Mencium Kebusukan Jiangwu

1062 Kata
Liangyi tersenyum tipis. “Sudah, jangan bahas itu dulu, aku sedang sibuk.” Bibir Li Wei senyum menurun. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa selain menanti. Mereka melihat orang-orang yang mengantri kini sudah menjauh dari tenda. Kanebo meminta masyarakat yang menjadi saksi untuk merapat ke arah Liangyi begitu pula pengawal mereka yang menyamar sebagai pasien. Zhang Jiangwu terlihat sudah berjalan ke arah Liangyi. Masyarakat pun sudah siap untuk menyembur si ketua rombongan penipu tersebut. “Mohon jangan bicara sebelum saya memintanya,” kata Liangyi. Mereka pun menundukkan kepala, emosinya harus ditahan sementara waktu. “Salam Pangeran Liangyi dan Tuan Kanebo!” sapa Jiangwu. “Duduklah,” suruh Kanebo agar pembicaraannya lebih enak. “Terima kasih sudah datang ke tenda kami. Apa ada yang bisa kami bantu?” tanyanya. “Saya datang ke sini untuk menegur kegiatan kalian,” jawab Liangyi. Jiangwu dan beberapa orang yang mengikutinya pun tampak tidak nyaman setelah mendengar jawaban sang pangeran. “Maksud Pangeran apa? kami melakukan hal secara normal, apa karena tenda kami yang seperti mau rubuh itu?” tanya Jiangwu. “Itu salah satunya, tetapi hal lain lebih mendesak.” “Baiklah, kami siap mendengarkan.” Kanebo mengambil alih penyampaian dan Liangyi akan mendengarkannya saja. “Kami menerima laporan tentang kebohongan tim kalian dalam mengobati rakyat di desa ini.” “Bohong? Maksudnya?” “Kalian sudah memberikan biaya pengobatan berbeda-beda pada rakyat. Setelah kami mencari tahunya, kalian sudah mematokkan harga berdasarkan tingkatan ekonomi rakyat.” Jiangwu menatap para pria yang berdiri di dekat Liangyi yang mendelik padanya. “Ahaha, itu tidak benar. Kami hanya berusaha membantu rakyat kecil dengan menurunkan harganya dan sedikit kualitasnya sesuai uang yang mereka bayarkan.” “Hmm, jadi perbedaan itu kalian benarkan.” “Ya, Pangeran. Demi meratakan pengobatan.” “Baiklah, lalu, apa bisa kami melihat sampel obat yang kalian buat untuk beda-beda orang tersebut?” tanya Kanebo. Jiangwu langsung meminta anggotanya mengambilkan tiga sampel obat itu dan kembali dalam waktu singkat. Liangyi meminta mereka membuka satu persatu kapsul tersebut dan ternyata ada isinya. Semua pria yang telah membuktikan kapsul kosong tadi pun terkejut. “Wah, ada isinya, tapi kenapa kapsul yang sampai ke tangan rakyat justru kosong?” tanya Liangyi. “Haha, tidak mungkin, Pangeran! Semua sama saja,” sanggahnya. Liangyi meminta mereka membuktikan kesaksian tadi dan membuka kapsul itu di hadapan mereka juga. Dan, ternyata kapsul berikutnya dalam bungkusan tetap saja kosong! “Ini buktinya! Kami membeli obat dari kalian dan ternyata tidak ada isinya. Pantas saja badan kami tetap sakit.” Jiangwu pun mengalami kepanikan. Sesuai arahan kepala desa, memang mereka memberikan kapsul kosong pada rakyat yang berobat demi uang kantong yang lebih tebal. “Pasti anggota saya lupa memasukkannya. Itu pengobatan hari apa ya, Tuan?” tanyanya. “Saya dua hari yang lalu, dia semalam dan pria ini baru saja tadi dapat obatnya setelah berobat dari kemarin,” jawab salah satu pria itu. Zhang Jiangwu tak mampu menjawabnya. Memang sudah programnya bersama pak kepala desa. “Kami akan mengganti obat yang telah mengalami kesalahan itu, Pangeran,” ucap Jiangwu. “Tidak perlu!” Liangyi meminta pengawalnya untuk membuka obat mereka juga, kepalsuan semakin terkuak. Liangyi murka dan mulai mengeluarkan yoyonya. “Putri Li Wei, kalau kau tidak sanggup melihatnya, aku mengizinkanmu untuk pergi,” katanya pada wanita yang tengah duduk bersamanya. Semua orang sudah ketakutan, terlebih rakyat Kangxi yang tahu dengan tujuan Liangyi bermain yoyo dengan wajah dingin seperti itu. “Tuan, apa yang akan dia lakukan?” tanya salah satu anggota Jiangwu. “Aku tidak tahu,” jawabnya pelan. Kanebo meminta semua kegiatan berhenti. Perhatian memihak ke arah Liangyi dan Jiangwu. “Ada apa, Tuan? Kenapa kami diberhentikan mengikuti pengecekan kesehatan? Apa karena tendanya rusak?” tanya seorang wanita. “Tidak, Nyonya. Kami menemukan kecurangan tim mereka dalam mengobati kalian selama ini. Bagi yang telah terlanjur membayar obat pada mereka, coba cek isi kapsulnya, apakah ada isinya atau tidak?” perintah Kanebo. Mereka langsung mengikuti perintah Kanebo dan membuka isinya. Terkejut bin syok! Semua kapsulnya kosong. “Penipu‼!” jerit mereka pada para anggota yang perlahan melarikan diri, tetapi masyarakat tidak mau melepaskan mereka begitu saja. Kanebo meminta petugas keamanan menangkap mereka semua dan membawanya ke penjara. Jiangwu ingin melarikan diri juga, tetapi tidak bisa sebab masyarakat sudah mengepungnya. Liangyi bangkit dari duduknya dan menatap sinis Jiangwu. “Kau ke sini bertujuan baik, tetapi malah mencari keuntungan pada masyarakat kami.” “Maaf, Pangeran. Sejujurnya aku ingin melakukan hal normal, tetapi – tetapi –“ ucapan pria itu tiba-tiba berhenti saat Liangyi melihat leher Jiangwu tertusuk oleh sebuah anak panah. “Aaahhh!” jeritan terdengar dari mulut orang-orang karena pria yang memiliki posisi sebagai ketua rombongan itu diserang oleh seseorang. Liangyi pun segera meminta pengawal mencari orangnya. Prajurit langsung bergerak sampai dapat. “Pa-pangeran, saya ingin mengatakan sesuatu pada Anda,” Kata pria yang menemaninya sejak tadi. “Apa itu?” “Sebelum kami memulai kegiatan, Tuanku Jiangwu menemui kepala Desa Darat Daya. Setelah itu, Tuan Jiangwu meminta kami memberikan obat kosong itu untuk para rakyat.” “Apa ucapanmu bisa dipercaya? Kau tahu konsekuensinya kalau bohong padaku,” tegas Liangyi. “Benar, Pangeran. Saya tidak berani berbo-hong.” Liangyi mengepalkan tangan dan meminta kepala desa itu dipanggil ke sini sekarang juga. Kanebo meminta anggotanya yang lain segera membawa paksa pria itu. Han Li Wei benar-benar terkejut menyaksikan pembunuhan Jiangwu di depan matanya. Liangyi mundur untuk melindungi wanita itu. “Kau mau kembali ke MT bersama Kanebo?” tawarnya. “Tidak, aku tidak mau.” Li Wei tetap keras kepala dan ingin mengikuti sampai selesai. “Baiklah, kuatkan hatimu.” “Ya, Pangeran.” Li Wei benar-benar masih syok, aliran darah di tubuhnya mulai menurun karena melihat semuanya terjadi di rentang masa pencarian jodohnya. Han Li Wei merasa kalau pekerjaan Liangyi selalu berhadapan dengan bahaya. Wanita itu memandang fokus ke arah sekitar, takut kalau ada penyerangan seperti tadi lagi. Tidak lama setelah itu. prajurit yang diperintahkan mencari kepala desa datang dengan pria tua yang kedua tangannya diikat. “Salam Pangeran Liangyi! Ada apa ini? kenapa saya diikat seperti ini?” tanyanya. Bao Long, orang yang menyuruh Jiangwu untuk melapor pada kepala desa itu pun turut hadir setelah mendengar keributan. “Aku mendengar kau membuat kesepakatan dengan Jiangwu.” “Tidak, itu tidak benar.” “Kesepakatan itu berisi kerjasama yang menguntung dua belah pihak dan merugikan banyak pihak.” “Tidak, Pangeran. Dia berbohong!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN