Natalie bergandengan dengan Cantik, berjalan keluar dari kamar. Natalie menghentikan langkahnya, kembali menolehkan pandangan ke arah Sultan. “Jangan pernah mengikuti kami.” Sekali lagi Natalie mengedipkan salah satu matanya. Sultan hanya terdiam kaku menatapnya.
Cantik juga melakukan hal yang sama. “Da, mantan pacarku,” kata Cantik sembari melambaikan tangan. Samuel merogoh ponselnya, menghubungi beberapa pengawal yang sudah mengawal dan akan mengikuti mereka berdua.
“Ikuti mereka kemanapun. Jangan sampai terlepas.”
Sultan menarik napas, sedikit melonggarkan dasinya. “Baiklah, aku akan mengamatinya dari ruanganku.” Sultan berjalan, menuju pintu lift. Samuel mengikutinya dengan cepat.
“Aku merasakan, mereka akan pergi menemui Roy. Aku sangat paham dengan Natalie.”
“Tuan Roy berada di rumah sakit sangat rahasia, Tuan. Mereka tidak akan menemukannya. Saya menjamin itu.”
“Lalu, bagaimana dengan dokter itu. Siapa dia?”
Sultan melangkah keluar saat pintu lift terbuka. Samuel di belakangnya semakin mendekat, untuk memberikan informasi yang sudah dia dapatkan dari ruangan Black Room. “Dokter itu suruhan seseorang. Dia tidak mengatakannya. Saya mengurungnya, Tuan. Selama ini Nyonya Jovanka mengetahui sesuatu. Namun dokter itu tidak mengetahui Devoni.”
Langkah Sultan terhenti. Dia diam sejenak untuk berpikir. Samuel kini berada di hadapannya. “Dia bisa saja berbohong, Samuel. Tato itu ada di pergelangan tangannya. Sama dengan tato yang Devoni kirim untuk membunuhku.”
Samuel dan Sultan saling menatap tajam. Mereka berdua tidak mengerti dengan situasi yang sangat misteri. “Tato itu bisa dihapus dengan mudah. Itu adalah palsu. Seseorang sudah merencanakan ini, Tuan. Saya pikir Nyonya ada hubungannya dengan semua ini.”
Sultan tidak berucap apapun. Dia berjalan, memasuki mobilnya. Samuel segera menyusul di kursi depan. Sang sopir melesatkan dengan cepat mobil mewah Sultan.
Sepanjang perjalanan, Sultan masih memikirkan semuanya. Dia tidak menyangka Jovanka ada hubungannya dengan ini semua. Namun dalam benaknya, jika dia tidak melihat kenyataan itu sendiri, dia masih meragukan itu semua.
Dalam sekejap mobil mewah Sultan telah sampai di kantor megahnya. “Apakah ruangan Black Room sudah siap mengintai dua wanita genit itu?”
“Kami sudah mempersiapkannya, Tuan Muda.”
Sultan menganggukkan kepalanya, segera berjalan menuju Black Room. Samuel mengikutinya dari belakang. Sultan segera duduk di depan salah satu layar yang memperlihatkan Natalie dan Cantik berjalan menelusuri toko berbelanja sangat banyak. Sultan menggeleng melihatnya.
“Jika aku tidak kaya, apakah dia mau denganku?” tanyanya menatap Samuel yang seketika mengernyit.
“Itu tidak akan terjadi, Tuan.”
Natalie dengan Cantik sangat gembira akhirnya bisa berjalan-jalan. Mereka menelusuri semua toko bermerk dan termahal di kota. Kali ini mereka menuju tempat manicure pedicure. Mereka duduk di kursi sofa dan menerima pelayanan untuk mempercantik kuku mereka.
“Ini adalah hari sangat indah. Hah … aku akan menikmatinya. Setelah ini kita akan memakan makanan pinggir jalan. Kita akan melahapnya dan melupakan diet yang selalu kita lakukan. Aku sudah bosan dengan restaurant mahal,” ucap Natalie dengan tersenyum membayangkan sosis bumbu yang selalu dia makan saat bersekolah.
“Sosis berselimut telur itu, sangat membuatku lapar. Aku akan memakannya lima. Hahaha,” balas Cantik.
Natalie menatap Cantik yang masih memilih cat kuku yang akan dipakainya. “Kapan kau melakukan dengan Samuel? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?” protes Natalie dengan kedua matanya yang melebar.
Cantik menghentikan gerakannya. Dia menarik napas, sangat resah melihat tatapan Natalie. “Baiklah, aku akan mengakuinya,” balas Cantik. Dia merasa lega saat senyuman kini terlihat di wajah Natalie.
“Aku … saat itu berada di mobil berdua. Kami menikmati pantai. Lalu … aku tidak kuat melihat wajah dinginnya. Kita … saling menatap, dan aku mendekatinya. Yah, kita melakukan di mobil.”
“Apa?”
Natalie sangat kesal mendengarnya. “Samuel, aku akan membunuhnya. Kenapa dia mengambilnya di mobil! Lihat saja jika aku bertemu dengannya. Dasar berengsek!” teriak Natalie keras. Sultan di ruangan menatap Samuel dan menggelengkan kepala. Samuel menarik napas panjang mendengar ancaman Natalie yang lebih menakutkan dari penjahat manapun.
“Sebaiknya kau bersiap dengan kekasihku, Samuel.”
Cantik tersenyum ke arah Natalie yang masih kesal. “Kau adalah sahabatku yang sangat luar biasa. Bunuhlah Samuel untukku. Cincang dia, dan lemparkan ke laut.”
“Aku akan melakukannya.”
Mereka tertawa bersama. Sementara Samuel melonggarkan dasinya dan berusaha menenangkan batinnya. Sultan sedikit terkekeh melihatnya.
Setelah menyelesaikan perawatan kukunya, Natalie menarik Cantik menuju kedai sosis yang sudah mereka bayangkan. Makanan yang sangat mereka sukai. Dengan masih tertawa, mereka memakan lima buah sosis. “Ini adalah makanan paling enak. Tapi setelah ini kita harus diet.” Cantik tidak menghiraukan perkataan Natalie. Dia tetap menghabiskan semua sosis yang tersisa. Natalie tersenyum, sambil mengedarkan pandangannya. Dia sebenarnya sangat tahu jika Sultan pasti memerintahkan semua pengawal untuk mengikutinya.
“Hmm … semua pejalan kaki itu pasti suruhan Tuan Muda. Bagaimana bisa aku menghindari mereka. Pasti mereka sudah memberikan kamera cctv di setiap sudut jalan. Dia sangat kaya raya. Apapun bisa dia lakukan. Hah, aku harus menemui Roy. Aku harus memikirkan cara.”
Natalie mendadak menekan perutnya. “Cantik. Kita harus menuju toilet. Aku harus membuang air di dalam perutku yang sudah sangat kaku ini.”
“Kenapa kau selalu melakukannya di saat yang tidak tepat,” balas Cantik menggeleng.
Mereka kini memasuki mini market. Natalie melambaikan tangan kepada semua pelayan laki-laki yang membalasnya dengan senyuman. Sultan yang melihatnya di layar, sangat kesal.
“Brak!” Dia memukulkan telapak tangan di atas meja. “Kenapa dia selalu saja genit dengan semua orang. Aku membencinya. Samuel, kau harus menutup toko itu!” ucapnya melotot ke arah Samuel yang hanya menganggukkan kepalanya.
Natalie menarik Cantik memasuki toilet. Natalie mengamati semua arah dan menutup pintu dengan rapat. Cantik kebingungan melihatnya. “Nat. Apa yang kau lakukan?” tanyanya heran.
“Aku harus kabur dari semua pengawal itu.”
“Pengawal?” tanya Cantik sekali lagi karena tidak mengerti. “Apa maksudmu, Nat?”
“Kau pasti tidak akan tahu. Tuan Muda kaya raya pasti tidak akan melepaskanku. Apalagi pengawalnya itu. Mereka mengirim semua pengawal yang sudah menyamar.”
Cantik mendekati Natalie yang terus menatap jendela di atas wastafel. “Jangan bilang kau akan menaikinya dan kau akan keluar lewat sana. Belanjaan kita banyak.”
Natalie membuka pintu, melambai pegawai wanita agar masuk ke dalam. Pegawai itu tidak mengerti. “Kamu mau membantuku dan akan aku berikan uang yang sangat banyak. Jagalah, belanjaanku ini. Lalu, kita bertukar pakaian. Oke.” Pegawai wanita itu menganggukkan kepalanya. Dia keluar dan mengajak pegawai wanita satunya. Cantik menggeleng keras semakin tidak mengerti.
“Nat. Kau pikir ini bercanda? Apa yang akan kau lakukan?”
“Cantik. Kau akan mengerti nantinya. Sultan mengalami trauma berat. Itu alasan kenapa mereka meninggalkan kita. Begitu juga dengan Samuel.”
“Apa?” Cantik terkejut mendengarnya. “Trauma?”
“Kau akan mengerti nanti. Sekarang bantu aku menemukan laki-laki biadap yang sudah membuat kita terpisah dari mereka. Apa kau mengerti?”
Canti mengangkat kedua tangannya sembari menggeleng keras. Dia mengikuti Natalie berganti pakaian dengan pegawai saat kedua wanita itu sudah memasuki toilet.
“Kita berjalan, dan seolah-olah tidak terjadi apapun.” Natalie menarik Cantik keluar toilet. Mereka berjalan seperti biasa dengan menunduk dan menggunakan topi pegawai keluar toko. Natalie berlari menuju belakang pohon dan mengamati semuanya. Cantik yang berada di belakangnya, masih mengikutinya dalam diam.
“Bagus. Semua pengawal yang menyamar itu tidak mengetahui kita. Ayo, kita pergi.”
Cantik baru menyadari ternyata di setiap sudut jalan ada dua pria menyamar menggunakan pakaian biasa untuk mengikuti mereka. “Ini tidak mungkin. Ada hal buruk yang terjadi, dan kita akan mati,” ucap Natalie sembari cepat melangkah mengikuti ke mana arah kaki Natalie menuju.
“Kita ke mana?” bisik Cantik.
“Kita akan menuju rumah sakit di mana Roy di rawat.”
“Roy?” Cantik memegang kepalanya. Dia semakin tidak mengerti dengan semuanya, dan membuatnya terasa pening. “Aku bisa gila,” ucapnya lemas.
Mereka masih saja berjalan mencari cara untuk terus menghindar dari semua pengawal. Namun sesuatu membuat mereka menghentikan langkah. Seorang gadis berbaju merah berhenti di hadapan mereka dengan pandangan tajam.
"Nat. Apa kau mengenalnya," bisik Cantik mencengkeram lengan Natalie karena ketakutan.
"Aku tidak mengenalnya," balas Natalie dengan tegang.
Mereka saling berpegangan, melangkah mendekati gadis itu.
"Siapa kau?" tanya Natalie pelan.
"Sultan sudah melecehkanku. Dia adalah penjahat," jawabnya membuat Natalie dan Cantik saling menolehkan pandangan.