“Mengapa kita harus bangun sepagi ini? Ini hari Minggu, tahu!”
Jam bahkan masih belum pukul 7 saat Bryan terus mengganggu tidur Ara agar wanita itu bangun dari tidurnya. “Memangnya kenapa jika ini hari Minggu? Seperti di hari lainnya kau sibuk saja! Ayo cepat bangun!”
“Aku tidak mau! Aku masih mengantuk! Ini masih sangat pagi!”
“Justru karena ini masih sangat pagi!” Bryan akhirnya berhasil membuat wanita itu duduk dengan paksa saat ia menarik kedua tangan Ara yang matanya masih terpejam. “Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Cepat mandi!”
“Jalan-jalan ke mana? Udara panasnya sedang menggila, aku ingin bermalas-malasan di rumah saja,” tolak Ara.
“Kau ini! Mengapa kau suka sekali bermalas-malasan di rumah, uh? Tidak ada yang menarik di rumah ini! Ayo kita jalan-jalan!”
“Kasur ini terlihat menarik, aku akan menghabiskan pagi hariku di sini saja.” Ara berkata dengan suara seraknya sebelum kembali membaringkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimutnya.
“Kau yakin tidak mau keluar bersamaku?” tanya Bryan yang dijawab dengan gumaman oleh Ara. “Bahkan meski aku akan membelikanmu bra yang ada pitanya kau juga tidak mau?”
Ucapan Bryan berhasil menarik perhatian Ara dan membuat wanita itu menurunkan selimut hingga ujung hidungnya. “Bra yang bagus itu? Yang kau tidak mau membelikannya untukku?” tanyanya memastikan.
Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya, membuat Ara langsung membuang selimutnya. “Aku akan mandi sekarang. Sambil menungguku, tolong siapkan sarapan, uh!”
Bryan memandangi Ara yang sudah berlari menuju kamar mandi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mudah sekali membujuknya hanya dengan bra. Wanita itu benar-benar mengkhawatirkan.”
***
Ara berdiri di antara desakan penumpang bus lainnya dengan wajah cemberut. Ia berpegangan erat pada pegangan yang menggantung di langit-langit bus menggunakan kedua tangannya. “Mengapa kita harus naik bus? Kau punya banyak uang, kan? Seharusnya kita pakai mobilmu saja.”
“Naik mobil itu merepotkan saat mencari tempat untuk parkir. Ini pengalaman baru untukmu, kan? Bagaimana rasanya?” Bryan yang berdiri di sebelah Ara berpegangan dengan satu tangannya dan memasukkan tangan lainnya ke dalam saku celananya. Kelihatan keren sekali meski hanya mengenakan pakaian kasual.
“Kau memberiku pengalaman naik bus yang buruk,” gerutu Ara. “Ini tidak seperti bus bagus yang ada di dalam drama. Bus ini sangat sesak dan jalannya mengerikan.”
“Bus yang ada di dalam drama itu tidak melewati rute ini. Jadi nikmati saja bus yang ini, uh.”
“Mudah sekali kau bilang nikmati! Aku harus terperangkap di dalam bus yang penuh sesak dan sangat panas dengan memakai jaketmu yang kebesaran dan masker ini. Awas saja jika kau tidak membelikanku bra yang bagus nanti!”
“Tenang saja! Aku akan membelikanmu bra yang sangat bagus! Yang banyak pitanya!” kata Bryan. “Aku tidak mengerti dengan wanita yang menghabiskan banyak uang hanya untuk pakaian dalam yang bagus sementara mereka tidak memperlihatkannya pada siapapun!”
“Kau melihatnya!” seru Ara sambil menunjuk wajah Bryan. “Kau melihat pakaian dalamku saat aku menjemurnya. Memalukan sekali saat kau melihat pakaian dalamku yang jelek dan— Kyaa!”
Ara memekik keras saat bus tiba-tiba berhenti dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Wanita itu memejamkan kedua matanya, mengira jika dirinya akan jatuh di atas lantai bus yang kotor dan keras.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Bryan. Tangan kanannya menahan bahu Ara sementara tangan kirinya berpegangan erat pada gantungan yang membuatnya dapat menjaga keseimbangannya. Membuat Ara yang menyadari jika dirinya tidak jadi jatuh menghela napas panjang saking leganya.
“Astaga aku kaget sekali,” bisik Ara. “Paman! Menyetirlah dengan hati-hati!” teriaknya dengan galak pada supir bus yang sudah hampir membuatnya terjatuh itu.
“Dia tidak akan mendengarkanmu. Tidak perlu berteriak seperti itu!” Bryan melepas tangannya dari bahu Ara dan kembali memasukkannya ke dalam saku celananya.
“Oi! Daripada menyimpan tanganmu seperti itu...” Ara mengeluarkan tangan Bryan dari saku celananya lalu meletakkannya di bahunya. “Lebih baik kau menggunakannya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Tahan tubuhku jika aku hampir jatuh, uh.”
“Apa-apaan ini? Orang yang melihat akan berpikir jika kita sedang kencan.”
“Jadi ini bukan kencan?”
“Kau menganggap ini kencan?”
“Kau dan aku… Pria dan wanita yang pergi bersama di hari Minggu, selain kencan aku harus menyebutnya apa?”
“Ini namanya jalan-jalan.”
“Hanya jalan-jalan?” Suara Ara terdengar kecewa. “Padahal aku ingin kencan. Aku tidak pernah pergi kencan seumur hidupku. Pasti menyenangkan jika aku bisa pergi kencan dengan temanku.”
Bryan membungkukkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya pada Ara. Mensejajarkan tingginya dengan wanita yang hanya setinggi bahunya itu. “Tidak ada orang yang pergi kencan dengan temannya. Berkencan itu harus dengan kekasih, tahu.”
“Kalau begitu jadilah kekasihku,” kata Ara. Terdengar tanpa beban saat mengucapkannya. “Jadilah kekasihku hari ini dan ajak aku berkencan, uh?”
Bryan mengerjapkan kedua matanya. “Ara, kau ini kan wanita. Seharusnya kau tidak boleh mengajak pria berkencan lebih dahulu. Itu memalukan!”
Ara cemberut dan menghentakkan kakinya dengan keras. “Kau yang membuat ini jadi memalukan untukku! Aku sudah mengajakmu lebih dahulu, lalu sekarang apa? Kau menolaknya? Ya sudah jika tidak mau kencan denganku! Kita jalan-jalan saja!”
Bryan mengulum senyumnya melihat Ara yang tengah merajuk itu. Wanita ini selain mudah dibuat senang dengan hal-hal kecil juga mudah sekali dibuat ngambek oleh hal-hal sepele. “Maafkan aku. Seharusnya aku yang mengajakmu berkencan terlebih dahulu. Nona Ara yang cantik, maukah kau berkencan denganku hari ini?”
“Tidak mau!” sahut Ara dengan ketus sambil membuang muka dari Bryan.
Bryan mencibirkan bibirnya sebelum dengan nada kecewa berkata, “Ya sudah jika kau tidak mau, kita jalan-jalan saja.”
“Oi!” Ara berseru dengan gusar sambil menghentakkan kaki kirinya. “Aku menolaknya agar kita impas. Ayo ajak aku lagi! Aku akan menerimanya kali ini!”
“Oho! Kau benar-benar wanita yang pendendam, uh!” Bryan berkata sambil menunjuk wajah Ara, yang langsung ditepis dengan kasar oleh wanita itu.
“Ayo~” Ara mulai merajuk dengan memasang ekspresi cemberut di wajahnya. “Ajak aku kencan lagi, Bryan~”
Bryan menghela napas panjang. “Baiklah.” Pria itu lalu mengulurkan tangan kanannya pada Ara. “Ayo kita kencan.”
“Apa ini?” tanya Ara sambil memandangi tangan Bryan yang terulur padanya.
“Apa ini? Oi! Apa kau pikir orang yang berkencan akan berjalan berjauh-jauhan seperti orang yang bermusuhan? Cepat gandeng tanganku! Jangan membuatnya malu karena terlalu lama menunggumu menggandengnya!”
Ara menatap tangan Bryan sambil tersenyum senang sebelum menggandengnya. “Akan lebih bagus jika kita memasukkannya ke dalam saku jaketmu.” Ara mencoba memasukkan kaitan tangan mereka ke dalam saku jaket Bryan seperti yang biasa ia lihat di drama Korea. Namun pria itu langsung menghentikannya.
“Hentikan itu! Kau akan terlihat seperti ingin mencuri sesuatu dari saku jaketku, tahu! Begini saja. Tunjukkan pada semua orang bahwa hari ini kau berkencan dengan pria yang sangat tampan ini.”
Ara mendecakkan lidahnya. “Apa aku harus membuka maskerku agar semua orang tahu bahwa kau juga berkencan dengan wanita yang sangat cantik?”
“Tidak usah! Kau terus begitu saja supaya tidak ada yang tahu jika aku jalan dengan nona muda yang hilang ini.”
Ara menganggukkan kepalanya dan saat kepala itu tertunduk, tatapannya yang jatuh pada kaitan tangannya dan Bryan membuat sebuah senyuman yang sangat manis tercipta begitu saja di wajahnya.
“Bryan,” panggil Ara pelan yang membuat Bryan menunduk padanya tepat saat wanita itu mendongak untuk menatapnya. “Ini kencan pertamaku.”
“Ah, kau pasti senang kan karena pria yang jadi kencan pertamamu adalah pangeran yang sangat tampan ini?”
Ucapan Bryan membuat Ara mencibirkan bibirnya, namun tidak mengatakan apapun untuk menyangkalnya karena pada kenyataannya ia memang sesenang itu bisa kencan dengan Bryan sekarang.
“Apa aku juga wanita yang jadi kencan pertamamu?”
Bryan bukannya tidak sadar jika Ara mengajukan pertanyaan itu dengan tatapan yang tampak penuh harap. Namun pria itu dengan kejamnya justru melenyapkan harapan Ara dengan berkata, “Tentu saja tidak! Kau pikir aku menyia-nyiakan semua wanita yang mendekatiku hanya untuk menunggumu jadi kencan pertamaku, uh?”
Ara yang mendengar jawaban yang tidak sesuai harapannya itu sudah hampir menggunakan kaki kirinya untuk menginjak kaki Bryan saat ucapan pria itu membuatnya mengurungkan niatnya.
“Tapi ini yang pertama kalinya aku kencan dengan wanita yang secantik ini.”
Bryan memang tidak bisa melihatnya, namun di balik maskernya Ara sedang menggigit bibir bawahnya dengan rona merah yang menjalari kedua pipinya karena perkataan Bryan yang membuatnya merasa tersipu.
“Ah, itu haltenya sudah terlihat. Ayo kita turun. Hati-hati dengan kaki orang. Jangan menginjaknya lagi seperti tadi!”
**To Be Continue**