Natalie tidak percaya melihat Cantik datang ke apartemennya. Dia tiba-tiba datang setelah berbulan-bulan tidak bertemu dengannya. Namun Cinta kembali keluar saat Samuel menariknya.
“Tunggu di sini,” ucap Samuel singkat.
“Tapi?”
Samuel tidak menghiraukan Cantik dan kembali masuk ke dalam kamar. Dia melangkah cepat mendekati Natalie yang masih memeluk Sultan. “Nona, apa yang terjadi,” tanya Samuel lemas. Tangan kekarnya menarik tubuh Sultan yang masih diam dengan pandangan kosong, dan memapahnya menuju ranjang.
“Devoni mengetahui nomornya, Samuel. Dia menghubungi Sultan dan mendesah. Sangat menjijikkan. Aku akan segera menemukan laki-laki k*****t itu dan menghabisinya!”
“Nona. Saya akan mencari informasi ini. Sebaiknya Anda menenangkan diri. Saya mohon Anda tidak melakukan hal di luar kendali saya.”
Natalie terdiam, menganggukkan kepalanya. “Kita sebaiknya keluar, Nona. Biarkan Tuan Muda beristirahat.”
Samuel bersama Natalie segera keluar dari kamar dan menutup pintu sangat rapat. Mereka berdua terkejut melihat Cantik menatap mereka dengan tajam, sambil bersedekap. Samuel menarik napas panjang, berusaha mengatur hatinya. Perlahan dia melangkah, mendekati Cantik yang mulai menurunkan kedua tangannya.
“Plak!’
“Hah!” Natalie terkejut melihat Cantik dengan keras menampar Samuel. Dia menutup mulut dengan jemari kanannya.
“Sam, kenapa aku tidur sendiri?” Sultan yang tiba-tiba terbangun dan berjalan keluar kamar, mengernyit melihat Cantik.
Cantik mengepalkan kedua tangannya, mengatur napasnya sebelum akhirnya dia berteriak, “Dasar laki-laki tidak tahu diri! Arogan, sok ganteng, argh!”
“Plak, plak!”
“Aku sangat menderita selama tujuh tahun, dan kau sekarang tiba-tiba memanggilku? Tidak tahu diri!”
Cantik menarik kerah baju Samuel hingga pria bertubuh tinggi kekar itu menundukkan kepalanya. Cantik menciumnya. Samuel yang semula melotot terkejut, membalas ciuman yang memang sangat dia rindukan.
“Apa?” Natalie berdiri dengan bersedekap. Sementara Sultan menganga melihatnya.
Samuel menggendong Cantik di hadapannya. Dengan cepat Cantik mengeratkan kedua kakinya yang melingkar di pinggang Samuel. Bibir mereka semakin liar. Samuel membawa Cantik keluar kamar. Natalie berlari mengikuti mereka dan melihat Samuel memasukkan Cantik ke dalam kamarnya.
“Cantik! Jangan berikan, kalian belum menikah!”
“Aku dulu sudah melakukannya. Dia laki-laki sangat kurang ajar!” balas Cantik membuat Natalie terdiam seperti patung.
“Apa?”
Sultan berjalan keluar dan menarik Natalie yang masih bergeming. “Kenapa kau iri dengan mereka, sementara kau memiliki aku,” kata Sultan menggeleng.
Natalie menampis tangan Sultan yang akan memeluknya. “Apa? Memiliki Tuan Muda?” Natalie menarik napas sebelum memaki Sultan yang masih memandangnya. “Ciuman saja tidak kau berikan. Apakah ini keberuntungan? Atau … argh! Menyebalkan!”
“Aku akan memberikannya nanti,” jawab Sultan santai.
“Dasar pelit!” balas Natalie mendekati Sultan. Kedua mata dengan bulu lentiknya mengamati tubuh Sultan dari atas sampai bawah dengan saksama. Natalie tiba-tiba memeluknya. Sultan tersenyum, membalas pelukan Natalie.
“Aku akan mendampingimu, sayang. Kamu jangan takut. Nanti kalau takut bisa meluk aku,” kata Natalie mengedipkan salah satu matanya.
“Kecoak!”
“Apa? Argh!”
Natalie spontan menaiki tubuh Sultan. Kedua matanya spontan memejam. Kecoak adalah binatang paling dibencinya. Sultan tertawa keras melihatnya. Natalie membuka kedua matanya. Dia menggeleng, kemudian melepaskan pelukan Sultan dan menuruni tubuh kekar itu.
“Bagaimana kau bisa melindungiku, kecoak saja takut.”
“Tapi, kau baik-baik saja?” tanya Natalie kembali. Hatinya merasa lega. Natalie tersenyum saat Sultan menganggukkan kepalanya dengan senyuman tampan.
“Aku tidak masalah,” jawab Sultan semakin membuat Natalie puas. Dia berjalan mendekati Sultan. Jemari kanannya menarik lengan Sultan untuk menduduki sofa. Natalie duduk di sebelah Sultan, memegang kedua pipi Sultan dan menatapnya.
“Tuan Muda, apapun yang kau lakukan, aku harap jangan pernah lengah. Kenapa dokter itu bertahun-tahun memeriksamu dan kalian yang memiliki pengawal ratusan, tidak bisa mengenali penjahat? Ini tidak masuk akal.”
Sultan menampis kedua tangan Natalie yang masih memegang pipinya. “Kau pikir ibu tiriku jahat?”
Natalie spontan mengulurkan kedua tangannya dan menggeleng keras. “Bukan itu maksudku,” jawabnya singkat.
“Lalu?” tanya Sultan melotot.
“Hah … aku hanya resah saja. Coba kamu pikirkan. Kenapa dia jahat? Maafkan aku. Tapi ….” Natalie menghentikan ucapannya. Sultan semakin tertarik untuk mendengarkannya.
“Nat. Jangan membuatku kesal. Katakan apa maksudmu!”
“Nyonya Jovanka memang masih berhubungan dengan Devoni. Karena aku …” Natalie memalingkan wajahnya dari Sultan.
“Karena apa?” bentak Sultan keras. Spontan Natalie membalikkan tubuhnya.
“Saat acara bersama Bos Besar, aku melihat Nyonya Jovanka menemui Devoni diam-diam di halaman belakang rumah.”
“Apa!”
Sultan menekan kedua pundak Natalie. Wajahnya menampilkan amarah. “Ceritakan, semuanya dengan detail. Sekarang!”
“Aku akan menceritakan. Tapi tidak sekarang,” rengek Natalie dengan cemberut. Sultan melepaskan cengkeramannya.
“Baiklah. Pasti Samuel mengetahuinya.”
“Argh! Samuel!”
Natalie dan Sultan saling memandang. Mereka semakin kesal mendengar Cantik berteriak semakin kencang.
“Tidak aku percaya, mereka masih melakukannya?” ucap Natalie menepuk jidatnya.
“Dasar pengawal. Sekali melakukannya seperti itu?”
Sultan berdiri dari duduknya, berjalan cepat akan menuju kamar Samuel. Dia terhenti saat Natalie menarik lengannya. Kepalanya menggeleng, memberi isyarat agar Sultan tidak mengganggunya. “Biarkan mereka.”
“Biarkan?” Sultan mengangkat kedua tangannya dengan wajah kaku.
“Samuel sudah lama tidak melakukannya. Cantik juga sama. Biarkan saja,” balas Natalie santai. Sultan menarik tubuh Natalie, memandangnya.
“Apa kita akan melakukan hal yang sama?”
“Apa?”
Sultan semakin mengeratkan tubuh Natalie. “Aku … aku tidak bisa,” ucap Sultan mendadak. Dia melepaskan tubuh Natalie kembali dan memasuki kamar, lalu menaiki ranjang. Natalie diam menarik napas panjang.
“Aku akan menunggunya,” batinnya.
Natalie mengikuti Sultan dan merebahkan tubuh di sebelahnya. Sultan menarik selimut, lalu terlelap dengan cepat. Natalie di sebelahnya masih menatap wajah tampan Sultan.
“Apa yang harus aku lakukan dengan masalahnya? Ini semakin rumit. Bahkan keluarganya saja melakukan semuanya dengan rahasia. Ini tidak bisa dibiarkan.”
Natalie terjaga sepanjang malam. Dia menatap layar ponselnya. “Aku harus menemui Roy sekali lagi. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melakukan penyelidikan secepatnya,” gumamnya. Natalie menatap jendela, dan akhirnya tersenyum. Dia menemukan cara untuk bisa melakukan penyelidikan.
“Cantik. Dia bisa membantuku. Shoping dan berjalan-jalan akan membuatku bisa melarikan diri. Itu akan segera aku lakukan.”
Natalie meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia menarik selimut. Kedua matanya masih memandang atap langit kamarnya. “Aku akan melakukannya, tidak peduli nyawaku sebagai taruhannya,” ucapnya bersemangat. Kini dia menolehkan pandangannya ke arah Sultan. Senyuman kembali mengembang.
“Hah. Biasanya aku memandangmu di dalam lukisan itu. Sekarang aku bisa memandangnya dengan jelas. Aku ternyata memang berjodoh dengannya. Ini sangat luar biasa. Natalie, akan menjadi istri Tuan Muda Sultan. Pemuda terkaya. Hmm, sangat menarik. Tapi pelit. Dasar,” gumamnya tersenyum. Dia semakin mendekat tubuh Sultan dan memeluknya. Natalie mulai menutup kedua matanya dan ikut terlelap.
Matahari sudah menunjukkan sinarnya. Seperti biasanya, cahaya yang masuk melalui celah jendela, membuat Natalie terbangun. “Kenapa sinar itu selalu saja cepat muncul? Aku masih sangat mengantuk.”
Natalie mendadak mengusap kedua matanya saat melihat sosok Sultan sudah memakai jas dan duduk di hadapannya.
“Apa aku akan berangkat ke kantor sendiri lagi?” tanya Natalie sedikit kesal jika mengingatnya.
“Tidak!” jawab singkat Sultan. Dia berdiri dari duduknya, mendekati Natalie yang masih terduduk di ranjang dan menguap.
“Kau akan berangkat jalan-jalan dengan Cantik. Aku mendengar ocehanmu tadi malam. Kau pikir aku tidur?”
Natalie melotot mendengar Sultan. “Kau terlihat tidur. Jadi … selain menjadi Tuan Muda … kau adalah aktor? Tidak aku percaya, memiliki pacar dengan kepribadian bermacam-macam.”
“Cepat mandi, sebelum aku berubah pikiran. Ini aku lakukan karena untuk membuatmu melupakan kejadian mengerikan itu,” balas Sultan menunjukkan jarinya tepat di wajah Natalie.
Dengan cepat Natalie menuruni ranjang, segera melakukan perintah Sultan. Kali ini dia melakukan dengan sangat singkat. Natalie semakin bersemangat saat Cantik sudah siap dan berada di sofa. Mereka berpelukan dan melompat kegirangan. Samuel dan Sultan hanya menatap mereka tanpa berucap.
“Aku tidak menyangka akan bertemu kau lagi, sahabatku yang menggelora,” ucap Natalie semakin bersemangat.
“Hmm, kau juga sangat cantik. Kita akan belanja, dan merawat kuku kita. Lalu ke spa, dan sauna. Hahaha, sangat menyenangkan,” balas Cantik tertawa keras.
Mereka kembali tertawa dengan bahagia. Sementara Sultan mengarahkan kepalanya agar Samuel memberikan kartu kredit tanpa batas miliknya kepada Natalie. “Berikan kepadanya.”
Samuel mengangguk, lalu menyodorkan kartu itu. Sontak Natalie bersama Cantik terdiam. Perlahan Natalie menerimanya.
“Aku sangat mencintaimu, Sultan,” ucapnya sembari mengedipkan salah satu matanya. Dia kembali berpelukan dengan Cantik dan terus tertawa.
“Wanita selalu saja matre.”
Samuel hanya menganggukkan kepala tersenyum membalas perkataan Sultan.