Bryan kembali ke kamarnya sambil melonggarkan dasinya. Ara mengintipnya dari balik pintu kamar mandi dengan ekspresi yang terlihat seperti anak kucing.
"Dia sudah pergi," kata Bryan sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ara menghampirinya dan duduk di sebelahnya dengan selimut yang masih setia membungkus tubuhnya.
"Apa yang papamu katakan? Sepertinya sangat marah, ya?" tanya Ara penasaran.
"Dia sangat marah. Aku tidak akan bisa kembali ke rumah atau kantor sampai kau ditemukan."
"Wah, papamu kejam sekali," komentar Ara. "Tapi tenang saja, aku akan pulang hari ini,” hiburnya sambil menepuk-nepuk bahu kanan Bryan.
"Apa menurutmu akan selesai jika kau pulang ke rumah?"
"Aku hanya perlu meyakinkan orang tuaku dengan sungguh-sungguh bahwa aku tidak ingin menikah denganmu."
"Jadi selama ini kau tidak pernah meyakinkan orang tuamu untuk membatalkan pernikahan ini?" selidik Bryan.
"Aku tidak berhasil. Mamaku berkata aku tidak pernah tahu pada apa yang benar-benar kuinginkan, karena itu aku tidak berhasil menolaknya."
"Itulah, kau tidak akan bisa menanganinya. Ini pernikahan perusahaan, apa menurutmu mereka akan mempertimbangkan perasaan anak-anaknya? Sebaiknya kau bersembunyi saja terus!"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan baik-baik saja. Aku bisa bertahan hidup tanpa dukungan keluargaku. Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri."
Ara terdiam beberapa saat, wajahnya tampak sangat sedih. "Aku akan pulang sekarang."
Bryan menahan pergelangan tangan Ara saat wanita itu mencoba pergi. "Kita akan segera dinikahkan saat kau kembali. Apa itu yang kau inginkan?"
"Lalu apa? Aku tidak punya uang atau kemampuan untuk bertahan hidup sendiri sepertimu! Aku hanya bisa hidup dengan bantuan orang tuaku!"
"Mulai sekarang aku akan bertanggungjawab padamu," kata Bryan dengan serius. "Aku akan menyembunyikanmu sampai saat aku berhasil meyakinkan keluarga kita untuk membatalkan pernikahan ini. Karena itulah... Sampai aku berhasil melakukannya kau harus terus bersembunyi!”
***
"Jadi kau akan menyembunyikanku di apartemen jelek ini sementara kau akan tinggal di villa keluargamu?" pekik Ara saat Bryan menyuruhnya tinggal di apartemennya.
"Lalu apa kau ingin ikut ke villa bersamaku? Oh, aku tidak bisa membayangkan betapa senangnya keluarga kita jika itu terjadi." Bryan menarik kain putih yang menutupi perabotan di apartemen kecil itu, membuat debu-debunya beterbangan hingga Ara bersin berulang kali. "Apartemen ini adalah harta rahasiaku yang berharga, jadi jangan sembarangan menghinanya!"
"Cih! Kau sebut tempat seperti ini harta berhargamu? Seleramu rendah sekali," ejek Ara. "Pergilah, aku akan beristirahat!"
"Oho! Lihat bagaimana orang ini mengusirku! Kau bahkan sudah bersikap nyaman di apartemenku tanpa harus kuminta," sindir Bryan.
"Sikap nyaman apanya? Aku terpaksa! Berdoa saja aku masih akan ada di sini saat kau kembali nanti!"
"Apa maksudmu? Oi, kau tidak boleh ke mana-mana! Apa kau mau berjalan di altar bersamaku? Tidak, kan? Karena itu jangan ke mana-mana! Teruslah bersembunyi!"
***
Bryan baru saja memarkir mobilnya di halaman villa keluarganya saat seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam menghampirinya.
"Paman, lama tidak berjumpa.” Bryan menyapa kepala pelayan di tempat itu sambil melepas sabuk pengamannya.
"Senang melihat Anda di sini, Tuan Muda. Tapi..." Pria itu menunjukkan raut wajah tidak enak saat melanjutkan kata-katanya. "Tapi Tuan Besar telah melarang kami untuk menerima Anda di villa ini."
"Apa? Astaga... Dia serius akan melakukan ini padaku?" Bryan mengeluarkan kedua tangannya dari jendela mobil, menggenggam tangan kepala pelayan itu dengan menunjukkan raut memelas di wajahnya. "Biarkan aku tinggal di sini selama dua atau tiga malam saja. Papaku tidak akan pernah tahu. Paman tidak ingat bagaimana kita sangat dekat dan sering memancing bersama dulu? Tolonglah aku kali ini saja, hmmm?"
"Maafkan aku, Tuan Muda. Sebaiknya Anda membujuk papa Anda saja. Itu akan lebih berguna saat ini."
Bryan mendecakkan lidahnya. Sepertinya akan sangat sulit berharap bantuan dari orang-orang milik papanya. Karena itu sekarang ia memutuskan untuk datang pada ‘orang miliknya’.
***
"Apa ini? Kenapa datang tengah malam ke rumahku setelah kabur dari pernikahanmu? Seharusnya kau pulang ke rumahmu dan berlutut minta maaf pada papamu!"
Bryan tidak peduli pada ocehan Henry dan terus membongkar isi lemari pendingin milik sahabatnya itu. "Ini saja yang kau punya di lemari pendinginmu? Kau apakan gaji yang diberikan papaku?" tanya Bryan sambil memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
"Gaji apa? Aku hanya pegawai biasa yang gajinya kecil. Tsk, tidak ada gunanya aku berteman dengan anak presdir jika dia tidak bisa membantuku mendapat jabatan yang bagus di kantor!"
"Jika kau berani mengapa tidak kau saja yang katakan itu pada papaku? Aku saja harus bersusah payah untuk bisa bekerja di perusahaan milik papaku sendiri!"
Henry menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Bryan yang makan seperti orang kesurupan. "Apa kau selapar itu? Apa selama menghilang kau tidak makan apapun?"
"Aku belum makan malam. Aku kelaparan!"
"Dasar Tuan Muda manja! Kupikir kau tidak makan sejak kemarin!"
Bryan tiba-tiba berhenti menyuapkan makanan ke ke dalam mulutnya. "Kapan terakhir kali dia makan? Dia tidak sarapan pagi tadi. Apa itu berarti makan malam kemarin yang terakhir?"
"Apa? Siapa yang belum makan?"
Bryan tidak menjawab dan segera membereskan makanan di atas meja. "Oi! Kau mau bawa ke mana semua makananku?" seru Henry.
"Aku pinjam sebentar! Tidak usah menungguku dan tidurlah lebih dahulu!"
"Pinjam? Pinjam apa? Seperti dia akan mengembalikannya saja," gerutu Henry. “Dan untuk apa juga aku menunggumu? Aku memang akan langsung pergi tidur. Karena itu jangan datang dan menggangguku lagi, sialan!”
***
"Mengapa semua lampu dinyalakan? Apa dia belum tidur?" Bryan melangkah masuk ke dalam apartemennya dan dikagetkan dengan Ara yang duduk dengan memeluk kedua kakinya yang ditekuk di dekat pintu masuk.
"Oi! Mengapa kau tidur di sini?" Bryan menyenggol tubuh Ara dengan kantong plastik yang dibawanya hingga wanita itu terbangun. "Ara, mengapa kau—"
"Jangan pergi lagi!" Ara berkata dengan suara serak. Kedua mata wanita itu tampak berkaca-kaca saat menatap mata Bryan. "Aku sangat takut. Jangan tinggalkan aku sendirian lagi!"
Sudah hampir pukul 2 pagi saat Bryan dan Ara makan mie instan dari satu panci yang sama di atas karpet di depan televisi yang menayangkan acara variety show.
"Makannya pelan-pelan saja! Aku tidak mendapat mienya!" seru Bryan.
"Jangan ganggu aku! Aku belum makan sejak semalam! Aku sudah hampir mati kelaparan!" jawab Ara dengan mulut penuh. Bryan mengeluarkan garpunya dari dalam panci dan memilih untuk mundur, menyandarkan punggungnya pada sofa dan membiarkan Ara menghabiskan sisanya.
"Kau tidak mau makan lagi?" tanya Ara. Baru sadar saat mienya hampir habis.
Bryan menggelengkan kepalanya. “Makan saja semuanya. Cepat makan dan tidur. Aku akan pergi!”
Ara berhenti menyuapkan mie ke dalam mulutnya dan berbalik menatap Bryan. “Aku tidak bisa tinggal sendiri. Aku takut.”
“Kau takut apa? Tidak ada hantu atau penjahat di sini. Kantor polisi ada di ujung jalan depan, kau hanya perlu berlari ke sana jika sesuatu terjadi.”
“Aku tidak pernah tinggal sendiri!”
“Kalau begitu anggap saja ini pengalaman baru! Belajarlah hidup sendiri!”
Ara berbalik, kembali memunggungi Bryan lalu melemparkan garpunya ke dalam panci. “Aku mau pulang saja! Aku akan minta jemput sekarang!”
“Oi!” seru Bryan kesal. “Mengapa kau terus menggunakan kata-kata itu untuk mengancamku? Kau serius ingin pulang? Kau mau dinikahkan denganku?”
“Aku tidak mau! Tapi aku tidak bisa hidup sendiri! Aku takut!”
Bryan menggeram kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. “Itulah mengapa aku benci sekali jika harus berurusan dengan nona muda sepertimu. Kalian semua sangat manja dan menjengkelkan!”
“Kau pikir aku senang berurusan denganmu? Pria yang menyembunyikanku di tempat jelek penuh debu tanpa makanan? Lebih baik aku pulang saja sekarang!”
“Oi! Kubilang berhenti mengancamku seperti itu!”
“Aku tidak mengancammu! Aku memang akan pulang!” seru Ara seraya bangkit dari duduknya. Bryan mendecakkan lidahnya, buru-buru menyusul Ara saat melihat wanita itu memakai sepatu di depan pintu. “Baiklah, aku tidak akan pergi. Aku akan tinggal di sini.”
“Seharusnya mengatakannya sejak tadi! Mengapa harus membuatku kesal terlebih dahulu?” Ara menghempaskan tangan Bryan yang mencekal pergelangan tangannya lalu berjalan menuju satu-satunya kamar yang berada di apartemen itu.
“Kau mau ke mana? Bagaimana dengan panci itu?” tegur Bryan saat Ara melewati panci kotornya begitu saja.
“Bagaimana apanya?” Ara balik bertanya dengan tampang polosnya. “Kau cuci saja. Aku tidak suka mencuci piring. Selamat malam.”
Bryan membuka mulutnya tak percaya, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa karena sikap Ara yang seenaknya itu.
“Ara! Buka pintunya!” Setelah mencuci piring, Bryan mengetuk pintu kamarnya yang terkunci dari dalam. Tidak ada jawaban dari Ara. Ini baru 5 menit sejak wanita itu memasuki kamar ini, mungkinkah ia tidur secepat ini?
“Kau ingin membuka pintunya atau membiarkan aku menerobos masuk dengan caraku?” ancam Bryan.
Dan benar saja, wanita itu belum tidur. Pintu terbuka beberapa saat setelahnya. “Ada apa?”
“Oho! Dengar bagaimana kau bertanya ‘ada apa?’. Kau benar-benar bersikap sangat nyaman di apartemenku ini, uh?” Bryan mendorong tubuh Ara yang menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam kamar lalu melangkah menuju lemari yang berada di sudut ruangan. Ia mengeluarkan sebuah kaos berwarna putih lalu menatap Ara yang masih mengamati setiap gerak-geriknya. “Apa yang kau lihat? Cepat balikkan badanmu!”
“Ganti bajumu di luar!”
“Terserah jika kau tidak mau balik badan,” kata Bryan sambil menarik kaosnya ke atas, membuat Ara memekik kesal dan segera membalikkan badannya.
“Sudah?” tanya Ara saat mendengar suara sesuatu yang diletakkan di lantai.
“Belum.”
“Mengapa lama sekali? Apa yang kau lakukan?”
“Berbaliklah jika kau memang sangat penasaran dan ingin melihatku ganti celana.”
Ara mendesis pelan lalu menempelkan dahinya pada daun pintu. Namun tidak lama terdengar suara Bryan yang naik ke tempat tidur dan Ara segera membalikkan tubuhnya.
“Hei! Apa yang kau lakukan di sana? Cepat turun!” Ara menarik tangan Bryan yang sedang menepuk-nepuk bantalnya.
“Lepaskan aku! Kau tidurlah di sana!” Bryan menunjuk kasur yang ia gelar di lantai dengan dagunya.
“Tidak mau! Aku bisa sakit jika tidur di lantai!”
“Oi!” Bryan menarik paksa tangannya, membuat tubuh Ara terhuyung ke belakang. “Berhentilah bersikap manja dan tidur saja di lantai itu! Kau pikir aku ini mamamu? Jika kau terus begini aku akan benar-benar marah padamu!”
Ara menggigit bibir bawahnya. Bentakan dan pelototan Bryan membuat jantungnya berdetak kencang karena takut. Wanita itu menundukkan kepalanya dan tanpa berkata apapun tidur di kasur yang digelar di lantai, memunggungi Bryan yang masih mengawasinya lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
“Susah sekali diatur,” sungut Bryan lalu membaringkan tubuhnya.
***
Kamar itu masih sangat gelap saat Bryan terbangun karena mendengar suara pintu yang ditutup. Ia membuka matanya sebentar, mengerjapkannya beberapa kali sebelum memilih untuk kembali tidur.
Bryan baru benar-benar terbangun dari tidurnya saat jam menunjukkan pukul 10 pagi. Ia meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. Saat menoleh ke sisi kanannya, ia sudah tidak melihat Ara di kasur lantainya.
“Wanita macam apa yang meninggalkan tempat tidurnya begitu saja dalam keadaan berantakan seperti ini? Beruntungnya aku karena kabur di hari pernikahan itu.”
Bryan melangkah menuju dapur dan mengeluarkan sebotol air dari dalam lemari pendingin. Ia meneguk airnya sambil memperhatikan sekitarnya. Keadaan apartemennya yang sangat sepi itu membuat beberapa kerutan tercipta di dahinya.
“Ara!” panggilnya. Namun tidak ada jawaban.
Dengan langkah terburu-buru ia menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya. “Ara, kau di dalam?” Masih tidak ada jawaban. Bryan membuka pintu kamar mandi dan tidak menemukan wanita itu di dalam sana.
“Astaga, jangan bilang…” Bryan meremas rambutnya sendiri saat ingat suara pintu tertutup yang membuatnya terbangun pagi tadi. “Jadi itu bukan mimpi? Wanita itu benar-benar kabur dariku?”
**To Be Continue**