Bryan berlari keluar dari apartemennya tanpa mempedulikan penampilan baru bangun tidur yang membuatnya mudah mencuri perhatian dari orang-orang yang dilewatinya. Karena terlalu terburu-buru, ia bahkan beberapa kali nyaris terjatuh saat menuruni puluhan anak tangga yang akan membawanya keluar dari kawasan sepi tempat apartemen kecilnya itu berada.
“Dia tidak bisa naik bus atau kereta, sejauh mana dia bisa pergi? Apa dia naik taksi?” Bryan mondar-mandir di kawasan pertokoan yang ramai dengan hanya mengenakan kaos lengan pendek tipis dan celana pendek berwarna hitam yang bagian bawahnya sudah terlihat jelek. Setiap kali melihat wanita pendek dengan rambut panjang berwarna coklat seperti Ara ia akan menghampirinya, membalik tubuhnya, lalu mengucapkan maaf saat orang itu bukanlah wanita yang dicarinya.
“Tuan Bryan?”
Bryan membalikkan tubuhnya saat mendengar suara seseorang di belakangnya. Ia mengerutkan keningnya, mencoba mengenali pria berjas hitam yang sedang tersenyum dengan ramah padanya. “Kau siapa?”
“Aku Josh, pengawal Nona Ara. Kita beberapa kali bertemu sebelumnya,” jawab pria itu memperkenalkan dirinya.
“Ah, kau ternyata. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bryan.
“Kami sedang mencari Nona Muda,” jawab Josh sambil menolehkan kepalanya ke belakang. Bryan mengikuti arah pandang Josh dan mendapati beberapa orang pria berjas hitam yang tersebar di tempat itu. Tampak sibuk dengan pencariannya. “Lalu Anda…”
“A-ah…” Bryan memeluk kedua lengannya sendiri saat Josh mengamati penampilannya yang sama sekali tidak mencerminkan seorang Tuan Muda itu. “Aku juga sedang mencari calon istriku yang menghilang. Aku… Aku sangat mengkhawatirkannya,” jawab Bryan. Ia tidak berbohong. Ia memang sedang mengkhawatirkan Ara dan berharap tidak ada yang menemukan wanita itu sebelum dirinya.
“Anda pasti sangat mengkhawatirkannya. Kami akan segera mengabari Anda saat Nona Muda ditemukan.”
Bryan segera menjauhkan dirinya dari para pria berjas hitam itu dan kembali mencari Ara lebih teliti dari sebelumnya. Ia mencari wanita itu di mana-mana. Di toko-toko, kedai yang dilewatinya, toilet umum, gua tempat anak-anak biasa bersembunyi di taman bermain, dan… Siapa yang mengira jika ia akhirnya menemukan wanita itu sedang duduk berjongkok di sebuah gang sempit yang sangat kotor?
“Oi!” seru Bryan sambil menyentuh bahu Ara. Wanita itu langsung menepis tangannya dan beringsut menjauh. Suara isakannya terdengar jelas.
“Jangan mendekat!” Ara berseru dengan suaranya yang terdengar bergetar.
“Ini aku! Apa yang kau lakukan di tempat kotor ini, wanita manja?”
Ara menghentikan tangisnya saat akhirnya mengenali suara Bryan. Ia mengangkat wajahnya yang memerah dan penuh air mata. Ia masih terisak-isak pelan saat Bryan menarik tangannya untuk berdiri.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Bryan mengulangi pertanyaannya.
“Bry-Bryan…”
“Pelan-pelan. Pelan-pelan saja,” kata Bryan sambil menepuk-nepuk bahu Ara saat mendengar suara gadis itu yang terbata-bata.
“Mereka mengejarku,” kata Ara sambil kembali menangis.
“Siapa yang mengejarmu?” tanya Bryan dengan kedua mata membesar.
“Orang-orang jahat. Mereka ingin mengambil ini.” Ara menunjukkan kalung berliannya yang sejak tadi ia genggam dengan kedua tangannya.
Bryan menurunkan bahunya yang sejak tadi menegang saat menghembuskan napas panjang sambil mendecakkan lidahnya. “Mengapa tidak kau berikan saja? Kau tahu, mereka bisa saja membunuhmu.”
Ara menggelengkan kepalanya. “Kalung ini yang dipakai nenek dan mamaku saat mereka menjadi pengantin. Kalung ini hanya akan dipakai oleh para wanita di keluarga kami saat menikah. Aku tidak boleh memberikan kalung ini pada mereka. Nenek dan mamaku pasti akan sangat sedih.”
“Apa kau tidak berpikir mereka akan lebih sedih jika sesuatu terjadi padamu saat kau berusaha melindungi kalung ini? Tidak ada benda berharga yang lebih penting daripada nyawa di dunia ini, wanita manja!” Bryan menatap pakaian Ara yang kotor sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Inilah yang terjadi saat kau mencoba kabur. Kau pikir dunia luar itu tempat yang mudah?”
“Itu karena kau sangat kejam padaku!” pekik Ara kesal. Jadi lupa pada rasa takutnya saat ingat bagaimana Bryan yang semalam marah-marah padanya membuatnya jadi sakit hati sampai nekad kabur seperti ini.
“Kau bilang akan bertanggung jawab padaku, tapi kau justru menelantarkanku di apartemen jelekmu. Kau tidak peduli aku makan atau tidak, tidak peduli aku merasa takut atau tidak. Kau bahkan dengan kejamnya menyuruhku tidur di lantai dan membentakku. Apa seperti itu yang kau sebut bertanggung jawab pada hidupku?!” Ara memprotes perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya dari Bryan sambil menghitung dengan jari-jarinya.
Bryan membuka mulutnya tanpa bersuara. Sebelumnya ia merasa biasa saja, tapi mendengar kata-kata yang Ara ucapkan tentang dirinya membuatnya tampak sangat kejam.
“Aku tidak mau kembali ke tempat itu bersamamu lagi. Aku akan pulang ke rumahku!” seru Ara, terdengar sebagai keputusan final yang tidak dapat diganggu gugat.
Ara membalikkan tubuhnya tepat saat Josh melintasi gang itu. Bryan segera menarik tubuh wanita itu hingga kembali menghadap padanya sebelum Josh atau Ara saling melihat keberadaan satu sama lain.
“Ah!” pekik Ara saat punggungnya menghantam dinding dengan cukup keras hingga menarik perhatian Josh untuk menoleh.
Bryan segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di antara helaian rambut panjang Ara yang terurai. Josh hanya tersenyum maklum saat melihat seorang wanita berpakaian kotor yang sedang dipeluk seorang pria tinggi di gang sempit itu dan langsung melewatinya begitu saja.
“Bry… Bryan…” Ara mencoba melepaskan diri dari pelukan Bryan, namun pria itu justru mempererat pelukannya.
“Maafkan aku,” bisik Bryan. “Aku tidak akan mengulanginya. Aku janji akan bersikap lebih baik padamu.”
“Aku tidak percaya! Aku mau pulang!”
“Kau harus percaya padaku!” seru Bryan. “Kau harus percaya padaku, Ara. Karena aku tidak ingin menikah denganmu, maka aku harus terus menyembunyikanmu.”
Ara terdiam, sampai akhirnya Bryan melepas pelukannya dan menatap wanita itu dengan penuh kesungguhan.
“Kecuali jika kau ingin menikah denganku, kau bisa pulang ke rumahmu lalu akhirnya kau akan terperangkap selamanya dalam pernikahan bersamaku. Itukah yang kau inginkan?”
‘Terperangkap selamanya dalam pernikahan bersamaku.’
Kalimat itu terdengar sangat mengerikan bagi Ara hingga membuat wanita itu memilih untuk segera menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, teruslah berada di dekatku. Aku akan menyembunyikanmu dengan baik. Dan kupastikan setelah aku mengeluarkanmu dari persembunyianmu, kau tidak perlu mengkhawatirkan pernikahan denganku lagi.”
Bryan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ara bisa merasakan kesungguhannya itu hingga kini ia menganggukkan kepalanya pada Bryan. “Kalau begitu, kau benar-benar harus bertanggung jawab penuh padaku. Tidak seperti sebelumnya, kau harus memperlakukanku dengan baik!”
Bryan menyunggingkan senyumnya, menyanggupi perkataan Ara dengan anggukan kepalanya. “Ya. Kali ini aku janji akan memperlakukanmu dengan sangat baik, Ara.”
**To Be Continue**