Orang Ketiga

1389 Kata
“Kau diam-diam mencintaiku, kan? Iya, kan? Sebenarnya kau ingin sekali menerima tawaran mamaku dan menikah denganku yang sangat kaya dan cantik luar biasa ini, kan? Iya, kan?!” Josh menggunakan ujung kuku jari telunjuknya untuk menggaruk pelipisnya. Tidak habis pikir mengapa dirinya yang di akhir chapter sebelumnya bisa memberi ancaman yang keren pada tokoh utama kini malah disudutkan dalam situasi penuh fitnah oleh kedua tokoh utama tersebut. “Begini...” Josh menatap Ara yang membalas tatapannya dengan tajam sambil melipat kedua tangan di depan d**a persis seperti apa yang dilakukan Bryan saat ini. Pria itu menghela napas panjang dan dengan memicingkan sebelah matanya seolah Ara telah melontarkan pertanyaan yang sangat aneh padanya ia bertanya, “Memangnya itu masuk akal, hah?” “Apanya yang tidak masuk akal?” sahut Bryan. “Ara ini sangat kaya dan cantik luar biasa begini, yang tidak masuk akal itu jika ada yang tidak mau menikah dengannya. Memangnya siapa orang tidak waras di dunia ini yang akan menolak untuk menikah dengan Ara, hah?” “Kau.” Dan Josh bahkan tidak perlu waktu sampai sedetik untuk memberikan jawaban yang langsung membuat Bryan mengerjapkan kedua matanya sementara Ara menoleh padanya dengan kerutan di wajahnya. “Kau lupa jika kau ini orang tidak waras yang melarikan diri dari nona mudaku ini di hari pernikahannya, uh?” “Eii...” Bryan tersenyum dengan cara yang tampak aneh saat melihat Ara yang masih mengerutkan wajahnya itu menganggukkan kepala menyetujui perkataan Josh. Ia meraih tangan kiri Ara dan mendaratkan bibirnya di atas punggung tangan wanita itu, membuat Josh yang tidak sempat mengantisipasi situasi itu hanya bisa melotot padanya. “Aku memang sedang tidak waras saat itu karena berani meninggalkanmu. Tapi sekarang aku merasa jika aku benar-benar sudah jadi gila karena cintaku yang membuatku tergila-gila padamu.” Bicara soal gila, Josh pikir hanya Bryan yang gila di sini karena membuat gombalan yang membuat geli seperti itu. Namun saat melihat bagaimana Ara menerima gombalan tersebut dengan senyum malu-malu di wajahnya, Josh akhirnya sadar jika dua orang yang sedang dimabuk cinta itu sama saja. “Begini.” Josh menepuk kedua telapak tangannya, membuat Ara dan Bryan berhenti saling tatap seolah hanya ada mereka berdua saja di sana dan memberikan atensi pada dirinya yang harusnya marah ini namun malah terjebak jadi orang yang dimarahi. “Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku tidak akan pernah diam-diam membawa Nona bertemu orang ini lagi!” “Kenapa?” tanya Ara dengan wajah cemberut. “Iya, kenapa?” Bryan ikut-ikutan bertanya dengan wajah cemberut, yang bukannya membuat Josh jadi gemas malah jadi semakin ingin meninju wajahnya yang masih lebam dan luka-luka itu. “Tuan dan Nyonya begitu mempercayaiku sampai-sampai berpikir untuk menjadikan aku sebagai menantu tapi malah ini yang kulakukan di belakang mereka. Aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa lagi mengkhianati kepercayaan Tuan dan Nyonya seperti ini.” Josh menggeleng sambil memejamkan kedua matanya, tidak ingin tatapan memelas Ara yang seperti anak kucing itu meluluhkan hatinya. “Sepertinya dia benar-benar ingin menikah denganmu.” Bryan berkata dengan nada sedih yang membuat Ara dan Josh beralih menatapnya. “Gayanya saja bilang tidak ingin mengkhianati Tuan dan Nyonya, tapi sebenarnya pasti senang sekali karena akan menikahi Nona Muda yang sangat kaya dan cantik luar biasa ini.” Josh menatap Bryan tak percaya saat mendengar cara bicara pria terdengar seperti Ara. Namun semakin dibuat tak percaya saat menatap Ara dan mendapati nona mudanya itu menganggukkan kepala menyetujui apa yang Bryan ucapkan. “Jika kalian terus membuatku kesal begini, aku benar-benar akan mewujudkan keinginan Nyonya untuk menikahi Nona!” Ancaman Josh membuat ekspresi Bryan dan Ara langsung berubah. Sepertinya cara seperti ini tidak berhasil untuk menekan Josh dan hasilnya bisa gawat jika pria itu benar-benar kesal dan menerima tawaran Mama Ara. Bisa-bisa novel ini tamat dengan sad ending karena Ara yang akhirnya malah menikah dengan pengawalnya sendiri. “Tapi coba dipikirkan lagi.” Dan tentu saja, Ara yang keras kepala ini tidak akan menyerah begitu saja. “Jika hubunganku dengan Bryan tidak berjalan dengan baik dan aku kehabisan pilihan sampai akhirnya menikah dengan Kakak, tidakkah itu akan jadi tragedi yang lebih ironis dari kisah sepasang pengantin yang melarikan diri di hari pernikahan mereka?” Josh menatap Ara dengan mulut terbuka. “Kenapa juga menikah denganku sampai disebut dengan tragedi?” Pertanyaan itu sayangnya hanya bisa Josh ucapkan dalam hati karena jika sampai Ara dan Bryan mendengarnya maka kedua bocah itu akan kembali heboh menuduhnya sengaja ingin menikahi Ara yang katanya sangat kaya dan cantik luar biasa itu. “Jadi jika aku menyerahkanmu pada orang ini maka itu tidak akan menjadi tragedi?” tanya Josh yang membuat Bryan mengerutkan wajahnya saat pria itu menunjuk hidungnya dengan telunjuk kirinya. “Lihat ini!” Josh lalu memungut bra yang tergeletak di lantai dengan tangan kanannya dan ganti membuat Ara mengerutkan wajahnya saat pria itu menyodorkan bra tersebut di depan wajah Ara. “Dia itu laki-laki b******k! Membuat nonaku patah hati dan menangis saat dia mengundang wanita lain ke rumahnya!” “Itu bukan punya wanita lain!” Bryan merenggut bra tersebut dari tangan Josh lalu dengan wajah cemberut menyodorkannya pada Ara. “Aku beli yang paling manis dan banyak pitanya seperti ini sebagai hadiah untukmu. Kau kan selalu ingin punya bra yang ada pitanya.” “Ah~ Bry—“ “Itu kebesaran, bodoh! Kau tidak lihat punya nonaku seperti apa, uh?” Ara mengerjapkan kedua matanya, tidak jadi terharu saat Josh menyela ucapannya. Wanita itu menunduk, menatap kedua dadanya sebelum menatap Bryan dan mendapati jika pria itu juga tengah menatap dadanya sekarang. Pria itu lalu menunjukkan cengirannya saat tatapan mereka bertemu. “Tidak apa-apa, Sayang. Aku akan berusaha keras sampai bra ini muat untukmu.” Josh mengerjapkan kedua matanya. Butuh beberapa saat bagi pria itu sampai akhirnya memahami maksud tersirat di balik ucapan Bryan yang membuatnya melompat ke arah pria itu untuk menghajarnya. “Apa maksudmu dengan berusaha keras, hah? Apanya yang berusaha keras? Kenapa kau harus berusaha keras untuk d**a nonaku?!” “Tentu saja harus aku yang berusaha keras untuk daadanya! Jika bukan aku lalu siapa lagi, hah?!” Bryan menyahuti perkataan Josh sambil berusaha melepaskan diri dari tindihan Josh dengan mengulurkan kedua tangannya pada Ara. Berharap wanita itu akan membantunya namun sayangnya saat ini terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. “Dibandingkan kerja keras Bryan... Apa sebaiknya aku pasang implan saja, ya?” gumam Ara sambil menangkup kedua daadanya sendiri. Terus sibuk dengan idenya itu sampai mengabaikan kekasihnya yang masih belum benar-benar pulih kembali dihabisi oleh pengawalnya. Tingtong! Bunyi bel rumah membuat ketiga orang itu secara serentak menolehkan kepala ke arah pintu depan. “Buka pintu!” perintah Ara pada Josh. “Kenapa aku? Aku kan tamu!” tolak Josh seraya beranjak dari atas tubuh Bryan. “Buka pintu sana!” perintahnya pada Bryan yang bernapas dengan tersengal setelah akhirnya terbebas dari tindihan Josh. “Ah, punggungku... Uhuk uhuk!” Bryan memegangi punggungnya sambil batuk-batuk—yang ngomong-ngomong entah apa hubungannya sakit punggung dengan batuk—sebelum menatap Ara. “Ara, tolong buka pintunya.” Ara yang sudah malas untuk bangun dari duduknya itu memasang wajah cemberut sebelum menyodorkan telapak tangan kanannya. “Ayo suit!” Ara yang terlalu polos itu tidak tahu saja jika usulannya untuk suit itu hanya akan selalu menyusahkan dirinya sendiri. Lihat bagaimana saat ia mengeluarkan gunting sementara Bryan dan Josh mengeluarkan kertas kedua pria itu dengan kompaknya justru berkata, “Kau kalah!” “Ah, harusnya pakai batu ya...” gerutu Ara dengan polosnya sambil dengan malas-malasan beranjak menuju pintu depan. “Ya ampun, wanita malang itu...” Josh menolehkan kepalanya pada Bryan dan mendapati pria itu menatapnya sambil geleng-geleng kepala. “Jadi selama 25 tahun ini dia hidup dengan terus ditipu olehmu saat main suit, uh?” “Kau sendiri juga menipunya!” Josh yang tidak ingin terlihat buruk sendiri membalas ucapan Bryan. “Dan aku akan memastikan kau tidak akan menikahi nonaku agar wanita malang itu tidak perlu menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama orang yang terus menipunya saat suit!” “Apa maksudmu aku—“ “Gawat!” Ucapan Bryan terpotong saat tiba-tiba Ara berlari ke arah mereka sambil berseru dengan suara berbisik dengan memeluk sepatu miliknya dan Josh di dadaanya. Wajah wanita itu terlihat sangat panik saat mengucapkan sesuatu yang kemudian membuat panik semua orang yang ada di sana. “Bryan, itu mamamu yang datang!”       **To Be Continue**        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN