Menang Lagi, Jiangyi Semakin Panas

991 Kata
“Sebagai penutup, saya ingin mendengar penjelasan dari kalian mengenai kematian tikus milik Wang Jiangyi dan Wang Chen Ling.” Liangyi berharap adiknya tahu masalah kayu itu dan menyatukannya pada konsep racun yang ada di kue tersebut. Chen terdiam, tidak tahu sama sekali mengenai alasannya. Hingga dia pun berusaha menjawab hanya demi menutupi kebodohannya sendiri. “Kue gula yang manis di hadapan kami memiliki racun di beberapa variannya, tetapi kami tidak menyadarinya hingga saatnya pemilihan, beberapa dari kami memilih yang beracun itu. Seperti Kak Jiangyi yang sebenarnya punya dua pilihan, tetapi dia menetapkan salah satunya, kebetulan kue yang dipilih adalah varian yang beracun sementara Kak Chang, dia juga tidak punya pilihan lain karena kue yang ada di hadapannya hanya satu.” Hongli dan yang lainnya mengangguk. “Lantas, apa kalian tidak tahu perbedaan kue yang beracun dan tidak?” tanyanya. Jiangyi dan Chang diam saja. Ragu untuk menjawabnya. Namun, harus diutarakan sesuai permintaan ayahnya. “Saya tidak mengetahuinya karena terlalu fokus mencari aroma dan rasa,” jawab Jiangyi. “Saya juga demikian, tidak berpikir hal negatif saat melakukannya,” sahut Chang. “Saya juga begitu Yang Mulia Kaisar Hongli,” jawab Chen. “Haha, baiklah, terakhir aku butuh jawaban darimu Wang Liangyi,” tandas Hongli. Liangyi menghela napas. Tidak mungkin dia berpura-pura tidak tahu sementara dia mengetahuinya. “Saya awalnya juga sama seperti kakak atau pun adik saya, tidak berpikiran sampai ke sana, namun, saat saya menusuk lidi ke tiga kue di hadapan saya dan menaruhnya tepat di depan kue itu, beberapa detik kemudian lidi tersebut berubah warna.” “Ah, jadi kau memperhatikan itu?” tanya Hongli. “Ya, saya melihatnya.” “Milik siapa saja yang berubah warna?” tanya Hongli lagi. “Satu milik Kak Jiangyi, satu milik Chang dan satu milikku sendiri yang tidak aku pilih.” “Haha, luar biasa! kau beruntung.” Liangyi tersenyum singkat saja. “Lalu, apa kau tahu mengapa lidi itu berubah warna? Apa mungkin semua lidi berbahan dasar kayu bisa berubah warna bila terkena racun?” tanya Hongli lagi. “Tidak, Yang Mulia Kaisar – lidi ini adalah lidi khusus yang dibuat dari pohon Pemphis acidula. Dia adalah salah satu pohon yang memiliki energi tinggi dan bisa merespon beberapa hal yang tidak bisa kita respon salah satunya racun.” Semua orang terperangah mendengar penjelasannya. Jiangyi sontak mengambil lidi itu dan menciumya. Dia bahkan tidak kepikiran sampai ke sana padahal dia tahu jenis pohon itu. “Maka dengan begitu saya mengetahui kue mana yang beracun dan tidak,” lanjut Liangyi. Orang-orang dari Kerajaan Shan sangat bangga padanya. Bahkan Anming sendiri juga tidak mengetahui ada pohon jenis itu. Li Wei terus merasa terpesona pada pria yang telah menjadi pandangan pertamanya itu. Permaisuri Qi Luo memperhatikan arah pandangan wanita dan senyumannya untuk siapa? Dia menyukai Liangyi, ucapnya dalam hati kemudian tersimpul meninggi. Setelah kompetisi ini berakhir maka berakhir pula pertemuan untuk hari ini. Selanjutnya mereka akan datang sekitar tiga hari lagi untuk menentukan hasil akhirnya. Han Li Wei ditinggal di kerajaan Kangxi karena akan menjalani tahapan secara pribadi pada masing-masing pangeran. Mereka akan dapat giliran untuk bersama mereka dalam kurun waktu beberapa saat mulai besok dan lusa. Semua orang kembali ke tempat masing-masing demikian pula Putri Li Wei yang ditemani sang dayang untuk kembali ke kamarnya. Sementara keempat pangeran diminta Jiangyi untuk ke taman biasa mereka berkumpul. Tampaknya akan ada percakapan panas yang disampaikan oleh kakak tertuanya itu. Setibanya di taman, mereka duduk di tempat masing-masing tanpa aturan. Jiangyi memandang ke arah adik-adiknya. "Menurut kalian, apa Ayah tidak keterlaluan membuat pertandingan di meja makan?" tanya Jiangyi. Liangyi setuju, pemikirannya juga demikian. "Aku juga merasa aneh, apalagi memasukkan ide racun dan membuat Putri Li Wei tidak nyaman." "Ya, aku juga melihatnya," sahut Jiangyi. "Ayah kenapa bisa punya ide seperti itu? kuharap setelahnya jangan ada pertandingan di tempat tak layak begitu," sahut Chang. "Sudah-sudah, namanya juga pertandingan. Kita harus menerima tantangan di mana pun." Chen tidak mau kakak-kakaknya menggerutu pada sang ayah. "Mengenai besok, aku juga masih bingung. Bisa-bisanya wanita itu tinggal di sini dan bergantian jalan dengan kita." Protes Jiangyi. "Hmm, memangnya kakak tidak suka?" tanya Chen. "Bukan masalah suka atau tidak, tetapi menurutku lebih baik perjodohan ini ditujukan untuk satu orang saja. Misal, Ayah putuskan menikahkan salah satu diantara kita tanpa harus seleksi." Jiangyi berpendapat demikian. "Benar juga, misal karena Kak Jiangyi anak tertua, maka Kakak lebih dulu menikah, begitu kan?" tanya Chen lagi. "Ya, begitulah. Siapa pun, aku, Liangyi atau pun kalian," jawab Jiangyi. Liangyi setuju juga, tetapi keputusan Kaisar Hongli tak dapat dihalangi bahkan dibatalkan. Mereka harus menerima kalah dan menang dengan lapang dadaa. "Apa Kakak Jiangyi marah pada Kakak Liangyi?" tanya Chen. "Marah? Haha, tentu aku marah!" jawabnya. Liangyi menoleh. "Maaf, Kak! aku tidak bermaksud demikian. Saat kita dihadapkan tantangan yang kita ketahui cara menyelesaikannya maka kita biasanya akan berusaha maksimal." "Yayaya, kau bangga pada ingatan dan ilmumu yang bisa kau gunakan di setiap saat," ucap Jiangyi sambil melotot. "Aku akan memprioritaskan Kakak besok," kata Liangyi. "Ah, tidak perlu. Kita berempat punya hak yang sama. Kalian harus ingat, siapa saja bisa menikah dengannya asal kalian menang dan membuat putri Li Wei terpukau. Dan, Liangyi berhasil melakukannya," tandas Jiangyi. Ketiga adiknya terdiam. Si kembar menatap Liangyi yang membuat kekacauan karena terus memenangkan kompetisi. Liangyi memilih untuk berisirahat lebih awal karena pikirannya kurang nyaman. Jiangyi seolah menyalahkannya dalam pertandingan. Padahal itu semua hanya kebetulan semata. Dia tidak bisa melakukan hal yang membuatnya tampak bodoh sementara dia tahu jawabannya. Di dalam kamar. Sebuah pesan datang sesaat setelah Liangyi selesai makan malam bersama. Isinya menyatakan bahwa besok pagi Putri Li Wei akan menemuinya dan mengikuti kegiatan pria tersebut lebih dulu. Liangyi menjadi lebih segan pada kakaknya, tapi di sisi lain ada bagusnya juga, sebab dia sudah berjanji akan bertemu Jia Li pada pukul 4 sore, di lapangan kemarin. Liangyi ingin menolak, tetapi tidak bisa karena surat itu keluar dari ayahnya. Dayang pribadinya yang berjaga di luar, diminta untuk menyiapkan pakaiannya yang pantas untuk berjalan bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN