Telepon Penting

1201 Kata
"Sekarang tetap tutup matamu! Jika kau membukanya aku tidak akan memberikan hadiahnya padamu!" "Iya, iya! Aku tetap menutup mataku seperti ini!" Bryan memasukkan tangannya ke dalam tas belanja untuk beberapa saat lalu mengeluarkan isinya dan mendekatkannya ke wajah Ara. Wanita itu mengerutkan keningnya saat merasakan sesuatu yang bercahaya di depan matanya. "Apa itu? Apa aku boleh membuka mataku sekarang?" "Kau boleh buka matamu sekarang!" Ara mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa terganggu oleh cahaya terang yang berasal dari ponsel berwarna merah muda itu. Wanita itu menatap ponsel di hadapannya seperti seseorang yang tidak pernah melihat ponsel seumur hidupnya. "Hadiah untukmu!" Bryan mengucapkannya dengan penuh kebanggaan seakan ia telah mempersembahkan hadiah berlian termahal di dunia pada nona muda itu. "Wah... Ponsel baru untukku! Aku punya ponsel untukku sendiri!" Ara menerima ponsel itu dan menggosok-gosokkan layarnya pada pipi kirinya. Wajah senangnya itu tidak dibuat-buat, ia memang sangat senang menerima ponsel itu dari Bryan. "Bryan, cepat simpan nomormu!" "Aku sudah menyimpan nomorku. Panggilan cepat nomor 1." "Benarkah?" Ara menekan angka 1 dan keluarlah nomor kontak Bryan. Wanita itu memicingkan kedua matanya saat melihat nama yang Bryan pilih untuk menyimpan nomornya sendiri. 'Temanku yang murah hati Bryan'. "Oh? Kau meneleponku?" Bryan melihat ponselnya yang berdering lalu bertanya, "Haruskah aku menjawabnya?" Ara mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat. Bryan mengulum senyumnya lalu menjawab panggilan itu. "Halo?" "Oi, ini aku Ara!" Bryan menatap Ara yang sedang melambaikan tangan padanya dengan wajah aneh. "Oi! Mengapa kau memanggilku sembarangan seperti itu? Kau pikir kau siapa? Panggil aku dengan benar!" "Apa salahnya memanggilmu begitu? Nomormu adalah panggilan cepat nomor 1 di ponselku. Dan lihat ini!" Ara menunjukkan layar ponselnya pada Bryan "'Temanku yang murah hati Bryan'. Mengapa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu? Kau yang mengajariku karena terus memanggilku ‘oi, oi’ setiap hari!" "Tapi aku ini lebih tua darimu! Oi... Matikan dulu teleponnya. Kau pikir pulsa itu tidak beli dengan uang?" Ara mencibirkan bibirnya lalu memutus sambungan telepon. "Lihat ponselmu!" serunya lalu merebut ponsel Bryan. Wajahnya menjadi cemberut saat melihat nama kontaknya. "Apa ini? Mengapa hanya Ara saja?" "Lalu aku harus menyimpannya dengan nama apa? Namamu kan Ara!" Ara tampak berpikir sejenak sebelum mengganti nama kontaknya. "'Temanku yang cantik Ara'?" Bryan mengeja nama itu dengan kening berkerut. "Nama macam apa ini?" "Memangnya kenapa? Kau juga, nama macam apa yang kau simpan di ponselku? Jika kau menggantinya aku juga akan menggantinya. Ummm... 'Temanku yang pelit dan kejam Bryan'. Akan kuganti seperti itu." "Aku tidak pelit dan kejam! Jangan menggantinya, aku juga tidak akan mengganti namamu." Ara tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. Ponsel Bryan kembali berdering. Ia menatap Ara setelah melihat siapa yang meneleponnya. "Mengapa kau meneleponku lagi? Sudah kukatakan, pulsa itu mahal!" "Ah, cepat angkat! Ini penting!" Bryan menghela napas panjang sebelum menjawab panggilan itu. "Halo?" "Oi, ini aku lagi! Ara!" "Oi! Jangan memanggilku seperti itu!" "Kau sudah makan malam?" tanya Ara sambil berjalan menuju kamar tidur. Sama sekali tidak mempedulikan teguran Bryan. "Kau mau ke mana?" Bryan menjauhkan ponsel dari telinganya dan bertanya secara langsung pada Ara. Ara tidak menjawab dan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya. "Bryan! Oi, Bryan!" Bryan kembali menempelkan ponsel di telinganya. Suara Ara yang memanggil namanya terdengar jelas dari balik pintu kamar dan juga ponselnya. "Apa?" "Aku ingin mengobrol denganmu." "Jika kau ingin mengobrol denganku mengapa kau masuk ke kamar? Matikan teleponnya dan keluar! Kau tidak mau makan malam?" "Jangan! Jangan matikan teleponnya!" Ara berseru sesaat sebelum Bryan mematikan teleponnya. Membuat pria itu mengurungkan niatnya. "Aku ingin bicara seperti ini denganmu. Bicara melalui telepon." "Dasar wanita aneh. Pulsa itu mahal, Ara!" "Sudah lama tidak ada yang meneleponku seperti ini selain keluargaku. Teman-temanku yang tidak pernah menghubungiku selama bertahun-tahun biasanya hanya akan meneleponku saat mereka bingung mencari pekerjaan karena baru dipecat atau saat mereka butuh uang untuk membayar hutang,” keluh Ara dengan suara yang terdengar sedih. Bryan menatap pintu kamarnya yang tertutup. "Kau ingin mengobrol apa denganku? Kita selalu mengobrol setiap hari." "Apa saja. Aku hanya ingin mengobrol sesuatu yang santai denganmu. Seperti... Kau sarapan apa pagi tadi?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja roti tawar dan s**u! Itu sarapan kita setiap hari. Roti tawar dengan selai coklat untukku dan selai pisang untukmu." Terdengar kekehan Ara. "Oi Bryan, shampo apa yang kau pakai?" "Kau serius akan terus bicaraku dengan tidak sopan seperti itu? Aku ini bukan teman sekelasmu, Ara! Aku 3 tahun lebih tua darimu!" "Oi, shampo apa yang kau pakai?" Ara tidak menghiraukan protes Bryan dan kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Sepertinya sengaja sekali pakai kata ‘oi’ walau tahu Bryan tidak senang mendengarnya. "Sama denganmu! Hanya ada 1 botol shampo yang kita pakai bersama di kamar mandi!" "Bryan, shampo apa yang kau pakai?" Seperti rekaman, Ara mengulangi pertanyaannya dengan kalimat dan nada yang sama. Bryan menghela napas. Sepertinya wanita itu tidak akan berhenti mengulang pertanyaannya sebelum ia menjawab sesuai dengan harapannya. "Shampo yang beraroma mawar itu." "Wah, sama! Aku juga pakai shampo mawar itu! Lalu sabun apa yang kau pakai?" Bryan memijat pelipisnya. "Kututup teleponnya, ya? Ini sama sekali tidak penting!" "Sabun apa yang kau pakai?" Bryan menghembuskan napasnya keras-keras, membuat Ara yang mendengarnya terkekeh kecil. "Sabun cair yang wanginya campuran antara delima dan lemon, yang botolnya berwarna putih dengan gambar delima dan lemon. Satu-satunya di kamar mandi yang kita pakai bersama-sama!" "Wah... Aku juga pakai sabun itu! Selera kita ternyata sama. Lalu s**u apa yang kau minum setiap hari?" "Ara... Tutup teleponnya sekarang!" "s**u apa yang kau minum setiap hari?" "s**u vanilla yang ada di lemari pendingin! Yang ada gambar sapinya itu!" sahut Bryan frustrasi. "Sama lagi! Aku juga minum s**u itu. Hmmm... Kau pakai sabun cuci piring apa?" "Ara..." "Kau pakai sabun cuci piring apa?" "Apa kau di rumah sekarang?" Ara mengerjapkan matanya. Pertanyaan macam apa itu? "Tentu saja aku ada di kamar tidur! Kau lihat aku masuk ke sini kan tadi?” "Kau sudah makan malam belum?" "Aku bahkan belum makan siang~” sahut Ara dengan nada merengek. "Aku akan menjemputmu untuk makan malam." "Apa? Bry—" Belum selesai Ara bicara sambungan telepon telah diputus oleh Bryan. Tidak lama terdengar bunyi ketukan pintu. "Aku tidak menguncinya!" seru Ara, namun suara ketukan itu masih terdengar. Ara meletakkan ponselnya di atas tempat tidur lalu membukakan pintu. "Aku datang dengan cepat karena jalanan sangat sepi dari ruang tengah ke kamar ini,” kata Bryan. “Wah, sepertinya temanku ini sudah siap untuk pergi makan malam denganku. Kaos kebesaran yang kau pakai itu sangat fashionable sekali, mirip dengan milikku." Perkataan Bryan membuat Ara terkikik geli. Sepertinya pria itu mulai serius mengikuti permainannya. "Ah, lihat itu! Restoran prasmanan! Kita bisa makan sepuasnya!" Bryan menunjuk makanan yang berada di atas meja makan. "Ayo kita makan di sana! Aku yang akan traktir!"     ***     Bryan dan Ara menikmati makan malam mereka di balkon. Seperti biasa, Bryan akan menduduki kursi yang hanya satu-satunya di balkon itu sementara Ara duduk bersila di lantai. Menikmati makanan mereka sambil sesekali mengobrol tentang sesuatu yang membuat mereka tertawa atau memekik kesal. Tanpa kedua orang itu sadari di sebuah gang kecil yang berada tak jauh dari apartemen itu, seorang pria dengan setelan jas hitam sedang mengintai keduanya. Pria yang pagi tadi dilihat Ara hingga membuat wanita itu bersembunyi selama berjam-jam di dalam lemari. “Tuan, aku sudah menemukan Nona Ara.”       **To Be Continue**      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN