Seorang wanita berdiri di tepi pagar sebuah rumah yang cukup besar. Hawa dingin khas pegunungan begitu jelas terasa. Bagi gadis itu, hawa dingin di daerah itu terasa sangat menusuk hingga ke tulangnya. Gadis itu menatap jauh ke depan. Menikmati pemandangan matahari pagi yang masih malu-malu menampakkan sinarnya. Annisa mengabadikan momen terbitnya matahari di pegunungan di mana dia berdiri. Lautan awan di depannya membuatnya seolah tengah berdiri di atas awan. Di sisi lain, Annisa bisa melihat sekumpulan awan seolah bergerak layaknya air terjun, melintasi rumah penduduk di daerah dataran yang lebih rendah. “Wedang jahe?” seorang pria menyodorkan segelas besar air seduhan jahe yang tampak mengepulkan asap. Cukup membuat tangan dan tubuh Annisa menghangat. “Terima kasih, Paman.” “Setelah

