Rencana Pembalasan

2264 Kata
Part 11 Hari ini Sena begitu sibuk mengatur ulang jadwal Alex setelah laki laki itu mengatakan jika besok aka nada acara keluarga. Lagi? Pikir Sena. Sena terus terusan megutuk keluarga Dominic yang sesuka hati membuat janji mendadak, kini lihatlah Sena malah sibuk untuk mengatur ulang jadwal Alex yang sangat full untuk besok. Ditambah besok Alex ada pertemuan penting yang membuat Sena takut untuk menghubungi mereka dan mengatakan pertemuan di lain hari.             “Bagaimana jika mereka malah menolak untuk bertemu karena membatalkan sepihak?” Kepala Sena hampir pecah memikirkan alasan apa yang bisa mereka terima, Sena tau jika perusahaan Dominic memiliki kuasa tapi beberapa perusahaan ada yang lebih berkuasa diatas Dominic corporation. Alex sama sibuknya, dokumen untuk besok harus dia kerjakan ulang. Hal seperti ini memang sering terjadi, keluarganya sering meminta bertemu dengan tiba tiba tanpa janji sebelumnya. Alex hanya bisa mengiyakan dan tidak mungkin bagi dirinya menolak pertemuan keluarganya. Alex menghembuskan nafasnya berat, kepalanya sama ingin meledaknya bahkan dokumen itu belum dia sentuh sedikitpun dan masih berusaha menelpon client penting yang tidak mungkin dia serahkan pada sekretaris. Alex mengintip Sena yang sama sibuknya dengan dirinya, Alex merasa bersalah membuat gadis itu melakukan pekerjaannya ulang. Mungkin akan sedikit mudah bagi Devi yang sudah berpengalaman dan tidak membuat Alex merasa bersalah sedikitpun. Jika dipikir pikir Alex begitu jahat dengan Devi yang tidak memperdulikannya disaat dulu seperti ini.             “Sena, kau tidak makan”             “Ah Presdir…” Sena melihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang yang artinya jam makan siang sudah dari tadi.             “Pergilah makan”             “Saya akan pergi setelah menyelesaikan ini” Alex mendekati Sena, melihat tumpukan dokumen dimeja kerjanya yang begitu berantakan.             “Pergilah Sena selagi aku mengatakannya baik baik, pekerjaanmu tidak akan selesai sampai malam nanti. Makanlah dulu saat kau kembali bungkuskan aku makan siang”             “Baik Presdir, saya akan makan siang dulu” Sena mengalah, memang benar kata Alex pekerjaannya sangat banyak dan tidak mungkin selesai dalam beberapa menit. Sena menuju cafeteria kesukaannya, membeli dua makanan dan membungkusnya, mungkin makan bersama Alex lebih efektiv. Dua sandwich dan dua minuman cukup untuk makan siang, untuk saat ini Sena tidak ingin makanan yang terlalu berat yang malah membuat dirinya kekenyangan dan tidak fokus bekerja.             “Presdir” Alex melihat Sena yang berdiri dipintu dengan bungkusan makanan ditangannya.             “Kau sudah selesai?” Sena masuk tanpa ijin Alex, meletakkan bungkusan makanan dan menatanya di meja. Beruntung ruangan Alex begitu luas hingga ada sofa untuk santai atau bertemu client.             “Kemari” Alex berjalan mendekati Sena, duduk didepan gadis itu yang masih sibuk mengeluarkan makanan.             “Kau bungkus juga?”             “Hm aku sedikit malas makan disana, makanlah” Sena memberikan satu sandwich pada Alex dan laki laki itu menerimanya, melihat roti isi yang begitu menggiurkan itu.             “Kau hanya makan ini Sena?”             “Aku tidak mau makan terlalu kenyang”             “Apa kau sudah mengatur jadwal…” Sena menyentuh tangan Alex yang kemudian membuat laki laki itu menghentikan kalimatnya.             “Makanlah tanpa membahas pekerjaan, tidak butuh waktu lama setelah ini kau akan bekerja lagi” Alex tersenyum, Sena benar jika membahas pekerjaan ditengah makan akan membuat kurang nafsu makan. Mereka makan dalam diam, hanya butuh beberapa menit dan makanan habis tak tersisa.             “Sebenarnya aku masih lapar, tapi aku tidak mau membuat perutku kekenyangan dan malah mengantuk”             “Sepulang kerja aku akan membelikanmu makanan enak”             “Tidak perlu, aku sudah ada janji dengan adikku”             “Sayang sekali, lain kali tak apa” Alex berdiri dan menuju meja kerjanya lagi, melanjutkan pekerjaannya yang begitu menumpuk. Sena hanya melihat Alex dan menghembuskan nafas berat, melihat laki laki itu yang kini fokus pada kertas kertas yang sebentar lagi akan dibuang karena tidak diperlukan lagi. Sena melihat sekeliling ruangan Alex, bukan sekali dia masuk ruangan megah ini hanya saja tetap saja Sena merasa takjub dengan ruangan yang begitu besar tapi hanya ada satu laki laki saja didalamnya.             “Aku akan kembali bekerja”             “Hmm baiklah” jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya pada pekerjaannya. Sena melangkah keluar dan melanjutkan pekerjaannya juga. Sena masih ingat beberapa jam yang lalu, paman Alex menelvonnya dan mengatakan jika Alex harus datang di acara keluarganya besok pagi. Bahkan Sena tidak tau kapan laki laki paruh baya itu meminta nomornya dari Devi.             “Halo Sena, senang akhirnya bisa menelvonemu, aku Lerian paman Alex. Aku menelvone untuk mengatakan jika besok keluarga Dominic akan berkumpul di vila Santa Polo”             “A..ah halo tuan Lerian senang kau mengabariku, apa perlu terponenya saya teruskan pada Alex?”             “Tidak perlu, cukup katakan besok keluarga akan berkumpul di vila Santa Polo dipagi hari”             “Baik tuan Lerian, akan saya sampaikan”             “Maaf tiba tiba menelvonemu Sena, beruntung aku sempat meminta nomormu pada Devi”             “Tidak apa Tuan Lerian saya senang anda memberi kabar”             “Baiklah, aku hanya ingin mengatakan itu” Setelah itu telephone terhenti, Sena tidak langsung mengatakan pada Alex malah melihat handphoennya. Kenapa paman Alex malah mengabarinya bukan langsung mengatakan pada Alex, dan Sena berfikir mungkin untuk konfirmasi jadwal Alex yang begitu padat ditambah takut mengganggu Alex yang sedang sibuk. Lalu, kenapa pamannya yang memberi kabar bukan Thomas. Sena memilih untuk tidak memikirkannya lagi, mungkin ada banyak alasan yang membuat paman Alex menelphonnya dan kini dia harus memberitahu Alex.             “Tuan Lerian” Itu yang dikatakan Sena saat Alex bertanya siapa yang memberi kabar mengenai pertemuan keluarga. Mendengar nama Lerian membuat Alex tersenyum kecil.             “Baiklah, atur ulang jadwalku besok dan temani aku besok untuk pertemuan keluarga”             “Aku, ikut?”             “Tentu saja, kau mau membolos kerja”             “Bukan begitu, aku orang asing disana”             “Tidak perlu khawatir, disana akan banyak orang asing selain dirimu Sena, lagi pula kau hanya perlu duduk dan makan” Sena ingat kata kata itu pernah Alex ucapkan saat bertemu keluarganya, dan yang Sena lakukan bukan duduk dan makan tapi ditambah emosi dan banyak pertanyaan yang timbul.             “Jadwal besok perlu saya atur ulang untuk semua pertemuan?”             “Tentu, pertemuan keluarga tidak akan sebentar”             “Baik Presdir” Sena membayangkan bagaimana menjadi Devi yang bekerja bertahun tahun yang mungkin sudah menjadi bagian dari keluarga Alex. Bertahan dari keluarga Alex yang bisa dibilang cukup menguras emosi. Besok Sena akan menuju vila Santa Polo yang dimana vila itu adalah vila termegah dinegara ini, vila dengan harga perharinya bisa mencapai puluhan ribu dolar, membayangkannya saja membuat Sena berfikir menggunakan uang sebanyak itu untuk membeli rumah dan keperluan selama sepuluh tahun. Keluarga Dominic benar benar kaya raya, tanpa berfikir dua kali menyewa tempat elit itu hanya untuk acara keluarga. Bukankah rumah Alex sudah begitu megah dan besar dan mungkin bisa menampung puluhan orang didalamnya. Sena tau keluarga Dominic tidak mungkin menggunakan fasilitas seadanya dengan kondisi keuangan yang tidak akan pernah habis. Sena melanjutkan pekerjaannya setelah melamun karena Lerian menephone. Pekerjaannya harus selesai hari ini jika tidak Sena harus lembur dan tidak bisa pergi dengan Demian. Sena sudah berjanji akan pergi makan malam dengan adiknya itu, Demian mendapat nilai yang memuaskan dan keinginannya hanya makan makanan seafood kesukaannya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore yang artinya seharusnya Sena sudah pulang bekerja, pekerjaannya sebentar lagi selesai sedangkan Alex sudah selesai beberapa menit yang lalu. Alex kini duduk disebelah Sena yang sedang sibuk dengan komputernya, dan laki laki itu malah bermain game dari handphoennya.             “Presdir, saya akan menemui anda diruangan anda, jadi tunggu saja disana”             “Kau mengusirku, Sena?”             “Oh ayolah, aku tidak bisa konsentrasi jika kau disini dengan game mu itu”             “Gameku atau karena aku disebelahmu” Alex melihat Sena dengan tatapan jahil, sedangkan yang ditatap malah memukul Alex dengan tumpukan kertas.             “Pergi sana, aku tidak mau pekerjaanku tidak selesai karna dirimu”             “Aku hanya duduk disebelahmu Sena dan tidak melakukan apa apa”             “Game mu berisik tuan”             “Kerjakan saja kau banyak alasan” Lagi lagi Sena menyerah dengan sikap Alex yang begitu menyebalkan, mengabaikan laki laki itu dan menyelesaikan pekerjannya. Mereka pulang tepat pukul enam sore, kini Sena sudah hampir sampai dirumahnya. Alex sempat mengatakan besok untuk datang lebih awal, mereka harus kebutik mencari pakaian yang tepat untuk Sena kenakan. Sena tidak menolak, lagi pula pakaiannya memang kurang layak digunakan untuk bertemu keluarga besar Alex. Kini sudah berapa banyak pakaian yang Alex berikan untuk dirinya, Sena tidak rugi memang hanya saja terkadang dia merasa kurang nyaman menerima barang barang dari Alex, walaupun laki laki itu mengatakan jika itu akomodasi perusahaan.             “Besok tidak perlu masak sarapan untukku Dem, aku akan pergi bekerja lebih pagi” Kini Sena dan Demian sedang makan makan bersama, dirumah makan sederhana dengan menu yang cukup beragam dan enak, dan jangan lupa dengan harga yang tidak membuat dompet Sena menangis.             “Kau akan bekerja lebih pagi lagi kak?”             “Aku akan menemani Alex ke pertemuan keluarga besarnya”             “Wah kau akan bertemu keluarga besar Dominic”             “Hmm”             “Dimana?”             “Santa Polo”             “Uhuk” Demian tersedak setelah mendengar nama itu, bukan ha lasing nama Santa Polo sudah terkenal dimana mana.             “Vila Santa Polo”             “Iyap” angguk Sena.             “Wah wah keluarga Dominic benar benar kaya, jangan lupa untuk foto kak aku ingin memamerkannya pada teman temanku”             “Berhenti melakukan itu Dem”             “Hahaha aku hanya iseng saja”             “Menurutmu bagaiaman keluarganya Dem?” Demian berhenti menyuapkan makanan, melihat Sena dengan serius.             “Entahlah, tapi aku yakin salah satu keluarga Dominic pasti ada yang normal”             “Maksudmu keluarga Alex tidak nomal, dasar”             “Bukan begitu, saat mendengar ceritamu keluarga Alex sedikit menyebalkan dan membuat emosi, mungkin saja keluarganya yang lain ada yang lebih parah atau ada yang baik, itu mungkin saja terjadi kak”             “Kita lihat saja besok” Sena dan Demian menyelesaikan makan malam mereka lalu pulang, Sena tidak mau terlambat besok. *** Hari ini Sena datang lebih pagi seperti yang dikatakan Alex. Mereka kini ada di butik untuk membeli pakaian yang akan dikenakan Sena.             “Ini sudah cukup”             “Baiklah kalau itu nyaman menurutmu, ayo pergi” Setelah membayar Sena dan Alex langsung menuju tujuan, yaitu vila Santa Polo. Sena begitu gugup dan berharap perjalanan memakan waktu yang cukup lama.             “Kau gugup?” tanya Alex. Sena menoleh dan melihat Alex kini menggenggam tangannya yang keringat dingin.             “Huft…cukup membuatku ketakutan”             “Ada apa, mereka tau kau sekretarisku”                     “Aku tau, hanya saja terakhir kali bertemu keluargamua saja sudah cukup membuatku hampir mati”             “Hahaha” Sena menarik tangannya dari genggaman Alex, melihat laki laki itu yang kini malah tertawa lepas.             “Mereka tidak akan memakanmu Sena, untuk apa takut”             “Tertawalah sepuasmu tuan” Sena mengalihkan pandangan menuju luar, melihat jalanan begitu lancar dengan cuaca yang cerah.             “Sena dengarkan aku” Alex menarik wajah Sena membuat gadis itu kini melihat Alex dengan intens, tangan Alex yang menyentuk pipinya begitu lembut.             “Kau akan baik baik saja, aku ada disana dan tidak akan meninggalkanmu”             “Berjanjilah”             “Aku janji” Alex melihat dengan jelas rasa takut yang diarasakan Sena, pertemuan dengan keluarganya mungkin sedikit membuat dirinya khawatir dengan pertemuan kali ini. Alex yakin tidak akan membuat gadis itu merasa takut lagi.             “Kita sudah sampai tuan” Mereka turun, dilihatnya vila nyang begitu megah dengan mobil mewah terparkir dengan rapi. Melangkah masuk dan dilihatnya begitu banyak pelayan menyiapkan makanan dimeja makan yang diletakkan diluar ruangannya. Benar kata Alex, orang asing disini bukan hanya dirinya tapi begitu banyak, semua keluarga Alex adalah pebisnis yang sudah pasti memilih sekretaris atau asisten pribadi yang kini juga memenuhi vila ini.             “Alex” Seseorang memanggil Alex, Sena menoleh dan melihat laki laki paruh baya yang masih terlihat begitu muda.             “Paman Lerian” Alex tersenyum dan memeluk laki laki yang dipanggil paman itu.             “Kau pasti Sena”             “Selamat pagi tuan Lerian, senang bertemu denganmu”             “Aku juga senang, kau begitu cantik Sena”             “Terimakasih atas pujiannya”             “Dimana Syanan?” tanya Alex             “Dia sedang mengambil minuman, itu dia” Tatapan mereka tertuju pada gadis yang berjalan mendekat.             “Alex” Syanan datang dan memeluk Alex erat.             “Seperti sudah sangat lama aku tidak bertemu denganmu”             “Kau terlalu sibuk dengan bisnismu Syanan, perkenalkan ini sekretaris baruku Sena, dan Sena ini Syanan anak Lerian”             “Wah kau pasti Sena, senang bertemu denganmu. Aku Syanan”             “Senang bertemu denganmu juga nona Syanan”             “Panggil aku Syanan saja” Sena tersenyum, benar kata Demian pasti ada satu keluarga yang normal dan kini sepertinya keluarga Lerian adalah keluarga normal.             “Dimana yang lain?” tanya Alex.             “Masuklah, mereka sedang sibuk didalam Thomas juga didalam” Alex dan Sena masuk kedalam, melihat beberapa orang yang tertawa bersama dan yang lainnya seperti sedang bermain. Dari sini Sena bisa membedakan yang makan keluarga Dominic dan yang mana sekretaris atau asisten pribadi. Alex berkeliling memperkenalkan Sena pada keluarganya, seperti yang dia bayangkan ada yang menyambutnya hangat ada yang hanya berkenalan bahkan ada yang menatapnya tidak suka. Cukup normal situasi seperti ini, beberapa kali Alex juga berbisik untuk membiarkan keluarganya yang menatapnya tidak suka.             “Biarkan saja, aku juga tidak suka dengan keluarganya” Itu yang dia katakan yang cukup membuat Sena sedikit lega. Kini mereka berkumpul untuk makan bersama, setelah pelayan menyiapkan semuanya dan kini tinggal mereka menyantapnya saja. Keluarga Dominic tidak begitu banyak, hanya keluarga Alex, keluarga Lerian, keponakannya, sepupunya dan sisanya hanya orang asing. Alex sempat mengatakan jika kini perusahaan Dominic Alex yang mengurusnya sebagai cucu tertua dan sisanya hanya bekerja di perusahaan dibawah kendali Dominic Corporation. Sena berfikir seharusnya itu sudah cukup ditambah kakek Alex membagi warisan begitu adil dan sesuai, tapi Sena yakin jika diatara orang orang yang kini berbincang sambil tertawa, begitu baik dengan Alex, diantara mereka pasti ada yang begitu serakah menginginkan posisi Alex. Sena bahkan tau jika Alex cukup mudah dihasut untuk menyerahkan kekuasaan. Sena melihat Alex yang kini juga berbincang dengan keluarganya, seperti tidak ada beban. Sena melihat satu persatu keluarga Dominic dan akan mengingatnya dengan jelas. Kini Sena mulai melakukan rencananya, mengeluarkannya satu persatu.             “Aku akan membalaskan dendam keluargaku” batin Sena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN