Liangyi setuju juga, tetapi keputusan Kaisar Hongli tak dapat dihalangi bahkan dibatalkan. Mereka harus menerima kalah dan menang dengan lapang hati.
"Apa Kakak Jiangyi marah pada Kakak Liangyi?" tanya Chen.
"Marah? Haha, tentu aku marah!" jawabnya.
Liangyi menoleh. "Maaf, Kak! aku tidak bermaksud demikian. Saat kita dihadapkan dengan tantangan yang kita ketahui cara menyelesaikannya maka kita biasanya akan berusaha maksimal."
"Yayaya, kau bangga pada ingatan dan ilmumu yang bisa kau gunakan di setiap saat," ucap Jiangyi sambil melotot.
"Aku akan memprioritaskan Kakak besok," kata Liangyi.
"Ah, tidak perlu. Kita berempat punya hak yang sama. Kalian harus ingat, siapa saja bisa menikah dengannya asal kalian menang dan membuat putri Li Wei terpukau. Dan, Liangyi berhasil melakukannya," tandas Jiangyi.
Ketiga adiknya terdiam. Si kembar menatap Liangyi yang membuat kekacauan karena terus memenangkan kompetisi.
Liangyi memilih untuk beristirahat lebih awal karena pikirannya kurang nyaman. Jiangyi seolah menyalahkannya dalam pertandingan. Padahal itu semua hanya kebetulan semata. Dia tidak bisa melakukan hal yang membuatnya tampak bodoh sementara dia tahu jawabannya.
***
Di dalam kamar.
Sebuah pesan datang sesaat setelah Liangyi selesai makan malam bersama. Isinya menyatakan bahwa besok pagi Putri Li Wei akan menemuinya dan mengikuti kegiatan pria tersebut lebih dulu.
Liangyi menjadi lebih segan pada kakaknya, tapi di sisi lain ada bagusnya juga, sebab dia sudah berjanji akan bertemu Jia Li pada pukul 4 sore, di lapangan kemarin.
Liangyi ingin menolak, tetapi tidak bisa karena surat itu keluar dari ayahnya. Dayang pribadinya yang berjaga di luar - diminta untuk menyiapkan pakaiannya yang pantas untuk berjalan bersama seorang putri.
“Eh, tunggu – aku ingin dia menggunakan pakaian biasa saja demikian aku. Hari ini aku mau mengurus sesuatu di luar kerajaan,” katanya pada pelayan.
“Pangeran mau keluar kerajaan dengan Putri Han Li Wei? Apa pangeran yakin?”
“Ya, aku yakin. Sampaikan padanya untuk berpakaian biasa.”
“Baik, Pangeran.”
Wanita itu pun segera meninggalkan ruangan. Menghampiri kamar Han Li Wei. Sesampainya di sana, dayan Liangyi meminta bicara secara langsung, dayang Fen mengizinkannya.
“Salam, Tuan Putri Han Li Wei, saya dayang Xiao Er, ingin menyampaikan kabar dari pangeran Liangyi. Berdasarkan hasil keputusan Kaisar Hongli, anda akan mengikuti aktifitas Pangeran Liangyi pagi ini.”
Wanita itu spontan tersenyum. Dia juga tidak tahu akan menghabiskan waktu dengan siapa di hari keduanya ini.
“Lalu, kabar apa yang kau bawa dari Pangeran Liangyi, Dayang Xiao Er?”
“Pangeran bilang Tuan Putri memakai pakaian biasa saja, karena Pangeran akan melakukan pengawasan di luar kerajaan.”
“Wah, apa kebiasaannya memang menjaga ketentraman masyarakat?” tanya Li Wei.
“Benar, Putri.”
“Ah, tidak seperti pangeran lain ya?”
“Benar, Putri. Pangeran Liangyi memang diutus untuk mengamankan wilayah Kangxi.”
“Baiklah, aku akan segera bersiap! Terima kasih sudah memberitahukan aku, dayang Xiao Er!” sahutnya dengan ceria.
“Sama-sama, Tuan Putri. Saya pamit.”
Han Li Wei langsung lompat kesenangan kemudian menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
“Aku senang sekali, dayang Fen!” jeritnya.
“Haha, Tuan Putri akan pergi bersamanya?”
“Ya, aku akan pergi dengannya. Kau tahu? Ini sebuah kemajuan pesat! Kau tahu kan Pangeran Liangyi termasuk salah satu pangeran yang tak pernah mau melihat balik ke arahku saat aku menatapnya. Dia dingin sekali!”
“Tapi, yang aku dengar, dia pangeran teramah di kerajaan Kangxi.”
“Hmm, berarti dia hanya dingin padaku ya?” tanya Li Wei.
“Bisa jadi, itu karena dia masih malu mungkin, Tuan Putri.”
Han Li Wei pun tersipu malu kemudian meminta dayang Fen menyiapkan pakaiannya. Wanita itu akan bersiap-siap dalam waktu singkat.
***
Setengah jam kemudian.
Liangyi tengah berdiri bersama ayahnya, Hongli meminta Liangyi menjaganya sampai batas waktu yang ditentukan – wanita itu harus sudah pulang tanpa terluka sedikit pun.
Liangyi pasti akan melakukannya. Dia tidak mungkin mencelakai Putri dari kerajaan Shan. Bila hal itu terjadi maka akan memicu peperangan.
Tidak lama kemudian, Han Li Wei pun muncul bersama dayangnya.
Hongli menyapa wanita itu dengan ramah. “Selamat pagi, Tuan Putri!” katanya.
“Salam, Yang Mulia Kaisar Hongli! Selamat pagi juga! Apa kabar Kaisar Hongli?” tanya Li Wei dengan senyuman cerah.
“Terima kasih telah bertanya kabar saya, pagi ini sangat cerah, kabarku juga baik-baik saja. Kau sudah mendengar keputusanku?” tanyanya.
“Ya, Yang Mulia Kaisar, saya sudah tahu. Tadi pagi dayang Xiao Er datang ke kamar saya dan menyampaikan informasi tersebut. Saya sangat tersanjung bisa jalan bersama pangeran kedua. Semoga hari ini akan menyenangkan,” jawabnya.
“Haha, ya Pangeran Liangyi akan membawamu melakukan aktifitas normalnya. Dia adalah seorang pangeran sekaligus orang kepercayaanku untuk menertibkan segala sesuatu yang kurang pada tempatnya di wilayah Kangxi.”
“Saya senang mendengarnya. Pangeran Liangyi memiliki banyak keistimewaan.” Wanita itu memuji Liangyi tepat di depan orangnya, tetapi tidak menoleh terlalu lama padanya.
Liangyi tersenyum mendengarnya. “Terima kasih atas pujian, Anda!”
“Selamat pagi, Pangeran!” sapa Han Li Wei.
“Selamat pagi, Tuan Putri. Apa anda sudah siap?” tanyanya.
“Siap! Saya siap melakukan perjalanan kerja bersama Anda, Pangeran Liangyi.”
“Setelah makan siang, kita akan kembali ke istana. Jadi, ada sekitar 7 jam waktu yang akan kita habiskan untuk berkeliling Kangxi sekalian saya akan mengenalkan wilayah ini pada anda.”
Li Wei pun senang sekali, senyum simpulnya berkerut-kerut. “Baik, Pangeran. Saya siap mengikuti anda dan percaya bahwa kita akan dijauhkan dari bahaya,” ujarnya.
Pangeran Liangyi dan Putri Li Wei pamit pada Hongli kemudian Kanebo memandu mereka menuju MT. Wanita itu terlebih dahulu naik, disusul oleh Liangyi.
Kendaraan tersebut melaju menuju pintu gerbang.
“Kanebo, kita harus mengecek kegiatan kelompok Sehat Bugar. Aku ingin mengumpulkan informasi dari orang kita yang sudah berobat di sana,” kata Liangyi.
“Baik, Pangeran.”
Han Li Wei mendengarkan saja, kurang paham dengan percakapan mereka.
“Tuan Putri Han Li Wei,” panggilnya.
“Ah, panggil aku dengan Li Wei saja,” pintanya.
“Baiklah bila itu membuatmu nyaman,” sahut Liangyi, lalu menjelaskan tentang perjalanan pertama mereka pada wanita itu agar tidak merasa kebingungan.
Han Li Wei memahaminya dan mendukung kegiatan Pangeran Liangyi tersebut. Namun, tidak berani memberi masukan sementara waktu karena dia adalah orang baru – dan, wanita itu ingin melihat cara kerja Pangeran Liangyi.