Pengakuan Sultan

1012 Kata
Natalie masih terdiam tidak percaya dengan ajakan Sultan. Dia sangat paham jika kekasihnya itu tidak bisa menciumnya karena trauma. Namun Natalie akan mencobanya. Itu adalah keinginannya sejak lama. Mereka saling berpandangan, dengan perasaan bergetar masing-masing. Sultan mulai mencondongkan wajahnya, perlahan mendekati bibir Natalie yang mulai maju. “Apakah dia akan melakukannya?” batin Natalie masih memejamkan mata menunggu bibir kekasihnya. Napas Sultan sudah menerpa wajahnya. Bahkan suaranya terdengar. “Kenapa lama, sih?” batin Natalie mulai kesal. Natalie menelan saliva, menunggunya hingga napas itu tidak terdengar kembali. Natalie mengernyit namun dia tidak membuka kedua matanya. Dia memutuskan untuk menunggu sedikit lama walaupun perasaannya mengatakan jika Sultan masih tidak bisa melakukannya. “Baiklah aku akan menunggunya. Beberapa detik, mungkin beberapa menit. Apa tidak sama sekali?” batin Natalie sudah tidak bisa dia tahan Lagi. “Mana Ciumannya?” teriak Natalie kesal, lalu dia membuka kedua matanya. “Kok tidak ada?” Natalie tidak percaya Sultan tidak ada di hadapannya. “Tuan muda tidak tahu diri! Dia meninggalkanku begitu saja dengan keadaan seperti ini? Apa maumu? Ah!” Natalie berteriak kencang. Dia segera menuruni ranjang, memutari semua ruangan untuk mencari keberadaan Sultan. “Tuan muda tidak tahu diri! Di mana kamu? Jangan bersembunyi seperti itu! Aku benar-benar marah dan tidak terima dengan semua ini! Jika kau tidak segera keluar, aku akan benar-benar mengusirmu dari apartemenku, dan aku tidak mau menjadi pegawai mu lagi. Aku mengundurkan diri!” Teriakan Natalie yang sangat kencang, membuat Sultan terperanjat. Apalagi Sultan mendengar pengunduran diri Natalie sebagai pegawai dari kamar mandi. Dia menatap wajahnya di depan cermin di atas wastafel. Dia merasa bersalah dengan apa yang dijanjikannya kepada Natalie barusan. Itu bukan hal sepele. Dia sudah sangat paham bahwa Natalie sangat menginginkan hubungan mereka semakin dekat dengan sebuah ciuman. “Kenapa aku tidak bisa memberikannya! Hah!” Sultan sejenak memejamkan kedua mata. Lalu dia berjalan keluar dari kamar mandi. Kedua matanya melotot melihat Natalie sudah berdiri dengan sorotan tajamnya sembari berkacak pinggang. “Apa kau dengar perkataanku tadi, Tuan Muda? Aku tidak peduli dengan gajimu yang sangat banyak itu! Aku mengundurkan diri dari pekerjaan!” “ Apa yang kau inginkan?” tanya Sultan singkat membuat Natalie mengernyit dalam. “Apa yang aku inginkan?” tanyanya sembari mengangkat kedua tangannya ke atas tidak mengerti dengan pertanyaan yang Sultan berikan barusan. “Iya. Apa kau tidak dengar?” Sultan berjalan semakin mendekatinya, dan menundukkan kepalanya menatap wajah Natalie yang masih terpampang keheranan di sana. “Mintalah satu permintaan dariku,” ucap Sultan sekali lagi. “Permintaan karena kau melakukan kesalahan?” tanya Natalie memastikan apa yang Sultan kembali katakan. “Ya. Aku minta maaf dan kau boleh meminta sesuatu dariku. Cepat katakan!” Natalis masih terdiam di tempat.  Sementara Sultan membalikkan tubuhnya dan duduk di kursi sofa sambil menyilangkan salah satu kakinya. Natalie masih terdiam dan mengernyit mengingat perkataan Jovanka mengenai Maria yang sangat dekat dengan Sultan. Dia sejenak melupakan ciuman itu dan sangat penasaran seberapa besar dekat Maria dengan kekasihnya hingga Tuan Muda bisa tertawa selama 7 tahun dan akhirnya mau bekerja sebagai CEO. Perlahan Natalie melangkahkan kakinya duduk di sebelah sofa yang masih kosong. Sultan menurunkan kakinya, menolehkan pandangannya ke kanan dan menatap Natalie yang masih diam tidak berbicara apapun. “Apa yang dipikirkannya? Dia pasti akan melakukan sesuatu yang bodoh lagi,” batin Sultan sembari mengangkat salah satu alisnya. “Aku harus menanyakan masalah itu. Ini sangat tidak benar. Selama 7 tahun aku menunggunya dan mempertanyakan kenapa dia meninggalkan aku. Sementara dia bersama wanita lain, bercanda dan berdekatan seperti itu.” Natalie masih membatin, namun memperlihatkan tatapan kemarahan yang sangat luar biasa. Bahkan alisnya semakin menukik dalam membuat Sultan melebarkan kedua matanya saat menatap. “Nathalie hentikan! Aku tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu! Apa kau kira aku ini hantu?” “Baiklah aku akan mengatakan apa yang ada di dalam otak ku ini dasar laki-laki tidak tahu diri, tukang selingkuh, sok kaya, sok sombong!” Omelan Natalie yang semakin membuat Sultan tidak mengerti. Dia menggeleng keras. “Diam, dan katakan apa maksudmu?” “Siapa Maria? Kenapa dia sangat dekat denganmu? Kalian pasti sudah pernah berpacaran. Mengakulah! Jika itu terjadi, kita putus!” “Jadi kau mengira aku berpacaran dengan Maria?” tanya Sultan memastikan sekali lagi. Namun tidak dipungkiri, Sultan pernah melakukan sesuatu kepada Maria dan dia sedikit tertarik pada saat itu. Sifat Maria yang sangat ramah dan suka humoris, membuat Sultan sejenak melupakan penderitaannya. Mereka yang sangat akrab, membuat sedikit muncul perasaan yang bergetar di antara masing-masing. “Iya. Kau pasti berpacaran dengan Maria. Katakan yang sesungguhnya Tuan Muda tidak tahu diri! Dasar sok ganteng kamu” “Natalie, hentikan Makian mu itu!” Sultan menarik napas berusaha mengatasi dirinya. “Sebaiknya aku mengaku saja apa yang sudah aku lakukan dengan Maria. Jika tidak, masalah ini akan semakin rumit,” batinnya kembali menatap Natalie yang masih menunggu jawaban darinya. “Baiklah aku akan mengakui sesuatu,” jawab Sultan membuat Natalie melotot seketika lalu memegang kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. “Argh!” Teriakan Natali seketika membuat Sultan terperanjat. Dia mengelus-ngelus dadanya dan mengatur napasnya yang berdetak kencang. “Kau tidak bisa berubah? Teriakan mu itu selalu saja mengesalkan!” protes Sultan membuat Natalie menurunkan kedua tangannya, lalu menunjukkan jaringan tepat di wajah Sultan yang kaku menerimanya. “Katakan apa yang sudah kamu lakukan dengan wanita itu! Aku seharusnya kemarin menjabaknya, lalu memotong-motong tubuhnya hingga menjadi beberapa bagian, mengunyah hingga habis. Katakan!” “Aku pernah berpegangan tangan dengannya.” “Tidak!” "Sudah aku duga, kau pasti pernah melakukannya!" Natalie semakin mendekati Tuan Muda yang tiba-tiba memalingkan wajahnya. "Pasti kau sudah melakukannya. Iya kan? Mengakulah!" Sultan menatap Natalie tidak mengerti dengan pertanyaan Natalie. "Apa maksudmu?" "Kau pasti sudah pernah menyatukan bibirmu," ucap Natalie sambil menyatukan jemari kiri dan kanannya. Lalu bibirnya maju seperti kerucut. "Katakan, apakah kau pernah melakukannya ..." Natalie menundukkan kepalanya, pasrah akan mendengar jawaban dari mulut Sultan. Selama tujuh tahun, tidak mungkin Tuan Muda tampan tidak pernah dengan dengan seorang wanita, apalagi jika lelaki tampan itu menganggap kekasihnya selingkuh. Natalie sudah menduganya akan mengalami pengakuan Sultan yang mengecewakan hatinya. "Aku sudah ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN