Gula Mematikan

1046 Kata
Liangyi takut kalau pisang sudah diambil oleh mereka dan meninggalkan anggur saja. Kini kesempatannya tinggal sekali dan harus benar-benar memeriksa sisanya. Liangyi memantapkan pilihan pada kue berwarna kuning tua. Ketika ditusukkan lidi, aroma yang keluar juga bukan pisang melainkan melon. Liangyi pun tersenyum. Terakhir dia juga menusukkan ke kue yang tersisa berwarna biru muda dan mengabaikan kue hitam di dekatnya. Liangyi mencium aroma anggur juga. Astaga! Jebakan! Katanya dalam hati. Liangyi mengangkat tangan. Kaisar Honglo dan Kaisar Han menoleh. “Ya, ada apa?” tanya ayahnya. “Mengenai rasa pisang atau pun anggur, rasa yang dimaksud apakah bagian dalam atau luarnya?” tanya Liangyi. Hongli tersenyum. “Bagian dalam,” jawabnya singkat. “Terima kasih, Yang Mulia Kaisar Wang Hongli,” sahut Liangyi. Liangyi paham, ternyata ada penjebak di sana dan pastinya punya maksud lain di sana. Liangyi mengambil hanya satu saja dan itu adalah kue berwarna biru muda itu. Liangyi menaruh tusuk gigi berbeda itu tepat di depan kue yang tidak terpilih. “Apa kau sudah selesai, Liangyi?” tanya ayahnya. “Sudah Yang Mulia Kaisar Hongli,” jawabnya. “Baiklah, perhatikan masing-masing pilihan kalian dan juga kue yang kalian abaikan,” perintah Hongli. Mereka memperhatikannya kemudian tidak lama kemudian pelayan datang membawa 4 kandang tikus putih dan menaruhnya di atas meja. Li Wei merasa takut pada tikus, lebih tepatnya tidak suka karena mengingat tempat tinggal hewan itu. Li Wei mau pun Anming serta beberapa orang yang ada di sana, tidak paham dengan kompetisi siang ini. Tikus dan kue gula beraroma buah. Liangyi memperhatikan tusuk lidi yang ada di hadapannya. Satu dari tiga lidi tersebut berubah warna menjadi kehitaman, tepat di dekat kue berwarna cokelat muda yang tidak dipilihnya. Padahal tadi sama-sama berwarna pucat saja seperti adonan kue. Kenapa bisa berubah? Tanyanya heran, lalu melihat lidi dari kakak dan adiknya. Satu dari milik Chang juga berubah warna begitu pula milih Jiangyi. Hanya milik Chen yang tidak ada perubahan warna. Apa maksud dari perubahan warna ini? Liangyi coba menerka terus sebelum ayahnya menjelaskan tentang tikus dan langkah selanjutnya. Liangyi mengambil lidi yang tidak berubah warna kemudian menciumnya serta melihat teksturnya, tampaknya dia kenal dengan serat dan aroma itu. Kaisar kembali meneruskan langkah selanjutnya. “Di hadapan kalian, ada tikus yang nantinya akan kalian berikan satu dari 2 kue yang telah kalian pilih. Selanjutnya bila ternyata tikus itu mati maka kalian kalah.” “Huh?!” Semua terkejut mendengar penjelasan dari Kaisar Hongli. Keempat pangeran juga saling kebingungan. Tidak boleh memberi kode dan diminta untuk fokus saja pada kuenya dan tikus itu. Liangyi tahu kalau lidi itu terbuat dari kayu Pemphis acidula atau dikenal dengan Stigi atau Centigi. Kayu itu terkenal sebagai kayu berenergi dan bisa menyerap racun. Beruntung Liangyi tidak memilih kue cokelat muda itu dan bisa menyelamatkan nyawa seorang tikus di hadapannya. “Sebelum itu, saya mau bertanya pada kalian, siapa yang mendapatkan aroma annggur?” tanya Hongli. Liangyi dan Jiangyi mengangkat tangan. Sementara si kembar tidak. “Yang mendapat aroma pisang?” tanya Hongli lagi. Chen dan Jiangyi mengangkat tangan. Sementara Liangyi dan Chang tidak. “Baiklah. Berarti Jiangyi mendapat keduanya.” “Iya, Yang Mulia,” sahut Jiangyi bangga. “Sementara kalian sisanya hanya satu kue saja, sekarang saya minta kue yang tidak dipilih disingkirkan dan dibuang.” Pelayan segera menuruti perintahnya dan membersihkan meja dari kue yang tidak terpilih itu kemudian Liangyi melihat Jiangyi punya satu yang berubah warna serta Chang juga. Sementara Liangyi dan Chen tidak memilih kue yang berubah warna. “Jiangyi, karena hanya dirimu yang memiliki dua kue, tentukan satu di antaranya untuk kau berikan pada tikus itu. sementara yang lainnya hanya punya satu pilihan dan berikan pada hewan di hadapan kalian.” Keempat pangeran itu pun menuruti perintah. Liangyi tidak perlu khawatir, tetapi dia lebih khawatir pada Jiangyi yang ternyata memasukkan kue beracun ke dalam kandang itu. Begitu pula Chang. Liangyi memejamkan mata sekitar 3 detik kemudian menghela napas. Belum pasti, tapi sepertinya yakin kalau kali ini pemenangnya adalah dirinya dan Chen. Tikus-tikus itu pun menggerogoti kue yang ada. Semua orang memperhatikan ke arah tikus kemudian dalam hitungan detik, tikus milih Jiangyi mulai merasa pusing, melakukan pergerakan tak terduga. Mencoba mencari jalan keluar dan mengalami jegang. Sangat tidak baik dihadirkan di ruang makan konsep pertandingan seperti ini. Liangyi menunduk tidak setuju, batinnya menolak, tetapi terlihat kepuasan di mata ayah dan Kaisar Han serta Anming. Kaisar Hongli tersenyum. “Berarti kita sudah tahu siapa yang menang dan kalah. Saat ini ada dua pemenang – yaitu Chen dan Liangyi. Hal ini membuktikan bahwa untuk menentukan pemenang dari kompetisi kedua ini harus melalui satu tahapan tambahan.” Jiangyi dan Chang sangat kecewa, mereka tidak paham sama sekali dengan cara mainnya dan tidak mengetahui mana kue yang beracun dan tidak. Liangyi memperhatikan ayahnya kemudian sang ibu, lalu Li Wei yang kerap kali menunduk karena tidak nyaman. Sudah pasti hal itu terjadi karena tidak ada perempuan yang mau menyaksikan kekejaman, kecuali dia sudah terbiasa. Untuk langkah selanjutnya, Jiangyi dan Chang tidak melanjutkan kompetisi kedua ini. “Sebagai penutup, saya ingin mendengar penjelasan dari kalian mengenai kematian tikus milik Wang Jiangyi dan Wang Chen Ling.” Liangyi berharap adiknya tahu masalah kayu itu dan menyatukannya pada konsep racun yang ada di kue tersebut. Chen terdiam, tidak tahu sama sekali mengenai alasannya. Hingga dia pun berusaha menjawab hanya demi menutupi kebodohannya sendiri. “Kue gula yang manis di hadapan kami memiliki racun di beberapa variannya, tetapi kami tidak menyadarinya hingga saatnya pemilihan, beberapa dari kami memilih yang beracun itu. Seperti Kak Jiangyi yang sebenarnya punya dua pilihan, tetapi dia menetapkan salah satunya – kebetulan kue yang dipilih adalah varian yang beracun sementara Kak Chang, dia juga tidak punya pilihan lain karena kue yang ada di hadapannya hanya satu.” Hongli dan yang lainnya mengangguk. “Lantas, apa kalian tidak tahu perbedaan kue yang beracun dan tidak?” tanyanya. Jiangyi dan Chang diam saja. Ragu untuk menjawabnya. Namun, harus diutarakan sesuai permintaan ayahnya. “Saya tidak mengetahuinya karena terlalu fokus mencari aroma dan rasa,” jawab Jiangyi. “Saya juga demikian, tidak berpikir hal negatif saat melakukannya,” sahut Chang. “Saya juga begitu Yang Mulia Kaisar Hongli,” jawab Chen. “Haha, oke, terakhir aku butuh jawaban darimu Wang Liangyi,” tandas Hongli. Liangyi menghela napas. Tidak mungkin dia berpura-pura tidak tahu sementara dia mengetahuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN