“Ara, kau tidak mau bangun? Apa kau tidak mau sarapan?” Bryan yang telah rapi dengan kemeja kerjanya berdiri di samping tempat tidur Ara. Wanita itu bergelung di dalam selimut, tidak bergerak atau bersuara sedikit pun. “Aku tidak menyentuh selai pisangnya. Itu milikmu. Apa kau tidak mau mencobanya?”
“Kau akan pergi bekerja?” tanya Ara dari balik selimutnya dengan suara pelan yang terdengar serak.
“Hmm.”
“Kau akan tetap ke luar kota nanti?”
“Hmm.”
Ara tidak bertanya apa-apa lagi setelah Bryan menyahutinya. “Aku akan mampir ke restoran sup nanti. Aku akan mengambilkan bayaranmu, jadi kau tidak perlu ke sana lagi.”
Ara masih tidak menjawab, membuat Bryan memutuskan untuk meninggalkan wanita itu.
“Ah, ya…” Bryan yang sudah keluar kamar kembali melongokkan kepalanya ke dalam. “Tolong teruslah di rumah saja. Jangan ke mana-mana. Untuk makan siang, kau bisa memanaskan beberapa makanan beku yang ada di dalam lemari pendingin.” Wanita itu masih bergeming, tidak menanggapi Bryan.
“Baiklah. Aku pergi.” Bryan menyerah. Benar-benar pergi meski Ara yang sudah ngambek padanya di hari sepagi ini membuat hatinya jadi agak muram.
***
Ara duduk di kursi di balkon sambil menikmati sarapannya. Selai rasa pisang yang Bryan belikan untuknya itu membuatnya mampu menghabiskan 4 lembar roti tawar untuk sarapannya ditambah dengan segelas s**u vanilla.
“Apa yang harus kulakukan jika Bryan benar-benar pergi ke luar kota? Aku tidak berani diam di sini sendirian,” gerutunya dengan mulut penuh. Ia melemparkan pandangannya ke bawah, ke arah jalan yang biasanya sepi di jam-jam seperti ini.
“Ya ampun!” Ara memekik kaget dan segera menutupi wajah dengan roti tawarnya. Ia berjongkok, bersembunyi di balik tembok pembatas balkon. Dengan perlahan, ia mengangkat tubuhnya, mengintip dari balik tembok ke bawah sana. Ada seorang pria berjas hitam yang beberapa saat lalu bertemu pandang dengannya. Pria itu sepertinya telah mengamatinya sejak tadi, bahkan sampai sekarang pun ia masih mengawasi balkon di mana Ara sedang bersembunyi.
“Siapa itu… Apa itu detektif atau polisi?” Ara merangkak masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu balkon. “Bagaimana ini? Aku tidak bisa menghubungi Bryan. Aku tidak punya ponsel dan bahkan tidak tahu nomor teleponnya.”
Ara yang panik mulai mondar-mandir di kamar tidur yang masih berantakan itu. Baik dirinya maupun Bryan sama-sama masih belum membersihkan tempat tidur mereka.
Tok tok tok.
Ara meremas roti tawarnya saat mendengar bunyi ketukan di pintu depan. Selama ini tidak ada satu pun orang yang pernah bertamu ke apartemen Bryan. Seperti yang pria itu katakan, apartemen ini adalah apartemen rahasianya. Dan rasanya tidak mungkin jika itu Bryan yang mengetuk pintu di apartemennya sendiri.
“Bryan! Ini aku Henry! Buka pintunya!” Terdengar teriakan dari luar. Ara tidak tahu siapa itu Henry, ia tidak ingin membukakan pintu untuknya. “Aku langsung masuk saja, ya?”
Terdengar bunyi password yang dimasukkan di pintu depan. Ara semakin panik saat bunyi pintu yang terbuka terdengar olehnya disertai langkah kaki Henry.
“Bryan! Kau di mana? Kau mandi?” Ara mengintip melalui lubang kunci di pintu kamar, namun tidak dapat melihat apapun dan hanya mendengar suara Henry yang membuka pintu kamar mandi. “Ah, orang itu! Apa karena dia pengangguran dia menghabiskan sepanjang harinya untuk tidur?”
Ara segera membuka lemari pakaian dan bersembunyi di dalamnya saat mendengar langkah kaki Henry yang mendekat. Wanita itu menutup pintu lemari tepat sesaat sebelum Henry membuka pintu kamar.
“Dia tidak ada di sini?” Henry tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu sambil mengamati ‘sisa-sisa tidur malam’ yang ditinggalkan Bryan dan Ara di ruangan itu.
“Ini aneh,” gumamnya sambil melangkah masuk. Ara semakin menciutkan tubuhnya di dalam lemari. Kedua telapak tangannya berada di depan mulutnya, membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun. “Mengapa ada kasur lantai yang berantakan di sini dan tempat tidurnya juga berantakan? Apa dia tinggal bersama seseorang di sini?”
Henry mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Bryan. “Aku di apartemenmu sekarang. Di mana kau?” tanyanya setelah Bryan menjawab panggilannya. Namun ia harus menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar pekikan terkejut Bryan.
“Oi! Mengapa kau semarah itu hanya karena aku masuk ke apartemenmu? Kau bahkan lebih sering datang ke rumahku saat aku tidak ada! Memakai kamar mandiku dan memakan makananku seenaknya!” Bryan menggerutu sambil menendang kasur lantai ke sudut ruangan. “Aku datang untuk menyampaikan pesan dari papamu! Dia bilang sangat marah padamu, karena itu memintaku untuk menyampaikan pesannya padamu. Ayo kita bertemu sekarang. Aku hanya diberi waktu keluar dari kantor selama 1 jam!”
***
“Ara!” Bryan memasuki apartemennya dengan wajah berbinar-binar. Ia meletakkan sebuah tas belanja kecil di meja ruang tengah dan pergi ke kamar tidur.
“Ara! Oi, Ara!”
Namun binar-binar di wajah Bryan meredup digantikan ekspresi paniknya saat ia tidak mendapati Ara di kamar tidurnya. Kamar itu masih berantakan dengan kasur yang belum dirapikan dan lantai kasur yang diletakkan asal di sudut ruangan.
“Wanita itu...” Bryan semakin panik saat ingat bagaimana semalam Ara menangis begitu lama minta pulang karena tidak ingin ditinggal ke luar kota. “Masa sih dia benar-benar pulang ke rumahnya seka— Oh?”
Ucapan Bryan terhenti saat ia melihat sesuatu yang terjepit di antara pintu lemarinya. Kain berwarna kuning. Itu ujung kaosnya yang dipakai Ara kemarin.
“Astaga… Mengapa dia tidur di sini?” Saat membuka pintu lemari itu, Bryan mendapati Ara yang duduk dengan memeluk kedua kakinya, menumpukan pipi kanannya di atas lipatan tangannya hingga wajahnya yang sedang terlelap itu menghadap Bryan. Keringat yang membasahi wajah wanita itu membuat beberapa helai rambut menempel di wajahnya.
"Dia bahkan masih memegang roti tawarnya,” gumam Bryan seraya mencoba mengambil roti tawar itu dengan hati-hati saat tiba-tiba telapak tangan yang menggenggam roti itu terbuka.
"Kau bangun—"
"Bryan!" Ara tidak menunggu Bryan selesai bicara dan langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Bryan, memeluk pria itu sambil menangis. "Aku takut sekali..."
"A-Ara..." Bryan hendak melepas rangkulan Ara, namun saat merasakan pakaiannya yang mulai basah karena air mata wanita itu ia merasa tidak tega untuk melakukannya.
"Tidak apa-apa," bisik Bryan. Tangan kanannya bergerak ragu menyentuh rambut panjang Ara. Namun saat merasakan Ara yang mulai tenang setelah mendapat tepukan ringan di puncak kepalanya itu, gerakan Bryan menjadi lebih lembut.
"Ada yang datang. Dia masuk ke kamar ini tadi dan aku bersembunyi di dalam lemari. Aku takut sekali," jelas Ara sambil melepas pelukannya. Bryan sedikit memundurkan tubuhya, menatap Ara yang masih duduk meringkuk di dalam lemari sempitnya itu.
"Itu hanya temanku, Henry. Dia bukan orang yang berbahaya."
"Bagaimana aku tahu jika dia berbahaya atau tidak? Bukankah kau bilang ini apartemen rahasiamu? Mengapa ada temanmu yang tahu? Bahkan password-nya juga dia tahu."
"Henry teman yang telah kukenal sejak kecil. Aku mempercayakan banyak rahasiaku padanya."
"Aku juga? Apa dia tahu tentang kau yang menyembunyikanku?"
"Tidak. Kau itu adalah rahasia yang akan kujaga sendiri. Dia tidak melihatmu, kan?"
"Dia tidak melihatku saat di sini. Tapi ketika aku sarapan di balkon, sepertinya dia melihatku."
"Benarkah? Dia melihatmu?"
Ara menganggukkan kepalanya. "Temanmu itu terlihat menakutkan dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam."
Bryan mengerutkan keningnya. "Tapi tadi saat bertemu denganku Henry memakai setelan jas berwarna coklat. Kau pasti salah lihat!" Bryan lalu menarik tangan Ara agar keluar dari dalam lemari. "Ara, aku punya 2 hal baik untukmu hari ini."
"Dua? Apa itu?"
"Hmmm... Kau mau menerima kabar baik terlebih dahulu atau hadiah terlebih dahulu?"
Ara berpikir sejenak. Karena menurutnya Bryan akan menghadiahinya sabun atau shampo, maka Ara lebih memilih untuk mendengar kabar baiknya terlebih dahulu.
"Aku bertemu dengan Henry tadi dan dia berkata bahwa papaku akan mengizinkanku kembali bekerja di perusahaan jika aku berhasil menangani proyek bersama Nathan!” kata Bryan dengan senyuman menghiasi wajahnya, terlihat sangat senang saat berbagi kabar bahagia ini dengan Ara.
Namun hal yang menurut Bryan adalah kabar baik itu justru membuat wajah Ara jadi cemberut. "Apa bagusnya itu? Akan bagus jika papamu langsung memintamu untuk kembali bekerja di perusahaannya!"
"Eii, itu bagus! Aku punya kesempatan untuk menaikkan harga diriku lagi. Akan kubuktikan padanya jika aku bisa mandiri!"
"Tapi tetap saja kau akan ke luar kota!” gerutu Ara. "Lalu... Lalu mana hadiahku?" tanya Ara sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Tidak sabaran sekali Nona Muda ini," ejek Bryan sambil menarik tangan Ara agar keluar dari lemari. Ia lalu memposisikan tubuhnya di belakang tubuh Ara dan menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi masing-masing mata Ara.
"Bryan, jika kau hanya akan memberiku sabun dan shampoo tidakkah menurutmu ini berlebihan?" tanya Ara sambil memegangi telapak tangan Bryan yang menutupi matanya.
"Sabun dan shampo? Oi! Apa kau pikir hanya itu yang bisa kuberikan padamu?" tanya Bryan dengan nada tersinggung.
"Apa itu sesuatu yang lain?"
"Kau akan terkejut nanti! Sekarang ayo jalan!"
Ara berjalan hati-hati dengan dibimbing oleh Bryan. Sesampainya di ruang tengah, Bryan berkata, "Sekarang tetap tutup matamu! Jika kau membukanya aku tidak akan memberikan hadiahnya padamu!"
"Iya, iya! Aku tetap menutup mataku seperti ini!" Ara memejamkan kedua matanya rapat-rapat hingga tercipta garis-garis di sekitar matanya itu. Bryan memasukkan tangannya ke dalam tas belanja untuk beberapa saat kemudian mengeluarkan isinya dan mendekatkannya ke wajah Ara. Wanita itu mengerutkan keningnya saat merasakan sesuatu yang bercahaya di depan matanya. "Apa itu? Apa aku boleh membuka mataku sekarang?"
"Kau boleh buka matamu sekarang!"
**To Be Continue**