Natalie mengedarkan pandangan, tidak menyangka dia melihat sesuatu yang di luar dugaannya.
Kedua mata Natalie tampak membesar. Dia tidak percaya melihat semua orang melakukan hal gila berada di dalam. Ditambah, apalagi tubuh mereka ditutupi dengan kain tipis. Bahkan ada yang nyaris tidak memakai busana sama sekali. Lalu, melakukan hubungan di dalam dengan bebas, kemudian menggunakan sebuah obat yang tentunya bisa membuat mereka melakukan hal lebih gila lagi. Natalie semakin bergetar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Roy masuk ke dalam sebuah klub yang sangat mengerikan dan tentu saja hal itu membuat dirinya takut. Dia sudah masuk ke dalam dan pastinya akan kesulitan untuk segera keluar dari klub yang sangat menakutkan itu.
“Semua orang melayang dan sepertinya menggunakan obat terlarang,” batin Natalie mulai bergemetar. Dia sama sekali masih terkejut, ternyata ada club di siang hari dan di dalamnya sangat mengerikan. Bahkan ada yang melakukan hubungan intim tanpa malu.
“Aku … aku tidak percaya dengan ini semua. Aku sangat ketakutan. Sebaiknya aku sangat berhati-hati. Ternyata Roy seperti ini,” gumamnya tanpa henti. Natalie terus mengamati semua arah dengan kaku. Pandangan mengerikan berusaha dia tahan.
“Kedua mataku ternoda … menyebalkan.” Natalie masih saja berusaha menenangkan hatinya. Dia terus mencari Roy yang sama sekali tidak terlihat. “Di mana kamu Roy?”
“Hey, kamu sangat cantik!”
“Argh!”
Natalie terkejut, dan berteriak mendadak melihat laki-laki mabuk menariknya menuju pojok ruangan remang-remang dan sepi. Bahkan kedua teman laki-laki itu mengikutinya. Mereka bertiga saling menarik tubuh Natalie. Teriakan Natalie semakin membuat mereka tertawa.
“Argh! Hentikan!”
“Hahaha, kau sangat cantik jika tertawa. Aku menyukainya.”
“Jangan sentuh aku!”
Natalie berteriak histeris saat mereka semua menempelkan tubuh mungil itu di tembok dalam keadaan berbalik. Rok pendek Natalie mulai akan mereka buka dengan tawaan sadis.
“Tolong, aku mohon ….,” rintih Natalie pasrah dengan menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Laki-laki itu memegang pinggang ramping Natalie, dan siap untuk memasukkan miliknya. Kedua laki-laki yang melihatnya, tertawa keras sambil bersiap juga akan melakukannya.
“Argh! Hentikan, aku mohon. Tidak!” Natalie terus meronta-ronta namun sia-sia. Dia semakin menyesal tidak mendengar perkataan Roy. Seharusnya dia tidak memasukinya. Rasa penasaran membuat dia terjerumus dengan laki-laki tidak tahu diri.
Natalie memejamkan kedua mata. Masih dengan kuat meronta sembari berteriak. Hingga, “Plak!”
“Kurang ajar!”
“Buk!”
Natalie melotot, membalikkan tubuhnya, terkejut melihat Sultan ada di hadapannya bersama Samuel dan pengawalnya. Natalie lemas, hingga terjatuh di lantai. Sultan dengan sigap menangkap tubuhnya. Dia menggendong Natalie keluar dari sana. Sementara Samuel bersama beberapa pengawal menghajar semua yang akan melawannya. Roy yang melihatnya sangat terkejut. Apalagi Samuel menyeretnya dengan paksa untuk keluar.
Sultan meletakkan tubuh Natalie di dalam mobil. Natalie masih saja menangis. Sultan mengamati semua tubuh Natalie dengan saksama. Bahkan dia memeriksa baju Natalie dan membenarkannya. Sultan masih terlihat dingin tanpa bersuara. Natalie hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Sultan kepadanya.
“Tuan Muda, Tuan Roy,” ucap Samuel masih mencengkeram kerah Roy dengan keras. Sultan membelai rambut Natalie, perlahan mencium keningnya. Dia menarik napas, memejamkan kedua matanya sejenak untuk menenangkan dirinya.
Tanpa berbicara, Sultan keluar dari mobil. Natalie resah melihatnya. Dia takut jika Sultan akan menghabisi Roy. Namun itu ternyata benar. Sultan menghajar Roy sampai pingsan. Wajah roy sangat lebam. Hidungnya patah, dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Dalam keadaan sudah sangat lemah, Sultan terus melayangkan pukulannya. Natalie merasa bersalah melihat itu semua. “Ini semua salahku. Jika aku tidak masuk ke dalam, Roy tidak akan pernah mengalami hal itu. Aku harus mencegah Sultan dan mengatakan yang sesungguhnya.”
Natalie keluar dari mobilnya. Dia berlari menarik lengan Sultan yang masih dengan amarah melayangkan pukulannya.
“Tolong, hentikan!” teriak Natalie tidak membuat Sultan menghentikannya. Samuel melangkah cepat menahan tangan Sultan yang sudah terangkat tinggi untuk kembali mendarat di wajah Roy.
“Tuan Muda, saya pikir sudah cukup.” Mereka saling bertatapan tajam. Samuel berharap Sultan bisa meredakan amarahnya.
“Tuan Muda, Tuan Roy sudah tidak berdaya. Ijinkan saya membawanya ke rumah sakit. Ini sangat buruk. Dia tidak boleh mati.”
Sultan menghentakkan tangan Samuel. Dia menarik Natalie yang masih menangis di hadapannya.
“Diam!” bentak Sultan keras. Dia memasukkan Natalie ke dalam mobil. Samuel mengarahkan tangan kepada pengawal agar mendekat.
“Bawa Tuan Roy ke rumah sakit. Pastikan jika dia seperti ini karena kecelakaan,” ucap Samuel membuat pengawal menganggukkan kepalanya.
Dia berjalan cepat menuju mobil dan melesatkan untuk kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan, mereka masih saling diam. Namun Sultan terus menyorotkan pandangan tajam membuat Natalie salah tingkah dan memalingkan wajah.
“Jika dia mau memutuskanku, aku sudah akan pasrah menerimanya,” batin Natalie bergemetar.
Sepanjang perjalanan Sultan kali ini sama sekali tidak menolehkan pandangan. Dia sangat kecewa melihat apa yang dilakukan Natalie kepadanya. Apalagi melihat fakta jika Natalie menemui Roy secara diam-diam dan masuk ke dalam sebuah klub mengerikan, ditambah nyawa Natalie yang sangat terancam. Dalam pikirannya semakin bergejolak. Bagaimana jika Natalie saat itu tidak selamat, dan dirinya terlambat untuk menolongnya? Hal itu adalah suatu yang buruk dan sekarang berkecamuk di dalam pikiran Sultan.
"Gawat, apa yang akan dia lakukan kepadaku? Hah, dia memberikan tatapan tajam itu dan aku sangat takut. Aku ... aku sangat bersalah dan sebaiknya aku tidak melakukan hal ini lagi," batin Natalie sangat resah melihat Sultan masih saja melakukan hal itu di hadapannya.
Mobil dalam sekejap sampai di apartemen. Sultan keluar, tidak menunggu Samuel membukakan pintu untuknya. Natalie semakin resah melihatnya. Apalagi Sultan membuka pintu mobilnya, lalu menariknya dengan kasar. Namun Natalie hanya pasrah menerimanya.
"Sebaiknya aku akan menerima semua hukuman yang akan diberikan Sultan kepadaku. Aku sudah sangat pasrah. Dia pasti akan melakukannya dengan sangat kejam. Hah, hari ini benar-benar menakutkan. Apa yang harus aku lakukan padanya?" batin Natalie sekali lagi berusaha mengatur hatinya yang sangat menderita dengan ketakutan yang dipendam.
Sultan berjalan cepat akan masuk ke dalam kamar. Natalie di belakangnya mengikuti dengan kepala menunduk. Sekujur tubuhnya masih saja bergemetar.
Sampai di dalam kamar, Sultan melempar tubuh Natalie hingga terhempas di sofa. Dia membuka semua kemejanya.
“Apa yang akan dia lakukan?”