Kenyataan Pahit

1312 Kata
Pertanyaan Jovanka seketika membuat Natalie terkejut. Dia reflex menatap ibu tiri Sultan yang memang sangat cantik. Mereka saling bertumbukan tatapan. Tentu saja Natalie ingin mengetahui semuanya. Ini adalah hal yang sangat membuatnya terkejut. “Tentu saja saya ingin mengetahuinya, Nyonya,” jawab Natalie mendekati Jovanka yang masih membelai rambut Sultan. “Saat itu, kami sangat resah dengan kondisi Sultan. Dia sangat menderita. Bahkan sejak berpisah denganmu, Natalie. Namun Maria hadir di sana. Dia menghibur Sultan dengan baik.” Jovanka melepaskan belaiannya. Dia membalikkan tubuhnya, duduk di kursi sofa sebelah nakas. “Aku menikahi Bos Besar karena permintaan Shufaka ibu kandung Sultan. Kami adalah sahabat. Shufaka menderita kanker, dan akan meninggal. Aku saat itu bercerai dengan suamiku. Shufaka menghiburku. Dia … sangat berjasa untukku.” Jovanka meneteskan air matanya saat mengingat Ibu Sultan memang satu-satunya sahabat yang mengerti dirinya. “Shufaka membawaku untuk makan malam. Itulah pertama kalinya aku menemui Adelard Abraham yang membuatku terpana seketika. Pandangan kedua mataku tidak bisa membohongi Shufaka. Dia memintaku untuk menikahi Ayah Sultan. Aku sangat gembira dan langsung menerimanya.” Jovanka memejamkan kedua matanya, menahan isakan tangis yang semakin menyesakkan d**a. “Namun dia meninggal. Aku menikah di hadapannya sebelum dia memejamkan kedua matanya. Shufaka pergi selamanya dengan senyuman indah.” Jovanka menerima sodoran beberapa lembar tisu yang Cantik berikan kepadanya. “Terima kasih,” ucapnya segera mengusap semua air mata yang sedikit membuat polesannya berantakan. Jovanka melambaikan tangan kepada Natalie yang masih berdiri. Dia menepuk-nepuk sebelah sofa yang kosong. “Duduklah di sini, Natalie.” Dengan cepat Natalie mendekat, duduk di sebelahnya. “Aku menuju rumah Kingdom Abraham bersama Devoni. Dia sangat tampan dan pintar. Sultan sangat senang melihatnya. Dia akhirnya mendapat saudara laki-laki yang selama ini dia impikan. Mereka selalu saja bersama-sama. Devoni membuat Sultan melupakan ibunya.” Jovankan kembali menatap Sultan dengan dingin. “Aku tidak menyangka jika anakku memiliki kelainan. Dia meminta Roy untuk membawakan Sultan kepadanya. Roy sangat cemburu dengan Sultan saat kau bersamanya, Natalie. Hingga terjadilah hal mengerikan itu.” “Apakah Anda tidak mencari Devoni?” tanya Natalie tegas. Jovanka kini menatapnya. “Dia menghilang, dan aku terakhir bertemu dengannya sejak acara itu. Bahkan ruangan rahasia saja tidak bisa menemukan keberadaannya. Aku mengetahui jika kau melihat kami, Natalie. Pengawalku yang mengatakannya. Aku membiarkanmu. Kau memang harus mengetahuinya. Aku tidak akan menutupinya." “Apakah ada seseorang yang membuat seperti itu? Hingga Devoni lenyap tanpa jejak sama sekali?” tanya Natalie kembali membuat Jovanka tegang menatapnya. Dia berpikir apa yang dikatakan Natalie sepertinya masuk akal. “Aku akan memikirkannya,” jawabnya singkat. “Lalu, apa yang terjadi, Nyonya? Dengan Maria?” sela Cantik. Wajahnya terlihat tegang. “Sultan merasa hancur. Dia menyendiri di vila Venesia. Aku tidak sengaja membawa sahabatku dengan Maria anaknya untuk berkunjung di Venesia. Maria membuat Sultan tersenyum setelah tujuh tahun bersedih. Bahkan dia mau menuju ke kantor untuk menjadi CEO karena Maria memberikannya semangat. Namun …” Jovanka menghentikan ucapannya. Dia berdiri menuju ke arah Sultan kembali membelai rambut anak tirinya itu. “Maria dalam keadaan mengenaskan ditemukan di kamarnya setelah selama tujuh hari selalu bersama Sultan. Kami saat itu menemukian kemeja Sultan di sana. Maria sangat menderita hingga gila. Kami semua terkejut. Sultan semakin histeris, menolak tuduhan itu. Tapi kami mempercayainya. Kasus ini kami tutup rapat. Aku yakin Devoni sangat marah saat Sultan dekat dengan Maria, hingga dia membuat Sultan menjadi kambing hitam, dengan melakukan hal menjijikkan itu.” “Kenapa dengan Maria dia melakukan itu, tapi tidak denganku?” protes Natalie. “Karena Roy melarang Devoni. Anakku menyetujuinya, karena dia membawa Sultan kepadanya. Orang tua Roy terpukul dengan anaknya. Mereka pergi jauh, tidak mau berurusan dengan Bos Besar. Namun Roy melarikan diri hingga menemuimu, Nat. Sekarang dia masih di rumah sakit akibat pukulan Sultan. Aku menjaganya dengan puluhan pengawal agar dia tidak kabur dan bisa memberikan informasi mengenai keberadaan Devoni." Natalie terduduk lemas mendengar sedikit kenyataan kehidupan masalah Sultan. Dia tidak menyangka dengan Sultan yang selama ini selalu saja dibencinya ternyata sangat menderita. “Aku sudah salah mengira tentangnya. Aku sangat bersalah,” batin Natalie. “Natalie …,” rintih Sultan membuat semua orang terperanjat. Natalie berjalan cepat mendekati kekasihnya itu. Senyuman Natalie perlihatkan saat kedua mata Sultan mulai terbuka. Namun Tuan Muda terkejut melihat Jovanka hadir di hadapannya. “Anakku. Bagaimana kabarmu?” tanya Jovanka tersenyum. “Kenapa Maria hadir? Apakah ini semua bagian dari rencanamu? Kau … sudah menjebakku dengan dokter itu. Sekarang kau menjebakku dengan Maria? Argh!” jerit Sultan keras. Natalie seketika memeluknya. Sultan menarik napas dengan cepat. Cantik spontan meraih air minum di atas meja, lalu menyodorkannya kepada Natalie. Dengan cepat Natalie menerimanya. “Tuan Muda, minumlah,” ucap Natalie pelan. Sultan segera meneguknya. “Jagalah dirimu dengan baik. Aku akan mencari tahu siapa dokter itu dengan Samuel.” Jovanka mendekati Sultan, menatapnya dari dekat. “Maria … tidak ada hubungannya denganku. Kami percaya kau tidak melakukannya.” Jovanka membenarkan blazernya, lalu rambutnya yang sedikit menutup salah satu matanya. “Natalie, aku menyerahkan dia kepadamu. Jagalah, dia.” Jovanka sedikit tersenyum, kemudian melangkah keluar menemui Samuel yang berdiri tegak menunggunya di luar kamar. “Kita berbicara di luar, Sam.” Pengawal setia Sultan itu berjalan mengikuti Jovanka kembali menuju atap apartemen. “Adelard tidak pernah memberikan respon apapun saat pewarisnya seperti ini. Dokter itu dia yang mengirimkannya. Bagaimana bisa aku menolak seorang ayah memberikan dokter kepada anaknya?” Samuel dan Jovanka saling menatap tajam. Mereka tidak bisa berpikir jernih dengan semua kondisi yang tidak berujung dan mendadak mengejutkan ini. Apalagi Bos Besar yang selalu diam tanpa berkata apapun mengenai masalah anak satu-satunya. “Apakah yang kau pikirkan sama denganku, Sam?” tanya Jovanka membuat Samuel menganggukkan kepalanya. “Apakah Bos Besar ada hubungan erat dengan masalah ini?” tanya Jovanka sekali lagi. Samuel menarik napas sebelum akhirnya berkata, “Ijinkan saya memiliki kuasa penuh dengan ruangan Black Room, Nyonya. Saya akan memeriksanya. Sesuatu sudah disalahgunakan di sana hingga membuat Tuan Devoni tidak terlihat.” Jovanka hanya diam belum menjawab permintaannya. Dia semakin menatap tajam Samuel dan bertanya, “Apakah kau tahu jika Roy menghilang?” “Saya mengetahuinya, Nyonya,” jawab Samuel membuat Jovanka mengernyit dalam. “Kenapa kau membiarkannya?” “Karena akan sangat membahayakan Tuan Muda jika dia berada dekat dengannya. Apalagi Tuan Roy sangat mencintai Nona Natalie. Karena alasan itu saya membiarkannya, Nyonya.” Jovanka terkekeh mendengar alasan Samuel. “Aku sangat hafal denganmu, Sam. Kamu pasti sudah melakukan sesuatu dengan Roy yang akan membawamu kepada Devoni. Aku mengatakan kepada Natalie jika Roy masih berada di rumah sakit. Aku terpaksa berbohong agar tidak membuat Sultan resah." Samuel hanya menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Kau aku beri kuasa penuh. Kabari aku, Sam.” Jovanka berlalu meninggalkan Samuel yang masih berdiri tegak dengan wajah masih menegang. *** Di dalam kamar, Cantik meninggalkan Natalie berdua saja dengan Sultan yang masih saling memandang. Natalie tidak akan membahas apapun kepada Sultan. Penderitaan masa lalu kekasihnya itu sudah sangat rumit. Dia hanya akan menikmati momen baru untuk masa depan hubungan mereka. “Kau marah aku dekat dengan Maria?” tanya Sultan sembari membelai pipi Natalie. “Aku cemburu,” jawab Natalie pelan. “Karena aku mencintaimu. Tidak benar jika aku … tidak merasakan cemburu,” lanjutnya. Senyuman tampan Sultan membuatnya bahagia. Pandangan lembut Tuan Muda semakin membuat suasana hati Natalie tenang. Namun dalam benaknya masih menyimpan tanya semua misteri yang belum terungkap. “Kau memikirkan sesuatu. Apakah itu?” tanya Sultan dengan tampang serius. “Aku hanya mencintaimu,” balas Natalie menyatukan keningnya. Kedua matanya memejam. “Aku akan mencarinya, walaupun nyawaku sebagai taruhannya. Aku akan menemukan laki-laki sialan itu secepatnya. I will save you Boss!” batin Natalie. "Apa kau mau berciuman denganku?" Pertanyaan Sultan membuat Natalie melotot. Dia tidak percaya Sultan mengatakan hal yang sangat membingungkannya. "Hahaha. Kau mulai bercanda, Tuan Muda," jawab Natalie kesal. Sultan terduduk tegak, mengernyit ke arah Natalie. "Apa kau pikir aku berbohong?" "Kau ... tidak berbohong?" "Tidak!" "Sini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN