Lahirnya Gadis Licik

2125 Kata
Part 12 20 tahun yang lalu… Terlihat seorang laki laki yang begitu sibuk dengan pekerjaannya, wanita paruh baya yang memasak di dapur dan seorang anak kecil yang cantik sibuk bermain dengan adik laki lakinya.             “Huwaaa” Wanita itu langsung menghentikan kegiatannya saat mengetahui anak laki lakinya menangis.             “Ada apa sayang”             “Kakak pelit”             “Sena…”             “Mian (read: Demian) udah main lama sekarang saatnya Ena (read: Sena) yang main” Vita begitu bahagia, keluarganya sangat sempurnya dengan suami yang begitu mencintainya ditambah Tuhan member karunia dua buah hati yaitu Sena dan Demian. Vita, wanita pekerja keras, mandiri dan sangat menyayangi keluarganya begitu beruntung bisa menikah dengan Toni yang adalah papa dari Sena dan Demian.             “Bukannya sudah waktunya untuk tidur?” Sena yang masih berumur tujuh tahun melihat jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul Sembilan malam yang artinya sudah saatnya dia dan Demian tidur.             “Ma…”             “Sena, saatnya tidur. Ajak juga adikmu” Sena masih tampak begitu lucu ditambah sangat menyayangi Demian yang saat itu sangat nakal diusianya. Sena sudah terlihat mandiri dan pemberani. Sena berjalan bersama Demian menuju kamarnya, dia tau tidak mungkin tidur lebih malam lagi karena papanya pasti akan mengomel.             “Kak”             “Kenapa?”             “Aku ingin pipis”             “Ayo” Sena dan Demian memang tidur satu kamar, diusianya tidak memungkinkan untuk tidur sendiri sendiri ditambah Demian cukup penakut. Sena bangun dari tidurnya dan mengantar Demian kekamar mandi, terlihat lampu ruang depan masih menyala dan Sena yakin orang tuanya masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Sena tau jika papa dan mamanya orang yang sibuk bekerja setiap harinya dan itu tidak menjadi masalah bagi Sena, menurut dirinya hidupnya sudah snagat cukup.             “Tidak bisa, aku takut” Ditengah menunggu Demian selesai kekamar mandi, tidak sengaja Sena mendengar percakapan orang tuanya, dia bersembunyi dibalik dinding dan melihat mamanya menangis dipelukan papanya. Ada apa? Pikirnya. Tapi saat itu Sena tidak berani bertanya dan memilih untuk diam, kembali tidur adalah hal yang tepat. Saat itu mungkin adalah salah satu penyesalan terbesar yang Sena rasakan, jika saja waktu bisa berputar mungkin hal ini tidak akan terjadi. Esoknya pagi pagi sekali Sena dan Demian dibangunkan. Sena melihat orang tuanya sibuk kesana kemari sedangkan dirinya dan Demian masih mengantuk, terlihat barang barang sudah begitu rapi didalam koper, Sena tidak mengerti dengan keadaan saat itu.             “Ma…”             “Cuci mukamu dan Demian, kita akan pergi”             “Kita akan kemana?”             “Kita…akan liburan”             “Liburan? Yeayy” sorak Demian. Sena yang saat itu masih kecil sedikit curiga dengan jawaban mamanya, dia ingat orang tuanya akan mengajaknya liburan disaat saat tertentu dan hari ini sepertinya bukan hari yang tepat. Sena memilih untuk cuci muka, pengasuh tidak terlihat dan hanya orang tuanya yang sibuk mengangkat koper dan barang lainnya. Tiba tiba pengasuh datang dengan wajah panic, Sena yakin ada yang tidak beres.             “Sena dengarkan mama, kita akan pergi liburan tapi Demian akan pergi dengan Bibi Lili”             “Apa? Kenapa berpisah, bukankah bisa satu mobil?”             “Demian harus membeli beberapa mainan dulu agar tidak bosan”             “Ena bisa nemenin Mian kok”             “Nanti Sena beli mainan sama mama papa, kali ini turuti kata mama okey” Sena tidak bisa banyak berkomentar, dia hanya mengangguk lalu mamanya mengatakan sesuatu pada Demian yang kemudian Demian pergi dengan pengasuhnya.             “Ayo masuk mobil” Sena masuk kedalam mobil masih dengan wajah bingung, bukan hal yang wajar keluarganya memisahkan dirinya dengan Demian. Didalam mobil telpon terus bordering yang membuat papa begitu murka dan membuang handphoennya keluar, Sena sedikit terkejut tapi dia berusaha untuk tetap tenang.             “Tenang Ton, ada Sena dibelakang” Toni masih terlihat panic, beberapa kali dia melihat kearah belakang dari kaca sepion mobil dan Sena juga menoleh kebelakang. Tidak ada apa apa, pikirnya. Mobil melaju begitu kencang yang cukup membuat Sena mencengkram sabuk pengaman dan menutup matanya beberapa kali.             “Ma kita liburan kemana?”             “Kita akan ke vila sayang” Vita berusaha menenangkan Sena yang sudah mulai ketakutan, dirinya juga bingung harus melakukan apa ditengah kepanikan yang terjadi.             “Aku mau turun pa”             “Kita belum sampai Sena”             “Aku mau turun, stop”             “Sena, tenang” Sena mulai panic dengan berteriak, mamanya juga berusaha menenangkan Sena yang kini berteriak dan menangis, Toni mulai panic ketika melihat ada mobil yang mengikutinya. Itu dia, pikir Toni.             “Ma stop, aku mau Demian”             “Demian sudah sampai, kita akan kesana”             “No stop huwaaa” Sena semakin kencang menangis, keadaan semakin panic ditambah mobil dibelakang semakin dekat. Vita yang masih berusaha menenangkan Sena dan mobil yang melaju bertambah kencang, keadaan semakin panic.             “Aku mau keluar, stop pa”             “Enough Sena kit…” Ckittt brakk Mobil terguling dan terseret cukup jauh. Saat itu juga waktu terasa terhenti, semuanya sunyi. Tak pernah terbayangkan hal seperti ini terjadi, mobil yang terguling cukup jauh, Sena yang menangis dan pipinya masih basah oleh air mata kini bercampur dengan noda merah, mamanya tidak sadarkan diri dan papanya terlihat begitu parah dengan luka diwajahnya. Bayangkan saja anak seusia tujuh tahun harus melihat dan merasakan ini didepan matanya seorang diri. Sena terdiam beberapa saat melihat keadaan orang tuanya yang tidak bergerak, mata Sena masih mencoba mencerna kedalam otaknya, mempercayai apa yang dia lihat. Detik kemudian Sena meneteskan air mata, dia baru sadar jika mereka mengalami kecelakaan mobil dan menyebabkan orang tuanya tidak bergerak dan terluka parah. Sena sama terlukanya tapi tidak parah, pecahan kaca dimana mana dan asap yang mulai keluar dari mesin mobil. Sena melihat kearah luar dan ada beberapa orang diluar, Sena berusaha untuk berteriak minta tolon tapi pita suaranya seakan terputus, yang dia lakukan hanya diam dan menangis sambil melihat pemandangan yang membuat dirinya trauma.             “Selesaikan itu”             “Baik tuan” Sena masih mendengar samar samar suara dari luar, tiba tiba seorang laki laki paruh baya melihat kedalam mobil dan terkejut melihat Sena yang juga menatapnya.             “Tuan ada yang selamat” Laki laki paruh baya lainnya melihat kedalam mobil juga, pakaiannya yang begitu rapi dengan stelan jas dan kaca mata hitam tapi Sena masih ingat dengan jelas wajah laki laki itu.             “Perlu dibereskan tuan?” Laki laki yang dipanggil tuan itu terdiam, kembali melihat keadaan Sena dengan mata sembab seperti sudah menangis sedari tadi.             “Keluarkan dia, tidak perlu kotori tanganmu mobilnya sebentar lagi akan meledak, dan polisi akan segera datang”             “Baik tuan” Sena keluar setelah seseorang mengelurkannya, menjauhkan dirinya dan berdiri sendiri dalam keadaan bingung.             “Kita pergi tuan” Sang tuan melihat Sena lekat, gadis yang tidak tau apa apa itu hanya berdiri melihat dirinya juga.             “Kita pergi, Bento”             “Baik tuan Thomas” Mereka pergi dengan mobil meninggalkan Sena seorang diri, beberapa saat kemudian mobil benar benar meledak dan menyebabkan suara ledakan yang cukup keras. Sena masih disana diam melihat keadaan yang sangat menyedihkan. Sirine mulai terdengar, terlihat mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran datang, memadamkan mobil dan polisi memberi garis polisi, mendekati Sena dan berusaha menenangkan gadis itu. Mereka pikir Sena menangis karena sedih tapi lihatlah, gadis itu tidak menangis lagi dia masih mengingat jelas seseorang yang tadi datang dan pergi meninggalkannya dengan kata kata yang Sena tau jika mereka ada hubungannya dengan kecelakaan ini.             “Adik kamu tidak apa?” Polisi dan pemadam masih lalu lalang, mobil ambulance juga datang berusaha menyelamatkan orang tuanya. Sena terdiam, melihat semua orang yang sibuk dan mengkhawatirkan dirinya, sedangkan Sena? Ada amarah dan kesedihan mendalam diwajahnya. Bento? Pikirknya. Sebuah nama yang akan terus dia ingat dan wajah sang tuan yang tidak akan pernah dia lupakan, mereka pergi dengan mobil yang mengikuti mobil yang membawa dirinya dan orang tuanya. Sena padahal tadi merasa sangat bersalah dan berdosa karena berfikir papanya menabrak sesuatu yang menyebabkan kecelakaan karena dirinya yang menangis dan ingin keluar dari mobil, tapi Sena tau jika seseorang itu juga andil dalam kecelakaan ini.             “Dua orang tewas yang kemungkinan adalah orang tua gadis kecil itu”             “Baiklah, bawa kerumah sakit dan kita akan mencari dan menghubungi keluarga besarnya” Bukan tidak paham dari kalimat seorang polisi yang dia dengar, Sena bahkan lebih dulu tau jika orang tuanya telah pergi meninggalkan dirinya dan adiknya selamanya.             “Adik kecil, ikut saya ya”ucap salah satu polisi.             “Papa mama meninggal”             “Tidak, mereka akan segera dirawat” Sena melihat wajah polisi didepannya, senyuman yang berusaha dia keluarkan dengan natural dan Sena yang hanya diam dengan wajah datang. Sena tidak bodoh dengan percaya kalimat penuh lelucon itu, tapi dia memilih untuk mengangguk dan ikut.             “Permisi pak, untuk saat ini kasus ini masuk dalam kasus kecelakaan tunggal yang menyebabkan dua oran tewas” ucap seseorang dengan seragam polisi.             “Baik, urus jenazahnya”             “Baik pak” Kecelakaan? Sena bahkan lebih tau apa yang terjadi, tapi polisi polisi ini tidak menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Kecelakaan? Jangan bodoh, papa bukan orang yang mengendarai kendaaraan dengan sembarangan ditambah mereka bahkan tidak tau seseorang yang datang lebih awal dan mengeluarkan Sena dari mobil. Setidaknya orang orang berjas itu memiliki sedikit kebaikan dengan membuat Sena tetap hidup. Yang benar saja, bahkan Sena memilih untuk mati dan ikut kedua orang tuanya, dia tidak sanggup menanggung beban seorang diri dengan trauma yang begitu hebat. Sena menatap dengan tatapan kosong, dua buah peti kini terkubur perlahan. Beberapa orang menangis dan Demian tidak henti berteriak. Adik kecilnya sudah mengerti ternyata. Sena tersenyum miris, bahkan disaat seperti ini air matanya seakan sudah habis, tidak, amarah Sena lebih besar dari kesedihannya. Kejadian kemarin seakan memberi luka yang luar biasa dalam dan kebenaran seakan memberi garam dalam luka tersebut. Bibinya memeluk Sena erat, semua orang berdoa untuk ketenangan kedua orang tuanya. Miris sekali rasanya. Jadi ini yang disebut liburan oleh orang tuanya, mereka saja yang liburan ke syurga sedangkan Sena harus menanggung beban luar biasa berat dipundaknya ditambah menjaga adik laki lakinya. Hebat sekali takdir membuat Sena harus merasakan hal ini di umurnya yang masih menginjak tujuh tahun. Begitu kejam dunia ini membuat dirinya hanya merasakan kebahagiaan diusinya yang masih kecil. Setelah kejadian kemarin polisi menyebutkan jika kejadian itu murni kecelakaan tunggal dan polisi menghubungi bibi Sena. Sena bahkan tidak mengatakan apapun tentang kecelakaan itu, bibinya takut membuat Sena sedih mungkin, padahal jika ditanya Sena akan menjawab sejujurnya apa yang dia lihat.             “Kamu yang sabar Sena, ada bibi disini” Setelah peti itu terkubur sempurna, tidak lupa taburan bunga diatasnya. Toni Alvares Noah Sebuah nama itu terukir jelas disebuah papan nisan putih. Vita Donna Noah Nama mamanya juga ada disana. Sena masih duduk diam, orang orang telah pergi beberapa menit yang lalu dan sekarang hanya tinggal dirinya dan bibinya. Demian bersama pamannya, dia menangis tanpa henti dari tadi.             “Sena”             “Kenapa semua orang tidak bertanya?” Sena menatap bibinya yang masih dengan wajah sedih.             “Bibi tau ini berat untuk kamu, tapi masih ada bibi dan paman disini ada Demian juga” Hanya kata itu yang sedari tadi Sena dengar. Mereka tidak mengerti apa yang Sena rasakan, apa yang Sena lihat sendirian, dan bagaimana kejadian itu berlangsung, mereka tidak tau. Yang mereka tau hanya mengucapkan kata sabar dan tabah untuk dirinya. Padahal kejadian itu membuah seorang gadis cantik dan polo situ berubah menjadi seseorang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, menjadi gadis jahat dan licik karena marah kematian orang tuanya. Setelah itu Sena dan Demian tinggal dengan bibi dan pamannya, beruntung keluarga bibinya begitu baik dan menyayangi Sena dan Demian seperti anaknya sendiri, tapi naasnya bibinya ternyata sakit keras yang membuatnya meninggal beberapa tahun kemudian disaat Sena berumur 12 tahun. Pamannya berusaha untuk tetap merawat Sena dan Demian tapi Sena menolak, dia memilih untuk tinggal di panti asuhan, tidak mungkin bagi dirinya menyusahkan pamannya yang juga merawat ketiga anaknya ditambah bibi sudah tidak ada. Baru saja Sena merasa akan baik baik saja tapi ternyata dirinya kini malah berada dip anti asuhan, berkumpul dengan anak lainnya yang sama seperti dirinya tidak memiliki orang tua.             “Kak ayo makan”ucap Demian. Butuh beberapa waktu untuk beradaptasi dip anti asuhan bersama anak anak lainnya, ditambah Demian terus menempel dan merengek pada Sena. Tapi bersyukur setelah melewati beberapa bulan mereka bisa betah berasa disana. Bantuan dari pemerintah membuat Sena dan Demian bisa bersekolah. Menempuh pendidikan adalah salah satu rencana Sena untuk bisa sukses dan melihat seseorang.             “Sena selamat kamu lolos” Kegembiraan Sena tidak bisa dia ungkapkan, semua orang bersorak termasuk kepala panti yang terlihat sedih. Sekarang saatnya Sena pergi dari sini setelah bertahun tahun tinggal. Sena memang berfikir untuk pergi setelah lolos perguruan tinggi walaupun hanya perguruan tinggi yang tidak terlalu terkenal tapi tidak masalah untuk Sena, bekerja diselang kuliahnya adalah hal yang bisa dia lakukan. Tempat tinggal? Beruntung Sena menghubungi pamannya dan menyuruh Sena untuk tinggal di apartemen sederhana rumahnya dulu yang sekaligus apartemen warisan nenek. Baguslah setidaknya Sena tidak perlu memusingkan tempat tinggal, pamannya memilih untuk ikut tingga di rumah salah satu anaknya yang kini sudah sukses. Sejak saat itu Sena menjadi begitu sibuk ditengah kuliah, bekerja, dan mengurus Demian. Berusaha untuk mengatur uang sedemikian rupa agar cukup untuk hidup dua orang. Itulah Sena, motivasinya untuk bangkit adalah sang tuan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN