Saran Samuel

1375 Kata
Natalie semakin tidak mengerti dengan Sultan. Namun, dia kembali terpana dengan ketampanan Sultan yang memang tiada tertandingi. “Hah, kekar banget. Aku jadi pengin makan roti sobek,” gumamnya pelan. Natalie menelan salivanya, terus menatap Sultan yang kini berkacak pinggang. Natalie seketika melotot, menatap Sultan yang akan meluapkan amarah. “Sekarang, apa alasanmu! Katakan, dengan benar!” bentak Sultan keras. Natalie terperanjat. Kedua tangannya mengerat menjadi satu. Rasanya dia tidak pernah melihat sosok yang memang keras, namun berteriak dipenuhi amarah kepadanya. “Huaaa!” Natalie menangis kencang. Sultan mengernyit dalam, mendadak pundaknya terangkat karena terkejut. Kepalanya menggeleng. Dia sangat paham dengan Natalie yang berpura-pura menangis. Natalie hanya akan menangis dengan dua hal. Karena ketakutan, dan salah satu bagian tubuhnya jika terjadi sesuatu. Yang paling Sultan ingat, jika kuku lentik dengan cat warna merah miliknya rusak, tidak ada yang bisa menghentikan tangisannya. “Jangan berpura-pura. Kau selalu saja melakukan hal bodoh. Jika kau menginginkan sesuatu, kau tinggal mengatakannya kepadaku. Aku akan memberikannya.” Kedua alis Sultan menukik tegas. Rahangnya mengeras, menatap tajam Natalie yang kini menundukkan kepala dengan wajah sendu. “Apa kau pikir ini bercanda?” teriak Sultan sekali lagi. Natalie kali ini hanya terdiam. Wajahnya mulai memucat. Sultan tidak sampai disitu saja memarahinya. Dia mendekati Natalie, semakin membentakknya. “Lihat aku!” Sultan semakin kesal melihat Natalie masih saja tidak menurutinya. Dia menarik tubuh Natalie dan mendekapnya erat. “Tolonglah. Aku tidak bisa seperti ini. Jika aku kehilanganmu, aku tidak bisa lagi hidup. Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku. Jangan pernah kau ulangi lagi, Nat. Aku … mohon,” bisik Sultan sembari mengeratkan dekapannya. Hembusan napasnya terdengar keras. Natalie perlahan mulai membalas dekapan Sultan. Dia merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Memang seharusnya dia tidak melakukan itu. “Aku minta maaf,” balasnya pelan. Sultan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pipi Natalie. Sorotan mata hitamnya membuat Natalie sekali lagi berdetak kencang. “Aku maafkan. Sekarang, istirahatlah. Samuel akan mengirimkan makanan.” Sultan melepaskan Natalie dan keluar dari kamar. “Aku akan merokok. Aku membutuhkan ketenangan,” kata Sultan seketika membuat Natalie melotot. Merokok adalah hal yang sebenarnya tidak pernah Sultan lakukan. Namun sekarang, Tuan Muda melakukannya. “Kenapa dia melakukannya?” batin Natalie menatap sendu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya semakin sesak. Seharusnya dia tidak menambah beban pikiran Sultan yang sudah sangat berat. Hari ini adalah penyesalan terberat dirinya. Sultan di kamar Samuel sudah menghabiskan dua batang rokok. Samuel semakin gelisah melihatnya. Dia masih menatap Sultan, memikirkan sebuah cara untuk membuat suasana lebih baik. Samuel berdiri dari duduknya, mendekati Sultan yang masih menatap kota dari jendela kamar sembari menghabiskan rokok dan memainkan asapnya. “Tuan muda, sepertinya aku mempunyai cara untuk membuat Nona natalie tertawa kembali,” ucap Samuel menunjukkan jarinya ke layar kamera CCTV menunjukkan Natalie duduk sofa sambil menyandarkan tubuhnya dengan wajah yang sangat pucat dan pandangan kosong. Sultan seketika membuang rokok yang semula masih dia hisap. Dia semakin menatap layar CCTV, merasa sangat sedih melihat Natalie yang biasanya ceria dan sangat cerewet, kini hanya diam tidak mempunyai tujuan. “Apa rencanamu Samuel? Aku harap kali ini kau benar-benar memiliki rencana yang sangat bagus.” Sultan bersedekap, masih menatap Natalie dari layar. “Dia sudah melakukan hal yang sangat bodoh. Namun aku tidak bisa marah dia hadapannya. Bagaimana bisa aku melakukannya, Samuel? Wajahnya seperti seseorang yang sangat membutuhkan perlindunganku. Kini Sultan semakin menatap Samuel. “Katakan apa rencanamu itu?” “Saya bisa membuat Nona Natalie tertawa dan ceria kembali,” ucapan Samuel yang membuat Sultan terkekeh. “Hahah. Sudah jelas dia sangat menyukai belanja, pergi ke salon, dan sesuatu yang mempercantik dirinya. Semua itu yang selalu diinginkan seorang wanita.” “Apakah Nona Natalie sering meminta itu kepada Anda, Tuan Muda? Bukankah selama ini Nona Natalie selalu menolak pemberian Anda. Ternyata Anda tidak paham dengan apa yang Nona Natalie butuhkan.” Sultan tidak percaya mendengar apa yang Samuel katakan kepadanya. Dia berkacak pinggang, menyorotkan pandangan tajam ke arah pengawal setianya itu yang masih diam membalas tatapannya. “Hmm … jadi, kau lebih memahami dia dari pada aku? Begitu maksud kamu?” Samuel menggelengkan kepalanya, melangkah dekati Sultan yang semakin menatapnya tajam. “Anda harus paham apa yang saya katakan. Nona Natalia akan bisa bahagia kembali jika Nona Cantik datang kemari. Kita harus memanggilnya, Tuan Muda.” Sultan tertawa keras. Dia tidak menyangka dengan saran Samuel yang membuatnya seketika melakukan itu. “Hahaha. Jadi mendatangkan mantan pacar kamu? Maksudnya?” “Tuan muda, ini tidak ada hubungannya dengan saya. Lagipula sejak peristiwa itu, saya sudah meninggalkan Nona Cantik begitu lama. Pasti dia sudah mempunyai kekasih lain dan tidak mungkin menungguku, laki-laki yang biasa seperti ini. “Kamu jangan merendah seperti itu. Natalie saja sering memuji kamu. Tapi sepertinya rencana kamu itu sangat bagus. Baiklah, tunggu apa lagi? Cepat hubungi!” “Baik, Tuan Muda.” Samuel Mulai mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Sesaat dia diam, sebelum akhirnya menekan nomor pengawal yang berada di ruangan Black Room. “Carikan nomor ponsel Nona Cantika. Aku tunggu. Segera kirimkan kepadaku.” Sultan duduk di kursi sofa sambil menyilangkan salah satu kakinya lalu terkekeh pelan. “Aku tidak sabar melihat ekspresi Cantik ketika melihat kamu. Semoga saja kau tidak menerima tamparan yang sangat keras. Namun aku ingin melihatnya. Namun pipimu itu sudah lama tidak merah.” Samuel hanya diam menunduk, tidak menanggapi apa perkataan Sultan. Namun dalam batinnya, dia sebenarnya sangat bergetar. Selang beberapa menit, ponsel samuel berdering. Dia segera mengangkatnya.  “Baiklah,” jawabnya singkat. Samuel berjalan menuju pojok ruangan. Sultan masih saja mengamatinya dengan mengernyit. Samuel menarik napas, lalu mulai menekan nomor Cantik. “Ini Nona Cantik?” “Iya, ini aku Nona Canti sangat cantik membahana. Kau … siapa?” “Samuel.” “Apa?” Tut … tut Cantik seketika menutup ponselnya. Samuel menggeleng sembari mengernyit dalam. Sultan mengangkat kedua alisnya, menatap Samuel. “Dia … menutupnya?” tanya Sultan mengangkat kedua tangannya. Samuel dengan wajahnya yang datar perlahan menganggukkan kepalanya. “Hahah. Aku sudah bilang. Kau … akan sengsara jika bertemu dengannya. Bersiaplah, kedua pipimu itu.” Sultan berdiri, lalu mendekati Samuel dan merebut ponselnya. Dia menekan tombol hijau untuk kembali menghubungi Cantik. “Kau! Samuel berengsek! Berani-beraninya menghubungiku? Apa kau mau mati?” Cantik seketika membentak, membuat Sultan dan Samuel saling menolehkan pandangan. “Natalie membutuhkanmu. Ini Sultan. Aku mohon datanglah,” kata Sultan seketika membuat Cantik terdiam. “Natalie? Kenapa dia?” tanyanya cemas. “Seseorang ingin melecehkannya. Dia sangat sedih. Samuel akan menjemputmu. Terima kasih.” Sultan menutup ponselnya. Dia memberikannya kepada Samuel yang menarik napas panjang. “Jemput dia, Sam,” kata Sultan lalu menepuk pundaknya. “Aku tidak suka menunggu.” Sultan berjalan, keluar dari kamar Samuel dan kembali menuju kamarnya. Natalue masih saja diam tanpa ekspresi. Sultan mendekatinya. “Aku punya kejutan untukmu, Nat.” Natalie masih saja diam tidak menolehkan pandangannya. Sultan mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali menghabisi Roy. “Natalie, aku mau menciummu!” Natalie masih saja tidak menoleh. Padahal itu adalah keinginan Natalie. “Ini sangat rumit.” Sultan teralihkan oleh nada dering ponselnya di dalam jaz. Sultan segera merogoh dan memeriksanya. Nomor tidak dikenal ada di layar. Sultan perlahan mengangkatnya. Dia tidak mendengar suara apapun. Hanya napas mendesah yang terdengar. Tangan Sultan kembali bergetar. Keringat mulai muncul. Seketika itu juga perasaannya tidak karuan. Natalie yang tidak sengaja menatapnya, berdiri mendekati Sultan, perlahan menarik ponsel yang masih Sultan pegang dengan kaku. Natalie mendengarkan  suara yang sangat mengerikan. Suara desahan mengeluarkan hasrat. Natalie yakin jika itu adalah Devoni. “Ah!” “Dasar kurang ajar! Devoni! Aku menantangmu! Aku akan membunuhmu, mencabik-cabik tubuhmu! Ingatlah perkataanku ini!” Natalie menutup ponsel Sultan, lalu membuangnya dan menginjak-injak hingga hancur. Dia menarik Sultan dan memeluknya. Tubuh Sultan sangat kaku. Pandangannya kosong. “Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu, Bos.” Mereka berpelukan dengan perasaan gelisah masing-masing. Namun kali ini Natalie sadar jika dia harus lebih kuat. Trauma Sultan lebih berat darinya. Dia tidak bisa lemah. “Suara itu. Dia melakukannya kepadaku. Saat itu aku mendengar jelas suara desahan itu di telingaku. Bahkan tangisanku tidak dia hiraukan. Miliknya terus melakukannya. Aku … aku sangat mengingatnya,” ucap Sultan lemah dengan kedua mata memerah. Tangannya mulai mengepal. Natalie semakin memeluknya. “Ada aku di sini. Aku akan menolongmu, Bos.” “Natalie?” “Cantik?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN