7. Punggung Bapak Bolong

1167 Kata
Ternyata Gendhis datang kepagian, Abi, Riki dan Sri belum datang. Daripada bingung mau ngapain Gendhis pun melanjutkan kerjaan yang kemarin belum beres. Kerjaan memang tidak pernah selesai-selesai tapi kalau terus ditunda ya tidak bakalan selesai. "Selamat pagi, Gendhis," sapa Sri. Gendhis langsung melihat ke arah pintu. "Pagi, bu." Di belakang Sri ada Abi dan Riki. "Selamat pagi pak Abi dan pak Riki," Gendhis menyapa duluan. "Pagi, Gendhis. Jam segini sudah rajin amat, padahal belum jam kerja," ujar Riki. "Biar kerjaannya yang ini cepat selesai, kan kata bu Sri harus diselesaikan sebelum jam makan siang." "Iya yah benar juga, tapi Gendhis kalau kerja jangan diforsir juga, Gendhis kan masih baru, kudu harus beradaptasi, apalagi Gendhis masih hitungan hari di sini, di sini Gendhis cuma magang jadi jangan dipaksa yah," kan dengar apa yang Abi bilang bikin Gendhis terharu biru. "Pak Abi memang T O P B G T." Gendhis mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Abi. "Sini kita makan gorengan dulu, ibu tadi beli dekat rumah." Gendhis, Abi dan Riki langsung mengerubuti makanan yang di bawa Sri. "Ibu kok baik banget sih bawain kita gorengan?" Tanya Gendhis. "Ibu lagi baik saja, kadang gantian pak Abi dan pak Riki yang bawa, malah pernah kita bertiga bawa jadinya banyak gorengan." "Malah sering pak Emran bawa makanan buat kita," ujar Abi. Gendhis tidak yakin dengan hal itu sebelum membuktikannya sendiri. Orang yang pelit senyum, judes, jutek kayak gitu masa jadi orang yang dermawan, sungguh di luar nurulnya Gendhis, eh maksudnya diluar nalarnya Gendhis. "Bu, saya ambil dua saja yah, gehu sama bala-bala saja. Mau lanjut kerja lagi." "Iya, kalau ada yang kurang paham lagi tanya sama ibu yah." "Siap, bu!" Gendhis kembali fokus ngerjain tugas yang diberikan Emran yang Gendhis sendiri tidak tahu bahwa Emran yang memberikannya. Jam sebelas akhirnya kerjaan Gendhis selesai. "Alhamdulillah, selesai juga ini kerjaan." "Sudah selesai kerjaannya, Dis?" Tanya Sri. "Sudah, bu. Baru selesai." "Ibu lihat dulu yah hasilnya." Sri ke mejanya Gendhis. Gendhis berdiri, Sri yang duduk. "Bu, boleh saya ke toilet dulu, mau cuci muka." "Pergilah, biar ibu cek dulu yah." "Terima kasih, bu Sri." Dengan kuncir kudanya yang bergoyang kanan kiri, Gendhis berjalan dengan senangnya ke toilet. Gendhis pipis dahulu baru setelah itu mencuci mukanya agar lebih segar. Setelah itu Gendhis keluar dari toilet dan ternyata Emran juga baru keluar dari toilet khusus pria. Sekedar basa-basi Gendhis menyapa Emran duluan, "Pak," serunya sambil tersenyum namun tidak dibalas dong sama Emran. Emran melirik Gendhis sebentar lalu berjalan melewati Gendhis begitu saja. "Dasar sombong," gumam Gendhis dengan pelan namun sayangnya terdengar di telinganya Emran. Antena pendengaran Emran begitu kuat, Emran berhenti melangkah. Memutar tubuhnya, memelototi Gendhis, Gendhis langsung ngefreeze, tak tahu harus bagaimana. 'Apa aku kabur saja gitu yah?' ide Gendhis dalam hati. "Tadi kamu ngomong apa?" Tanya Emran lalu melangkah mendekati Gendhis. "Euuu... Itu pak.. Itu.. Iya.. Itu punggung bapak bolong.. Eh bukan maksud saya, maksud saya itu sepatu saya bolong." Gendhis rasanya mendadak tidak bisa bernafas saking takut sama Emran. Emran melihat ke bawah, ke sepatunya Gendhis. Ujung bibir kanan Emran menarik ke atas, Emran tersenyum sinis pada Gendhis. Sepatu yang dipakai Gendhis itu sepatu merk mahal tidak mungkin bolong. Sebelum Emran bicara lagi, Gendhis memilih kabur dari Emran daripada nyawanya dicabut malaikat Emran sebelum waktunya. Kuncir kudanya Gendhis bergoyang mengikuti Gendhis yang lari membikin Emran kesal dan benci pada Gendhis. Gara-gara Gendhis dia sering diejek sama Keenan dan Haidar itu yang bikin Emran benci pada Gendhis. Gendhis berlari hingga tidak sadar nyaris menabrak tubuh seseorang. "Maaf pak, saya tidak lihat," Gendhis minta maaf walau tidak menabraknya. Gendhis berlari lagi tanpa melihat orang yang hampir dia tabrak. Nyawanya lebih penting daripada melihat wajah orang tadi. Gendhis kembali masuk ruangan dengan ngos-ngosan, langsung duduk di kursinya Sri kan Sri masih duduk di kursinya Gendhis. "Kenapa, Dis?" Tanya Abi. "Itu pak, saya melihat malaikat mau ngasih rejeki pada saya," jawab Gendhis asal dan sarkas. "Kenapa kabur kalau mau dikasih rejeki?" "Masalahnya itu yah pak Abi, rejekinya itu beda dari yang lain." "Kamu itu aneh saja deh, Dis. Minum dulu gih." Gendhis mengambil botol minumnya di mejanya, duduk di lantai di belakang Sri, punggungnya bersandar di tembok. "Nasibku kok gini amat yah? Padahal sebelum ke sini, nasibku aman, damai, sejahtera, sehat dan sentosa tapi kini serasa di ujung tanduk," Gendhis bergumam sendiri. "Dis, ada masalah?" Tanya Sri tanpa menoleh pada Gendhis karena masih fokus melihat kerjaan Gendhis. "Tidak kok, bu. Aman semua," Gendhis berbohong. Gendhis minum dengan perasaan tak menentu. Pintu yang tertutup pun dibuka dari luar, terlihatlah wujud 'malaikat rejekinya Gendhis' alias Emran. Gendhis belum tahu karena masih duduk di lantai. "Gendhis mana?" Tanya Emran tanpa eling-eling. "Di mana yah tadi?" Abi jadi bingung. Gendhis yang mendengar suara Emran langsung tersedak, "Uhuk.. Uhuk.. " Gendhis memukul dadanya pelan. "Minumnya yang pelan, Gendhis," tegur Sri. "Iya, bu." "Mana Gendhis?" Tanya Emran lagi. Sri langsung menoleh ke Gendhis, Gendhis memelas seakan minta dikasihani sama Sri, namun Sri ora mampu, simalakama jadinya. Emran berjalan ke arah mejanya Gendhis, langsung berdiri di meja sebelah Gendhis, menatap tajam Gendhis. Gendhis mendongakkan kepalanya melihat Emran. "Tamat riwayatku," lirih Gendhis begitu pelan. "Ibu Sri, tugasnya Gendhis sudah selesai?" Emran bertanya pada Sri. "Sudah, pak." "Tidak dibantu ibu kan?" "Tidak, pak. Semua dikerjakan sendiri sama Gendhis, ini saya sedang memeriksanya." "Ibu Sri yakin Gendhis mengerjakannya sendiri?" Emran bertanya dengan gaya tangan kanannya di masukkan ke dalam saku. Gendhis terkesima sama gantengnya Emran sampai tidak sadar mengucapkan, "Ganteng sih namun sayang, juuuahat." Emran dan Sri langsung menoleh pada Gendhis, jangan tanya mata Emran seperti apa? Matanya Emran serasa ingin menelan Gendhis. Gendhis pun tersadar apa yang dia katakan sampai menepuk mulutnya beberapa kali. 'Kamu membuat ulah lagi,' kali ini Gendhis bicara dalam hati. "Setelah isoma kamu menghadap saya," ucap Emran dengan jari telunjuk kanannya menunjuk Gendhis. Gendhis pengen rasanya pura-pura pingsan terus di bawa ke rumah sakit dan berdrama pura-pura amnesia tapi itu hanya terjadi di dunia halunya. Kalau Gendhis lakukan yang ada malah memalukan dirinya sendiri. "Bu Sri, tolong email hasil kerjanya Gendhis sekarang." "Pakai email siapa pak? Gendhis atau saya?" "Gendhis saja, itu pakai laptop dia kan? Forward saja emailnya." "Siap, pak." "Gendhis, saya tunggu setelah isoma," ucap Emran sebelum pergi. "Iya, pak," jawab Gendhis dengan lemas yang masih dengan posisi duduk di lantai. Setelah Emran pergi, Abi dan Riki langsung ke mejanya Gendhis. "Gendhis, kamu kenapa? Apa bikin masalah sama pak Emran?" Tanya Riki. Riki dan Abi ikutan duduk di lantai sama Gendhis. "Saya tadi ngomong 'Dasar sombong' ke pak Emran karena pak Emran tidak membalas senyum saya, terus pak Emran terlihat marah padahal itu saya ngomongnya pelan ternyata malah di dengar sama pak Emran." "Cuma gitu saja?" "Ada lagi pak Riki, pak Emran nanya tadi saya ngomong apa? Refleks saya bilang punggung bapak bolong, padahal mah maksudnya tidak gitu. Saya mah kalau gugup suka salah ngomong pak. Itu langsung pak Emran terlihat marah sama saya, saya langsung kabur deh." Riki tertawa, "Hahahah, jadi itu maksud kamu tadi malaikat pembawa rejeki?" Gendhis mengangguk. Abi, Riki dan Sri langsung tertawa, menertawakan kekonyolan Gendhis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN