie mengingat satu hal. Dia mengangkat salah satu alisnya, sambil memutar waktu untuk mengingat rencananya. “Hah. Ini adalah keberuntunganku. Tuan Muda sok ganteng, namun memang ganteng itu akan rapat. Hmmm, aku bisa menemui Roy, di dekat sini,” batinnya kemudian tertawa keras, “hahahah ….,” membuat Sultan spontan berdiri lalu berkacak pinggang. “Apa yang sudah dia pikirkan. Pasti sesuatu yang akan sangat membuatku marah!” batin Sultan terus mengamati Natalie. Dia kemudian menekan tombol yang tersambung di ruangan Samuel. “Sam! Siapkan sepuluh pengawal di dalam kantorku, agar aku bisa pastikan jika wanita yang berada di dalam sini tidak akan kabur!” ucap Sultan keras membuat Natalie spontan menolehkan pandangan ke arahnya. “Apa? Sepuluh pengawal?” Natalie berdiri kembali namun, “Stop! Tetap duduk di situ,” teriak Sultan membuat Natalie mengepalkan kedua tangannya. “Baiklah, aku mau rapat dulu. Hah, ini sangat membuatku frustasi.” Natalie lemas, melihat Sultan meninggalkan sepuluh pengawal yang mengawasinya dengan serius. “Apa yang harus aku lakukan? Sementara, aku harus menemui Roy. Tidak bisa ku percaya, Tuan Muda itu memang benar-benar berengsek!” Natalie meraih ponselnya lalu menekan nomor Roy. Dia memasuki kamar mandi, lalu menunggu panggilan itu diterima. Dalam waktu singkat Roy menerimanya. Natalie kembali mengamati semua pengawal yang sedang mengobrol dari balik pintu yang sedikit ditutupnya. “Roy. Aku sangat ingin menemuimu. Tapi aku terpenjara. Aku tidak tahu bagaimana caranya melarikan diri dari Tuan Muda itu.” “Aku akan memikirkan caranya. Tunggulah aku,” balas Roy singkat kemudian menutup ponselnya. Natalie mengernyit melihatnya. “Hah! Hahaha, para Tuan Muda memang selalu saja menutup ponsel se enaknya. Menyebalkan!” Natalie merapikan rambutnya di depan cermin, lalu perlahan berjalan keluar ruangan. Dia kembali duduk di sofa sambil menebarkan senyuman kepada pengawal yang spontan menatapnya serius. *** Samuel di ruangan Black Room masih saja mencari informasi mengenai dokter yang Jovanka kirimkan selama ini. Dia selalu saja merasa bodoh bisa terlewatkan dengan hal yang sangat membahayakan nyawa Sultan. Namun kali ini Samuel tidak akan mengabarkan apapun dengan Jovanka sebelum mengetahui hasilnya. Kedua matanya terus memandang layar Black Room. Dia menatap tajam setiap sudut ruangan kantor psikiater yang tampil di layar. Dia tidak akan melepaskan pandangannya sedikitpun. “Siapa dia, dan kenapa Nyonya seperti ini?” batin Samuel terus memandang tajam hingga dia akhirnya menemukan sesuatu yang sangat menarik. “Akhirnya aku mengetahuinya,” ucapnya tersenyum. Dia segera merogoh ponselnya di saku jas sebelah kanan, lalu menghubungi seseorang. “Aku akan memberimu pesan. Lakukan perintahku.” *** Di dalam ruangan Sultan, Natalie terkejut melihat pengawal tiba-tiba keluar begitu saja saat sang sekretaris membicarakan sesuatu. “Pasti Roy yang melakukannya. Orang kaya selalu saja mempunyai sihir untuk melakukan apapun. Dasar sok kaya!” teriaknya kesal. Dia segera meraih tasnya, lalu berjalan cepat menuju pintu. Natalie mengamati semua arah. Dia melihat pegawai yang masih sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing. “Baiklah, aku akan bersikap seolah-olah tidak akan melakukan sesuatu. Mereka tidak boleh mencurigaiku,” gumamnya sembari merapikan rambut dan bajuna. “Natalie, berjuanglah,” ucapnya kemudian mulai melangkah. Saat para pegawai laki-laki memandangnya, seperti biasa Natalie menebar senyuman sambil melambai. Hingga dia berhasil masuk ke dalam lift. Natalie merasa lega, dia bisa mudah melarikan diri. Namun dia tidak percaya melihat Samuel berdiri di depan pintu lift saat terbuka di lantai bawah. “Sam? Gawat!” batinnya segera mencari cara. Natalie spontan ikut berjalan dengan rombongan yang barad di dalam lift bersamanya. Samuel sedikit mengamati rombongan itu dengan mengernyit. “Duh. Pengawal ini kenapa seperti hantu. Dia di mana-mana selalu saja ada.” Natalie masih saja berusaha berjalan di tengah rombongan hingga akhirnya berhasil keluar dengan selamat. "Hah. Akhirnya aku bisa menghirup udara bebas. Baiklah, aku akan segera menemui Roy dan menanyakan tujuannya." Natalie bergegas menuju cafe yang terletak di seberang gedung Sultan. Dia semakin lega saat Roy ternyata sudah datang dan melambai ke arahnya. Natalie segera mendekatinya dan duduk tepat di hadapan Roy yang berseri-seri melihat wanita pujaan hatinya akhirnya bisa dia temui juga setelah sekian lama menunggu. Mereka saling memandang. Roy masih saja memperlihatkan senyumannya. Sementara Natalie hanya menatapnya dengan serius. Natalie menarik napas panjang, menghembuskan perlahan. Dia mengatur posisi duduknya, dan memulai untuk berbicara. "Baiklah, Roy. Katakan apa maumu? Aku mau mendengar semuanya. Sekarang katakan yang sesungguhnya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Sultan. Namun aku tidak mau kau membohongiku. Sudah cukup kau melakukannya kepadaku. Jika itu terjadi, aku akan meninggalkanmu, dan menganggapmu musuh seumur hidupku." Perkataan Natalie yang membuat Roy terdiam. Namun dia masih dengan sangat santai menanggapinya. Dia semakin menatap Natalie, untuk memulai menjawab semua pertanyaan yang tertuju kepadanya. "Sultan pernah melecehkan seorang gadis, dan dia sekarang berada di dalam rumah sakit jiwa," kata Roy membuat tubuh Natalie spontan bergemetar. Dia tidak bisa percaya begitu saja dengan perkataan Roy. Namun Natalie akan mencari tahu dengan cara yang halus. "Aku mempercayaimu, Roy," jawab Natalie membuat Roy terkesiap. Dia tidak menyangka jika Natalie mempercayainya begitu mudah. "Bagaimana cara aku bisa menemukan jawaban dengan kedua mataku?" Natalie memengang telapak tangan Roy. Laki-laki yang sudah menghianati Sultan itu semakin bergemetar. "Apakah tato mawar ada hubungannya dengan ini semua?" tanya Natalie seketika membuat Roy tanpa sadar menganggukkan kepalanya. "Bisakah aku menemukan mereka? Tolonglah bawa aku, Roy. Hanya kau yang bisa aku andalkan. Aku akan membayar kebaikanmu dengan menemuimu diam-diam. Bagaimana?" rayu Natalie spontan membuat Roy melebarkan bibirnya. Dia sangat bersemangat dengan itu semua. Bertemu dengan Natalie adalah bayangan baginya. Kini dia bisa merasakan itu secara nyata. "Aku akan menemukanmu dengan mereka, Nat," balasnya. "Ke mana?" "Sebuah club." Natalie kembali mengatur napasnya. Dia berniat akan melakukan penyelamatan bos sekaligus kekasihnya itu dengan caranya. "Bawalah aku menuju club itu. Bisa?" ucapnya menatap Roy dengan senyuman lembut, seketika membuat Roy semakin terpana. "Baiklah, ayo kita berangkat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN