Club Rahasia

1005 Kata
Natalie merasa puas Roy mau membantunya. Walaupun dia tahu jika akan sangat membahayakan. Apalagi ini ada hubungannya dengan Devoni yang memang punya kelainan sifat atau psikopat. Namun itu semua dia tepis. Menyelamatkan Sultan, itulah misinya. Mereka pergi setelah Roy meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu menarik lengan Natalie. Mobil sport merah mewah milik Roy membawa mereka melesat ke sebuah rumah di pinggir jalan dengan pagar hitam yang tertutup rapat. Natalie mulai gelisah menatapnya. Pandangannya mulai kaku. Dia terus menelan saliva untuk menenangkan hatinya. Sangat ketakutan, itulah yang dia rasakan sekarang. Dalam benaknya dia akan selalu berpikir positif. Tidak mungkin Roy melakukan suatu hal yang buruk kepadanya. Dia tidak mungkin dilecehkan oleh Roy dan itu yang akan selalu dipegang Natalie. Roy sangat baik dan Natalie berusaha memikirkan hal itu sepanjang perjalanan. Walaupun dia sangat penasaran Roy akan mengajaknya ke mana. "Dia akan mengajakku ke mana? Ini benar-benar di luar dugaanku. Semoga saja apa yang di dalam pikiranku benar. Hah, tidak, aku harus selalu berpikiran positif untuknya, dan itu yang harus aku lakukan, agar membuat diriku tenang," batin Natalie terus berusaha memperlihatkan senyuman kepada Roy agar lelaki yang berada di sebelahnya itu tidak melihatnya ketakutan. “Aku dibawa ke mana ini, Roy?” tanya Natalie dengan nada santai. Senyuman tetap terlihat di wajahnya. Roy menatapnya, melihat jemari Natalie yang bergetar. “Kau tunggulah, di sini. Aku akan memanggil dia untuk keluar dan menemuimu, mengatakan bagaimana sifat Sultan sebenarnya yang tidak kamu ketahui.” Natalie mengernyit dalam. Dia melepaskan jemarinya yang mencengkeram ujung roknya. Menarik napas panjang, mengaturnya dengan baik untuk menenangkan hatinya sebelum berbicara. “Kenapa aku tidak boleh masuk? Apa aku harus mempercayaimu?” tanyanya kaku. “Di dalam sana …,” ucap Roy menunjukkan jari tepat ke arah pagar hitam. “Sangat bahaya, dan bukan untuk wanita seperti dirimu. Aku sangat melarangnya, Nat. Aku harap kau tidak melanggarnya. Apa kau jelas?” sambung Roy tegas. Natalie menganggukkan kepala. Dia terpaksa melakukannya. Karena baru pertama kali dia melihat Roy sangat serius seperti itu. “Baiklah, aku akan menunggumu. Ingat, jangan terlalu lama. Aku selalu bosan menunggu,” balas Natalie membuat Roy spontan menggelengkan kepala. “Tidak! Ini sangat serius. Jangan melanggarnya, Nat!” bentak Roy sembari memegang kepalanya. Roy kembali meyakinkan Natalie agar dia benar-benar tidak melanggarnya. “Iya, Roy! Aku mengerti. Sudahlah. Sebaiknya kau ke sana sekarang. Aku tidak memiliki waktu. Sultan akan sangat murka jika mengetahui apa yang aku lakukan. Hah … aku bisa mati mengenaskan,” gumam Natalie dengan wajah mulai memucat membayangkan apa yang akan dilakukan Sultan terhadapnya. “Aku akan membelamu jika Tuan Muda melakukan itu. Kau jangan khawatir.” Roy mulai membuka pintu, keluar menuju pagar hitam yang masih diam tertutup rapat. Di dalam mobil, Natalie menatap serius apa yang dilakukan Roy. Tiga kali ketukan membuat pemilik membukanya begitu saja. Semua yang terjadi di hadapannya semakin membuat Natalie ingin mengetahuinya. Namun, dia mengingat perkataan Roy untuk tidak benar-benar melanggar perintahnya agar tidak masuk ke dalam. Tapi, bukan namanya Natalie jika tidak memiliki rasa penasaran yang sangat luar biasa. Dia ingin sekali masuk ke dalam dan melupakan apa yang diperintahkan Roy kepadanya. “Apa yang ada di dalam? Aku sangat penasaran,” batin Natalie. Dia mengelus-elus dagunya sambil memikirkan cara untuk masuk dan mengetahuinya. Rasa penasaran penuh membuatnya semakin gelisah. "Aku tidak boleh masuk ke dalam dan aku percaya Roy mengatakan yang sebenarnya. Sebaiknya aku menunggunya keluar dan akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam sana dan itu yang harus aku lakukan," gumam Natalie kemudian terus mengamati pagar hitam yang membuatnya sangat penasaran. Hingga, setelah beberapa menit, perasaannya berubah. Dia benar-benar akan masuk ke dalam dan mencobanya. “Argh! Bagaimana aku bisa ke sana? Aku sangat bosan di sini. Aku ingin tahu ada apa di dalam sana!” teriaknya di dalam mobil. Dia kembali mengatur napasnya dengan memejamkan mata. “Baiklah, jangan takut, Nat. Kau bisa melakukannya. Jika ada yang kurang ajar, semprot dengan parfum yang kamu bawa. Itu yang biasa dilakukan di dalam film.” Kini dia membuka kedua matanya, menatap lurus ke depan. Sorotannya sangat tajam. “Aku akan menyelamatkanmu, Bos.” Natalie mulai membuka pintu mobil. Dia membenarkan bajunya, kemudian rambutnya. Napas yang masih tidak beraturan karena rasa takut, kembali diaturnya dengan perlahan. Kakinya mulai melangkah. Tangan kanannya perlahan terangkat dan mengetuk pagar. “Tok, tok, tok!” Seseorang sedikit membuka pagar, mengernyit melihat Natalie. “Sandi!” katanya singkat. Natalie spontan melotot. “San-di?” tanyanya kebingungan. Dia sama sekali tidak mengerti. Dia berusaha mengingat saat Roy memasukinya. “Hah, Roy mengatakan sesuatu. Tapi apa?” “Tidak ada sandi? Tidak bisa mas--” kata orang yang masih menunggu Natalie mengatakan sesuatu dan akan menutup pagar namun Natalie cegah dengan cepat. “Tunggu!” Natalie memegang kepalanya, berusaha untuk memikirkan sesuatu. “Kau ini siapa? Kami tidak pernah melihatmua. Tidak berada dalam organisasi, tidak bisa memasuki ruangan ini. Jadi, selamat tinggal,” katanya sekali lagi dan mulai mendorong pagar untuk etrtutup rapat. “Mawar merah!” teriak Natalie membuat orang itu menghentikan gerakannya. “Apa kau mempunyainya?” tanya penjaga pintu membuat Natalie terdiam kaku. Namun, dia akan tetap berusaha masuk ke dalam sana. “Hmm … hahaha. Tentu saja punya,” jawab Natalie berusaha tenang. Kini orang itu memperlihatkan wujudnya. Pria tinggi besar dengan tato mawar di lehernya. Pria itu bersedekap menatap tajam Natalie yang mulai pucat. "Aku harus memikirkan cara. Bagaimana jika dia memintaku menunjukkan tato itu? Apa yang harus aku lakukan?" batinnya terus berpikir untuk mencari cara, hingga beberapa menit akhirnya dia menemukannya. “Mana tatomu?” tanyanya spontan membuat Natalie panik. Dia semakin tersenyum untuk menutupi rasa itu. “Hihi, ada di sini,” jawabnya sambil menunjukkan rok. “Ada di sebelah milikku. Tidak mungkin aku membukanya. Hahaha, akan sangat bahaya.” Natalie terus tersenyum. Jemari telunjuknya terus menunjukkan roknya. Sang pria akhirnya membuka pagar, membiarkan Natalie untuk masuk. Natalie menarik napas panjang, merasa sangat lega, dia akhirnya lolos. “Terima kasih,” ucapnya masih tersenyum lalu melambai. “Baiklah, kita lihat ada apa di dalam sana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN