bc

Oh, My Cool Bodyguard!

book_age18+
9
IKUTI
1K
BACA
dark
BE
family
HE
age gap
opposites attract
friends to lovers
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
campus
city
office/work place
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Liodra Muller, putri konglomerat Eropa, hidup dalam kemewahan yang dibayangi bahaya. Ketika Alex Kenneth, pengawal dingin dengan masa lalu kelam datang ke sisinya, Liodra tak tahu bahwa pria itu sebenarnya adalah anak dari korban pengkhianatan ayahnya. Di tengah penculikan, rahasia keluarga, dan cinta terlarang yang tumbuh melawan logika, keduanya terseret dalam permainan dendam yang mematikan. Saat kebenaran tentang kematian ibunya terbongkar, Liodra memilih meninggalkan ayahnya demi Alex. Namun ketika cinta dan pembalasan saling bertabrakan… mampukah mereka benar-benar memenangkan segalanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Liodra Diculik
Di rumah mewah keluarga Muller yang sunyi. Lampu-lampu taman redup, hanya menyisakan cahaya lembut yang jatuh di atas rumput. Dari luar, tak ada yang mencurigakan, semuanya tampak dalam kendali. Tapi di lantai dua, di balik jendela besar kamar Liodra Muller, ada satu sosok yang sedang sibuk merencanakan pembebasan kecilnya. Liodra berdiri di depan cermin, memiringkan kepala sambil mengevaluasi penampilannya. Gaun hitam pendek yang ketat membalut tubuhnya dengan sempurna. Ia tampil dengan cukup berani, cukup seksi. Makeup-nya tebal, warna bibir merah menyala, eyeliner tajam seperti siap menusuk. Sangat berbeda dari wajah polos putri konglomerat yang biasanya ia tampilkan di depan ayahnya. Ia tersenyum nakal pada bayangannya sendiri. “Alex pasti ngamuk kalau lihat aku kayak gini. Untung dia udah tidur di kamarnya,” gumamnya mengingat pengawal baru yang ditugaskan ayahnya itu sangat protektif bahkan melebihi Ayahnya sendiri, Tomas Muller. Liodra membuka jendela pelan-pelan, memastikan engsel yang sudah ia olesi oli sebelumnya tidak berdecit. Di bawah, tepat di sisi gelap halaman belakang yang jarang ada petugas lewat, sebuah mobil convertible hitam sudah menunggu. Tiga sahabatnya, Nara, Ghea, dan Lino melambai-lambai penuh semangat. “Cepetan, Liodra! Sebelum ayahmu sadar!” bisik Ghea. Liodra mengangkat sedikit roknya, mengaitkan kaki pada pipa samping balkon kecilnya, lalu perlahan-lahan turun. Ia mendarat dengan lembut, berlari kecil, menyusuri semak-semak sampai mencapai mobil. Begitu ia melompat masuk kursi belakang, teman-temannya bersorak pelan. “WOYY! Akhirnya Liodra bisa kabur!” seru Lino sambil menyalakan mesin. “Aku butuh hiburan,” kata Liodra sambil merapikan rambut. “Dan tolong jangan bahas pengawalku itu. Mood-ku langsung mati.” Mobil melaju keluar dari properti rumah Muller dengan mulus. Tidak ada penjaga yang curiga. Tidak ada alarm. Tidak ada suara. Yang tidak mereka tahu adalah, seseorang telah melihat semuanya. Di dalam kegelapan halaman samping, Alex Kenneth berdiri dengan tangan di balik punggung. Sudah lima menit ia mengamati jendela Liodra yang terbuka, kemudian menuruni halaman seperti hantu. Ia tak membuat suara. Dahinya menegang saat melihat mobil teman-teman Liodra menghilang di tikungan. Ia menatap jam tangannya. 23.46. Tanpa tergesa, ia menuju motornya yang diparkir jauh di luar gerbang agar tidak mencolok. Helm hitam dipasang, dan dalam sekejap, mesin berbunyi halus. Ia mengikuti jejak mobil itu dari jauh, lampu motornya nyaris tak menyala. Liodra tidak akan sadar. *** Kapal mewah itu bersandar di dermaga pribadi, dihiasi lampu-lampu emas yang berkilauan seperti permata. Musik berdentum kuat, udara penuh wangi parfum, alkohol, dan aroma lautan. Anak-anak orang kaya sudah ramai, berdansa, tertawa, dan memamerkan kekayaan yang tidak mereka dapatkan sendiri. Begitu Liodra turun dari mobil, semua mata seakan langsung menoleh. Gaun ketatnya memantulkan lampu dermaga, membuatnya tampak seperti pusat pesta yang baru mendarat. “Liodra!” teriak seseorang dari atas kapal. “Akhirnya kau datang!” Liodra tertawa, suara renyah, bebas, seolah tidak ada ancaman di dunia ini. Ia melangkah naik, membiarkan musik memeluknya. Gelas cocktail disodorkan ke tangannya. Dia meneguk setengah, menari, tertawa lebih keras dari yang seharusnya, merasa dunia akhirnya bukan kandang, melainkan taman bermain. Teman-temannya ikut bergabung dalam kerumunan. Lampu neon bergerak di wajahnya yang penuh makeup, sorot matanya bersinar oleh rasa bebas yang selama ini ia rindukan. Ia benar-benar tidak sadar bahwa di seberang dermaga, seseorang berdiri di atas bayangan kontainer kapal, tubuhnya menyatu dengan gelap malam. Alex. Ia mematikan mesin motornya sejak tadi dan memanjat naik tanpa suara, menemukan titik pengamatan sempurna yang mengarah langsung ke perahu pesta itu. Tatapannya tidak berubah. Begitu tajam, tidak terganggu oleh musik atau keramaian. Ia melihat Liodra tertawa sambil menari, menyibak rambutnya, mengangkat gelas keduanya. Wajahnya penuh energi. Ia menggeser sedikit posisinya, tangan siap menyentuh earpiece kecil di telinga jika sesuatu terjadi. Alex memandang Liodra lama, mendalam, tanpa emosi, tapi jelas mengukur risiko. Tidak ada yang ia lakukan tanpa alasan. Ponselnya tiba-tiba bergetar, nama Tomas Muller muncul di layar. Alex menjawab tanpa menurunkan pandangan. “Ya.” “Alex,” suara Tomas terdengar berat, penuh tekanan. “Kau sudah menemukan Liodra?” Sudut bibir Alex bergerak sedikit. “Sudah, Tuan.” “Bawa Liodra pulang sekarang. Dalam keadaan hidup, tanpa sedikit lecet atau pun kekurangan sehelai rambutnya.” Alex tidak perlu diberitahu dua kali. “Ya, Tuan.” Begitu Tomas menutup telepon, Alex memasukkan ponsel ke saku. Namun, sebelum ia sempat kembali fokus pada Liodra, sesuatu menarik perhatiannya, gerakan kecil di sudut gelap dermaga, tepat di belakang tumpukan kotak logistik. Gerakan yang tidak seharusnya ada. Alex mematikan suara ponselnya, lalu bergerak dengan cepat, sunyi, seperti bayangan yang terlepas dari kegelapan. Saat ia mendekat, ia melihat seorang pria berjaket gelap dengan senapan laras panjang yang diarahkan tepat ke arah pesta. Tepat ke arah Liodra. Alex tak menunggu. Dalam sepersekian detik, ia meraih tangan si penyusup, memelintirnya hingga dengan keras. Senapan jatuh. Pria itu hendak berteriak, tapi Alex lebih dulu menghantamkan siku ke bagian rahangnya. Penyusup itu ambruk tak bergerak. Tapi jeritan tetap terdengar bukan dari pria itu, melainkan dari arah kapal pesta. “ARGHH!” Musik berhenti tiba-tiba. Lampu-lampu bergoyang. Liodra menoleh, bingung. Seseorang menarik rambutnya keras dari belakang. “Jangan bergerak.” Liodra terhuyung. Ia memutar kepala, wajahnya memucat saat melihat siapa pelakunya, Lino. Teman yang tadi tertawa dengannya, yang ia percaya. Tapi kini Lino menodongkan pistol ke perutnya. “Lino… apa… apa yang kau—” “Diam, Liodra!” hardiknya. Tangannya gemetar, tapi tatapan matanya penuh niat buruk. “Kita pergi sekarang. Kalau kau teriak, aku tembak.” Orang-orang di pesta menjerit, mundur, tak ada yang berani mendekat. Keadaan berubah kacau dalam sekejap. Liodra ketakutan setengah mati, dadanya naik turun cepat. Pikirannya ingin melarikan diri, tapi ujung pistol itu membuatnya beku. “Kau mau ke mana?” suaranya bergetar. “Kau tak perlu tau,” jawab Lino pendek. “Ayo.” Ia menyeret Liodra menuju perahu kecil yang terikat di sisi kapal. Angin malam membuat air beriak, dan Liodra merasakan lututnya hampir tak sanggup menopang. “Lino… kumohon… jangan lakukan ini.” “Terlambat.” Ia mendorong Liodra masuk ke perahu kecil, lalu melepas talinya. Mesin perahu kecil itu langsung meraung, melaju menjauh dari kapal utama, meninggalkan pesta yang kacau. Liodra memegang sisi perahu, tubuhnya gemetar. “Lino… aku mohon… hentikan ini.” “Tutup mulutmu,” jawab Lino tajam. Matanya liar, seperti seseorang yang sudah terpojok dan tak bisa berpikir jernih lagi. Liodra menoleh ke belakang lagi, sekadar berharap… siapa pun… ada yang menyadari hilangnya dirinya. Dan saat itulah ia melihatnya. Sebuah speedboat hitam melaju cepat dari dermaga, memecah air dengan tenaga besar. Alex mengejarnya dengan wajah yang tetap dingin. “ALEX!!!” Liodra berteriak sekuat tenaga, suaranya serak penuh ketakutan. “ALEX, TOLONG AKU!!!” Di atas speedboat, Alex mendengarnya. Meskipun angin dan gelombang menelan sebagian suaranya, tatapan Alex tajam mengarah tepat pada Liodra. Rahangnya mengeras, tangannya menambah kecepatan. Tapi berteriak adalah kesalahan. “Diam!!” teriak Lino, wajahnya memerah karena panik. BRUK! Tinju keras menghantam sisi kepala Liodra. Dunia langsung berputar. Sakit menyambar pelipisnya, membuat pandangannya kabur. Tangan Liodra terlepas dari sisi perahu. Ia merasakan tubuhnya limbung, lalu gelap. Tubuhnya terkulai, jatuh ke lantai perahu kecil dalam posisi tak berdaya. Lino mengumpat keras, mendorong tubuh Liodra ke sisi agar tidak menggelinding. “Sial… sial!”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.6K
bc

Too Late for Regret

read
360.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
152.4K
bc

The Lost Pack

read
469.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
159.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook