Pria Gembel

1991 Kata
“Kau sedang tidur, ya? Atau sengaja tidak ingin membuka pintu untuk Mama, uh? Kenapa lama sekali buka pintunya?” Mama yang baru dibukakan pintu setelah Bryan memastikan Ara dan Josh telah bersembunyi dengan aman di dalam kamarnya itu masuk ke dalam apartemen tersebut sambil menggerutu. Bryan langsung mengambil alih berbagai jenis tas dan kantong belanja yang memenuhi kedua tangan wanita itu dan mengekor di belakangnya masuk ke ruang tengah apartemen tersebut. “Kenapa datang tiba-tiba tanpa menelepon terlebih dahulu?” protes Bryan sambil meletakkan barang bawaan mamanya di atas meja ruang tengah. Pria itu duduk bersila di atas lantai lalu mulai memeriksa isi tas-tas tersebut yang semuanya adalah makanan. Membuatnya bisa bernapas lega karena akhirnya tidak perlu mengkhawatirkan isi kulkasnya yang saat ini hanya ada air putih dan telur saja. “Kau pasti akan kabur lagi jika Mama bilang akan datang,” kata Mama sambil mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan tangan sementara kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari AC. “Kenapa di sini panas sekali? Kau tidak punya AC?” “Ada di kamar,” sahut Bryan. Yang sedetik kemudian jadi terkejut karena ucapannya sendiri dan dengan cepat meralat, “Rusak! Yang di kamar juga sedang rusak. Jadi... Pakai saja ini,” ujarnya seraya menyerahkan selembar kertas pada mamanya. Yang meski menunjukkan protesnya dengan mendengus keras-keras namun Mama tetap menggunakan kertas tersebut untuk mengipas wajahnya. “Sudah makan siang?” tanya Mama yang dijawab dengan gelengan oleh Bryan. “Buka plastik yang itu. Mama beli makan siang dari restoran favoritmu. Sebentar, Mama akan mengambilkan piring untukmu.” Sementara Mama sedang menyiapkan makan siang untuk Bryan, di dalam kamar Ara sedang menceritakan tentang masa lalunya di kamar itu pada Josh. “Jadi kalian benar-benar tidak tidur di ranjang yang sama, kan?” tanya Bryan yang seandainya Ara memberinya jawaban yang tidak sesuai harapannya maka ia akan bersiap untuk menghajar Bryan—nanti, setelah mamanya pulang tentu saja. “Tentu saja tidak. Kami selalu suit untuk menentukan siapa yang tidur di ranjang dan tidur di lantai,” sahut Ara sebelum menghela napas dengan wajah cemberut saat ingat malam-malam yang ia habiskan dengan tidur di lantai hingga membuat ‘punggung orang kaya’nya yang terbiasa dengan kasur mewah yang empuk itu jadi sangat menderita. “Tapi Bryan itu pintar sekali main suitnya. Dia sering sekali menang.” Josh yang tahu jika Bryan sering menang karena membodohi Ara menatap nona mudanya itu dengan tampang kasihan. Ingin menjelaskan dan mengajarinya suit sampai pintar tapi nanti jadi merugikan dirinya sendiri jika tidak bisa menipu Ara dengan suit lagi. Jadi pria itu hanya menghela napas, menekan rasa bersalahnya sambil dalam hati menyumpahi Bryan yang sudah tega menipu nona mudanya yang sangat polos ini—padahal dirinya sendiri juga sama saja. “Tapi mulai sekarang kami tidak perlu lagi suit untuk menentukan siapa yang tidur di kasur dan di lantai.” Ucapan Ara membuat Josh kembali menatapnya dan mendapati wanita itu tersenyum manis dengan cara yang sangat polos. Berbanding terbalik dengan hal m***m yang sedang dipikirkannya saat ia berkata, “Karena kami akan berbagi kasur ini dan aku akan tidur dalam dekapannya setiap malam.” “Kenapa kalian harus berbagi kasur dan kau tidur dalam dekapannya?!” Bukan hanya Ara yang terkejut dengan bentakan Josh, melainkan juga Mama Bryan yang sedang menyuapi putranya di ruang tengah. Wanita paruh baya itu menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, membuat Bryan memelototkan kedua matanya sambil dalam hati merutuki Josh yang berani-beraninya bicara sekeras itu saat dirinya sedang bersembunyi seperti ini. “Ada orang di kamarmu?” tanya Mama yang menatap pintu kamar Bryan dengan kerutan di keningnya yang berkat seluruh uang dari suaminya bisa terlihat sebening kaca dan tetap kencang di usia senjanya. “A-ah...” Bryan loading sebentar untuk memikirkan alasan yang tepat sebelum memulai bualannya. “Itu tetangga sebelah. Mama tahu kan, ini apartemen kecil yang tidak ada peredam suaranya. Jadi suaranya bisa terdengar sampai ke sini.” “Ah...” Mama menganggukkan kepalanya. Membuat Bryan menghela napas lega saat wanita itu kembali menyendoki makanan untuk menyuapinya. “Pengantin baru?” “Apanya?” tanya Bryan sebelum membuka mulutnya untuk menerima suapan dari mamanya. “Tetangga sebelah itu.” Bryan menganggukkan kepalanya. Dalam hati merapalkan ‘amit-amit’ ratusan kali saat berpikir jika Ara dan Josh benar-benar jadi pengantin baru. “Berisik tidak?” tanya Mama sambil kembali menyuapi Bryan yang dengan cepat melahap makanannya. Bukan sepenuhnya karena lapar, tapi agar mamanya segera selesai menyuapinya lalu pulang dan ia bisa cepat-cepat mengeluarkan Ara dari kamar yang ada Joshnya itu—atau mungkin lebih baik mengeluarkan Josh agar dirinya yang masuk ke dalam kamar yang ada Aranya itu. “Apanya?” Bryan bertanya sebelum menerima suapan mamanya. “Anunya,” sahut Mama. “Kalau pengantin baru biasanya belum pintar jadi pasti desahannya berisik sekali, kan?” “Uhuk!” Bryan yang masih mengunyah makanannya itu sontak tersedak saat mendengar ucapan mamanya yang tiba-tiba mengingatkannya pada ‘malam pertama’nya dengan Ara. Membuat rona merah yang pekat dengan cepat menjalari wajah Bryan saat mengingat bagaimana wanita yang ‘belum pintar’ itu sangat berisik malam itu. “Iya,” sahut Bryan dengan suara pelan sebelum meraih gelas di atas meja. “Berisik sekali.” “Aduh, kasihannya anak Mama. Kau pasti jadi ingin, kan?” “Uhuk!” Bryan kembali tersedak oleh air yang diminumnya. Membuatnya mengerang dengan keras saat air tersebut salah masuk ke hidungnya. “Ingin apa? Memangnya aku ingin apa?!” Bryan meninggikan suaranya hingga membuat mamanya yang dibentak itu mengerjapkan kedua matanya dengan polos. “Kau pasti menderita sekali,” gumam Mama yang membuat Bryan menatapnya tak percaya. “Sepertinya sedang bertengkar, ya?” “Apanya?” tanya Bryan. Yang meski jadi kesal pada mamanya tetap menerima suapannya. “Pengantin barunya,” sahut Mama yang kembali membuat Bryan tersedak. Rasanya kesal sekali saat mamanya yang tidak tahu apa-apa ini menyebut Ara dan Josh sebagai pengantin baru. “Tolong berhenti bicarakan mereka,” kata Bryan dengan tampang memelas. “Suapi saja aku,” pintanya sebelum membuka mulutnya lebar-lebar. Membuat Mama dengan sigap mengisinya dengan sesendok penuh nasi dan lauk. “Sepertinya istrinya ketahuan selingkuh,” bisik Mama yang membuat Bryan menatapnya kesal. Namun bukannya berhenti, Mama justru menambahkan, “Katanya istrinya berbagi kasur dengan pria lain dan tidur di dekapannya.” Bryan jadi ingin menangis sekarang. Masalahnya meski tahu mamanya sedang salah paham namun pria itu tidak bisa menghentikan otaknya untuk membayangkan jika yang berbagi kasur dan saling mendekap itu adalah Ara dan Josh yang jadi pengantin baru. Itu membuat nafsu makannya tiba-tiba jadi hilang—untungnya di saat yang bersamaan dengan makan siangnya yang sudah habis. “Jadi apa rencanamu selanjutnya?” tanya Mama yang setelah memberi makan Bryan langsung mengajak putranya itu bicara serius. “Aku mau menikahi Ara secepatnya,” sahut Bryan yang membuat Ara yang mendengarnya dari dalam kamar harus membekap mulutnya yang hampir memekik dengan kedua telapak tangannya sementara Josh yang melihat reaksi bahagia nona mudanya itu menatapnya dengan jengkel. “Secepatnya? Saat kau jadi gembel begini? Memangnya Ara mau?” tanya Mama yang membuat Bryan menatapnya dengan wajah tersinggung. “Aku tidak gembel! Aku punya apartemen ini untuk ditinggali bersama Ara dan juga sudah punya pekerjaan di kantor Nathan,” sanggah Bryan tak terima disebut gembel oleh mamanya sendiri. “Dan Ara pasti mau! Dia kan cinta sekali padaku.” “Iya, aku pasti akan mau kok. Kan aku cinta sekali sama Bryan.” Ara menyahut dengan suara berbisik dari dalam kamar yang sekali lagi membuat Josh menatapnya dengan jengkel. “Walaupun Ara mau memangnya mama dan papanya Ara mau, uh? Kalau aku yang jadi orang tuanya Ara pasti akan langsung menolakmu walaupun kau luar biasa tampan seperti ini,” kata Mama yang masih tetap ingat untuk memuji Bryan setelah mematahkan semangatnya. “Iya, kalau aku jadi orang tuamu juga akan langsung menolaknya,” kata Josh yang ganti membuat Ara menatapnya dengan jengkel. “Kalau begitu aku bersyukur sekali karena Kakak ini bukan orang tuaku!” sahut Ara sengit. “Kau membuat kesalahan yang melukai hati orang tua Ara. Itu alasan utama mereka tidak akan memberimu restu,” kata Mama yang membuat Bryan kembali mengingat wajah dingin Papa Ara saat melihat dirinya dihajar habis-habisan oleh papanya di hadapan pria itu. Membuatnya dalam hati membenarkan ucapan Mama tentang restu orang tua Ara yang mungkin akan susah didapatkannya. “Lalu setelah pertengkaranmu dengan papamu dan sekarang hanya apartemen ini satu-satunya hartamu. Apa menurutmu mereka akan merelakan putri kesayangan yang mereka besarkan dengan kemewahan kau bawa hidup di tempat seperti ini, uh?” Pertanyaan Mama kembali mengingatkan Bryan pada kesulitan Ara saat tinggal di apartemen ini. Tanpa satu pun pelayan untuk melayani wanita itu dan malah harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. “Karena itu, sebelum terlambat mau coba meracun papamu sekarang dan merebut seluruh harta kekayaannya?” Sejak kecil, Bryan sudah sering mendengar yang seperti ini dari mamanya dan tahu betul jika wanita itu tidak pernah bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya. Masalahnya Ara dan Josh—yang selama ini hidup bersama orang tua Ara yang hubungannya sangat harmonis dan selalu romantis bahkan meski sudah tua—yang baru mendengarnya sekarang tentu saja jadi sangat terkejut. “Kupikir wanita seperti itu hanya ada di dalam sinetron,” gumam Josh yang diangguki oleh Ara. Membuat wanita itu jadi agak khawatir jika suatu saat nanti saat dirinya sudah jadi menantu mamanya Bryan wanita itu ingin meracuninya juga. “Mama, berhentilah bicara seperti itu!” tegur Bryan yang membuat Mama menghela napas. “Kalau tidak mau meracun papamu maka berdamailah dengannya! Minta maaf sambil berlutut. Kau tahu papamu akan selalu memaafkanmu jika kau minta maaf padanya, kan?” bujuk Mama yang gantian membuat Bryan menghela napas. “Kau tahu, bahkan meski kau bekerja keras sampai 100 tahun di perusahaan Nathan kau tetap tidak akan bisa mendapatkan harta seperti yang akan papamu wariskan padamu. Maka berhentilah jadi anak yang keras kepala, uh. Jadi anak baik, jadi penerus ahli waris papamu yang kaya raya, lalu datang dengan menunjukkan kesungguhan hatimu pada orang tua Ara. Kau baru bisa meluluhkan hati mereka jika datang sebagai pria yang terhormat daripada seorang gembel yang akan menikahi putri mereka dan membawanya tinggal di tempat seperti ini,” kata Mama panjang lebar. Bryan merenungkan ucapan mamanya dengan sangat serius, tapi kemudian jadi kesal lagi saat mamanya menambahkan, “Memangnya kau mau jika kau dan Ara jadi pengantin baru seperti tetangga sebelah yang berisiknya kalau anu sampai mengganggu tetangga, uh?” “Mama pulang saja, ya,” usir Bryan dengan nada memohon yang membuat Mama mencebikkan bibirnya. “Aku akan memikirkannya nanti, jadi sekarang Mama pulang saja.” “Harus dipikirkan dengan serius, uh. Minta maaf sambil berlutut itu jauh lebih mudah daripada harus meracuni papamu.” “Iya, iya! Sekarang pulanglah!” Mama menghela napas kecewa karena diusir oleh Bryan, namun tetap mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala putra kesayangannya itu sebelum pergi. “Mama sudah kirim uang ke rekeningmu. Jangan hidup irit walaupun sekarang kau jadi gembel, uh. Nanti Mama kirim uang yang lebih banyak lagi.” “Papa dan anaknya sama saja keras kepalanya,” gerutu Mama sambil berjalan meninggalkan apartemen Bryan. Namun kemudian langkah wanita itu terhenti saat menyadari sesuatu. “Ini... Apartemennya ada di paling ujung? Lalu tetangga yang pengantin baru itu...” Cklek. Bryan membuka pintu kamarnya dan mendapati Ara yang sedang berjongkok di depan pintu sementara Josh berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat di depan d**a. “Sudah pulang?” tanya Ara dengan suara berbisik. Bryan ikut berjongkok di hadapan Ara, mengulurkan tangan kanannya untuk menyematkan rambut ke balik telinga wanita itu. “Kau juga pulanglah.” “Kenapa?” tanya Ara dengan wajah khawatir. “Bryan, kau tidak jadi ingin menikahiku karena sekarang jadi gembel, uh?” Josh mendecih karena perkataan Ara yang terdengar polos itu. Merasa kekhawatiran wanita itu tidak masuk akal sampai kemudian apa yang Bryan ucapkan membuatnya menatap pria itu tak percaya. “Benar. Maaf, Ara. Kurasa aku tidak bisa menikah denganmu.”     **To Be Continue**        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN