Pengalaman Pertama Bersama Liangyi

1094 Kata
Setibanya mereka di sana. Liangyi melihat banyak sekali orang yang mengantri di lapangan, dekat dengan tenda. Kanebo menghubungi orang-orang yang sudah diperintah untuk menjalankan penyelidikan dari Liangyi. “Memangnya kelompok Sehat Bugar ini baru melakukan kegiatan cek kesehatan di sini?” tanya Li Wei. “Ya, mereka meminta izin melakukan kegiatan di sini beberapa hari yang lalu. Tujuannya bagus, tapi kami perlu mencari tahu kebenarannya.” Liangyi melihat ke arah Li Wei. “Bisa ikat rambutmu? Kita harus terlihat sangat natural seperti orang biasa,” pintanya. “Ah, baiklah.” Han Li Wei menggulung rambutnya dan mengikatnya ke atas. Liangyi juga memintanya menggunakan masker yang diberikan olehnya. Mereka turun dari mobil bersama dengan Kanebo. Liangyi meminta Li Wei untuk tidak terlalu jauh darinya agar bisa diawasi. Mereka mendekati daerah yang sedang ramai orang berkumpul. Mereka pun mendengar beberapa percakapan. “Aku merasa tubuhku sama saja saat minum obat dari mereka,” kata salah satu pria tua berjanggut putih yang sedang minum kopi. “Aku juga sama sepertimu. Kadar obatnya biasa saja menurutku.” “Iya, tidak terlalu signifikan. Janji mereka terlalu tinggi. Katanya minum dua kali saja sudah sehat bugar seperti nama kelompok mereka.” “Haha! Dasar … aku rasa mereka hanya mencari uang saja.” “Iya, apa perlu kita lapor ke bagian keamanan? Biar mereka mengecek kadar obat itu.” “Boleh juga itu.” Liangyi, Li Wei dan Kanebo mendengarnya. Liangyi memberi kode pada Kanebo untuk mengurusnya. “Selamat pagi semua!” sapanya. “Ah, ya, selamat pagi!” “Saya melihat banyak orang di sana. Apa benar di sana tempat pengobatan?” tanyanya. Mereka tidak mengenali Kanebo karena menggunakan kumis dan jenggot. “Ya, benar! Siapa sakit?” tanya mereka. “Saya, Tuan! Maksudnya saya mau berobat. Apa mereka cukup manjur?” tanya Kanebo balik. “Haha, entah lah! Kami juga baru berobat di sana, tapi kami merasa tidak ada perubahan.” “Ah, begitu ya. Obatnya seperti apa, Tuan?” Mereka pun mengeluarkannya dari kantung dan memberikannya pada pria itu. “Seperti ini,” jawabnya sambil menunjukkan sebuah kapsul berwarna merah. “Lho, kenapa warnamu merah?” tanya temannya yang lain ketika melihat temannya dapat warna merah. Kanebo pun mengerutkan kening. “Aku punya berwarna hijau! Padahal sakit kita sama,” lanjut pria tadi. Mereka pun jadi heboh untuk melihat obat yang sudah mereka temukan tersebut. Liangyi sedikit mendekat dan melihat yang mereka lakukan. Pria-pria itu coba membuka kapsul yang diterima. Betapa terkejutnya saat mereka melihat isi kapsul itu kosong! “Wah! Ini keterlaluan! Mereka sudah mengambil uang kita dan ternyata mereka menipu kita!” erang pria yang merasa ditipu tadi. “Benar-benar keterlaluan! Kita harus melaporkan ini pada Pangeran Liangyi!” katanya. Liangyi menatap ke arah Kanebo. Sudah diduga kalau mereka bermasalah. “Maaf, Tuan. Berapa biaya yang kalian keluarkan untuk membeli obat itu?” tanya Liangyi. “Ah, aku membayar 5 perak,” jawab pria berbaju merah. “Aku bayar 10 perak,” sahut pria berbaju putih. “Wah, kalau aku bayar 1 koin emas,” lanjut pria lain lagi. “Hah? Kita membayar dengan nilai berbeda hanya untuk menerima kapsul kosong ini?!” Mereka benar-benar tidak terima dan ingin segera melabrak mereka. Liangyi menahannya. “Siapa kau? Kenapa kau melarang kami ke sana? apa kalian adalah orang mereka juga?” tanya mereka dengan emosi. Liangyi membuka maskernya. Mereka sontak meminta maaf dan memberi penghormatan. Liangyi memaafkan mereka dan meminta mereka tenang. “Saya sudah mendengar dan melihat langsung kesaksian kalian sebagai pasien mereka. Kami datang untuk mengumpulkan informasi itu. Bila nanti saya butuh kalian untuk memberi kesaksian, apa kalian mau?” tanya Liangyi. “Tentu, Pangeran! Kami bersedia. Tidak mau kalau masyarakat menghabiskan uang untuk mereka. Sudah pasti mereka mendapatkan banyak untung.” Liangyi mengangguk paham atas keluhan dan pendapat mereka. “Bersabarlah, saya juga masih mengumpulkan bukti lain.” “Ya, Pangeran!” Tidak lama kemudian beberapa orang yang telah dipanggil oleh Kanebo pun datang. Mereka berbicara di tempat lain yang lebih privasi. Putri Li Wei tetap mengikuti, Liangyi tidak melarangnya. “Salam Pangeran Liangyi! Kami ingin melaporkan sesuatu.” “Silakan!” “Kami sudah melakukan pengecekan dan berpura-pura menjadi pasien. Setelah itu, kami menerima berbagai perbedaan.” Liangyi meminta mereka menjelaskan dengan detail dan ternyata jawaban mereka tidak jauh berbeda dari yang dikatakan oleh pria yang duduk di warung kopi tadi. Liangyi pun marah dan segera meminta mereka ikut sebagai saksi. Demikian masyarakat desa yang telah merasa ditipu itu. Kedatangan mereka ke lokasi membuat masyarakat menepi dan memberi penghormatan pada Pangeran kedua itu. Salah satu pekerja yang sedang mengawasi proses pengobatan pun segera melaporkan kedatangan Liangyi pada ketua rombongan. Anggota lain menyambutnya ramah. “Selamat datang, Pangeran Kangxi!” ucapnya. “Saya ingin bertemu dengan ketua kalian.” “Baik, Pangeran! Kami akan memanggilkan dia untuk anda.” Han Li Wei memandang ke arah sekitar. Tenda yang berisi banyak orang itu tampaknya mau rubuh. Wanita itu membisikkan firasatnya pada Liangyi sambil menunggu ketua mereka. “Maaf, Pangeran – aku ingin mengatakan sesuatu,” kata wanita itu. “Ada apa, Tuan Putri?” “Tenda ini mau rubuh, aku melihat tiang-tiang bagian atasnya sudah peyot.” Liangyi mengikuti arah jarinya yang menegak sedikit rendah agar tidak menjadi pusat perhatian. Alisnya langsung berkedut, ucapan Li Wei benar! Liangyi segera mengatakan hal itu pada Kanebo dan meminta semua orang keluar dari tenda. Liangyi dan Li Wei akan menunggu ketua rombongan di luar tenda saja. Kanebo pun menyampaikan perintah Liangyi dengan sopan. Mereka semua melihat ke atas dan merasa ketakutan sebab perkataannya benar. Liangyi menepi ke tempat yang lebih aman, memastikan putri kerajaan Shan baik-baik saja. “Terima kasih sudah membantuku mengamati,” sahutnya. “Iya, aku senang bisa membantu Pangeran Liangyi,” tanggapnya. Liangyi tersenyum. “Panggil saja Liangyi,” pintanya. “Baiklah, aku rasa itu cukup bagus.” “Tapi saat nanti kau mungkin berjodoh dengan kakakku, maka aku yang akan memanggilmu dengan sebutan kakak.” Li Wei pun tertawa kecil. “Penilaian belum berakhir, bisa jadi pilihannya jatuh padamu.” Liangyi tersenyum tipis. “Sudah, jangan bahas itu dulu – aku sedang sibuk.” Bibir Li Wei senyum menurun. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa selain menanti. Mereka melihat orang-orang yang mengantri kini sudah menjauh dari tenda. Kanebo meminta masyarakat yang menjadi saksi untuk merapat ke arah Liangyi begitu pula pengawal mereka yang menyamar sebagai pasien. Zhang Jiangwu terlihat sudah berjalan ke arah Liangyi. Masyarakat pun sudah siap untuk menyembur si ketua rombongan penipu tersebut. “Mohon jangan bicara sebelum saya memintanya,” kata Liangyi. Mereka pun menundukkan kepala, emosinya harus ditahan sementara waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN