Gadis berbaju merah dengan wajahnya yang memucat, mengejutkan Natalie dan Cantik. Mereka terdiam kaku seperti patung.
“Kau … kau siapa?” tanya Natalie sekali lagi. Jantung Natalie berdegub kencang. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar sesuatu yang membuatnya lemas seketika. Tubuhnya tidak bisa menumpu dengan baik. Cantik terus memegang lengan Natalie dengan kuat.
“Natalie. Yang bisa menjelaskan semua ini hanya Sultan.”
Gadis itu melangkah mendekati Natalie. Pandangannya sangat tajam. Misteri terlihat di sana. Natalie masih saja berusaha mengatasi hatinya. “Apa … apa yang akan kau lakukan?” tanya Natalie terbata-bata. Kerongkongannya terasa kering seketika. Napasnya mulai tersendat. Dia tidak bisa menerima jika memang Sultan melakukan itu. Apalagi dalam benaknya, Natalie mengingat perkataan Roy saat itu. “Sultan tidak seperti yang kau kira, Nat,” kata Roy saat di restaurant yang selalu terbayang tanya di pikirannya. Sekarang kenyataan semakin dia lihat dan dengar.
“Aku harus menemui Sultan. Dia harus mengetahui sesuatu,” jawabnya dengan suara tertahan karena juga menahan linangan.
“Nona. Siapalah dirimu. Apa kau tahu dengan siapa berurusan? Jangan pernah bermain-main dengan situasi. Ini tidak bisa terjadi. Aku harap kau jangan berkata sembarangan,” ucap Cantik membuat sang gadis mengepalkan kedua tangannya.
“Apa kau pikir aku bercanda?” Gadis itu mendorong pundak Cantik. Kedua mata Natalie membelalak melihatnya. Dia diam sejenak, mengatur napasnya yang sangat tidak beraturan. Kini dia akan berusaha kuat dengan menghadapi ini semua.
“Baiklah! Kita akan menemui Sultan,” teriak Natalie. Cantik mengangkat kedua tangan sembari menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kau mempercayainya begitu saja, Nat? Kita tidak mengetahui siapa dia. Lagi pula, dia sangat membahayakan kita.” Penjelasan Cantik tidak membuat hati Natalie luluh. “Kita akan bertemu kembali. Aku berjanji akan menemukanmu kepada Sultan. Tapi tidak sekarang,” balas Natalie pelan namun penuh tekanan.
“Tidak bisa. Ada suatu hal yang harus aku sampaikan,” balasnya tegas sembari menunjukkan jari ke wajah Natalie.
“Kau--”
“Diam, Cantik!”
Cantik menurunkan jemarinya saat Natalie menampisnya. “Baik. Aku akan membawamu menuju apartemen.”
***
Sultan memutar tombol layar karena tidak menemukan Natalie dan Cantik. Sementara Samuel terus mengamati layar lainnya. Dia melihat dua wanita memakai baju Natalie dan Cantik. Samuel sadar jika mereka dijebak oleh dua gadis yang dipikir polos. Ternyata sangat cerdik.
“Kita sudah lengah, Tuan. Mereka ada di sana,” tunjuk Samuel di sudut jalan. Sultan spontan menolehkan pandangan. Dia terkejut melihat gadis yang tidak asing baginya.
“Natalie!” teriaknya keras. Kedua matanya melotot melihat Natalie masuk ke dalam taxi bersama gadis itu.
“Saya sudah mengarahkan semua pengawal untuk menghampiri mereka, Tuan.”
“Pecat semua pengawal itu! Kenapa mereka tidak becus menjaga dua gadis genit seperti itu!”
Sultan berlari keluar dari ruangan Black Room. Samuel dengan cepat mengikutinya. Sultan berlari menuju mobilnya. Samuel mendahuluinya, lalu dengan sigap membukakan pintu mobil. Sultan masuk dalam keadaan sangat marah.
“Natalie!” teriaknya keras sembari memukulkan tangannya yang mengepal ke jok kursi depan.
***
Natalie bersama Cantik diam tegang di dalam taxi. Cantik yang duduk di sebelah sopir, selalu saja memandang Natalie dari kaca spion. Dia sangat resah melihat sahabatnya yang selalu riang dan tersenyum menjadi kaku dan pucat. Cantik hanya bisa diam melihatnya. Dia tidak berani berkomentar sama sekali.
Natalie terperanjat mendengar ponselnya berdering. Jantungnya berdegub kencang saat melihat nama Sultan berada di layar. Natalie hanya memandangnya tanpa mengangkat.
“Kenapa dia tidak mengangkatnya!” teriak Sultan dan menghubunginya sekali lagi.
Natalie semakin bergetar menatapnya. “Aku akan menahannya. Ini sangat berat untukku. Aku harus mengetahui semuanya,” batin Natalie menutup panggilan Sultan.
“Dia menutupnya. Kenapa dia melakukan itu?” Sultan mengurut pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut. “Sam. Sepertinya aku harus mengatakannya.”
Samuel tidak menjawab perkataan Sultan. Dia hanya menganggukkan kepala sembari memandang Tuan Muda dari kaca spion.
Taxi telah sampai di apartemen. Natalie mengarahkan tangannya agar gadis yang belum dia ketahui namanya itu mengikuti dirinya yang sudah berjalan mendahului. Cantik di antara mereka masih berusaha menjadi penengah jika terjadi sesuatu. “Apa yang harus aku lakukan?” batinnya resah.
Dia dalam lift, ketiganya hanya diam dengan pandangan tegang.
Sementara Sultan segera keluar dari mobil setelah sampai apartemen tanpa menunggu Samuel membukakan pintu untuknya. Sultan melangkah cepat dengan ekspresi amarah. Kedua tangannya masih saja mengepal.
Di dalam lift, dia melepaskan dasinya dan melemparnya ke sembarang tempat. “Hah!” teriaknya kemudian menundukkan kepalanya.
“Tuan, tenanglah. Ini akan baik-baik saja,” ucap Samuel yang mendapatkan sorotan tajam Tuan Muda.
“Kau pikir ini akan baik? Aku berusaha melupakannya. Kini dia datang lagi, Sam. Apa kau mengerti!: bentak Sultan sembari menarik kerah baju Samuel. Sang pengawal hanya diam saja menatap Tuan Muda yang meluapkan emosi kepadanya.
“Anda tidak bersalah, Tuan Muda. Saya bisa menjelaskan itu semua,” balas Samuel seketika membuat Sultan melepaskan cengkeramannya. Dia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.
“Aku akan mengatakan kepadanya, jika dia selalu saja mengusik hidupku, dia akan mati mengenaskan,” ucap Sultan segera melangkah keluar saat pintu lift terbuka.
Sultan memasuki kamar. Natalie spontan menatapnya. Tuan Muda berjalan mendekati gadis itu yang sontak berdiri dari duduknya. “Kenapa kau seperti ini?” Kedua alis Sultan menukik tegas. Wajahnya terpampang kemarahan yang tidak bisa ditahannya lagi. “Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!” bentaknya keras.
“Hentikan!” balas Natalie menahan Sultan saat kedua tangan yang mengepal itu akan terangkat. Natalie tidak mengetahui apakah Sultan memang akan memukul wajah wanita, atau hanya menakutinya. Namun dia merasa lega bisa mencegahnya.
“Jangan pernah memukul wanita, Tuan Muda,” ucap Natalie pelan dengan gemetaran.
“Sam, apa kau tidak mencegah Tuan Muda itu,” bisik Cantik sembari mengarahkan kepalanya ke arah Sultan.
Samuel berdiri di hadapan Sultan lalu, memandang gadis itu yang masih diam tegak dengan tegang. “Kita bisa membicarakan baik-baik masalah ini.” Kepala gadis itu mengangguk dan dia kembali duduk. Samuel membalikkan tubuhnya, lalu mengarahkan tangannya ke kursi sofa agar Sultan bisa duduk dengan tenang. Sementara Natalie menarik napas lega, lalu duduk di sebelah Sultan yang masih menyorotkan tatapan tajam kepada gadis itu.
“Katakan, apa maumu?” tanya Sultan kali ini dengan nada pelan.
Gadis itu mengedarkan pandangannya sejenak. Natalie semakin mengernyit melihatnya. Dia memejamkan kedua matanya, sejenak untuk mengatur hatinya. Wajahnya kembali terangkat, dan dirinya mulai berbicara, "Aku meminta maaf," katanya pelan kemudian menundukkan kepalanya.
"Minta maaf?" Reflek Sultan mencondongkan tubuhnya yang semula merebah. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku meminta maaf dengan ini semua. Memang saat itu kau seperti yang melecehkanku, dan aku terbangun dalam keadaan tanpa ..." Sang gadis menghentikan ucapannya sembari melirik Natalie.
"Apa ... kenapa kau menghentikan ucapanmu?" Natalie menegakkan tubuhnya. Dia melirik Sultan yang mengernyit tajam.
"Aku meminta maaf sudah pernah ..." kata gadis itu sekali lagi membuat Natalie semakin resah. Kini dia berdiri dari duduknya.
"Kenapa? Katakan!" bentaknya keras. Sultan spontan berdiri dan memeluknya. Namun Natalie menampis keras tubuh Sultan.
"Apakah kalian pernah melakukannya? Kalian pernah berhubungan ..."
"Hentikan!" Samuel melangkah cepat hingga dia berada di hadapan sang gadis. "Waktunya tidak tepat. Kau tidak melakukan dengan Tuan Muda. Jangan membuat seolah-olah kau melakukan dengan Tuan Muda. Aku sudah mengetahuinya. Sekarang, katakan apa tujuanmu ke sini?"
"Aku mau Tuan Muda bertanggung jawab denganku. Karena dia ...," tunjuk sang gadis ke arah Sultan membuat Natalie bersama Cantik semakin melotot tajam.
"Pernah melecehkanku!" lanjutnya.