Des Dominic

2116 Kata
Part 16 Hari ini Sena bekerja seperti biasa setelah kemarin dia menghadiri acara keluarga besar Alex. Pdahal sepulang dari acara itu Sena berniat bertemu dengan Stevan, tapi ternyata laki laki itu sedang berada di luar kota mengurus sebuah kasus. Sena masih ragu tentang sekutu yang dibicarakan Stevan, dia masih belum yakin tentang keluarga Alex.             “Selamat pagi Sena, kau terlihat baik”             “Pagi Will, moodku masih cukup baik pagi ini…sejauh ini, ada apa?”             “Hanya menyapa, tadi kau datang sendiri tidak biasanya?”             “Iya Alex sedang menemui seseorang, dia hanya ingin sendiri”             “Baguslah”             “Apa?”             “Ah tidak, selamat bekerja Sena semoga moodmu tidak berubah hehe” Sena cukup kagum dengan rekan kerjanya satu itu, laki laki yang baik yang katanya sempat ditaksir oleh Devi, wanita itu benar benar padahal kekasihnya sudah begitu baik. Sena melihat jam, sudah hampir jam makan siang dan Alex belum datang juga.             “Aku akan pergi menemui seorang teman, pergilah sendiri ke kantor dan jangan menungguku” itu yang dikatakan Alex pagi tadi di telpon. Sena tidak tau teman seperti apa yang ditemui oleh Alex. Setelah seharian dikantor bekerja sendiri Alex tidak kunjung datang, dia hanya mengirim pesan untuk pulang dan tidak menunggunya. Sena hanya melakukan apa yang Alex katakan, tidak peduli sedang melakukan apa dan dengan siapa laki laki itu. Malam sepulang bekerja Sena menemui Stevan, dia sudah kembali dari bertugas dan membuat janji untuk bertemu Sena.             “Sena” Seperti biasa Stevan terlihat tampan dan gagah ditambah dengan jaket kulit berwarna hitam, jika saja Stevan bukan teman masa kecilnya mungkin Sena sudah jatuh cinta dengannya.             “Kau tidak lelah?”             “Tidak, aku baru saja selesai makan malam dengan timku jadi maaf tidak bisa menemaimu makan”             “Tak apa aku juga akan makan dirumah bersama Demian”             “Jadi bagaimana?”             “Acaranya begitu megah dan hebat, dank au tau disana seperti perkumpulan orang orang jahat”             “Benarkah? Kau sudah menemukan sekutumu?”             “Itu yang ingin aku diskusikan, aku belum menemukan seseorang yang menurutku satu pemikiran”             “Apa tidak ada yang menarik satupun”             “Hmm sepertinya ada, satu orang yang sedikit menyebalkan dengan mulutnya yang tidak ramah, tapi entah kenapa aku merasa dia seperti ada niatan sesuatu, tapi aku belum yakin”             “Pastikan saja dulu jangan sampai malah kau terjerumus kedalam kuburanmu sendiri”             “Masih aku pastikan”             “Lalu dengan siapa saja kau mengobrol?”             “Banyak, mungkin 70% aku mengobrol dengan keluarga Alex, cuman sisanya hanya orang bermulut pedas yang  ingin sekali aku robek mulutnya”             “Bagaimana dengan Syanan?”             “Tunggu, kau mengenalnya?”             “Lihat ini” Stevan menyodorkan sebuah amplop coklat berisi kertas kertas dengan tulisan dibelakangnya.             “Disaat kau mengatakan diundang kecara keluarga Alex, aku sempat mencari tau tentang keluarganya, dan aku menemukan seseorang yang sepertinya cocok” Sena membuka lembaran lembaran itu, tidak menyangka ternyata pikirannya salah.             ‘Aku tidak menyangka dia orangnya”             “Aku ceritakan sedikit tentang keluarga Dominic, perusahaan Dominic tercipta atas ide dari laki laki bernama Des Roberto dan ide itu dikembangkan oleh Dominic, mereka cukup akrab hingga sebuah perusahan kecil tercipta, tapi kau tau rasa serah tiap manusia itu bisa meningkat disaat ada kesempatan emas, Dominic menemukan inverstor”             “Lalu?” tanya Sena dengan penasaran.             “Dominic menendang Des Roberto dan membuat perusahaan itu menjadi milikinya. Dulu perusahaan itu bernama Des Dominic lalu seiring perkembangan yang pesat berubah menjadi Dominic Corporation” Sena masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar, walaupun masih sedikit tidak mengerti.             “Des Roberto menghilang hingga saat ini, mungkin kau tau ini ulah siapa”             “Dominic tentu saja”             “Yap, keluarga Des Roberto tidak tau apa yang terjadi, hingga Dominic mengatakan jika perusahaan diwariskan kepadanya, hingga akhirnya anak bungsu mereka menemukan sebuah surat jika seseorang mengancam nyawanya, yang tidak lain adalah rekan kerjanya sendiri yaitu Dominic” Stevan menyesap kopinya perlahan sebelum melanjutkan ceritanya, sesekali dia melihat sekeliling meyakinkan jika tidak ada orang yang mengupin pembicaraan mereka, sedangkan Sena masih begitu fokus mendengarkan Stevan dan berusaha mencerna.             “Hingga anak bungsu mereka berkesimpulan jika ayahnya menghilang karena ulah Dominic, dan yahh dendam itu masih tertanam dan sang anak bungsu mencari celah untuk menghancurkan Dominic”             “Anak bungsu itu…”             “Lerian, ayah dari Syanan. Istrinya meninggal dua tahun lalu akibat kanker rahim dan kini hanya tinggal mereka berdua. Syanan tau mengenai dendam sang ayah dan dia berniat melanjutkan keinginan ayahnya untuk menghancurkan perusahaan Dominic”             “Tapi kenapa Lerian tidak mencari tau tentang keberadaan Des Roberto?”             “Dia tau Dominic memiliki kekuasaan, takut jika dia salah ambil langkah malah membuat dirinya mati sia sia tanpa melihat Dominic hancur, setidaknya Lerian masih punya Syanan yang mau membantunya”             “Tapi kemarin dia begitu menyebalkan”             “Seseorang yang baik malah bisa saja menjadi racun dalam hidupmu” Sena sempat berfikir Lisa orang yang baik karena memberinya hadiah dan menyambutnya begitu hangat, tapi benar kata Stevan jika seseorang yang baik bisa saja hanya menutupi topeng.             “Terkadang orang yang baik hanya menyembunyikan pisau dibalik badannya Sena, kepribadian Syanan memang sedikit menyebalkan. Hubungi saja dia dan katakan kau ingin bertemu”             “Secepat itu, apa tidak terlalu terburu buru”             “Terkadang yang yang terburu buru bisa menyelamatkan hidupmu, aku yakin Syanan  orang yang tepat”             “Aku sedikit ragu”             “Kau masih mau memastikannya dulu?”             “Tapi…mungkin bisa aku pastikan jika bertemu dengannya, mana nomornya” Tidak sulit bagi Stevan untuk mencari informasi tentang Syanan berserta data dirinya, tapi mungkin hanya sebatas hal umum.             “Aku akan menghubunginya besok siang”             “Semangat Sena, jika sudah ada orang dalam kau akan lebih mudah untuk melanjutkan rencanamu”             “Terimakasih Stev, kau terbaik” Sepulang dari bertemu Stevan, Sena masih cukup ragu. Bahkan ini sudah hampir pagi dan Sena belum tertidur, dia takut salah mengambil langkah tapi benar kata Stevan jika dia harus segera mencari celah untuk melanjutkan rencananya. Esoknya Sena bekerja seperti biasa, hari ini menjemput Alex karena laki laki itu sudah akan kembali bekerja, masih belum terjadi obrolan penting dan Sena menunggu Alex mengatakan perihal perginya kemarin.             “Lusa kumpulkan pemegang saham”             “Apakah akan ada rapat penting?” Sena melihat Alex yang tidak berani menatapnya, membuang nafas berat dan kemudian menjawab.             “Besok David akan mulai bekerja diperusahaan”             “Benarkah, posisi apa yang kau berikan?” Alex terdiam, berfikir sejenak dengan dahi berkerut.             “Aku terpaksa memberhentikan wakil direktur”             “Apa!! Tidak bisa kau melakukan itu Tuan, kau tau pekerjaannya selama ini begitu baik”               “Aku tidak punya pilihan lain Sena, aku tidak mungkin memberinya posisi karyawan biasa”             “Lakukan saja, apa yang salah”             “Ini tidak sesederhana itu kau tau”             “Lalu bagaimana kau tidak merusak nama perusahaan dengan memecat wakil direktur”             “Aku akan memberinya kompensasi yang besar”             “Kau pikir dengan uang bisa menyelesaikan semuanya”                    “Stop Sena, aku sudah begitu pusing memikirkan ini dan kau masih ingin berdebat?” Sena berhenti, wajah Alex memerah terlihat marah, Sena juga tidak habis pikir Alex mengambil keputusan yang sangat beresiko.             “Aku mengikutimu Presdir” Sena terdiam, membenarkan posisi duduknya di kursi belakang kemudi, sebentar lagi mobil akan sampai di kantor. Alex melihat Sena yang mengalihkan pandangannya sedikit merasa bersalah membentak gadis itu, Sena tidak tau apa apa hanya saja Alex sedang lelah dan setres memikirkan masalahnya. Sesampainya di kantor mereka saling diam, tidak berani mengatakan hal lainnya dan hanya sebatas pekerjaan. Alex tau dirinya salah menyikapi hal ini, hanya saja Sena masih terlalu dini untuk mengerti permasalahan dirinya. Sena juga merasa dirinya keterlaluan, tidak seharusnya dia malah menghakimi Alex padahal tidak tau seberapa berat beban yang dibawanya. Sena akhirnya mengalah, meminta maaf dan berharap situasi kembali normal.             “Maaf Presdir” Alex yang tadinya sedang membaca laporan, kini melihat Sena yang hanya tertunduk leso.             “Lupakan saja, pesankan aku makan siang aku akan makan disini”             “Kau tidak mau makan di cafeteria depan, aku yang traktir”             “Pekerjaanku banyak, pesankan saja aku, kau makanlah sendiri gunakan kartu kredit perusahaan” Sena cemberut, mungkin Alex memang sedang banyak pekerjaan. Disaat dia ingin memesan makanan, tidak sengaja matanya melihat nomor kontak bernama Syanan. “Hubungi saja dia dan katakan kau ingin bertemu” Sena teringat kata kata Stevan, dia seharusnya menghubungi Syanan dan membuat janji bertemu. Setelah memesan makan siang untuk Alex, Sena mencoba untuk menghubungi Syanan untuk bertemu. Dalam telpon Syanan terlihat tau jika Sena akan menelpon, membuat janji jika besok Syanan bisa bertemu dengan Sena. Setidaknya Sena cukup lega masih ada satu hari untuk berfikir apa yang harus mereka obrolkan. Setelah seharian bekerja kini jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, yang artinya dia harus segera pulang, Alex tidak keluar dari ruangannya barang sedetik, mungkin dia memikirkan tentang pemecatan wakil direktur dan rapat pemegang saham lusa nanti.             “Kau mau makan malam bersama?” Yang dibicarakan tiba tiba muncul, Alex muncul dengan wajah lelahnya, melinggarkan dasi dan jasnya dia buka hanya menyisahkan kemeja putih didalamnya, rabutnya acak acakan terlihat sekali jika Alex lelah bekerja.             “Pulanglah, masih ada hari esok kau terlihat sangat lelah”             “Ya, pekerjaan begitu menumpuk, maaf jika aku membuat keributan hari ini” Sena tersenyum, mood Alex sedang buruk ternyata.             “Tak apa aku juga salah, ayo kita pulang” Akhirnya mereka berdua memilih untuk pulang kerumah masing masing, esok masih ada hari yang akan lebih sibuk dan menguras pikiran. *** Hari ini Sena datang bersama Alex dan Thomas, mereka berniat untuk membicarakan perihal pemberhentian wakil direktur. Sena melihat Alex begitu gugup, benar saja Alex juga tidak mau wakil direktur dipecat begitu saja hanya demi kepentingan pribadi.             “Kau sudah menyiapkan kompensasinya”             “Sudah, tetap saja tidak akan sebanding dengan pekerjaannya selama ini”             “Kita harus selalu siap dalam kondisi seperti ini, kau presdirnya bagaimana mungkin tidak bisa memecat seseorang hanya karena pekerjaannya yang bagus” Alex memilih diam, jika disuruh berdebat mungkin dia akan membahas mengenai kontak kerja diperusahaan Dominic yang akan mensejahterakan karyawan terlebih jika pekerjaannya baik. Sena hanya diam duduk sebelah supir mendengarkan mereka berdua dibelakang, Sena tidak tau apakah Alex meminta Thomas untuk membantunya berbicara kepada wakil direktur atau memang keinginan Thomas sendiri yang ingin memecatnya dengan tangannya sendiri. Mereka sampai dan langsung menuju ruangan wakil direktur, Sena sebenarnya tidak berniat untuk ikut kedalam menyaksikan hal yang menyedihkan itu, tapi Alex memaksanya.             “Bukankah perusahaan begitu menjunjung tinggi kesejahteraan karyawan dan sudah diatur dalam kontrak mengenai pemecatan?” Suasana begitu memanas, perdebatan yang tiada henti diantara mereka dan Sena hanya duduk melihat.             “Saya rasa anda sudah cukup baik dan cukup lama berkerja disini, bukankah waktunya anak muda untuk berkerja mencari pengalaman yang sama Tuan Kayl”             “Presdir Thomas, hal ini tetap saja tidak bisa dibiarkan, kau tau aku sudah berpuluh tahun disini dan aku melakukan pekerjaan dengan baik, kalian ingin memecatku untuk memasukkan keluarga kalian lagi bukan”             “Jaga omonganmu tuan Kayl, aku sudah cukup sabar denganmu, lagi pula kompensasinya cukup untuk biaya hidup istri dan anakmu 20 tahun kedepan”             “Cih, kau kira semua hal bisa kau beli dengan uang, keluar kalian dari ruangku, aku masih punya kontrak yang bisa menuntut kalian berdua” Thomas menyerah dan memilih untuk keluar dari ruangan wakil direktur, Alex juga terlihat semakin pusing.             “Besok paksa dia untuk angkat kaki, lakukan sendiri karena papa akan keluar kota, bereskan dengan cepat” Alex hanya mengangguk, kemudian Thomas pergi dengan anak buahnya. Sena melihat Alex begitu iba, laki laki itu terlihat semakin berat bebannya.             “Aku pergi dulu, jika aku tidak kembali pulanglah jika sudah waktunya”             “Kau butuh aku temani?”             “Tak apa, pergilang keruangamu” Alex langsung meninggalkan Sena, dia pergi dan ingin menjernihkan pikirannya. Bebannya terlalu berat untuk dia bawa sendiri, belum lagi besok adalah rapat pemegang saham. Alex tau dia adalah orang yang akan disalahkan dalam hal ini.             “Arghh” Sepertinya minggu minggu ini akan menjadi minggu yang berat bagi Alex, selain pekerjaan yang menumpuk masalah keluarganya juga ikut andil dalam pikiran Alex. Bahkan dia merasa bersalah sudah membuat Sena yang baru saja bekerja melihat sesuatu yang buruk, bahkan mungkin Sena sudah melihat Alex sebagai laki laki yang jahat. Sena berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, sebentar lagi jam makan siang yang artinya dia akan bertemu dengan Syanan setelah kemarin mereka berjanji untuk bertemu di jam makan siang. Tapi dilain hal, Sena mengkhawatirkan Alex yang entah sekarang sedang dimana dan melakukan apa. Kejadian pagi ini cukup membuat dirinya terkejut, mungkin benar jika dia harus segera buru buru mencari sekutu untuk membicarakan masalah ini. Tapi bagaimana jika Syanan tidak berkenan untuk bekerja sama dengan dirinya?      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN