Melindungi Putri Li Wei

1067 Kata
Han Li Wei benar-benar terkejut menyaksikan pembunuhan Jiangwu di depan matanya. Liangyi mundur untuk melindungi wanita itu. “Kau mau kembali ke MT bersama Kanebo?” tawarnya. “Tidak, aku tidak mau.” Li Wei tetap keras kepala dan ingin mengikuti sampai selesai. “Baiklah, kuatkan hatimu.” “Ya, Pangeran.” Li Wei benar-benar masih syok, aliran darah di tubuhnya mulai menurun karena melihat semuanya terjadi di rentang masa pencarian jodohnya. Han Li Wei merasa kalau pekerjaan Liangyi selalu berhadapan dengan bahaya. Wanita itu memandang fokus ke arah sekitar, takut kalau ada penyerangan seperti tadi lagi.Tidak lama setelah itu. prajurit yang diperintahkan mencari kepala desa datang dengan pria tua yang kedua tangannya diikat. “Salam Pangeran Liangyi! Ada apa ini? kenapa saya diikat seperti ini?” tanyanya. Bao Long, orang yang menyuruh Jiangwu untuk melapor pada kepala desa itu pun turut hadir setelah mendengar keributan. “Aku mendengar kau membuat kesepakatan dengan Jiangwu.” “Tidak, itu tidak benar.” “Kesepakatan itu berisi kerjasama yang menguntung dua belah pihak dan merugikan banyak pihak.” “Tidak, Pangeran. Dia berbohong!” “Siapa yang berbohong?” tanya Liangyi. “Jiangwu bohong! Pasti dia yang mengatakan kebohongan itu.” Liangyi spontan tertawa. sejak tadi dia tidak ada menyinggung informasi itu dari Jiangwu yang sedang sekarat. “Aku tidak pernah mengatakan itu darinya,” sahut Liangyi. Sang kepala desa pun tercekat. Dia sudah salah bicara dan menggiring dirinya dalam hukuman. “Siapa yang telah memfitnahku, Pangeran?” tanyanya. “Memfitnah atau menyatakan kebenaran?” tanya Liangyi lagi. Pria itu menggeleng. “Tidak, Pangeran!” “Tapi aku mendengar percakapan kalian beberapa hari yang lalu dari balik tenda!” sahut salah satu anggota Sehat Bugar. “Kau ternyata orangnya! kau memfitnahku.” “Sumpah demi Tuhan! Aku tidak berbohong, Pangeran! Aku mendengar mereka berbicara tentang keuntungan dan menyuruh Tuanku Jiangwu meneruskan kegiatan sampai akhir masa,” jelasnya. Beberapa menit kemudian, prajurit lain datang membawa anak panah yang sama dengan yang tertancap di leher Jiangwu. “Dari mana kau dapat ini?” tanya Liangyi. “Dari rumah pak kepala desa, Pangeran!” jawabnya. “Kalian memfitnahku!” jeritnya tidak terima berusaha meloloskan diri. Liangyi memegang anak panah itu dan menyamainya, tidak ada perbedaan di antara kedua benda itu. Liangyi bangkit, yoyonya terus dimainkan dengan ritme berbeda. “Kau sudah membuat kecurangan dan kau tahu saat aku sudah tidak bisa lagi melihatmu mencium udara di Kangxi?” “Jangan Pangeran! Aku punya anak dan cucu.” “Harusnya kau sadar itu sebelum bekerja sama dengan mereka!” bentak Liangyi. Liangyi memainkan yoyo dan mengelilinginya. “Untuk kalian yang berusaha melakukan kecurangan makan semua yang kalian miliki akan diambil oleh kerajaan dan uang yang telah dipungut oleh mereka akan dikembalikan ke rakyat. Anggota rombongan sehat bugar tidak akan bisa keluar dari tanah Kangxi sebelum masa hukuman selesai,” jelas Liangyi. “Dan, untukmu, Tuan kepala desa yang harusnya menjaga ketertiban, ketentraman dan kemakmuran sesuai dana tahunan yang telah diberikan kerajaan, saya tidak bisa memasukkanmu ke penjara sebab kau masih bisa menghirup udara di penjara itu, walau kami menempatkanmu di ruangan terpencil sekalipun. Kau tidak akan aku biarkan menghirup udara di Kangxi mau pun tempat lain." Warga yang tidak berani melihat eksekusi itu pun menutup mata. Liangyi berdiri di depan Han Li Wei, menutupi penglihatannya ke arah kepala desa. Sengaja demi menjaga perasaan seorang putri dari Kerajaan Shan. Liangyi mengayunkan yoyonya ke bagian leher dengan cepat kemudian ke kaki dan tangannya. Dengan kekuatan berbeda, hasilnya juga berbeda. Kondisinya tidak baik untuk dilihat oleh Li Wei. Pria tersebut menggulung yoyonya kemudian menyembunyikan bekas goresan tadi di belakang tubuh, lalu menghadap ke arah Putri Kerajaan Shan. Li Wei teralihkan perhatiannya. Wanita itu tahu kalau Liangyi sengaja menutupi kejadian itu. Li Wei hanya bisa melihat keadaan kepala desa tadi dari balik tubuhnya. Prajurit kerajaan Kangxi memboyong mayatnya menjauhi tempat itu. “Kanebo, kami kembali ke MT lebih dulu,” ucapnya. “Iya, Pangeran!” “Urus semua yang berkaitan dengan kegiatan ini. Aku tidak mau melihat tenda itu berdiri dan juga orang-orangnya masih tersisa.” “Baik, Pangeran,” sahutnya memberikan kunci MT pada Liangyi. Pria itu mengajak Li Wei pergi. Liangyi memintanya jalan lebih dulu agar bisa diawasi dari belakang. Namun, Li Wei memilih jalan berdampingan. Semua rakyat memberikan penghormatan serta pujian untuknya. Li Wei merasa perilaku kejam Liangyi justru disukai dalam kasus tertentu. Sesampainya di MT, Liangyi meminta Li Wei naik lebih dulu, sementara dirinya masih harus mencuci yoyo yang baru saja digunakannya tadi. Wanita itu tersenyum padanya. “Pangeran Liangyi, kau sangat luar biasa,” pujinya. “Hal itu biasa aku lakukan.” “Kenapa tidak memprosesnya ke bagian hukum?” tanya Li Wei. “Terlalu lama, ujung-ujungnya juga mereka dapat hukuman mati.” “Hmm, setidaknya dia masih bisa punya waktu untuk pamit dengan keluarga,” sahut Li Wei. “Jika memikirkan keluarga maka - jangan lakukan hal menyimpang. Saat dirimu memutuskan untuk melakukan hal yang menyimpang maka di saat itu pula kau dan keluargamu sudah tidak lagi berhubungan.” “Wah, kau sangat keras! Pantas rakyat takut padamu.” Liangyi sempat berhenti sebentar ketika mencuci yoyonya, lalu melanjutkannya lagi. “Kau pasti berpikir aku kejam.” “Ya, memang jiwa seorang raja harus kejam dan tegas.” “Aku bukan raja,” sambar Liangyi. “Tapi kau punya kesempatan untuk berada di sana.” Liangyi tersenyum kemudian mengeringkan yoyonya dengan kain. “Kakakku yang akan menjadi raja, oleh sebab itu, kalau kau ingin menjadi seorang permaisuri kerajaan, kau harus memilih kakakku.” “Haha!” Putri Li Wei malah tertawa. “Bagaimana kalau aku memilihmu?” tanyanya. “Maka kau tidak bisa jadi seorang permaisuri kerajaan.” “Mmh, tidak masalah menurutku.” “Tapi bermasalah untuk kerajaan Shan,” tandas Liangyi. Han Li Wei menaikkan bahu, menarik nafas panjang kemudian menghembusnya dengan kuat. “Fiuuh, sangat tidak adil.” “Tidak adil kenapa?” “Ahahah, tidak, aku hanya asal bicara saja,” jawabnya mengalihkan jawaban sebenarnya yang menyatakan bahwa sesungguhnya hati Li Wei saat ini menginginkan Liangyi bukan Jiangyi. Mereka berdua sama-sama duduk, menunggu Kanebo datang. Liangyi memberikan minuman, wanita itu menerima dengan senang hati kemudian meminumnya perlahan. “Terima kasih, aku memang sangat haus.” “Terlihat dari bibirmu yang mengering,” sahut Liangyi. “Hmm?” Li Wei pun tersenyum. Ternyata diam-diam Liangyi memperhatikan itu tanpa dia sadari. Wanita itu semakin terpesona padanya. Namun, Liangyi tetap tidak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN