Sultan mencengkeram dadanya. Napasnya mendadak sesak. Dia melotot tajam, kemudian terjatuh seketika. Samuel spontan menangkap tubuh Tuan Muda. Sementara Natalie bersama Cantik terdiam kaku seolah tidak bisa bergerak melihat apa yang terjadi.
Sang gadis tiba-tiba menangis histeris melihat Sultan tergeletak akibat dirinya. “Tuan Muda, maafkan aku …”
Natalie memejamkan kedua matanya, berusaha menenangkan hati dan menguatkan jiwanya yang mendadak tergoncang.
“Aku harus kuat. Sultan tidak mungkin melakukan itu. Dia bukan laki-laki seperti itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mengatasi ini. Janjiku untuk menolong dan mengembalikan dirinya dalam keadaan semula harus aku lakukan. Ini tidak bisa aku biarkan,” batinnya terus memejam. Setelah beberapa detik, Natalie membuka kedua matanya. Dia perlahan melangkah menuju Sultan yang sudah berada di atas sofa dalam keadaan lemah. Samuel dengan cepat menghubungi dokter. Sementara gadis itu terdiam sembari memegang kepalanya.
“Kita harus bicara,” ucap Natalie kemudian berdiri lalu berjalan mendekati gadis itu. Dia menarik lengan gadis yang masih menatapnya dengan pucat.
“Natalie. Dia tidak waras. Kau harus bisa membedakan itu,” sela Cantik mencegah sahabatnya yang sudah sedikit hampir meluapkan emosinya kepada sang gadis.
Natalie perlahan melepaskan cengkeramannya. Dia menatap gadis yang kini memeluknya. “Aku, Maria,” ucapnya menangis di dekapan Natalie.
“Nona, saya akan meletakkan tubuh Tuan Muda di ranjang. Dokter akan segera datang,” kata Samuel sedikit panik. Natalie menganggukkan kepalanya.
“Saya akan menghubungi pihak rumah sakit yang merawatnya,” tunjuk Samuel membuat Maria menggeleng keras.
“Jangan bawa aku ke sana. Mereka … pria bertato itu yang melakukannya,” ucapnya mengejutkan semua orang. Samuel dan Natalie saling bertatapan.
“Ceritakan kepadaku. Aku akan membantumu,” balas Natalie pelan dengan tersenyum. Cantik berjalan mendekati Samuel dan menariknya. “Biarkan aku bersama Natalie menanyakan semuanya. Kau urus Tuan Muda itu agar terbangun. Bisakah kau melakukannya? Kau harus mempercayai kita, Sam.”
Sejenak Samuel menundukkan kepalanya untuk berpikir. Dia akhirnya mengangguk saat merasa apa yang Cantik katakan adalah terbaik. “Baiklah. Tapi aku mau mendengar semuanya. Tuan Muda tidak bersalah. Saat itu kami menemukan dia dalam keadaan pingsan. Walaupun ada kemeja Tuan Muda tertinggal di kamarnya, namun itu semua tidak aku percaya.”
“Aku berjanji akan menceritakan semuanya, sayang,” balas Cantik sembari mengecup bibir Samuel dengan lembut membuat pengawal itu akhirnya tersenyum.
Samuel segera menjemput sang dokter di luar. Cantik mengarahkan kepalanya kepada Natalie untuk membawa Maria keluar kamar. “Kita akan membawanya ke taman. Udara segar bisa membuatnya tenang. Kita harus cepat sebelum dokter rumah sakit jiwa itu membawanya.”
Natalie mengangguk, menarik pelan Maria untuk berjalan. Mereka bertiga menuju atap apartemen yang memiliki taman luas dengan berbagai macam bunga. Karena hanya Natalie yang tinggal di sana, taman menjadi sangat sepi. Maria tersenyum senang saat melihatnya, apalagi dia bisa melihat menara Eiffel dari sana dengan jelas.
“Bagaimana kita bisa memulainya? Dia sepertinya tidak akan bisa memberikan penjelasan apapun kepada kita.” Natalie masih saja berpikir keras, hingga Maria terduduk di rumput halus dan menatap bunga mawar di hadapannya.
“Dia … bisa kita dekati. Ayo,” ajak Cantik menarik lengan Natalie. Mereka berdua duduk di antara Maria.
“Bunga ini sangat cantik, Maria. Seperti dirimu,” ucap Cantik mengedipkan salah satu matanya kepada Natalie yang kini paham dengan maksud Cantik. Melakukan pendekatan dengan menggunakan barang sebagai mediasi, bisa membuat Maria berbicara.
“Mawar ini sangat cantik seperti dirimu, Maria. Tapi, sayang Tuan Muda Sultan sialan itu sudah menodainya. Sepertinya bunga ini harus kita petik saja.”
“Jangan! Tuan Muda tidak melakukannya!” bentak Maria mencegah tangan Natalie saat akan memetiknya.
“Tuan Muda tidak melakukannya? Lalu siapa?” tanya Natalie menatap Maria. Natalie perlahan membelai rambut Maria dan tersenyum. “Aku akan menangkap siapa saja yang melakukannya. Aku akan membuat mereka membayar semuanya. Bagaimana?”
Cantik spontan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Dia bergegas mengeluarkan ponselnya dari saku rok yang dia pakai. Jemari lentiknya segera menekan tombol rekam.
Maria terdiam, menarik napas. “Laki-laki bertato itu, mengancamku. Dia akan melakukan sesuatu buruk, jika dia akan membelah tubuhku dan meminum cairan dalam tubuhku apabila aku tidak mengatakan Tuan Muda yang melakukannya. Dia memintaku mengatakan itu. Lalu … dia melakukannya bergantian dengan temannya,” ucapnya perlahan mendadak menangis terisak. “Dia tertawa saat temannya melakukannya dengan kasar terhadapku.” Tangisannya semakin memecahkan telinga Natalie dan Cantik.
“Dia … laki-laki itu bernama Devoni. Satunya lagi … temannya bernama Mark. Mereka … Yang melakukannya! Argh!” Maria berteriak keras. Reflek Natalie memeluknya.
“Ssstt … aku akan menolongmu. Maukah kau diam dan tersenyum? Aku sudah berada di sini, dan kedua laki-laki sialan itu tidak akan pernah melakukannya lagi. Apakah kau paham?” Maria melepaskan dekapan Natalie, menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Cantik saling bertatapan dengan Natalie. Mereka merasa gelisah mengetahui sifat kejam Devoni. Hati mereka merasa hancur mendengar pengakuan Maria. Ingin rasanya mereka menjerit dengan meluapkan semua emosi. Namun, itu semua mereka tahan.
Samuel menyusul mereka, dengan membawa dokter yang menjaga Maria. “Dia sudah melarikan diri dari kamarnya. Waktunya semua dokter ini membawanya,” kata Samuel mengejutkan Maria yang sontak menggelengkan kepalanya dengan keras.
“Tidak! Aku tidak mau berada di dalam kamar itu!” Natalie kembali mendekapnya.
“Sam! Tolonglah. Biarkan dia menjadi wanita yang normal. Jika dia berada di dalam kamar itu, mungkin kesembuhannya hanya akan terjadi dalam mimpi.”
“Ini adalah keputusan keluarganya. Kita tidak bisa ikut campur, Nona,” balas Samuel tegas.
Cantik segera menghadang semua dokter yang semakin mendekat dan akan mulai menarik Maria. “Sam sayang. Dia korban Devoni. Aku sudah merekamnya. Kenapa Devoni melakukannya? Itu semua pasti ada alasannya. Tapi, aku mohon biarkan dia dengan keinginannya.”
“Maria!” teriak seorang wanita seumuran Jovanka dengan busana glamor tiba-tiba datang. Tak lama sosok Jovanka juga muncul di belakangnya.
“Aku ibunya. Biarkan aku membawanya. Maria adalah calon tunangan Sultan. Namun dia mengalami trauma ini sebelum melakukan pertunangan.”
Natalie semakin terkejut mendengarnya. Jovanka mengarahkan kepalanya kepada Samuel untuk segera menarik Maria. Samuel menundukkan kepala, mendekati Natalie dan menatapnya. “Nona Natalie. Aku mohon, lepaskan.”
Perlahan Natalie melepaskan Maria yang masih terisak. Ibunya menarik dan memeluknya. “Aku akan menunggu kabarmu, Jovanka,” ucapnya membuat Nyonya Besar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Cantik mendekati Natalie dan memeluknya. “Aku akan selalu ada untuk mendukungmu, sahabatku,” ucap Cantik seketika membuat hati Natalie lega. Senyuman kembali mengembang di sana. Namun mereka kembali tegang saat Jovanka mendekat.
“Kita masuk ke dalam. Tunjukkan rekaman itu,” pintanya pelan.
Natalie bersama Cantik berjalan mendahului untuk masuk ke dalam. Jovanka masih diam di tempat hingga Samuel mendekat.
“Uruslah keluarga Maria. Jangan sampai ini terjadi. Apapun keadaannya, masalah ini tidak bisa terungkap. Akan sangat membahayakan perusahaan. Apa kau mengerti Sam?” Jovanka semakin menatap Samuel yang menundukkan kepalanya.
“Bawa mereka ke tempat yang jauh dan tidak mungkin bagi siapapun untuk mengetahui keberadaan mereka, termasuk Devoni.”
“Baik, Nyonya.”
Jovanka berjalan masuk ke dalam kamar Natalie. Dia mengamati Sultan yang masih terlelap akibat obat tidur yang diberikan dokter. Sejak mengalami kecelekaan yang membuat Tuan Muda koma, keadaannya bisa lemah ketika mendapatkan berita yang mengejutkan. Jovanka sebenarnya sangat resah melihatnya.
“Apakah kau ingin mengetahuinya semua, Natalie?”