“Apa maumu Dani? Urusan kita bukannya sudah selesai”
“Hahahahaha urusan kita belum selesai. Kamu harus mengembalikan semua aset milikku yang papa berikan padamu”
“Aset? Aset apa maksudmu? Setahuku Papa tidak pernah memberikan aset apapun padaku”
“Dasar pembohong. Papa memberikan semua aset milikku kepadamu saat putusan sidang talak di jatuhkan”
“Dengar Dani, setelah sidang putusan cerai kita kemarin, aku langsung terbang ke Malaysia. Pak Rangga mengirimku dan tim untuk menyelesaikan permasalahan logistik untuk produk baru saat itu. Jadi aaku tidak pernah bertemu Papa sama sekali. Kamu yakin Papa mengatakan jika semua asetmu di berikan padaku?”
“Iya”
“Siapa yang memberitahumu?”
“Kinanti”
“Hahahahaha kamu di tipu istri tercintamu...Dani Dani hahahahaha”
Tawa Sandra menggelegar memenuhi ruangan. Rangga yang mendengarnya tersenyum lebar.
Suara tawa Sandra seperti denting piano yang berpadu dengan dentingan gitar di telinganya. Sungguh menenangkan hatinya.
Sandra yang sibuk menertawakan Dani, masih memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.
Melihat Sandra tertawa membuat Dani semakin marah dan di gebraknya meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan Sandra.
Rangga yang melihat hal itu tampak bangun untuk menyelamatkan Sandra dari amukan Dani. Namun apa yang dilihatnya sungguh membuat dirinya terpaku.
Sandra berdiri dengan tegak dan menantang balik Dani. Kepala yang mendongak, mata melotot, dan dagu terangkat.
Keduanya saling menatap dengan amarah yang menggebu.
Dani menatap Sandra tajam. Kedua telapak tangannya di cengkram dengan kuat. Seakan menahan amarah yang waw sekali.
Sandra yang melihat itu semua hanya tertawa mengejek. Hal ini sudah terlalu biasa di lihat oleh Sandra dari Dani.
“Kamu laki laki pandai tapi mudah sekali di bodohi seorang wanita hanya karena dia cantik, mulus, suka menggunakan baju celana kurang bahan di manapun dan kapanpun, pamer p******a yang seperti mau tumpah. Dan begitu ucapan keluar dari mulut, seakan perkataannya selalu benar dan PASTI benar walaupun sebenarnya itu salah. Tidak adakah otak di balik selangkanganmu itu Dan? Mikirlah sedikit, untuk apa aku meminta itu semua jika aku sudah memiliki gaji besar?. Dengarkan aku, hartamu adalah milik ortumu bukan milikmu. Setahuku milikmu hanya satu mobil dan beberapa ratus juta uang di Bank, lainnya adalah milik ortumu. Lalu kemana semua uang yang kamu sombongkan itu?”
“Semua adalah hartaku. Mereka ortuku dan apa yang mereka miliki adalah milikku”
“Begitu. Lalu apa hubungannya denganku? Aku tidak butuh semua hartamu ataupun harta ortumu. Semua yang aku dapatkan setiap bulannya sudah cukup buatku”
“Hahahahaha PEMBOHONG......sekali jalang matre tetaplah jalang”
“Hehehehehehe sekali bodoh ternyata tetaplah bodoh. Tapi hari ini aku tahu mengapa kamu menemuiku. Semua hartamu sudah habis tak bersisa, benar?. Kinanti sudah menghabiskan seluruhnya hah?”
“Jangan bicara sembarangan. Justru hartaku kamulah yang menghabiskannya”
“Hahahaha mimpi”
“Karena kamu Papa memblokir semua harta yang harusnya menjadi milikku”
“Milikmu atau milik Kinanti? Karena tampaknya disini kamulah yang tampak merana hahaha”
“DIAM”
“Hahahaha kenapa marah? Aaahhh berarti apa yang aku bilang benar? Hahahaha”
BRAK
Dani keluar dari ruangan tanpa memberikan jawaban apapun kepada Sandra. Dirinya marah luar biasa karena apa yang Sandra katakan semua adalah benar.
KINANTI
Wanita ular itu menipuku mentah mentah. b***h
Dani marah luar biasa. Satu tujuannya sekarang. Memberi Kinanti pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.
********
Sandra yang melihat wajah merah Dani hanya tersenyum sinis. Pria b******k.
“Ada yang senang rupanya”
Sandra menoleh ke kanan dan melihat Rangga bersandar di dinding ruangan.
“Hehehe bukan senang Pak, lebih tepatnya menyesali keadaan”
“Kenapa di sesali? Semuanya Allah yang mengatur. Jikalau Allah ingin kita mengalami dan melakukan sesuatu, pasti akan terjadi. Meski kita sendiri nggak mau mengerjakannya dan mungkin menyesalinya juga. So...buat apa di sesali hmmmm”
“Bapak benar. Terimakasih untuk nasihatnya”
“Sama sama. Sandra, apapun yang kita lakukan yakinlah satu hal. Kita hanya bisa melakukan JIKA Allah menghendaki kita melakukannya”
“Baik Pak”
“Pergilah kemanapun yang kamu suka dan kembalilah setelah kamu tenang. Takut juga lihat mukamu yang bengis begitu hiiiiii serem”
Sandra langsung berwajah cengok. Apa-apaan?
********
Punya Bos aneh, mantan suami ruwet masalah harta terus. Bagaimana hidupku nanti Ya Allah.....
“Sudah jalan jalan, sudah makan, sudah tidur siang tapi masih saja mengomel. Mau jadi apa Sandra nanti Ya Allah”
Sandra yang mendengar kata kata Rangga tertawa lepas. Entah kenapa Rangga selalu membuat Sandra tertawa setiap kali mengobrol dengannya.
“Masih kurang hmmmm”
“Hahahaha tidak pak....Sudah cukup kok. Tapi memang Bapak ini aneh, liat saya marah marah di kantor bukannya di tegur eh malah di ketawain. Bukannya itu di sebut Bos yang aneh?”
“Aneh ya? Hmmmm Bisa jadi”
Rangga memegang dagunya dan sedikit melirik Sandra yang masih cengar cengir melihat mimic wajahnya.
“Sudah ah Bos....saya mau kembali kerja lagi”
“Eeeehhh mau kemana kamu? “
“Kerja Bos”
“Enak saja. Kamu masih ada janji dengan saya”
“Janji apaan Bos?” tanya Sandra heran. Perasaan nggak ada rapat dengan Pak Bos deh.
“Kamu harus menemani saya makan siang”
“Jiaaahhh Bos....ups maaf Bos....Kapan saya janji begitu? Nggak pernah ah Bos”
“Pernah. Ayo jalan atau aku buat kamu lembur satu tahun penuh”
Rangga berjalan dengan senyum termanis yang selalu dia simpan.
WHAT
“Bos bos bos....pelan pelan jalannya. Terus....”
“Cepetan! Lelet sekali kamu jalannya” teriak Rangga dengan wajah sok di seram seramkan.
Hhhhhhhh bener kan? Bos aneh. Nggak apa apa deh mumpung gratisan, bisa hemat uang makan seminggu.
“Tadi bingung sekarang cengar cengir. Gila lama lama kamu nanti”
“Enak saja” jawab Sandra sewot.
Suara tawa Rangga membuat Sandra semakin sewot dan jengkel.
Namun tanpa Sandra sadari, seharian ini dirinya tidak lagi menjawab atau bertingkah laku kaku di depan Rangga. Dia menjadi dirinya sendiri.
Pribadi yang sudah lama hilang sejak Ayahnya meninggal beberapa tahun sebelum kegagalan perkawinannya.
Suara nyanyian merdu Rossa mengiringi perjalanan mereka.
Sesekali Sandra ikut bersenandung mengikuti. Rangga yang mendengarnya hanya tersenyum. Sekali kali dilihatnya Sandra yang duduk santai sambil bernyanyi. Entah mengapa dirinya suka sekali melihat Sandra saat ini.
Ternyata lucu dan unik juga nih anak eh udah jadi janda ya hehehe.....Sadar nggak ya kalau hari ini dia pakai bahasa nggak formal? Hehehehe semoga begini seterusnya. Aamin.
“Kenapa Bos? Senyam senyum sendiri sejak tadi”
“Memangnya ada yang salah dengan senyum manisku?”
Senyum manis? Sandra mengamati Rangga yang sedang tersenyum.
Iya ya si Bos kan nggak pernah senyum begini di kantor?
“Bos....Nggak kesambet kan?”
“Kesambet kok”
“Kesambet apaan Bos”
“Kamu. Ayo turun, kita sudah sampai”
“HAH”
“Hah apa ..... Ayo turun dan tutup mulutmu. Bahaya banyak lalat”
“Ck lalat apaan sih Bos”
Lha.....ditinggal. Emang Bos aneh, tapi ganteng juga sih hehehehe
Sandra berjalan mengikuti Rangga yang sudah masuk ke dalam Restoran Ikan Bakar.
Restoran yang menyediakan banyak ragam menu masakan. Walaupun namanya Restoran Ikan Bakar namun mereka juga menyediakan Ayam bakar, tempe penyet dan lainnya juga.
Sandra yang memang sangat menyukai Ayam Bakar madu, langsung memesannya ditambah dengan es lemon teh. Benar benar nikmat tiada tara.
Dilihatnya Rangga yang memesan Gurami asam manis dan Es Jeruk.
“Ternyata Bule suka juga Gurami asam manis dan Es jeruk ya Bos”
“Siapa yang Bule?” tanya Rangga bingung.
“Bos dong yang Bule, gimana sih”
“Aku bukan Bule Sandra tapi Indo alias Blesteran doing”
“Sama aja Bos”
“Beda Sandra. Bule itu yang hidupnya masih di Negara aslinya terus datang kesini. Ke Indonesia. Lha kalau aku, lahir dan besar di Indonesia. Hanya saja Papa asli Perancis dan Ibu asli Jogjakarta”
“Oooooo begitu. Pinter juga ya Bos ku ini hahahahaha”
Rangga yang mendengar tawa Sandra akhirnya menyadari jika dirinya sudah dijadikan bulan bulanan oleh Sandra.
Untung cantik terus aku sayang sama kamu, coba kalau nggak bisa tak wess gak berhenti kamu San.
“Hmmmmm sudah berani menggodaku ya....Tunggu pembalasanku”
“Eeeehhh nggak boleh dendam Bos. DOSA”
“Katanya begitu ya”
“Peace Bos”
“NOPE”
“Lha Bos....jangan Nope dong but Yes”
“Boleh....kalau ada barternya”
“Barter? Emangnya kita mau jualan ya Bos. Jualan apa?”
“Nope sama Yes”
“Hhhhhhh pusing ah Bos.....Makan aja yuk”
“Boleh. Tapi pertukaran kita belum selesai”
“Aduh......”
Keduanyapun terdiam dan mulai melahap makanan di depan mereka.