Ingin Pulang

1873 Kata
“Aku tidak punya sikat gigi. Aku belum menggosok gigiku sejak kemarin,” kata Ara sambil memasukkan sikat gigi ke dalam troli. Bryan mengambil sikat gigi itu dan melihat harganya. “Ambil yang biasa saja! Bukankah itu sama saja?” Bryan hendak mengembalikan sikat gigi itu ke tempatnya saat Ara menahannya dengan wajah cemberut. “Apanya yang sama saja? Gusiku mudah berdarah saat memakai sikat gigi sembarangan!” “Tidak akan berdarah jika kau menggosoknya dengan hati-hati. Pakai yang ini saja! Harganya murah dan bulu sikatnya sangat lembut.” Ara menghentakkan kakinya kesal. “Kau bilang akan bertanggung jawab padaku. Seharusnya kau bertanggung jawab penuh! Bagaimana kau akan bertanggung jawab jika gusiku berdarah karena sikat gigi murahan ini?” “Aku akan menggosokkan gigimu jika perlu. Meski aku akan bertanggung jawab padamu, tapi kau juga harus mengerti keadaanku. Aku ini pengangguran sekarang. Apa lagi yang kau butuhkan?” Ara menggembungkan pipinya kesal menatap Bryan yang berjalan mendahuluinya sambil mendorong troli untuk menyusuri supermarket itu. “Apa sebaiknya aku pulang saja daripada terperangkap bersama pengangguran pelit itu?” batin Ara. Namun saat ingat kata-kata 'terperangkap selamanya dalam pernikahan' wanita itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran tersebut jauh-jauh. “Apa harus yang semahal ini? Apa akan ada yang berubah jika kau pakai yang ini?” Bryan kembali meninggikan suaranya saat Ara memasukkan pembalut yang harganya mahal ke dalam troli belanjaan mereka. “Memang harus yang ini! Kujelaskan pun kau tidak akan mengerti karena kau tidak pernah pakai ini!” Ara bersikeras. “Merk yang ini pasti juga sangat bagus. Sejak tadi orang-orang membeli merk ini.” “Itu karena harganya murah. Aku tidak bisa pakai barang murah seperti ini untuk hal yang sangat sensitif!” “Sensitif apanya? Kau juga akan membuangnya setelah memakainya, kan? Pakai yang ini saja!” “Aku tidak mau! Bryan~” Bryan tidak mempedulikan Ara yang sudah hampir menangis dan segera membawa trolinya ke konter lain. “Aku tidak suka itu, gambarnya jelek!” “Siapa yang akan melihat pakaian dalammu bagus atau tidak? Yang penting ini nyaman dan pas untukmu.” Dan sekali lagi Bryan dibuat kesal saat memilih pakaian dalam untuk Ara. “Ngomong-ngomong, kau yakin bra ini tidak terlalu besar untukmu? Kau... Tidak terlihat sebesar itu," komentar Bryan yang langsung mendapat pukulan gantungan baju di kepalanya dari Ara. “Aku hanya bisa pakai sabun ini! Kulitku sangat sensitif!” “Ah, itu mahal! Pakai ini, kulitmu akan menerimanya dengan baik setelah terbiasa.” “Mie yang pakai mangkuk saja, itu lebih enak!” “Rasanya sama saja, yang pakai mangkuk hanya lebih mahal.” “Bryan~ Yang ini saja! Aku tidak pernah pakai yang itu di rumah!” “Kalau begitu kau harus mencobanya. Ini sangat bagus!” “Bryan~ Yang ini lebih bagus!” “Ah, yang ini lebih murah.” “Yang itu! Yang itu lebih enak!” “Yang ini lebih banyak.” Bryan dan Ara mengantri di depan kasir untuk membayar belanjaan mereka. Bryan mengamati sekitarnya sambil tersenyum puas. “Mereka pasti tidak akan berpikir jika nona muda mereka akan berbelanja di tempat seperti ini.” Bryan lalu menatap Ara yang berdiri di sebelahnya. “Oi, mengapa wajahmu seperti itu? Apa kau lelah?” Ara menatap Bryan dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergerak, menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar oleh Bryan. “Apa yang kau katakan?” tanya Bryan sambil mendekatkan telinganya ke bibir Ara. “Pulang…” bisik Ara, sangat lirih. Bryan kembali menarik kepalanya menjauh. “Kau pasti sangat lelah, uh? Kita akan pulang sebentar lagi.” Ara menggelengkan kepalanya, bibirnya kembali bergerak-gerak. Menggumamkan kata ‘pulang’ berkali-kali sambil mulai terisak. “Kau… Kau ingin pulang ke rumahmu?” tanya Bryan yang langsung diangguki oleh Ara. “Ara—” “Berikutnya!” seru penjaga kasir karena Bryan tidak bergerak untuk maju. Pria itu segera membawa trolinya agar penjaga kasir dapat menghitung belanjaannya sementara Ara masih mematung di tempatnya. “Ara, kau menghalangi orang lain,” kata Bryan sambil menarik tangan Ara agar kembali berdiri di sampingnya. “Sepertinya istri Anda sakit, Tuan,” kata penjaga kasir sambil memasukkan barang belanjaan Bryan ke dalam kantong belanja. “Kau sakit?” tanya Bryan pada Ara yang masih terisak-isak. “Pulang…” gumam wanita itu. “Kau ingin sesuatu?” “Pulang…” “Apa kau ingin mie yang pakai mangkuk?” “Pulang…” "Hmmm... Kau mau kubelikan bra yang ada pitanya itu?" "Pulang..." “Ah, kau ingin sikat pulang yang… Maksudku kau ingin sikat gigi yang tadi?” “PULANG, SIALAN! AKU INGIN PULANG!"     ***     “Apa kau lelah?” tanya Bryan setelah mereka sampai di apartemen. Di sepanjang perjalanan pulang Bryan terus menggandeng tangan Ara karena wanita itu terus minta pulang. Mereka duduk di karpet depan televisi dan Bryan mulai membongkar belanjaannya. “Ini. Kau sudah memiliki perlengkapan mandimu sendiri. Mandilah, aku akan masak untuk makan malam,” ujar Bryan. Ara bergeming. Ia hanya mengetuk-ngetukkan gagang sikat giginya di meja. “Ara, kau tidak ingin mandi?” tanya Bryan. “Aku ingin pulang,” jawab Ara. Suaranya terdengar lebih jelas dibandingkan saat di supermarket tadi meski masih serak. Bryan mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan semua uang yang ada di dalamnya. Ara mengawasinya dalam diam meski sesekali ia masih cegukan karena terlalu banyak menangis. “Lihatlah, ini semua uang yang kumiliki saat ini. Papaku benar-benar tidak memberiku apapun selain mobil yang bahkan aku bingung bagaimana caraku mengisi bensinnya nanti. Aku tidak pelit atau tidak ingin bertanggung jawab padamu, tapi memang seperti inilah keadaanku sekarang.” “Aku akan pulang saja.” Ara masih tidak mengubah keinginannya untuk pulang. “Aku lebih takut hidup miskin seperti ini dibandingkan menikah denganmu. Kurasa tidak masalah aku menikah denganmu karena kau akan mendapatkan kembali semua yang memang menjadi milikmu saat kita menikah nanti.” Bryan mendecakkan lidahnya, wajahnya benar-benar tampak frustrasi. “Aku yang tidak mau menikah denganmu. Kau pikir setelah melihat sendiri bagaimana manjanya dirimu aku masih mau menikah denganmu?" Ara melempar sikat giginya hingga berada di tepi meja. "Aku juga tidak mau menikah dengan pria galak yang pelit sepertimu! Aku hanya ingin pulang saja!" Suara Ara berubah. Sedikit lagi wanita itu pasti akan menangis lagi. "Itu bagus jika kau juga tidak mau menikah denganku! Karena kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini, maka kau harus terus bersembunyi!" "Tapi aku tidak bisa hidup seperti ini!" “Bukan tidak bisa, kau hanya tidak mau!” sangkal Bryan. “Sama sepertimu, aku dulu juga sangat manja. Tapi saat aku kuliah di luar negeri, berada jauh dari keluargaku dan orang-orang yang selalu menunduk hormat padaku, aku memutuskan untuk berubah. Kau tahu, Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan beradaptasi yang sangat menakjubkan. Kau juga pasti bisa, Ara.” Ara tidak menjawab. Wanita itu memandangi sikat giginya dengan wajah cemberut. “Daripada berpikir jika sikat gigi itu murah dan bisa membuat gusimu berdarah, bagaimana jika kau berpikir kau sangat membutuhkan sikat gigi itu untuk membersihkan gigimu yang dipenuhi sisa makanan?” Perkataan Bryan membuat Ara kembali menatapnya. “Lalu sabun ini. Berpikirlah kau membutuhkannya untuk membersihkan kotoran di tubuhmu, jangan berpikir tentang merk atau harganya. Dan juga saat memakai pembalut ini, berpikirlah…” Bryan berhenti sejenak, bingung harus melanjutkan ucapannya dengan kata-kata seperti apa sementara Ara masih terus menatapnya menunggunya melanjutkan ucapannya. “Berpikir saja jika ini lebih baik daripada memakai tisu toilet! Aku akan mengambilkan baju untukmu. Kau mandilah!”     ***     Setelah mandi bergantian, Bryan dan Ara duduk bersebelahan di karpet di hadapan sepanci mie yang mengepulkan asapnya. Ara memakai kaos berwarna biru muda milik Bryan yang lengannya terlalu panjang untuknya sementara bagian lehernya kebesaran hingga menunjukkan sebagian bahunya dan celana pendek Bryan yang saat dipakai Ara menjadi celana ¾ yang kebesaran. “Kita lupa membeli mangkuk tadi,” kata Ara. “Benar, hanya ada satu panci di sini. Bagaimana ini, aku tidak akan kebagian makan jika makan bersamamu seperti ini,” keluh Bryan. “Aku tidak serakus itu! Tadi malam aku seperti itu karena kau tidak memberiku makan sejak pagi!” Ara membela dirinya. “Iya, aku minta maaf. Sekarang aku sudah mengisi lemari pendingin dengan makanan. Kau tidak akan kelaparan lagi.” Bryan dan Ara menundukkan kepala bersamaan untuk menyuapkan mie ke dalam mulut mereka, membuat kepala mereka saling beradu tanpa sengaja. “Ah, sakit sekali! Apa kau sengaja?” Ara menggosok-gosok kepalanya dengan punggung tangannya. “Bagaimana mungkin aku sengaja? Aku kan tidak tahu jika kau akan menunduk!” “Kalau begitu kita gantian saja,” usul Ara. Bryan mengangguk setuju. “Aku akan makan terlebih dahulu,” kata Bryan namun Ara langsung menahan garpunya. “Mengapa kau makan terlebih dahulu? Kau tidak tahu ungkapan ladies first?” “Tidak tahu, aku lapar! Tidak ada laki-laki atau perempuan di sini, semua sama saja!” “Menyebalkan sekali! Seharusnya kau biarkan aku makan terlebih dahulu! Kau membuatku ingin pulang lagi!” Bryan menghentikan gerakan tangannya saat mie itu telah berada di depan mulutnya. “Tsk! Kau terus saja seperti itu! Baiklah, agar ini adil kita suit saja.” “Baiklah, itu bagus! Ayo kita suit!” Ara menyatukan kedua telapak tangannya lalu mengintip dengan sebelah mata terpejam melalui celah-celah jarinya. “Sudah?” tanya Bryan. “Tunggu sebentar, aku akan melihatnya…” Ara tidak sadar dirinya tampak menggelikan di mata Bryan karena menganggap suit ini begitu serius. “Ayo!” Mereka mengulurkan tangan bersamaan. Bryan mengulurkan kepalan tangannya sementara Ara mengulurkan kelima jarinya yang terbuka. Batu lawan kertas. Ara menang. Namun wanita itu hanya diam dan menatap Bryan. “Siapa yang makan?” tanya Ara kemudian, membuat Bryan sedikit memiringkan kepalanya. “Yang menang… Aku menang, ya?” Bryan mengerjapkan matanya, namun wajah polos Ara tidak berubah. Ia lalu mengambil garpunya. “Aku makan lebih dahulu,” ucapnya yang membuat Ara mencibir kecewa. Bryan melirik wanita itu sambil diam-diam menyeringai licik. "Oi! Aku juga mau!" Ara menahan tangan Bryan saat pria itu hendak mengangkat panci mie untuk menghabiskan kuahnya. "Ini hanya kuahnya saja, Ara!” "Tapi aku suka kuah mie!" Ara mengangkat panci itu dan menyeruput sisa kuahnya. Ia menyeka bibirnya dengan wajah senang lalu menyodorkan panci itu ke depan wajah Bryan. "Aku menyisakannya untukmu." Bryan melihat isi panci itu lalu menggedikkan bahunya. "Untukmu saja. Kau boleh menghabiskannya. Dan karena kita sudah makan, sekarang saatnya cuci piring. Ara, bawa semua ini ke dapur dan cuci!” “Apa? Mengapa harus aku?” “Karena kau adalah perempuan, maka tugas bersih-bersih adalah tugasmu.” “Tidak mau! Bukankah kau yang mengatakannya tidak ada laki-laki atau perempuan di sini, semuanya sama saja!” Telak! Ara menggunakan perkataan Bryan untuk balik melawan pria itu. Namun Bryan tidak kehabisan akal. “Kalau begitu kita lakukan suit lagi.” Mereka kembali melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan cuci piring. Bryan gunting. Ara batu. “Aku menang. Cepat cuci piringnya!” kata Bryan dengan senyuman licik menghiasi wajahnya. “Ah… Mengapa aku kalah terus? Kupikir aku akan menang jika pakai batu,” keluh Ara namun tetap membawa peralatan makan yang kotor itu ke tempat cuci piring. “Ara, mulai sekarang untuk memutuskan sesuatu kita lakukan dengan suit saja, bagaimana? Kurasa itu cukup adil,” seru Bryan dengan suara riang. Nah, ini baru ironis sekali namanya. Benar-benar wanita polos yang malang.     **To Be Continue**      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN