Bertemu Max

2156 Kata
Part 10 “Sena tunggu”             “Tuan David?” Sena melihat David yang berlari kearahnya tersenyum manis kemudian memberikan sebuah handphone.             “Boleh minta nomormu” ucap David sambil menyerahkan handphone miliknya.             “Ahh.. anu…handphoneku mati dan aku tidah hafal, mungkin anda bisa memintanya dari Tuan Alex”             “Kau tidak mudah ternyata, baiklah hati hati” Sena tersneyum kemudian pergi meninggalkan David. David tau jika Alex menyayangi sekretaris barunya itu melebihi Devi, dan dia berencana menjadikan Sena sekretarisnya nanti saat dia sudah bekerja di perusahaan. David yakin jika dirinya tetap akan bekerja disana, mau bagaimanapun Alex menolak dia tidak bisa menolak Thomas. Dari atas Alex melihat apa yang baru saja David lakukan, dan yang dia pikirkan pasti David meminta nomor Sena, dilihat dari dia menyerahkan handphoennya. Senyum Alex merekah saat dia tau Sena tidak memberi nomornya, lihat saja bahkan Sena tidak menyentuh handphone mewah milik David. Alex sepertinya harus lebih melindungi Sena, dia tau jika adik tirinya itu menginginkan Sena karena gadis menarik itu sangat ingin ditaklukkan laki laki manapun. Sena pulang kerumah, dirumah juga dia sendirian. Demian kuliah sampai sore jadi mungkin dia akan tidur karena benar kata Alex jika dirinya kurang tidur. Apa Alex baik baik saja, batinnya. Tubuhnya sudah berbaring tapi pikirannya kemana mana, sesekali dia mengecek handphonnya yang mungkin saja Alex mau dijemput, tapi tidak ada pesan satupun dari Alex. Sena sempat berfikir untuk menanyakan pada Devi tapi dia urungkan, tidak mungkin dia merepotkan Devi saat dia sudah berhenti bekerja ditambah sampai kapan Sena tidak bisa melakukannya sendiri malah menggantungkan pada orang lain.             “Sudahlah aku tidur saja” *** Esoknya Sena menjemput Alex pagi pagi sekali, dia menghubungi pak Billy untuk segera menjemputnya padahal masih jam enam pagi. Bahkan semalam dia baru bisa tidur pukul satu lewat tengah malam gara gara memikirkan Alex apakah baik baik saja, laki laki itu bahkan tidak memberinya kabar apapun. Demian sempat mengira jika Sena membolos, karena tumben melihat kakaknya sudah dirumah saat dia baru pulang dari kuliah.             “Nona Sena kita sudah sampai” Padahal Sena hanya butuh melihat Alex saja dan dia harus berangkat sepagi ini untuk melihat kondisi Alex. Pak Billy bahkan masih belum siap siap tapi Sena sudah memintanya untuk menjemputnya.             “Tuan Alex masih tidur” Itu yang dikatakan pak Billy saat Sena memintanya untuk menjemput dirinya.             “Terimakasih pak Billy” Sena langsung turun untuk masuk kembali kerumah megah itu, dilihatnya para pelayan dirumah begitu sibuk membersihkan rumah.             “Sena, kau datang pagi pagi”             “Ah nyonya Lisa maaf datang sepagi ini, ada hal penting yang harus saya sampaikan pada tuan Alex” Sena berbohong demi bisa bertemu Alex, iya tidak mungkin bagi dirinya mengatakan jujur jika dirinya mengkhawatirkan Alex dirumahnya sendiri.             “Masuklah, Alex baru saja bangun dan selesai sarapan, kau mau sarapan Sena biar aku suruh pelayan menyiapkannya”             “Tidak perlu nyonya saya sudah sarapan”             “Baiklah, masuklah langsung” Sena buru buru masuk, mencari kamar Alex dan melihat laki laki itu. Beruntung dia masih ingat jalan menuju kamar Alex.             “Sena?”             “Kau baik baik saja?”             “Ini pagi sek…”             “Apa ada yang tidak beres?” Lihatlah sekarang Sena malah melihat badan Alex secara keseluruhan seperti Alex sedang terluka.             “Kau memfitnah keluargaku menyiksaku?”             “Ck jawab saja”             “Jadi kau pagi pagi buta kesini hanya ingin mengecek kondisiku hahaha” Lihatlah sekarang yang di khawatirkan malah tertawa karena Sena, sedangkan Sena menatap sinis Alex yang masih tertawa.             “Kau mau aku yang memukulmu?”             “Wah wah okeoke, aku baik baik saja nona untuk apa kau khawatir disaat aku dirumahku sendiri”             “Entahlah, keluargamu tidak seperti keluarga normal” Alex menaikkan sebelah alisnya, melihat Sena yang kini berjalan dan duduk dikasurnya.             “Kau duduk disana dengan santai nona, kau tidak lihat sekarang kau dikamar laki laki dewasa?” Alex berjalan perlahan mendekati Sena, melihat lekat lekat gadis yang kini tidak takut sama sekali.             “Lakukan saja, aku tau kau tidak berani”             “Benarkah?” Alex semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Sena, bahkan Sena bisa mencium aroma pasta gigi yang dipakai Alex. Jangan tanya apakah Sena sedang gemetaran atau tidak, dia hanya berusaha menutupi itu agar tidak terlihat oleh Alex.             “Kau tidak mau bekerja?”             “Nanti setelah kita menyelesaikan yang ini”             “Kau mau mati”             “Hahaha lihatlah wajahmu bahkan memerah masih tidak mau jujur, apa barusan aku mendengar sebuah keberanian?” goda Alex.             “Kau berisik, ayo cepat ke kantor, pekerjaanku sudah menumpuk”             “Pekerjaan yang mana, bahkan aku tidak ada menyuruhmu mengerjalan laporan dan semacamnya”             “Kau lupa ada janji dengan tuan Max, mengatur jadwal dengan dirinya sangat sulit kau malah sakit”             “Wah lihatlah sekretarisku bahkan sangat berani mengaturku” Tanpa Alex sadari kini dirinya sudah berubah, tidak lagi dengan wajah dan sikap yang dingin. Karena Sena tentu saja, dia belum menyadari jika Sena membawa perubahan besar padanya.             “Aku tunggu kau dibawah tuan” Sena memilih turun meninggalkan Alex. Sena sudah melihat Thomas, David dan Lisa sedang duduk menunggu Alex untuk turun.             “Dimana Alex Sena?” tanya Lisa.             “Dia masih siap siap nyonya” Alex turun melihat keluarganya sedang duduk menunggu dirinya, wajah Alex yang sebelumnya ceria kini berubah lagi menjadi wajah penuh amarah.             “Aku akan kembali ke kantor” Alex memilih untuk langsung pergi tanpa pamitan dengan sopan pada keluarganya, hanya sepatah kata itu lalu dia langsung menujy mobil. Sena berdiri di sana masih tidak percaya Alex pergi begitu saja, Sena gelagapan kemudian menunduk lalu pergi menyusul Alex.             “Kau lama sekali” Sena memutar bola matanya, ingin sekali dia memukul Alex bertubi tubi, tapi dia tau Alex memang tidak akrab dengan keluarganya, sepertinya Sena mengomel juga tidak bagus mengingat dia hanya sekretaris dan ikut campur kehidupan pribadi keluarga atasannya.             “Jadi?”             “Apa?”             “Jadwalku Sena”             “Ah, pagi ini anda….” Sena panjang lebar menjelaskan jadwal Alex, sedangkan Alex tidak mendengarkan malah mengingat apa yang terjadi semalam. Semalam bukan tidak ingin dia menelphone Sena, hanya saja membuat gadis itu masuk kedalam masalah keluarganya sangat tidak bagus. Beruntung Sena menjemputnya pagi pagi sekali, membuatnya segera lepas dari keluarga menyebalkannya itu.             “Ada yang perlu saya ganti Presdir?”             “A..anu tidak, itu cukup” Papanya terlalu berkuasa bahkan masih mengendalikan hidup Alex yang membuat Alex tidak bisa melakukan apapun, orang lain tidak bisa melihat tali di leher Alex yang dikendalikan oleh Thomas. Alex memejamkan matanya sekejap, melihat hari begitu cerah padahal beban dalam otaknya seperti ada peperangan.             “Tuan Max mengatakan untuk bertemu di jam makan siang, untuk tempatnya apakah bebas saya tentukan Presdir?”             “Iya tentukan saja terserahmu, lalu hubungi dia”             “Baik” Mereka sampai dikantor dan bekerja seperti biasa, benar saja pekerjaan Alex menumpuk karena kemarin dia tidak kekantor, hal ini juga berdampak pada pekerjaan Sena. Sena hanya menarik nafas, melihat tumpukan dokumen yang harus dia buatkan laporan untuk Alex, bahkan belum sebulan dia bekerja disini sudah ingin rasanya menulis surat pengunduran diri Jam berlalu dan jam makan siangpun datang, kali ini makan siangnya tidak akan puas karena harus makan dalam keadaan bekerja, jika saja bertemu dengan Max semudah seperti client yang lain mungkin Sena sudah mengatur jadwal dijam selain jam makan siang.             “Presdir, saatnya makan siang dan bertemu dengan tuan Max” Alex mengangguk kemudian mengambil barang barangnya, terlihat wajahnya begitu lelah setelah setengah hari dia hanya bergelut dengan dokumen dokumen sialan itu. Mereka dalam perjalanan menuju restoran yang sebelumnya sudah Sena pesan dan sudah dia beritahukan pada Max, di dalam mobil mereka berdua hanya diam terlihat jika Alex benar benar lelah. Akhirnya mereka sampai, dan ternyata Max datang lebih dahulu bersama sekretarisnya.             “Halo tuan Max, maaf membuatmu menunggu”             “Tak apa aku juga baru bertemu dengan client disini, tepat sekali sekretarismu memesan tempat disini”             “Halo tuan Max” sapa Sena dengan senyum dan duduk bersebelahan dengan Alex.             “Kau terlihat lelah tuan Alex, apakah pekerjaanmu begitu menumpuk?” tanya Max dengan nada bercanda.             “Yah kau tau tidak mudah menjadi Presdir”             “Hahaha apa kau mengejekku” Sena hanya terdiam melihat tingakh mereka berdua, Max begitu tampan dengan setelan jas berwarna navy, kemeja putih, dasi kupu kupu dan rambut coklatnya menambah ketampanannya. Laki laki yang bisa mengatur penampilan sebaik ini membuat Sena penasaran siapa gadis yang berada disampingnya kini.             “Aku belum berpamitan dengan Devi dan tiba tiba dia sudah digantikan olehmu Sena”             “Ya dia pergi begitu cepat, perutnya sudah hampir membesar Max dan tidak mungkin aku mengurungnya diperusahaanku terus”             “Sena jika kau merasa terkekang bekerja disamping Alex aku membuka pintu untuk menerimamu disampingku haha” canda Max yang membuat Sena memerah. Jika disuruh pilih mungkin detik itu juga Sena akan berhenti bekerja di perusahaan Alex dan langsung bekerja disamping Max, tapi lagi dia tidak bodoh dengan menganggap candaan Max adalah keseriusan.             “Dia milikku Max, jangan bercanda”             “Hahaha…kita bahas proyeknya” Mereka membahas proyek dengan serius, sesekali Sena juga mencatat hal penting yang dikatakan mereka berdua. Sena melihat Tio yang dia kenal sebagai sekretaris Max juga sama dengan dirinya, begitu serius mendengarkan Max dan Alex berdiskusi. mereka makan ditengah tengah diskusi, tidak mau membuang waktu dengan makan siang jadi mereka makan sambil berbicara.             “Baiklah Alex, semoga lancar dan senang bekerja sama dengamu lagi”             “Yap, aku tunggu kau diperusahaan untuk tanda tangan kontraknya”             “Baiklah, nanti Tio akan mengabari Sena untuk jadwalnya” Mereka menyelesaikan perbincangan, Max dan Tio memilih untuk pergi duluan karena banyak pekerjaan, sedangkan Sena dan Alex masih disana.             “Kau mau makan lagi Sena?”             “Tidak, aku sudah kenyang”             “Baiklah, kita kembali kekantor” Dalam perjalanan kembali ke kantor Alex terlihat kesal, wajahnya tidak bisa ditutupi dari Sena.             “Kau kenapa?”             “Max terkadang menyebalkan, aku dari dulu tidak menyukainya, jika saja bukan karena kerjasama yang menguntungkan mungkin aku sudah membencinya dari dulu”          “Hey aku kira kalian teman dekat”             “Tidak terimakasih, dia selalu menyebalkan”             “Ck ck ck kau hanya memasang senyum paslu ternyata, apa karena dia menggodamu ingin membawaku?”             “Tidak hanya itu, dari dulu dia memang menyebalkan, selalu ingin menjadi nomor satu”             “Ahhh kau iri”             “Aku tidak iri Sena” Kini wajah kesal Alex bertambah kesal setelah mengetahui Sena malah membela Max.             “Kau iri tuan jika membenci orang yang diatasmu”             “Dia tidak diatasku dan tidak akan pernah diatasku Sena, berhenti membuatku kesal”             “Aku? Aku bahkan tidak melakukan apapun” Alex melihat Sena tajam, menatap gadis itu dengan wajah polosnya. Alex mendekatkan wajahnya sangat dekat, semakin dekat, bahkan dia kini bisa mencium aroma jus strawberry yang barusan Sena minum.             “A..a..apa yang kau lakukan” Sena gugup, bagaimana mungkin Alex melakukan hal ini dengan tiba tiba, bahkan pak Billy yang melihat mereka hampir saja tidak fokus menyetir.             “Sepertinya tadi pagi kita menunda sesuatu Sena”             “A..apa maksudmu, menjauh” Sena memalingkan wajahnya, Alex begitu dekat dengan wajahnya. Setelah Alex melihat wajah Sena merona merah, dia mundur dan menutup hidungnya.             “Kau pasti lupa menggosok gigimu nona” Alex masih menutup hidungnya dan Sena langsung menatapnya tajam, wajah meronanya kini terganti dengan emosi.             “Alex kau benar benar keterlalu, aku akan memukulmu” Sena memukul Alex bertubi tubi dan Alex berusaha untuk melindungi dirinya sambil tertawa melihat tingkah Sena.             “Kau pasti berfikir aku akan menciummu, setidaknya gosok dulu gigimu hahahaha”             “Alex menyebalkan” Sena masih memukul Alex tanpa ampun, bahkan mobil hampir kehilangan arah saat mereka semakin heboh, pak Billy hanya menghembuskan nafasnya dan berusaha untuk melajukan mobil dengan kondusif. Sena tidak habis fikir Alex akan mengerjainya, bisa bisanya Alex melakukan hal itu pada Sena saat mereka berdua sama sama lelah.             “Sena stop itu sakit”             “Aku tidak akan mengampunimu”             “Aw, aku hanya bercanda, mulutmu tidak bau hanya saja aku hampir muntah hahaha”             “Alex menyebalkan terima ini” Sena terus memukul Alex tanpa ampun, sampai akhirnya Alex mencengkram bahu Sena dan menatap gadis itu yang kini juga balik menatapnya. Sena berhenti memukul Alex, melihat kini laki laki yang kini berada dibawahnya, mencengkram pelan bahunya. Mereka terdiam beberapa detik, Alex tersenyum manis.             “Perlu aku belikan pasta gigi?”             “Alex menyebalkan” Alex benar benar menyebalkan, kini dia mendapatkan pukulan dari Sena lebih keras lagi.             “Hey kau wanita atau laki laki, pukulanmu seperti petinju hahaha”             “Diam kau, aku tidak akan mengampunimu” Mobil sudah berhenti beberapa menit yang lalu, tapi mereka berdua masih asik sendiri.             “Ekhem” Pak Billy sedari tadi mengatakan jika sudah sampai, tapi mereka masih terus bergurau.             “Ekhem” kini suara pak Billy semakin nyaring.             “Kita sudah sampi” akhirnya mereka berdua mendengar. Sena melihat keluar, diluar beberapa orang melihat kearahnya dengan tanda tanya. Benar saja mobil dalam keadaan berhenti dan mereka masih bergurau yang mungkin membuat mobil sedikit bergoyang.             “Ekhem” Sena merapikan penampilannya begitupun dengan Alex, kemudian Sena turun dan membukakan pintu untuk Alex. Orang orang masih melihat mereka berdua dengan tatapan aneh, Sena berusaha merapikan rambut dan bajunya agar terlihat rapi.             “Alex bodoh, bisa bisanya dia melakukan itu dan membuat semua orang berfikir yang tidak tidak” batin Sena.             “Hey aku bertaruh mereka semua pasti berfikir kita sedang melakukan…” bisik Alex.             “Apa, jangan bercanda Presdir” Sena memotong pembicaraan Alex dan member kode dengan matanya seakan menyuruh laki laki itu untuk berjalan. Alex hanya tersenyum kemudian masuk kedalam kantornya.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN