Gendhis yang sudah menyelesaikan kerjaannya, pura-pura mengetik asal agar tidak dikasih kerjaan lagi. Isi otaknya sedang overload sama masalahnya. 'Kenapa aku jadi malah jadi banyak masalah gini sih? Sebelum magang hidupku adem ayem saja, kalaupun pun punya masalah tidak seberat ini,' Gendhis bicara dalam hati. Tangannya mengambil pulpen yang berada di sebelah laptop, digigit ujung pulpen sama giginya. 'Tapi yang terus aku tanyakan adalah ini tuh beneran aku suka sama mas Emran? Masa sih suka? Atau jangan-jangan benci jadi suka? Iya gitu aku suka sama mas Emran?' Gendhis terus berpikir. 'Woooi Gendhis!!! Jangan malu-maluin diri sendiri deh, sudah jelas mas Emran nolak elu terus elu mau ngemis gitu?' entah setan atau malaikatnya Gendhis sedang menghasut Gendhis. 'Tapi kalau nyama

