Part 3
“Sena”
Sena menoleh, tersenyum melihat Lila tetangganya menyapa.
“Kau jadi melamar pekerjaan diperusahaan Dominic”
“Iya, hari ini pengumuman penerimanaannya”
Lila berlari kecil, memeluk Sena dan tersenyum manis.
“ Aku tau kau pasti diterima, semangat Sen”
“Hahaha mungkin jika mereka tidak memandang latar belakang pendidikanku”
“Hey ayolah pengalaman dan bakat lebih penting”
Sena hanya mengangkat kedua bahunya.
“Aku pergi dulu Lil”
“Oh tentu, selamat jalan Sen hati hati”
Sena melanjutkan langkahnya, hari ini dia menggunakan celana bahan dan atasan kemeja putih. Sedikit stok bajunya yang dia rasa cukup pantas untuk bisa masuk perusahaan Dominic.
Jika benar dirinya diterima Sena harus menyiapkan pakaian yang lebih layak dari ini, jikapun tidak diterima Sena mungkin sedikit bersyukur tidak perlu membeli baju yang menurutnya tidak penting.
Sena masuk kedalam kantor Dominic, beberapa kandidat sudah datang dan menunggu keputusan HRD. Sena melihat dirinya yang sangat berbeda dengan yang lainnya, ketika yang lain menggunakan rok pendek dengan atasan blazer yang sangat serasi, Sena merasa mereka lebih pantas bekerja diperusahaan Dominic dari pada dirinya, beruntung wajah cantiknya sedikit menutupi tampilan Sena.
“Selamat pagi semua, maaf menunggu lama”
Seseorang yang ditunggu datang dengan membawa amplop berisi nama seseorang yang akan bekerja menjadi sekretaris sang pemilik.
“Jadi disini saya akan mengumumkan siapa yang akan menjadi sekretaris Presdir Dominic Corporation, Sena”
“Hah”
Sena malah melamun, melihat kearah HRD dengan name tag Clara di d**a kirinya.
“Selamat bergabung Sena, kau diterima”
Sena melongo, dia masih tidak percaya jika namanya disebut.
“Aku diterima?”
“Iya nona Sena selamat bergabung, dan untuk yang lain mohon maaf dan terimakasih atas waktu dan kesempatan kalian”
Terlihat yang lain juga seakan tidak percaya jika Sena gadis sederhana itu yang diterima bekerja diperusahaan Dominic, bahkan Sena juga masih tidak percaya.
“Selamat Sena keberuntungan berpihak padamu”
“Selamat Sen”
“Terimakasih”
“Silahkan Sena ikut denganku, aku akan memperkenalkanmu pada seseorang”
Yang lainnya pergi dan Sena mengikuti langkah Clara, jika dilihat lihat semua karyawan disini terlihat begitu berkelas, sangat berbeda dengan dirinya.
Untuk pertama kalinya Sena memasuki perusahaan Dominic, perusahaan yang sering dibicarakan banyak orang dan terpampang dimedia elektronik maupun media cetak, perusahaan yang selalau diangung agungkan oleh banyak orang, dan kini Sena bisa masuk dan berkesempatan untuk bekerja disini.
Gedung yang menjulang tinggi dengan kaca mengelilingi, taman kecil ditengah tengah lobi, para karyawan yang lalu lalang dengan sibuk, pakaian semua orang yang terlihat begitu rapi.
Sanggupkah Sena bekerja disini, pikirnya.
“Silahkan Sena, oh maaf sebelumnya aku belum memperkenalkan diri, aku Clara HRD disini dan jangan sungkan jika kau membutuhkan bantuanku”
“Ah terimakasih Clara”
“Dan ini Devi, sekretaris sebelumnya yang akan diganti olehmu, dan Devi ini Sena”
“Halo Sena senang bertemu denganmu lagi”
Sena sudah sempat melihat Devi saat interview, gadis yang begitu cantik, anggun, dengan pakaian yang rapid an sesuai dengan pekerjaannya saat ini.
“Dev aku menyerahkan Sena padamu, dan Sena Devi akan menuntunmu”
“Baik, terimakasih Clara”
Clara pergi meninggalkan Devi dan Sena.
“Okey jadi kita akan mulai dari awal”
Sena melihat Devi begitu baik dan anggun, bagaimana mungkin ada gadis yang begitu sempurna. Sena melihat penampilan Devi dari atas hingga bawah hingga Sena berfokus pada perut Devi.
“Kau benar nona Noah, aku sedang hamil jadi jangan ditanya lagi karena apa aku mengundurkan diri dari perusahaan bergengsi ini”
Sena terkekeh, sepertinya Devi tau jika dirinya memperhatikan Devi sedari tadi.
“Maaf Dev”
“Tak apa, kau hebat sudah cukup peka diawal pertemuan, itu nilai plus, bahkan yang lain belum tau jika aku hamil”
“Benarkah?”
Mereka mengobrol sambil berjalan menuju ruang sekretaris, Devi akan mulai mengajarkan tugasnya pada Sena.
“Yap, mereka bahkan masih bertanya kenapa aku mengundurkan diri. Jadi Sena ini mejamu dan didepan adalah ruang Presdir”
“Hmm maaf Dev bisakah aku menanyakn sesuatu?”
“Kau cukup menarik ternyata, aku bahkan baru menjelaskan satu hal dan kau sudah mengajukan pertanyaan nona” Devi terkekeh.
“Baiklah tanyakan saja” sambung Devi.
“Hmm aku cukup terkejut bisa diterima disini, bahkan latar belakang pendidikanku tidak terlalu bagus”
“Kau akan tau nanti Sen, aku tidak punya kuasa untuk mengatakan itu”
“Ahh”
Benar, Devi tidak mau membuat Sena menaruh curiga pada Alex, biarkan dia tau sendiri atau Alex yang akan memberitahunya.
“Jadi akan aku lanjutkan, ini meja kerjamu dan didepan adalah ruang Presdir, kita masuk”
“Apa tidak apa apa?”
“Presdir sedang dinas diluar, aku sengaja tidak ikut untuk membantumu”
“Oh begitu”
“Ayo”
Devi membuka ruang dengan pintu yang begitu megah, dilihat dari luar saja Sena tau jika ruangan itu akan begitu mewah dan megah didalamnya.
“Taraa…bagaimana kau terkejut bukan”
Sena melihat seluruh ruangan tanpa berkedip sedikitpun, dia begitu terkesima dengan ruangan ini dengan peralatan didalamnya begitu mewah dan jangan ditanya pasti harganya begitu mahal. Devi melihat Sena yang terlihat begitu takjub hanya terkekeh.
“Dulu aku juga sepertimu, merasa ruangan ini begitu berlebihan dengan interior yang mewah, kau akan tau Alex seperti apa hanya dengan melihat ruangannya saja”
“Ah Alex”
“Iya jangan lupa dia Presdir, tuanmu”
Devi berjalan mengelilingi ruangan Alex dan Sena mengikuti sambil melihat semuanya dengan detail.
“Aku harap kau membawa buku catatan Sena”
Sena langsung mengeluarkan buku kecil dari dalam tasnya, bersiap untuk menulis apa yang dikatakan Devi.
“Ini cukup banyak jadi cobalah untuk menulisnya dengan detail oke”
Sena mengangguk, pasti hal tentang bosnya itu snagat merepotkan.
“Jam kerja Alex akan dimulai jam delapan pagi dan akan lebih pagi jika ada janji atau hal mendesak, kau harus disini lebih awal untuk membuka gorden ruangan ini agar sinar matahi masuk, jika terlambat Alex akan tau jika kau lupa membuka gordennya”
Sena terus mencatatat sambil kakinya melangkah mengikuti Devi.
“Persiapkan juga laptop dalam keadaan hidup, buku terbuka dengan bolpoin disebelahnya, siapkan air dingin dan buah semangka kesukaan Alex, jangan ada buah pisang karena dia benci itu”
“Pisang?”
“Yap”
Sena tidak mau bertanya lebih, dia memilih untuk menulis saja.
“Setelah itu kau langsung menuju rumah Alex untuk menjemputnya”
“Menjemputnya?”
“Iya, supirnya akan menjemputmu menuju rumahnya, dia tidak mau pergi sendiri kekantor, kau harus menjemputnya dan jika perlu kau juga harus menyiapkan pakaian dan segala kebutuhannya jika dia memintamu”
“Kenapa?”
“Alex tidak suka hanya berdua didalam mobil terlebih dengan supirnya”
Sena hanya mengangguk dan mencatatan tentu saja.
“Kita akan kerumah Alex”
“Kerumahnya?”
“Iya, pekerjaanmu juga memaksa untuk tau apa yang ada disana”
Sena masih melongo, begitu komplit ternyata pekerjaannya, pantas saja gaji yang ditawarkan begitu fantastis, bukan hanya bisa membiayai kuliah Demian dan makan sehari hari, bahkan Sena bisa kredit mobil baru.
Perjalanan menuju rumah Alex diisi dengan Devi yang masih menjelaskan mengenai tugas Sena, tidak sulit sebenarnya hanya saja cukup membuat Sena kerepotan, terlebih Devi bilang bosnya itu adalah orang yang cukup pemilih dengan banyak komentar pedas ditambah Alex tidak bisa mengontrol kata katanya jadi Devi mengatakan untuk Sena tidak mengambil perasaan saat Alex sedikit membuatnya tersinggung.
“Kita sampai”
Sena melihat rumah Alex, mungkin kini dia terlihat seperti sinetron sinetron yang begitu takjub melihat rumah mewah dengan sedikit norak dan kini Sena terlihat seperti itu, masih melongo melihat rumah mewah didepannya. Tidak terlalu besar memang tapi dari luar kelihatan jika rumah yang katanya ‘minimalis’ ini memiliki desain interior yang tidak murah ditambah pagar besi menjulang tinggi itu terlihat lebih mahal dari pada apartemen sederhana milik Sena.
“Aku tau kau takjub nona Noah tapi sampai kapan kau melongo seperti itu”
Ucap Devi sedikit tertawa melihat Sena yang tidak bergerak sedikitpun bahkan berkedippun tidak.
“Ah maaf Dev, aku hanya mengaggumi rumahnya saja”
“Tentu aku tau, siapa yang tidak iri dengan rumah mewah ini, jika aku yang memiliki rumah ini setiap hari aku akan mengajak teman temanku untuk mampir dan berpesata”
Ucapan Devi membuat Sena juga tertawa, benar memang siapa yang tidak bangga memiliki rumah seperti ini yang bisa dipamerkan kesiapapun.
“Ayo masuk”
“Apakah aku juga diberi kebebasan akses masuk?”
“Tentu saja, kunci ini nanti akan berpindah padamu”
Sena dan Devi masuk, pintu megah berwarna putih itu terbuka hingga menampilkan isi didalamnya, Sena melihat dengan detail seluruh isi dalam rumah ini dari pajangan dinding, kursi, meja, keramik, permadani, dan lainnya. Begitu banyak barang yang ada hingga Sena berfikir mencurinya satu tidak akan membuat sang pemiliki rumah tau.
“Nona Devi”
“Sena perkenalkan dia bibi Helen, dia yang membersihkan rumah ini setiap pagi”
“Halo bibi Helen, aku Sena”
“Kau yang akan menggantikan Devi kan, kau begitu cantik nona”
“Terimakasih bibi kau begitu baik”
Devi melanjutkan langkahnya dan Sena mengikuti dari belakang, dilihatnya semua ruang yang ada dirumah Alex, mulai dari ruang istirahat, bar, kolam renang, dapur, ruang kerjanya, halaman belakang dan terakhir kamarnya.
“Ini kamar Alex”
Devi membuka kamar yang langsung membuat Sena penasaran apa yang ada didalam kamar si bosnya itu.
“Bagaimana?”
“Ini saja Dev?”
“Yap”
Hanya terlihat kasur berukuran king size dengan warna sprei abu abu seragam dengan selimut, dinding yang di cat warna abu abu muda, lampu diatas nakas satu buah, jam dinding, dan jendela di antara kasurnya.
“Alex orang yang sederhana walaupun terkadang dia banyak maunya, saat dia lelah bekerja dia memilih untuk beristirahat di tempat seperti ini, terlihat sunyi”
Sena mengangguk sambil mengikuti Devi.
“Kau diperbolehkan untuk mengakses semua ruangan dirumah ini, kau bebas melakukan apapun, dan jam kerjamu akan berakhir saat Alex sudah sampai rumahnya, akan ada saatnya dia bosan dirumah dan memilih untuk tinggal dihotel, tugasmu adalah mencari hotel yang sesuai dengan gayanya, jika Alex memilih untuk menginap di hotel kau harus menemaninya”
“Menemaninya?”
“Tentu, jam kerjamu belum berakhir sebelum Alex pulang kerumah walaupun jam kerjamu telah usai, ingat tugasmu adalah terus berada disisinya saat dia melangkah dari rumahnya”
Sena diam, masih memikirkan bagaimana caranya dia menemani Alex dihotel.
“Kau tidak perlu risau nona, saat booking hotel kau memesan dua kamar untuk Alex dan dirimu, kau tidak perlu satu kamar dengan Alex cukup bersebelahan saja”
Sena bernafas lega, dia kira harus tidur berdua dengan Alex atau jika tidak dia tidur dilantai, memikirkannya saja membuat Sena merinding.
“Bagaimana jika harga hotelnya mahal, tidak mungkin Presdir bersebelahan kamar dengan saya di kamar standar”
“Hey itulah kelebihannya, kau pesan saja kamar yang mahal, tidak apa”
“Oh dan satu lagi Sena, panggil Alex saat dirumah sebelum dia masuk mobil dengan panggilan Tuan, saat dalam perjalanan sampai dikantor dan masuk jam kerjamu panggil dia Presdir” tambah Devi.
“Kenapa begitu, dan bagaiman jika menemani meeting diluar kantor?”
“Kau tetap memanggilnya Presdir, hanya saat kau menjemputnya kau memanggilnya Tuan Alex jika dia sudah menginjakkan kakinya di mobil maka kau memanggilnya Presdir walaupun dia ada meeting diluar kantor, saat kau mengantarnya pulang maka panggilannya adalah Tuan, jika dia memilih untuk pergi ke hotel maka panggilannya Presdir”
Sena melongo lagi dan lagi, apalagi ini hal yang begitu membingungkan hanya mengenai panggilan saja, ada begitu banyak yang harus Sena ingat.
“Pelan pelan saja Sena tidak perlu sekaligus kau harus tau segalanya dalam satu hari, salah sesekali Alex akan mengerti yang penting jangan terus terusan saja”
Sena hanya mengangguk, tidak tau harus berkomentar apa tentang bosnya itu.
“Mengenai hotel, kau cari saja sendiri dan tanya Alex apakah dia mau dihotel yang kau pilih jika tidak cari yang lain jika dia setuju pesan dua kamar untuk kalian, dan biasanya jika Alex menyuruhmu pulang makan pulang saja dan pekerjaanmu selesai hari itu jika tidak menyuruhmu pulang maka kau harus dihotel sampai besok, dan supir selalu menyiapkan pakaianmu untuk ganti, kapanpun bahkan setiap hari”
“Jadi aku harus memberikan pakaianku pada supir?”
“Tidak perlu Sena, bibi Helen akan menyiapkannya untukmu pakaian baru, tenang saja”
Baiklah beberapa hal sudah Sena mengerti, nanti dia akan menghafal catatannya lagi dirumah.
Devi tiba tiba menarik Sena, memegang kedua bahu Sena dan melihat kedua mata Sena dengan lekat, wajah Devi berubah serius dan sedikit…menakutkan.
“Kau harus ingat satu hal Sena, tugasmu yang paling berat bukan tentang menghafal hal kesukaan Alex dan harus sesuai gayanya, bukan juga cara mengatur jadwalnya tapi satu hal yang penting”
Devi menarik nafas, menyiapkan kata kata untuk mengatakannya pada Sena, sedangkan Sena menunggu Devi menyelesaikan kalimatnya yang begitu serius membuat Sena penasaran.
“Tolong jaga rahasia Alex”
Sena masih diam, memikirkan rahasia apa yang Devi maksud.
“Aku tidak akan menyebutkan rahasia apa, nanti kau juga akan tau yang perlu kau tau Alex yang kau lihat sekarang sangat berbeda dengan Alex yang sesungguhnya, kau akan tau Sena dan aku minta tolong agar kau menyimpannya sendiri, jangan menyebarkan pada siapapun bahkan bawa saja sampai kau mati karena kini aku akan melakukan hal yang sama”
“Siapa sebenarnya Alex?”
“Jawab Sena”
“Ah iya, aku janji padamu Dev tentu aku akan menjaganya untuk diriku sendiri”
“Bagus”
Devi melepaskan tangannya dari bahu Sena, wajahnya kini kembali seperti semula.
“Ayo masih banyak yang perlu kau ketahui”
Sena kembali mengikuti Devi, menjelaskan semua bagian dalam rumah megah ini.
“Cukup untuk hari ini Sena, aku masih akan bekerja selama satu mimggu untuk mengajarkanmu mengenai tugasmu jadi jangan khawatir”
“Wah aku cukup lega mendengarnya, aku kira akan begadang mala mini menghafal semua ini haha”
“Hahaha tentu tidak, belajarlah pelan pelan dan tidak perlu kau hafal jalani saja nanti kau akan mengerti sendiri”
“Terimakasih Dev kau begitu baik”
“I am haha, ayo aku akan mengantarmu pulang”
“Pulang? Tapi ini masih jam satu siang”
“Its oke, besok aku akan mengajarkan hal yang lainnya, hari ini cukup disini saja”
“Baiklah”
“Ayo aku akan mengantarmu sekaligus menjemput Presdir, besok aku akan memperkenalkanmu padanya”
Membayangkan Sena berkenalan dengan Alex membuatnya sedikit gugur, seperti apa Alex dan bagaimana Sena meminta maaf atas kejadian saat interview.
“Kau melamun Sen”
“Ah, maaf ayo”
Ditempat lain Alex sedang duduk terdiam, sudah dua puluh menit yang lalu meetingnya berakhir tapi dia masih tetap duduk dikursinya, meminum lemon tea kesukaannya.
Bagaimana Sena, pikirnya.
Alex sudah tau jika hari ini Devi akan mengajarkan semua tugasnya pada Sena, apa kewajiban dan tanggung jawab Sena menjadi sekretaris Alex.
Alex menghembuskan nafas, mungkin untuk beberapa bulan kedepan dia akan sedikit emosi menghadapi sekretaris baru yang pasti banyak melakukan kesalahan, ditambah mengatur jadwal yang tidak akan sehandal Devi.
“Permisi Presdir, nona Devi sudah kembali untuk menjemput”
“Suruh dia tunggu didepan, aku akan segera keluar”
“Baik”
Devi telah kembali yang artinya Sena telah pulang, Alex yang menyuruh Devi untuk tidak terlalu buru buru mengajarkan Sena, tidak mau Sena tidak paham dan malah menghancurkan pekerjaannya.
“Selamat siang Presdir”
Alex melihat Devi yang membuka pintu mobil, mempersilahkan dirinya untuk masuk.
“Apakah sudah selesai?”
“Ah pelajaran hari ini? Sudah Presdir, nona Sena sudah pulang”
Alex hanya mengangguk, masuk kedalam mobil yang kemudian melaju menuju perusahaannya.
“Apakah dia sudah banyak belajar?”
“Iya Presdir beberapa hal sudah cukup Sena mengerti”
“Beberapa?”
“Presdir yang mengatakan untuk pelan pelan mengajarkannya”
“Ya aku tau tidak perlu kau ingatkan”
Devi tertawa kecil, terkadang Devi cukup berani untuk melawan Alex.
“Apa kau sudah membawanya kerumah?”
“Sudah, besok saya cukup mengajarkan tentang pekerjaan di kantor”
“Hal itu?”
Devi diam, sedikit menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
“Sudah Presdir, saya akan menjamin”
“Ada komentar?”
“Tidak, hanya wajah penuh kebingungan, akan saya atasi hal itu”
“Tidak perlu, melihat dia tidak berkomentar sudah cukup bagus, setidaknya ada sedikit jaminan dia bisa menjaganya”
Satu hal yang Alex takuti dari kepergian Devi. Rahasianya.
Tidak mudah mempercayai orang baru mengenai rahasia dirinya, ditambah seseorang itu belum tentu bisa dipercaya seutuhnya, dengan berbagai pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan.