Terjebak Takdir

1565 Kata
"Hanya tersisa satu suite room. Apa Anda akan memesan kamar lainnya?"   Bryan dan Ara yang berdiri di depan meja resepsionis itu saling berpandangan. "Aku tidak bisa tidur di kamar yang lebih rendah dari suite room," kata Ara saat merasa Bryan akan menyuruhnya menyewa kamar lain. "Apa menurutmu aku bisa? Aku yang pertama memesan kamar ini!" "Mengapa kalian tidak berbagi kamar saja? Suite room kami cukup luas dan cocok untuk pengantin baru," kata resepsionis itu. Ara dan Bryan kembali berpandangan sampai Ara menganggukkan kepalanya. "Apa? Mengapa kau mengangguk?" tanya Bryan. Ara merebut kunci kamar yang dipegang Bryan lalu berkata pada resepsionis, "Kami hanya akan menyewa suite room ini." "Kami? Kami?!" Bryan berseru pada Ara yang telah berjalan mendahuluinya. "Apa yang kau maksud dengan 'kami', uh? Oi! Cepat kemarikan kuncinya!"     ***     Bryan dan Ara duduk berhadapan di balkon. Tidak ada yang berbicara. Kecuali Bryan yang berkata "Aku akan mandi terlebih dahulu," dan Ara yang berseru "Untukku juga!" ketika Bryan memesan untuk dibawakan pakaian, tidak ada percakapan lain yang terjadi di antara keduanya sejak mereka memasuki suite room ini. Dan sekarang, setelah mereka mandi, berganti pakaian, dan mengisi perut mereka, maka kini adalah waktunya untuk bicara serius. Itu yang Bryan katakan saat mengajak Ara ke balkon. "Bukankah ini lucu sekali? Kita melarikan diri dari satu sama lain tapi justru berbagi kamar hotel yang sama sekarang," kata Bryan. Terdengar seperti prolog untuk obrolan seriusnya. "Apanya yang lucu? Ini sebuah ironi!" sangkal Ara. "Ironi? Jadi kau menganggap bertemu denganku seperti ini adalah sebuah ironi?" tanya Bryan tak terima. "Lalu apa ini sebuah keberuntungan? Keajaiban? Tsk! Yang benar saja! Aku seharusnya pergi ke tempat yang sangat jauh di mana aku tidak perlu melihatmu lagi!" Bryan menatap tajam pada Ara, begitu pula sebaliknya. "Kalau begitu pergilah! Pergilah ke tempat yang sangat sangat sangat jauh hingga aku tidak perlu khawatir akan menikahimu lagi!" Tatapan Ara berubah setelah mendengar perkataan Bryan yang sinis itu. "Ke mana?" "Apa? Apa maksudmu ke mana? Pergi saja yang jauh!" "Aku tidak tahu harus pergi ke mana." "A-apa? Tapi mengapa tadi kau—" "Aku tidak punya teman yang bisa menolongku. Aku tidak tahu caranya naik bus atau kereta. Dan pesawat... Aku tidak yakin jika orang tuaku belum menyebarkan fotoku di bandara-bandara. Lalu satu lagi..." Ara menggantung kalimatnya, menatap takut pada Bryan yang mendengar semua perkataannya dengan kening berkerut. "Aku tidak bawa apa-apa. Selain gaun pernikahan dan kalung berlian yang kupakai tadi, aku tidak punya apa-apa." Bryan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. "Kau ini... Lalu bagaimana bisa kau kabur begitu saja tanpa persiapan apapun?" "Aku... Aku hanya tidak ingin menikah. Karena itu saat ada celah aku langsung kabur saja. Kau tidak tahu betapa takutnya aku tadi!" Ara menghela napas kesal. "Sudah seperti ini tapi aku malah tidak tahu harus melakukan apa. Aku akan pulang saja besok." "Kau akan pulang? Apa itu tidak masalah?" "Tentu saja masalah!" gerutu Ara. "Papaku mungkin akan marah padaku selama beberapa hari sementara mamaku akan terus menangis. Tapi setelah itu semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku adalah anak satu-satunya yang sangat mereka sayang, dibandingkan apapun di dunia ini mereka pasti lebih takut untuk kehilanganku, kan?" Bryan tidak menjawab dan hanya kembali menghela napas panjang. Dalam hati berharap jika itu bisa terjadi semudah yang Ara ucapkan.     ***     Malam telah sangat larut. Kamar yang dihuni oleh dua orang yang gagal mengikat janji suci itu sudah dipadamkan lampunya, menyisakan lampu tidur kecil yang berada di nakas sisi tempat tidur. Bryan tidur di atas tempat tidur besar suite room itu memunggungi Ara yang tidur di tempat tidur tambahan yang diletakkan di sisi kiri tempat tidur utama yang juga tidur dengan memunggunginya. Malam yang seharusnya jadi malam pertama tak terlupakan bagi kedua orang itu seandainya mereka tidak mengacau, namun sekarang mereka lewati dengan berbaring saling memunggungi seperti ini. Kedua mata Bryan menatap kosong pada tirai berwarna putih yang menutupi jendela besar di depannya. Ia bisa mendengar setiap isakan yang berasal dari belakangnya. Isakan tertahan Ara yang terdengar menyedihkan di malam yang tenang itu. "Mengapa suara serangga terdengar sampai ke sini?" Bryan sengaja menggerutu dengan suara keras, membuat Ara langsung menghentikan isakannya. Membuat Bryan menghembuskan napas lega saat suasana di kamar itu kembali tenang. "Malam ini pasti terasa sangat panjang. Suara serangga yang berisik itu hanya akan memperburuknya dan membuat semuanya terasa menyedihkan." Ara menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Tidak ada suara serangga yang terdengar di suite room yang berada di lantai 21 itu. Bryan baru saja menyamakan suara isakannya dengan suara serangga yang mengganggu. Wanita itu terlanjur berpikir buruk seperti itu, padahal Bryan hanya tidak ingin mantan mempelai wanitanya itu terus menangis.     ***     Pagi menjelang. Bryan telah membersihkan dirinya dan tampak rapi dengan setelan jas abu-abunya. Ia menatap Ara yang tidur dengan posisi meringkuk seperti orang sakit. Seluruh tubuh wanita itu tersembunyi di dalam selimut kecuali kedua kakinya yang sedikit menyembul dari balik selimut putih itu. Bryan meninggalkan secarik kertas di atas meja lalu membuka pintu kamar itu. Membuat kedua matanya sontak membesar saat melihat siapa yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah memerah yang tampak mengerikan. “Pa-Papa...” "Anak kurang ajar! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan pada keluargamu? Kau melarikan diri di hari pernikahanmu dan pergi menginap di hotel bersama wanita sialanmu?!" Ara yang terusik tidurnya karena suara Papa Bryan mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut. "Siapa itu? Mengapa berisik sekali?" "Siapa wanita itu? Kekasih rahasiamu?" "Papa!" Ara yang masih setengah sadar itu kembali menyembunyikan dirinya di dalam selimut saat tiba-tiba Bryan dan papanya masuk ke dalam kamar itu. "Lepaskan aku! Biarkan aku memberi pelajaran pada wanita itu!" "Papa, kumohon jangan begini! Mari kita bicarakan ini di rumah!" Ara yang mengintip dari celah-celah selimutnya tidak dapat menahan pekikannya saat melihat  seseorang yang seharusnya telah menjadi papa mertuanya itu menampar pipi kiri Bryan dengan keras. "Inikah alasanmu menolak menikahi Ara? Karena kau sudah memiliki wanita lain? Apa kau pikir papamu ini tidak akan mengetahuinya?!" "Papa, bukan begitu!" Bryan kini berlutut di hadapan papanya. Memeluk kaki pria paruh baya itu agar tidak mendekati Ara. "Kau, keluarlah!" Perintah itu Bryan ucapkan pada Ara yang masih bersembunyi di balik selimutnya. "Ta-tapi aku—" "Cepat keluar saja!" bentak Bryan tidak sabaran sementara kepalanya terus dipukuli oleh papanya dengan tenaga yang bukan main untuk ukuran pria yang telah berumur. "A-aku pergi dulu. Selamat tinggal." Ara pergi dengan seluruh tubuh dibalut selimut. Ia masih sempat membungkukkan tubuhnya saat melewati Papa Bryan yang menatapnya dengan sangat tajam. ‘Aku harus pergi sekarang. Pesanlah sesuatu jika kau ingin sarapan dan segera pulang. Aku harap semuanya akan berjalan dengan baik.’ Papa Bryan mendecakkan lidahnya  setelah membaca isi kertas yang sebenarnya Bryan tinggalkan untuk Ara itu. Ia lalu menatap Bryan yang berlutut di hadapannya. "Anak tidak berguna! Bagaimana bisa kau menukar Ara dengan w***********g itu, uh?" Bryan tidak menjawab, hanya memejamkan matanya saat papanya melemparkan kertas itu ke kepalanya. "Kau tahu kekacauan macam apa yang terjadi kemarin?" "Maafkan aku." "Bahkan Ara juga. Siapa yang mengira jika anak manis seperti dirinya bisa melakukan hal semacam ini? Kupikir hanya berandal sepertimu yang akan kabur dari acara pernikahannya." Bryan mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk, balas menatap papanya yang masih terus melotot padanya. "Calon istrimu juga melarikan diri. Aku heran bagaimana kalian bisa begitu kompak? Inikah yang namanya jodoh?" “Jodoh,” batin Bryan. “Entah apa yang akan Papa katakan jika tahu wanita yang lari terbirit-b***t dengan selimut tadi adalah calon menantunya.” "Tidak ada hubungannya denganmu, kan?" "Apa?" "Ara yang menghilang ini, bukan kau yang menculik dan menyembunyikannya di suatu tempat, kan?" "Papa!" Bryan berseru kesal. Papanya itu benar-benar tega sekali menuduh putra semata wayangnya sendiri seperti itu. "Itu bagus jika tidak ada hubungannya denganmu karena keluarga Ara benar-benar kacau sekarang." "A-apa yang terjadi pada mereka?" "Ara itu... Dia itu nona muda yang sangat dijaga oleh keluarganya. Dia tidak pernah menghilang seperti ini sebelumnya. Di luar sana pasti banyak yang mengincar anak malang itu." "Berlebihan sekali. Dia itu sudah dewasa." "Tahu apa kau soal anak perempuan? Dia itu anak satu-satunya di keluarganya!" Papa Bryan memukul kepala Bryan dengan gulungan majalah. "Memangnya apa yang hebat dari menjadi anak satu-satunya? Aku juga anak satu-satunya keluarga ini dan lihat apa yang papaku lakukan padaku!" "Anak manja ini!" Papa Bryan mengarahkan gulungan majalah itu ke kepala Bryan, namun saat Bryan melindungi kepala dengan kedua lengan sambil menjerit keras padahal belum dipukul, ia lebih memilih untuk membanting gulungan majalah itu ke lantai. "Dia... Ara itu pasti akan segera kembali. Memangnya dia bisa pergi ke mana?" "Itu bagus! Kau tahu, Papa Ara berjanji akan menyerahkan putri kesayangannya padamu begitu anak itu kembali." "A-apa? Mengapa bisa begitu?" "Ini memalukan karena kedua mempelai kabur di hari pernikahan mereka. Kami tidak bisa saling menyalahkan karena kedua mempelai sama-sama melarikan diri. Karena itu untuk menebusnya, kami akan segera menyelenggarakan pernikahan begitu Ara ditemukan. Hari saat Ara ditemukan, maka itu akan menjadi hari terkhirmu melajang!" seru Papa Bryan lalu bangkit dari duduknya. "Mengapa kau mengikutiku?" tanya Papa Bryan saat Bryan mengekorinya keluar dari kamar. "Bukankah kita akan pulang? Aku tidak bawa mobil." "Siapa yang akan mengizinkanmu pulang ke rumah?1" bentak Papa Bryan, keras sekali hingga membuat putranya tersentak kaget. "Jangan pernah muncul di rumah atau kantor sebelum Ara ditemukan dan kalian menikah! Kau bukan anakku sampai kau menjadi menantu dari keluarga itu!" "Apa? Papa, tapi ini bukan salahku Ara kabur. Papa!" “Cepat temukan calon pengantinmu jika ingin pulang, anak bodoh!” Nah, itu dia namanya lelucon takdir yang ironis.     **To Be Continue**        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN