Part 4
Hari ini Sena berharap semuanya lancar, hari ini hari kedua dirinya bekerja walaupun masih tahap belajar. Setelah kemarin dia cukup bingung dengan semua pekerjaan sekretaris yang jauh dari bayangannya, ditambah adiknya sama melongonya ketika Sena menceritakan kejadian hari itu.
“Seriously kak? Kau sekretarisnya atau istrinya”
“Kau saja bingung dan terkejut apalagi aku, terlalu banyak yang perlu aku pelajari ternyata”
“Dan pengalamanmu tidak berguna kak”
“Ya tentu saja, tapi baguslah aku bisa diterima setidaknya biaya kuliahmu tidak perlu dipikirkan lagi”
“Kau terlalu memaksa kak”
“Diam Dem, ini semua untuk kita”
“Tapi kau belum bertemu dengan Tuan Alexmu itu” ucap Demian dengan gerakan mengejek.
“Kau menyeblakan Dem. Belum, pertama kali saat interview dan aku belum bertemu dengannya lagi, mungkin besok”
Setelah perbincangan yang begitu panjang dan rumit, Sena tidak memikirkan apa yang akan terjadi besok, apakah ada hal lain yang membuatnya terkejut dan bertambah pusing atau dia akan bertemu dengan Presdirnya itu.
Sena berjalan cukup jauh ternyata dan kini kantornya sudah dekat, beruntung ada jalan potong untuk bisa cepat menuju kantor ditambah tidak perlu mengeluarkan uang untuk transportasi umum.
Hari ini Sena menggunakan rok selutut yang baru saja dia beli kemarin sepulang dari kantor, sebuah toko pakaian dengan harga murah, tapi beruntung Sena mendapatkan yang lumayan bagus, ditambah dengan kemeja berwarna biru muda, tas lusuh satu satunya dan sepatu bekas kuliahnya dulu.
“Sena”
Baru saja akan masuk kekantor seseorang memanggil Sena, menoleh dan melihat laki laki yang belum dia lihat sebelumnya.
“Kau Sena bukan? Aku Wildan”
“Ah hai Wil”
“Aku dari divisi marketing, aku melihatmu saat kau interview”
“Ah senang bertemu denganmu Wil, aku sekretaris baru”
“Ya aku tau, satu kantor sudah tau kau yang akan menggantikan Devi, semangat Sen dan sabar menghadapi Presdir kita”
“Haha tentu”
Disaat Sena dan Wildan memasuki kantor bersamaan dengan Alex yang turun dari mobilnya diikuti dengan Devi disampingnya. Tanpa melihat kanan kiri Alex hanya melangkah pasti menuju ruangannya, sedangkan Sena terpaku melihat Alex dengan wibawanya dan penampilannya yang begitu menakjubkan.
“Sena…Sen”
Sena tersadar dari lamunannya, melihat Devi yang memanggilnya sambil melambaikan tangan pada dirinya.
“Ayo”
Sena melihat Wildan dan Wildan hanya tersenyum menandakan dia mempersilahkan Sena untuk meninggalkannya, menuju Devi yang mengikuti dibelakang Alex.
Semua karyawan menghentikan aktivitasnya dan menunduk saat Alex melewati mereka, Sena yang hanya mengekor cukup takjub dengan apa yang baru saja dia lihat.
“Kau datang disaat yang tepat”
“Apakah aku terlambah Dev?”
“Tidak Sen, bagus bisa membawamu kedalam bersamaan dengan Alex”
Sena hanya diam dan terus mengikuti langkah Alex menuju ruangannya.
“Presdir”
Alex masuk dan melihat Sena disana, berdiri menunduk dengan penampilan sederhana.
“Halo Sena”
“Halo Presdir”
Sena tidak tau harus merespon apalagi, dia kembali diam dan menunggu Devi untuk melakukan sesuatu.
“Baik Presdir saya dan Sena akan melanjutkan yang kemarin, apakah ada yang perlu saya bantu lagi?”
“Tidak, kau bantu saja Sena”
“Baik, kami permisi”
Devi melangkah pergi diikuti dengan Sena, setelah keluar ruangan itu Sena merasa bisa bernafas lega, masuk kedalam ruangan Alex beserta sang empunya seperti ruangan tanpa udara sedikitpun.
“Cobalah untuk lebih banyak berbiaca Sen, Alex tidak banyak bicara jadi kau yang harus lebih cerewet” senyum Devi.
“Aku hanya sedikit canggung Dev”
“Iya tak apa, ayo aku ajarkan mengatur jadwal dan menata yang lainnya”
Sena begitu fokus dengan apa yang Devi jelaskan, kali ini benar benar pekerjaannya yang harus dia ingat dengan baik, selain pekerjaan pribadi Alex tentu saja.
Alex masih diam, sedari tadi hanya melihat monitor komputernya yang tidak menampilkan apapun.
Dia masih mengingat sebelum masuk kantor, melihat Sena tertawa dengan salah satu karyawannya yang dia tau bernama Wildan, melihat mereka dari dalam mobil, turun dan dia tau jika Sena berada dibelakangnya. Saat memasuki ruangan dan Devi memperkenalkan Sena, Alex juga hanya bisa menyapa tanpa basa basi yang lain.
Dilihat dari penampilan Sena yang begitu sederhana membuat Alex ingin sekali mengajak Sena untuk berbelanja pakaian dan kebutuhan lainnya di mall.
Cemburu?
Oh ayolah Alex tidak mungkin cemburu dengan Wildan, laki laki yang baru saja kenal dengan Sena.
Lalu apa bedanya dengan dirimu?
Setidaknya Alex sudah sempat mengobrol dengan Sena saat interview, ya walaupun bukan obrolan yang bagus setidaknya Alex lebih unggul.
Bagaimana jika mereka memutuskan untuk makan siang bersama?
Tidak, Sena akan makan siang bersama Alex bukan orang lain, bukan cemburu tapi bukankah Sena sekretarisnya dan sudah seharusnya dia menemani Alex untuk makan siang.
Cemburu?
“Batin sialan”
Alex berdiri, melonggarkan dasinya yang bisa membuat nafasnya tidak teratur, bisa bisanya Sena sudah bisa membuat Alex kelimpungan.
Ingin sekali Alex mengintip apa yang dilakukan Devi dan Sena diluar sana, menguping apa saja yang mereka bicarakan. Dan mungkin saja Sena cukup terpesona dengan Alex.
Terlalu banyak yang Alex pikirkan tentang Sena, memilih untuk memanggil Devi dan mengambilkannya air dingin, mungkin air dingin bisa membuat hatinya tidak panas lagi.
“Dev”
Yang dipanggil tidak datang, Alex memilih untuk keluar dan benar jika Devi dan Sena tidak ada disana, apakah Devi mengajak Sena untuk berkeliling?
Alex berjalan, mencari dimana kedua gadis itu yang tiba tiba meninggalkannya. Hingga akhirnya dia melihat sepasang sepatu yang dia tau itu siapa, Sena.
Sena sedang memainkan handphonennya sambil berdiri, tidak ada Devi disana hanya Sena seorang. Alex berjalan menuju Sena yang sangat fokus sampai tidak mendengar langkah kaki mendekati dirinya.
“Aku tidak tau jika menjadi sekretarisku begitu longgar hingga bisa memainkan handphone di jam kerja”
Sena sontak terkejut, hampir saja handphonenya terjatuh. Melihat Alex yang kini sudah berdiri dekat dengan dirinya. Sena begitu gugup ditambah mereka hanya berdua saja.
“Ah maaf Presdir, saya sedang menunggu Devi”
“Dimana dia?”
“Mengambil dokumen”
“Dimana?”
“Saya tidak tau, dia hanya menyuruh saya untuk menunggu disini”
Sena menunduk malu tidak tau harus mengatakan dan melakukan apalagi, sedangkan Alex melihat Sena yang menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
“Berhenti”
“Eh?”
Sena melihat Alex dengan kebingungan, menunggu laki laki itu untuk mengatakan kalimat lebih panjang.
“Tidak ada, ikut aku”
Alex langsung berjalan menuju ruangannya tanpa menunggu Sena, sedangkan gadis itu hanya melongo kemudian mengikuti Alex yang sudah berjalan duluan cukup jauh ditambah langkah Alex yang panjang dan jalannya cepat membuat Sena ketinggalan jauh dibelakang.
“Presdir, apa tidak apa meninggalkan Devi?”
“Nanti aku yang urus”
Sena hanya diam mengikuti Alex menuju ruangannya.
“Duduklah”
Sena duduk dengan canggung dan Alex yang juga duduk tepat dihadapannya.
Alex diam cukup lama, melihat gadis yang kini duduk didepannya menunduk diam tidak mengatakan apapun.
“Kau tinggal dimana?”
“Brooklyn”
“Really?”
“Ya hanya saja dipinggiran kota”
“Tetap saja biaya sewanya cukup mahal disana bukan?”
“Apa hebatnya rumah warisan nenek, hanya rumah kecil disekitar apartemen kumuh”
“Lalu?”
“Lalu?”
“Iya ceritakan lagi tentangmu”
“Aku hanya lulusan dari universitas local yang kurang terkenal, hidup berdua dengan adikku yang kini sedang kuliah”
Alex menaikkan sebelah alisnya, perubahan nada dan tata bahasa Sena mulai berubah, dari ‘saya’ kini ‘aku’ dari sopan dan takut kini seperti berbincang dengan teman.
“Hanya berdua?”
“Yap, orang tuaku sudah tidak ada, hanya kami berdua”
“Dima…”
“Jangan tanya lebih jauh mengenai keluargaku Presdir, itu bukan cerita yang bagus dan bisa aku ceritakan pada siapapun”
Belum juga Alex menyelesaikan kalimatnya, Sena sudah memotong dan menolak menceritakan lebih lanjut.
“Oke, lalu apa yang sudah kau pelajari kemarin?”
“Hmm.. masih sebatas pekerjaan pribadimu”
“Mu?”
“Pribadiku?”
“Iya, seperti menjemput, mengurus dirumah, panggilan, dan lainnya yang berhubungan dengan anda”
“Anda?”
Alex tersenyum, gadis ini benar benar menarik pikirnya. Awalnya dia berfikir Sena akan seperti Devi yang begitu penakut ditambah sikap Sena awalnya masih sopan dan seperti takut tapi kini malah terkesan berani dan tidak peduli.
“Kau tau kapan Devi akan meninggalkanmu kan?”
“Iya, lima hari lagi”
“Oke jadi pelajari semua pekerjaan dia, aku tidak mau ada kesalahan, belakangan ini terlalu banyak pekerjaan jadi jangan menambah beban dengan kesalahanmu nona”
Sena diam, mengerucutkan bibirnya dan berfikir. Baru saja Devi mengatakan untuk belajar perlahan karena salahpun Alex akan mengerti tapi kini Alex malah menuntutnya untuk bekerja sempurnya dibulan pertamanya.
Tok tok
“Masuk”
Devi masuk seperti kebingungan dan melihat Sena yang duduk dan melihat dirinya.
“Sorry Dev, aku yang mengajaknya kemari”
“Alex sialan, seharusnya dia memberitahuku”
“Ah silahkan lanjutkan”
Bagaimana tidak kesal, Devi mencari kesana kemari Sena dimana, tidak mau Sena tersasar digedung yang luas ini dan hampir saja dia mengomel jika saja bukan Alex penyebabnya.
“Tidak apa, pergilah Sena, aku sudah selesai”
Sena pamitan dan pergi dari ruangan Alex, melihat Devi dengan wajah kesalnya.
“Maaf Dev seharusnya aku menunggumu”
“Tidak apa bukan kau yang salah, Alex memang suka seenaknya, aku pikir kau tersesat”
“Ayo kita lanjutkan yang tadi” tambah Devi yang diikuti oleh Sena.
Pelajaran hari ini begitu membuat otak Sena berputar, terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan ternyata ditambah dia harus berlajar dari nol tentang mengatur jadwal dan lainnya, dan jangan lupakan Alex yang terkadang suka membatalkan janji seenaknya membuat pekerjaan sekretaris bertambah banyak.
Sena cukup mengerti jika tidak mudah menjadi sekretaris Presdir, belum lagi pekerjaan pribadi mengurus Alex, tidak salah jika gaji yang ditawarkan begitu besar.
Sena pulang setelah jam mulai larut dan langit mulai gelap, tanpa berpamitan dengan Alex dan memilih langsung pulang. Besok dia harus belajar banyak lagi jadi Sena kini butuh istirahat yang cukup.
Alex bahkan tidak tau jika Sena sudah pulang, dia terlalu sibuk dengan berkas berkas pekerjaan yang harus dia koreksi. Devi masih setia menunggu Alex untuk keluar dari ruangannya dan pulang, inilah yang terkadang membuat begitu melelahkan menjadi sekretaris Alex. Ada saatnya Alex begitu semangat bekerja sampai tidak kenal lelah bahkan sampai malam pun Alex tidak peduli, jika sudah seperti itu yang Devi lakukan hanya menunggu tanpa berani menyuruh Alex untuk pulang.
“Dev”
Devi yang lelah sambil memainkan handphonenya dikejutkan dengan suara Alex, sudah selesai, pikirnya.
“Ah Presdir”
“Kita pulang”
“Baik”
“Sena sudah pulang?”
“Sudah sedari tadi Presdir, ada yang perlu saya bantu?”
“Tidak, kita pulang”
Alex melihat jam dipergelangan tangannya, tentu saja Sena sudah pulang sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tidak terasa Alex membuat Devi bekerjan lembur karena dirinya.
Alex pulang yang kemudian Devi juga sampai dirumah diantar oleh supir pribadi Alex, pekerjaan sudah selesai hari ini dan menunggu besok untuk bertemu dengan Sena lagi dan membuat gadis itu menjelaskan kenapa tidak berpamitan padanya.
Alex cukup kesal sebenarnya mengetahui Sena sudah pulang tanpa dia ketahui, lagi pula mereka berdekatan apa susahnya untuk berpamitan.
Sesampainya dirumah Sena langsung merebahkan badannya yang lelah, beruntung dia memiliki adik yang begitu rajin, masalah beberes rumah Demian masih bisa diandalkan dan terkadang adik laki lakinya itu juga bisa memasak walaupun masakan sederhana.
“Bagaimana hari ini kak, ada hal yang membuat melongo lagi”
“Hmmm entahlah tapi hari ini cukup melelahkan, banyak pekerjaan yang harus aku kuasai”
“Mengurus big bos lagi?”
“Tidak, kali ini benar benar pekerjaan sekretaris yang begitu melelahkan”
“Kau bertemu dengannya?”
“Alex? Tentu saja, dia cukup menyebalkan”
“Apakah sudah menikah?”
Sena berfikir sejenak, tidak pernah dia membayangkan hal itu bahkan saat dia kerumah Alex, Sena tidak pernah terlintas mengenai status Alex.
“Entahlah, aku tidak pernah mencari tau tapi…sepertinya belum”
“Benarkah? Laki laki semapan dia, lagi pula aku melihat wajahnya di majalah dia termasuk laki laki yang lumayan tampan”
“Dia tampan Dem sangat tampan, saat aku kerumahnya aku tidak melihat satupun barang barang yang menandakan dia sudah menikah”
“Mungkinkah orang tuanya sudah menjodohkan dia dengan gadis yang mapan, sekelas keluarga Dominic?”
“Bisa saja, kau tau keluarga mereka tidak mau rugi”
“Benar juga, wah padahal aku berharap kau bisa menikah dengannya, bukankah bagus bisa menjadi nyonya Dominic”
“Hentikan Dem, jangan terlalu banyak menonton drama dan membaca novel romansa”
“Hahaha tidak ada yang tau jalan cerita seseorang kak, kan mungkin saja”
Sena memilih untuk menghiraukan Demian yang membual cerita, Sena tidak pernah berfikir untuk menggoda atasannya hanya untuk uang, lagi pula Sena tidak pernah memikirkan pernikahan. Entahlah Sena terlalu sibuk untuk mengurus dirinya dan Demian, seperti tidak ada waktu untuk hal hal percintaan.
“Kak, menurutmu rahasia apa yang dimiliki Alex?”
Sena yang awalnya memalingkan wajahnya dari Demian kini melihat Demian dengan wajah kebingungan, menunggu Sena untuk merespon pertanyaannya.
“Aku juga memikirkan itu Dem, mungkinkah hal yang begitu penting sampai Devi terlihat takut aku menyebar luaskan, padahal aku saja pelupa mana mungkin tersebar”
“Tapi terasa aneh bukan”
“Aneh apa? Alex seorang gay?”
“Kak ini bukan hal sederhana seperti itu”
“Really? Menurutmu gay hal sederhana”
“Tidak, maksudku seseorang yang gay bukan satu atau dua orang dan seorang bos juga kebanyakan gay, tapi lihatlah dari Devi mengatakan beberapa kali dengan wajah serius berarti ini bukan hal yang sederhana”
“Lalu?”
“Apakah saat kau kerumahnya ada keluarganya?”
“Tidak, Devi bilang keluarganya tidak tinggal disana”
“Ada lagi?”
“Tidak ada, aku tidak bertanya lebih lanjut, memangnya kenapa?”
“Terlihat aneh saja, mungkin saja ada hubungannya dengan keluarganya”
Sena diam, memikirkan sebesar apa rahasia Alex sampai Devi begitu takut jika Sena membocorkannya.
“Kita lihat saja Dem”
Setelah percakapan itu Sena memilih untuk mandi lalu tidur, besok akan ada kejutan apa lagi yang menunggu dirinya.