bc

Kisah seorang jurnalis yang dikhianati oleh tunangan dan sahabat kecilnya.

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
others
like
intro-logo
Uraian

Suara harmonika melengking dengan melodi menyayat hati, menemani Amel duduk sendiri di sudut kamarnya. Bagi Amel seolah mendukung suasana hati yang sedang dirasakannya saat itu. Sejak satu jam lalu Amel duduk sambil menahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah. Menahan segala emosi yang menekan dadanya, ada sedih, marah, kecewa, benci, hilang percaya diri dan semua vibe negatif berkumpul jadi satu.

Foto-foto Seno, tunangannya, dan Tita, sahabat Amel sejak SMP, di tempat praktek dokter kandungan.

Kemudian wajah Tita yang berderai airmata serta wajah Seno penuh sesal siang itu ketika Amel sengaja meminta mereka berdua untuk bertemu meluruskan semuanya.

Kilatan peritiwa saat keluarga Seno datang melamarnya. Tita yang mengurus segalanya karena ia masih ada diluar kota menjelang acara lamaran itu berlangsung.

Ekspresi terkejut bercampur senang Tita ketika ia mengatakan bahwa Seno akan melamarnya.

Pelukan hangat Tita saat ia mengatakan bahwa ada pria yang menyatakan cinta padanya, Seno.

Potongan-potongan ingatan itu muncul seperti kilat yang menyilaukan, membuat matanya perih menahan airmata yang sudah mengambang.

Ucapan Dwiko yang tajam, “Semoga kamu cerdas,” semua menekan dadanya, terasa sesak.

Belum lagi suara ketukan pintu kamarnya, suara ibunya berulang kali memanggil namanya, memintanya untuk membuka pintu.

Amel menutup kedua telinganya, ia ingin menjerit, namun tidak ada kekuatan untuk melakukannya.

Lalu ia tersedu, airmatanyapun deras mengalir pada kedua pipinya, lirih ia bergumam, “Karena aku fokus pada profesikukah sehingga aku terkesan sebagai tunangan yang tidak peduli? Karena aku terlalu sibukkah sehingga aku kurang waktu bersamanya? Atau… karena aku menjaga kesuciankukah dia memilih Tita yang sukarela menyerahkannya?”

Amelpun menjerit, menangis sekeras yang ia mampu. Ia ingin semuanya lepas, karena setelah itu ia akan siap berjalan dengan kepala tegak dan langkah tegap.

harmonika melengking dengan melodi menyayat hati, menemani Amel duduk sendiri di sudut kamarnya. Bagi Amel seolah mendukung suasana hati yang sedang dirasakannya saat itu. Sejak satu jam lalu Amel duduk sambil menahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah. Menahan segala emosi yang menekan dadanya, ada sedih, marah, kecewa, benci, hilang percaya diri dan semua vibe negatif berkumpul jadi satu.

Foto-foto Seno, tunangannya, dan Tita, sahabat Amel sejak SMP, di tempat praktek dokter kandungan.

Kemudian wajah Tita yang berderai airmata serta wajah Seno penuh sesal siang itu ketika Amel sengaja meminta mereka berdua untuk bertemu meluruskan semuanya.

Kilatan peritiwa saat keluarga Seno datang melamarnya. Tita yang mengurus segalanya karena ia masih ada diluar kota menjelang acara lamaran itu berlangsung.

Ekspresi terkejut bercampur senang Tita ketika ia mengatakan bahwa Seno akan melamarnya.

Pelukan hangat Tita saat ia mengatakan bahwa ada pria yang menyatakan cinta padanya, Seno.

Potongan-potongan ingatan itu muncul seperti kilat yang menyilaukan, membuat matanya perih menahan airmata yang sudah mengambang.

Ucapan Dwiko yang tajam, “Semoga kamu cerdas,” semua menekan dadanya, terasa sesak.

Belum lagi suara ketukan pintu kamarnya, suara ibunya berulang kali memanggil namanya, memintanya untuk membuka pintu.

Amel menutup kedua telinganya, ia ingin menjerit, namun tidak ada kekuatan untuk melakukannya.

Lalu ia tersedu, airmatanyapun deras mengalir pada kedua pipinya, lirih ia bergumam, “Karena aku fokus pada profesikukah sehingga aku terkesan sebagai tunangan yang tidak peduli? Karena aku terlalu sibukkah sehingga aku kurang waktu bersamanya? Atau… karena aku menjaga kesuciankukah dia memilih Tita yang sukarela menyerahkannya?”

Amelpun menjerit, menangis sekeras yang ia mampu. Ia ingin semuanya lepas, karena setelah itu ia akan siap berjalan dengan kepala tegak dan langkah tegap.

chap-preview
Pratinjau gratis
Liputan Tentang Cinta
BAB 1. MEREKA? Amel mengemudikan mobilnya dengan santai, menikmati hijaunya kebun teh sepanjang jakur yang dilaluinya setelah ia meninggalkan Desa Cijambe, Subang menuju kota Bandung. Ia sengaja mematikan AC kemudian membuka kaca jendela. Membiarkan angin menyentuh pipinya dan menyapu rambutnya bergerak indah.. Aaah… kapan lagi Amel menemukan sensasi seperti ini dalam kesehariannya di ibukota. Senyum terukir di bibirnya. Tidak lama ia melihat bangunan tua milik perusahaan perkebunan negara di sebelah kanan jalan. Ia menurunkan kecepatan kemudian berbelok menuju bangunan tua tersebut. Seorang petugas keamanan menghentikannya saat ia melewati portal. Setelah menyampaikan maksudnya yang hanya ingin melihat keindaha bangunan tersebut ia melanjutkan perjalananannya. Memasuki pekarangan berbatu dengan aneka bunga dan tanaman hijau menghiasi area tersebut. Bangunan yang ditempati oleh pimpinan perkebunan sebagai rumah dinas nampak sepi. Bagi Amel tidak jadi soal karena ia bukan berniat menemui siapapun, ia hanya ingin menikmati keindahan bangunan tersebut. Bangunan peninggalan Belanda dengan gaya yang khas sebagaimana banyak terdapat di perkebunan peninggalan Belanda. Amel mengambil kamera kemudian mengambil beberapa frame dari bangunan tersebut. Amel sangat tertarik pada detail bangunan terutama batu-batu yang disusun sedemikian rupa pada bagian bawah bangunan. Sekitar limabelas menit Amel menghabiskan waktunya disana kemudian ia melanjutkan kembali perjalanannya. Semua jelas di matanya saat tanpa sengaja Amel melihat Seno, tunangannya bersama sahabat mereka, Tita, memasuki sebuah hotel di kawasan Lembang. Saat itu Amel dalam perjalanan menuju Bandung dengan mengambil exit tol Subang. Sengaja memilih jalan itu karena Amel akan menemui narasumber di Cijambe, Subang. Meski agak kaget melihat mereka tapi Amel masih sempat menurunkan kecepatan mobil yang dikemudikannya kemudian memutar balik dan masuk ke halaman hotel tersebut. Penasaran. Mereka berdua tidak sadar saat mobil Amel masuk ke area parkir hotel, memperhatikan mereka melakukan cek-in sampai akhirnya diantar oleh petugas hotel. Amel menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan merasakan debaran jantung yang bergemuruh. Bagaimana tidak, jelas sekali lewat chat mereka tadi pagi bahwa hari ini Seno ada meeting sampai sore, sementara Amel akan melakukan liputan di Bandung selama lima hari sambil sebelumnya menemui narasumber di Subang. Lalu Tita?? Kok bisa dia pergi bersama Seno? Bukannya Tita sedang ada tugas ke Jogja? Lalu apa yang mereka lakukan disini? Di Lembang? Di hotel! Amel berkali-kali menghubungi Seno. Hanya pesan suara yang terdengar. Amel menghubungi nomor Tita. Sama. Keduanya mematikan handphone mereka. Deg. Jantung Amel berdebar kencang, ada perasaan tak enak menyelinap. Tangannya erat mencengkeram kemudi. Berulang kali manarik napas panjang dan menghembuskan dengan cepat, untuk meredakan debaran jantungnya. Setelah menenangkan diri Amel turun dari mobil dan berjalan menuju lobby, ia akan bertanya pada petugas resepsionis dimana kamar Seno dan Tita. Saat sudah sampai di depan resepsionis tiba-tiba handphonenya bergetar, saat dilihat tertera nama pemimpin redaksinya, Dwiko. Maka Amelpun segera mengangkat handponenya. “ “Ya, Mas.” “Kamu udah dimana, Mel?” “Saya di Lembang, otw Bandung,baru selesai dari Cijambe ketemu Pak Joko.” “Kira-kira berapa lama lagi kamu sampai di tempat Pak Wandi?” “Mungkin sejam lagi, Mas.” “Oke, kamu sudah ditunggu, saya kabari asisten Pak Wandi, kamu sejam lagi disana.” “Siap, Mas.” Amel segera meninggalkan lobby hotel, batal mencari keberadaan Seno dan Tita. Meski hatinya resah tapi Amel masih waras untuk memprioritaskan pekerjaannya. Sejenak lupa akan apa yang sempat mengusiknya. Malah sepanjang perjalanan menuju Bandung Amel disibukkan dengan telepon dari pemred dan sesama reporter di kantornya. BAB. 2 ASISTEN PAK WANDI Amel sampai di sebuah café yang berada di kawasan Bandung Utara, di daerah Pakar Timur tepatnya. Ia sudah menghubungi pemilik café sejak minggu lalu untuk melakukan wawancara sekaligus melakukan pemotretan. Amel memarkirkan mobilnya di area parkir dimana seorang Satpam terlihat sudah mengetahui kedatangannya. “Mbak Amel?” sapanya saat Amel keluar keluar dari mobil. Amel menganggukan kepalanya sambil melemparkean senyum. “Bapak sudah menunggu, Mbak. Mari saya antar,” ujar Satpam bernama Soni seperti yang tertera pada papan nama yang tersemat di d**a kiri seragam yang dikenakannya. “Oh iya. Sebentar saya ambil peralatan foto dulu ya, “ jawab Amel sambil membuka pintu belakang mobilnya kemudian mengeluarkan tas yang berisi perlengkapan foto. Soni segera menawarkan diri untuk membawakan tas yang nampak cukup berat itu. Amelpun menyerahkan tasnya. Lalu ia mengikuti Soni dari belakang. Amel mengedarkan pandangan sambil mengikuti langkah Soni. “Hmm.. cozy juga tempat ini. Lumayan luas juga,” gumam Amel dalam hati. Soni membawa Amel ke sebuah ruangan yang berada di lantai dua. Sebuah ruang kerja dengan setengah dindingnya terdiri dari kaca dengan pemandangan kota Bandung. Amel membayangkan jika malam hari pemandangan disini tentu sangat indah dengan pantulan lampu-lampu kota. Soni mempersilakan Amel duduk lalu meninggalkan ruangan sambil mengatakan bahwa sebentar lagi yang akan ditemui segera datang. Amel tidak segera duduk, ia berdiri mendekati dinding kaca, menatap pemandangan yang menyegarkan. Kemudian ia melihat seisi ruangan, mencari dudut yang tepat untuk sesi foto yang akan ia lakukan nanti. Ia mendekati rak yang berisi buku, piagam penghargaan, sertifikat, miniatur sepeda, sebuah foto keluarga. Terdapat beberapa foto kucing yang menggemaskan, nampaknya kucing milik mereka. Lalu ada foto sebuah lahan perkebunan teh yang sangat cantik. Amel memperhatikan satu persatu, saat pandangannya jatuh pada foto kucing iapun tersenyum. Lalu sebuah suara mengagetkannya. “Kucing-kucing itu memang menggemaskan, punya adik saya ” suara seorang pria. Amel terkejut lalu menoleh ke samping kiri, ke arah datangnya suara. Nampak seorang pria berdiri diambang pintu sambil tersenyum. Usianya skitar 5 tahun diatas Amel. Merasa kepergok, Amel segera mengubah posisi tubuhnya, menghadap ke arah pria itu. “Oh.. eh.. maaf, maaf,” ujar Amel gelagapan. Pipinya memerah karena merasa lancang melihat- lihat tanpa seijin pemiliknya. Pria itu melangkah mendekat, kemudian mengulurkan tangan mengajak Amel bersalaman. Amelpun menyambutnya. “Andi. Andi Pratama,” ujar pria itu sambil menjabat tangan Amel dengan kuat. “Amel, Amelia Pratiwi,” ujar Amel membalas jabatan tangan Andi. Ia menyukai jabatan Andi karena terkesan hangat. “Mari…”, ujar Andi sambil mempersilakan duduk. Kemudian mereka duduk berhadapan. Amel belum membuka suara, menatap pria di depannya dengan tatapan bersahabat. “Sebentar Pak Wandi kesini, saya putranya merangkap asisten,” jelas Andi dengan suara riang. “Oh ya… iya tidak apa-apa. Itu yang di foto Pak Andi yang sebelah kiri Pak Wandi?” jawab Amel. “Gak usah panggil Bapak, cukup panggil nama, umur kita gak beda jauh kan?” ujar Andi. “Yup. Itu foto waktu saya baru kembali ke Bandung, 5 tahun lalu,” jelasa Andi. “Oh?! Kembali dari?” tanya Amel. “Surabaya. Saya kuliah disana,” awab Andi tanpa menjelaskan lebih rinci di kampus mana ia kuliah. Amel menganggukan kepalanya lalu, “Anda asisten …” suara Amel terhenti karena Andi menyela dengan cepat. “Andi. Nama saya Andi, bukan Anda. Ha ha.. gak usah formal Mel,” ujar Andi sambil tertawa mengkoreksi sebutan Amel padanya. Amel tersenyum, ia mulai merasa nyaman karena lawan bicaranya menyenangkan pada awal pertemuan mereka, sehingga Amel tidak perlu susah payah untuk mencairkan suasana sebelum memulai percakapan. “ Iya, saya lupa. Kebiasaan. Kan kita baru ketemu, agak gimana gitu kalau langsung panggil nama,” jawab Amel. “Ya beginilah kalau jadi asisten Ayah, orang tuh serius banget pas ketemu. Padahal santai aja lah, saya kan hanya asisten, yang jadi boss kan Ayah,” ujar Andi lagi. Lalu seorang pria masuk mambawa satu tea set terdiri dari 4 cangkir dan dua piring kue basah. Menaruhnya di meja yang ada di depan mereka kemudian menuangkan teh ke dalam dua cangkir untuk mereka. “Kok ada empat? Buat siapa? Sekalian isi aja,” ujar Andi pada pria tadi. “Ini untuk Ibu, beliau sedang menuju kesini bersama Bapak,” jawab pria tadi sambil menuangkan teh kedalam cangkir yang masih kosong, kemudian menawarkan gula pada Amel. Amel menggelengkan kepala, sementara Andi langsung menyambar, “Aku gak pake gula juga.” Pria itupun berlalu menginggalkan ruangan setelah mempersilakan mereka untuk mencicipi teh yang baru disajikan. “Itu. Di foto, adikmu yang perempuan? Yang laki-laki, adikmu atau kakakmu,” tanya Amel. “Kami tiga bersaudara, aku sulung, adikku yang laki-laki Ardi, dan yang perempuan, Asti si bungsu,” jelas Andi. “Kami bertiga belum menikah, adikku Ardi lulusan pertanian, Asti lulusan fashion desain. Mereka masing-masing punya mainan sendiri-sendiri, Ardi pegang kebun teh, Asri punya studio desain sendiri. Disini aku asisten Ayah, bantu-bantu beliaulah untuk urus café ini, dua café yang lain Ibu yang komandani dibantu dua sepupuku,” urai Andi. Saat Andi menjelaskan, Amel menyalakan digital recording seukuran handphone yang ditaruh bersebelahan dengan handphonenya diatas meja, supaya ia tidak perlu mencatat dan fokus mendengarkan lawan bicaranya. BAB 3. MAKAN SIANG BERSAMA Terdengar suara langkah kaki mendekat, diiringi suara orang berbicara, sedikit berdebat. Lalu muncul sepasang suami istri, Pak Wandi dan Bu Desi. Mereka menatap ke arah Amel kemudian datang menghampiri. Amel segera bangkit dari duduknya, menyambut uluran tangan Pak Wandi, “Maaf ya Mel, tadi sudah mau kesini dicegat dulu orang keuangan, ada yanh harus saya tandatangani. Tadi Andi bilang kamu ke Subang dulu. Dwiko yang kasih tahu, Iya kan Ndi?” ujar Pak Wandi tanpa jeda. Andi yang ditanya menganggukkan kepala mengiyakan. Kemudian Bu Desi mengampiri Amel, langsung memeluk dan cipika cipiki, sementara Amel yang sudah mengulurkan tangan akan menyalami Bu Desi menarik kembali tangannya kemudian membalas pelukan Bu Desi. “Kamu sendirian nyetir? Kok gak ada yang supirin? Hebat bener sih kamu, cantik-cantik jagoan. Ayah Ibumu gak khawatir kamu pergi sendirian kayak gini?” ujar Bu Desi dengan ramah, seolah sudah akrab dengan Amel. Amel agak heran, kok dia tahu ya aku nyetir sendiri? Oh, pasti Soni yang lapor. Kedua ayah dan anak menatap aneh Bu Desi, kemudian mereka saling pandang satu sama lain tanpa sepengetahuan Amel. “Kamu belum makan, kan? Kita ngobrol sambil makan aja yuk, biar santai. Ayo, Yah, kita keatas aja sekalian makan. Udah siap kok,” Bu Desi berkata sambil menarik tangan Amel akan mengajaknya berlalu dari ruangan itu. “Bu….. Bu…. Duduk sebentar lah. Amel kok langsung ditarik aja. Kayak ke siapa aja, kaget dia tuh..,” ujar Pak Wandi kepada Bu Desi. Bu Desi kemudian melepaskan tangan Amel, seolah tersadar bahwa dia terlalu terburu-buru. “Ayo, ayo.. duduk dulu. Lho ini belum diminum teh nya. Minum dulu Mel, kamu pasti capek abis nyetir,” ujar Bu Desi sambil mempersilakan Amel minum. Tak mau berpikir lagi, Amel langsung mengambil cangkir dan meneguk tehnya perlahan. Ah, enak sekali tehnya. “Kamu ya Ndi, bukannya Amel disuruh minum, Amel kan baru sampai abis nyetir,” omel Bu Desi pada Andi. Andi menatap Bu Desi dengan pasrah, tidak berani menyela ibunya yang langsung cas cis cus. Sementara Pak Wandi tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Kemudian ia memperhatikan sosok Amel yang nampak tenang menghadapi gaya petasan banting istrinya. “Manis. Tenang,tapi tegas,” nilai Pak Wandi dalam hati. Pak Wandi kemudian bersuara, “ Gimana Mel? Kita pindah ke atas aja? Kita sambil makan ya. Hayu Bu,” ujar Pak Wandi sambil berdiri. Segera Amel mematikan digital recordernya, mengambil handphonenya lalu memasukan ke dalam tas selempangnya. Kemudian menjinjing tas kameranya. “Andi. Jangan diem aja dong, bawain ituuu…,” tegur Bu Desi pada Andi. Andi segera meraih tas yang dipegang Amel sambil mengedipkan mata pada Amel, memberi kode agar Amel memberikan tas itu padanya. Amelpun menyerahkannya, kemudian ia berjalan mengikuti Pak Wandi dan Bu Desi, sementara Andi berjalan di belakang Amel. Mereka tiba di bagian lain dari areal café, masuk ke dalam ruangan yang ditata dengan gaya minimalis. Sebuah kaca lebar menjadi pemisah antara ruangan tempat mereka akan makan dengan sebuah teras dengan pemandangan kota Bandung. Bu Desi mempersilakan mereka untuk makan, menarik tangan Amel untuk duduk di sebelah kirinya, sementara Pak Wandi duduk di sebelah kanan, dan Andi duduk berhadapan dengan Amel. Merekapun menikmati makan siang diselingi obrolan ringan seputar hal umum yang berkaitan dengan café milik Pak Wandi dan Bu Desi, tidak mendalam karena akan ada sesi khusus untuk membahas hal tersebut setelah selesai makan siang. Malah Amel yang kemudian ‘diwawancarai’ terutama oleh Bu Desi. Ia kagum dengan profesi yang ditekuni Amel, terlebih saat itu Amel sendirian saja melakukan tugas liputan di Bandung selama satu minggu ini. “Orangtuamu tidak khawatir kamu sering pergi-pergi sendiri,” tanya Bu Desi. “Tidak Bu, mereka sudah mengerti profesi yang saya jalani. Lagipula saya pasti akan didampingi kalau memang perlu. Liputan yang agak kurang aman, misalnya.Tapi sejauh ini sih aman, karena topik yang biasa saya liput bukan yang aneh-aneh,” jelas Amel. “Kamu sudah punya pacar?” lanjut Bu Desi. “Sudah Bu, saya sudah tunangan,” jawab Amel. “Wah, dikira masih sendiri. Beruntung sekali tunangan kamu itu dapat gadis cantik, pandai, berani, dan mandiri,” puji Bu Desi. Amel hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Bu Desi. “Sudah berapa lama kamu jadi jurnalis, Mel?” tanya Pak Wandi. “Sampai hari ini saya baru 5 tahun, Pak, sejak lulus kuliah,” jawab Amel. “Lumayan lama itu, usia kamu berapa sekarang?” “Tahun ini 27 tahun,” jawab Amel. “Lho, kamu lulus cepat ya,” timpal Pak Wandi lagi. “Normal sih, tapi selesai kuliah langsung dapat kerja jadi jurnalis, Pak,” jawab Amel. “Seumuran Ardi dong. Kamu kuliah dimana Mel?” kali ini Andi yang bertanya. “Saya di kuliah disini, di kampus Jatinangor,” sahut Amel. “Yang tadinya kampus pusatnya di DU?” tanya Andi memastikan. Amel menganggukkan kepala sambil menelan air minum dalam gelas di depannya. “Wah, satu almamater sama Ardi dong, kamu ambil apa?” tanya Andi lagi. “Ambil jurnalistik, di Fikom, sesuai profesi sekarang,” jawab Amel. Andi kemudian mengambil handphone yang berada di meja panjang di belakangnaya. Lalu menunjukkan sebuah foto pada Amel. Amel melihat sambil mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepala. “Ardi di pertanian kan? Kami gak satu fakultas,” ujar Amel. Andi meletakkan kembali handphonenya lalu kembali duduk di tempat semula. “Nanti kalau sempat ketemu kalian bisa ngobrol nyambung tentang kampus kalian lah,” ujar Ardi. “Ajak aja Amel ke kebun,” ujar Pak Wandi. Amel menoleh ke arah Pak Wandi dengan tatap bertanya. “Ardi yang kelola produksi teh di daerah perbatasan Ciwidey dengan Cianjur. Dia tinggal disana, pulang kesini kadang seminggu sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali, tergantung maunya dia,” jelas Pak Wandi. “Sampai kapan kamu di Bandung, Mel?” tanya Bu Desi. “Saya pulang kalau gak Sabtu ya Minggu, Bu. Tergantung disini sudah beres atau belum. Keliatannya seru juga kalau saya bisa ke kebun. Coba saya lihat lagi jadwal liputannya, kalau kamis malam atau jumat malam sudah selesai berarti Sabtu pagi saya bisa ke kebun,” jelas Amel. “Atur saja, selesaikan dulu liputan kamu, kalau masih ada waktu biar Andi yang temani kami ke kebun. Kalau ternyata padat, atur jadwal lagi untuk bisa kesana. Mungkin ada bahan tulisan yang bisa kamu dapat disana. Makannya sudah? Kita pindah duduk? Topik obrolan utama kita belum nih,” ujar Pak Wandi. Mereka pindah duduk di teras, disana Amel melakukan wawancara dengan Pak Wandi, Andi dan Bu Desi. Obrolan menjadi hidup dan banyak informasi yang bisa Amel gali dari ketiga narasumber tersebut. Liputan hari itu berakhir jam setengah 5 sore. Diakhiri dengan sesi foto seluruh areal café, beberapa menu unggulan, dan foto pemilik café yaitu Pak Wandi, Bu Desi, dan Andi. Amel berpamitan karena masih ada satu tempat lagi yang harus dia kunjungi. Sambil tidak lupa bertukar nomor handphone dengan Andi untuk mengatur waktu jika Amel ada waktu untuk pergi ke kebun teh milik mereka. BAB 4. CAFÉ DI TENGAH KOTA Amel cek in ke hotel yang ada di Jalan Dago, sengaja memilih disana supaya tempat-tempat yang akan dia liput tidak terlalu jauh. Segera ia masuk ke kamar untuk istirahat sebentar sebelum ia menuju sebuah café legendaris yang ada di Jalan Braga, ia janji dengan managernya jam 7 malam nanti. Amel mencoba menghubungi Seno karena ia masih penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi siang. Hp nya tidak aktif. Ia hubungi Tita, sama saja, hp nya tidak aktif juga. Amel menebak-nebak kenapa kedua orang itu tidak mengaktifkan hp nya. “Apa mereka menginap disana? Sekarang mereka sedang tidur bersama? Aaarrrggh,” gumam Amel dalam hati. Saat Amel tengah kesal dengan apa yang tadi ada panggilan masuk. Dwiko. “Ya Mas,” ujar Amel. “Gimana sama Pak Wandi tadi? Lancar? Tempatnya bagus?” tanya Dwiko tanpa bas abasi. “Beres dong. Wah tempatnya memang sekeren yang ada di beberapa berita. Malah mereka punya tempat lain lagi. Mereka ada……. ,” Amel menjelaskan informasi tambahan tentang Pak Wandi dan usaha lainnya. Dwiko menyimak dengan serius kemudian mereka membahas hal lain yang cukup menyita waktu sampai tidak terasa jam sudah menunjukkan di angka setengah tujuh. “Mas, aku jam 7 udah janji sama menejer operasional di Café legendaris yang di Braga itu. Kita lanjut lagi nanti ya,” ujar Amel mengakhiri percakapan dengan Dwiko. “Oh okay, iya kalau gak terlalu malam kita sambung lagi, atau besok juga gak apa-apa. Have a good time, Mel,” ujar Dwiko menyudahi percakapan. *** Dengan apik Amel menata piring berisi beberapa andalan dari café jadul yang berada di Jalan Braga itu. Kemudian memotretnya dari beberapa sudut pengambilan. Berulang kali Amel menghapus hasil jepretannya karena merasa masih ada yang kurang sampai menemukan hasil yang diinginkan. Satu persatu sajian menu unggulan sudah difotonya. Satu jam lemih lima menit akhirnya selesai. Amel baru bisa tersenyum ketika melihat seluruh hasil fotonya. Saat tengah mengambil gambar Amel sangat serius dan fokus, beberapa pengunjung yang menghentikan langkahnya untuk melihat apa yang sedang dilakukan Amel tidak mengganggu konsentrasinya. Seorang pria memasuki areal teras café, ia melihat kea rah Amel yang tengah asyik megambil gambar. Keberadaan Amel mudah diketahui dengan tampilan salah satu sudut café yang digunakan untuk sesi foto menuandalan cefe tersebut. Sebuah tripod dengan kamera diatasnya, standing light serta aneka menu yang ditata sedemikian rupa tentu akan mengundang perhatian pengunjung yang ada disana. Apalagi jika melihat seorang gadis manis dengan rambut ekor kuda yang tengah asyik membidik objek foto. Maka tak salah jika pria yang baru saja masuk tadi mengeluarkan handphonenya kemudian mengambil beberapa foto. Pria itu kemudian duduk di sudut temaram dengan posisi yang memudahkannya untuk melihat aktivitas yang sedang dilakukan Amel. Kemudian ia memanggil waiter dan memesan segelas espresso panas untuk dirinya. Ia memperhatikan aktivitas yang dilakukan Amel dari kejauhan sambil menulis pesan kemudian mengirimkannya pada seseorang. Tidak lama pria itu membaca pesan yang masuk dari orang yang dikiriminya pesan tadi. Kemudian ia beranjak pergi menuju kasir membayar minuman yang dipesannya lalu meninggalkan tempat itu. Saat pria tadi sedang membalikkan badan meninggalkan kasir tidak sengaja Amel melirik. Ia seperti mengenal sosok itu. Tapi ia tidak yakin lalu kembali melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya. *** Amel menikmati sajian Huzarensla dihadapannya, mengunyahnya perlahan, menikmati perpaduan daging sapi yang empuk bercampur dengan potongan apel, mentimun, buah bit, kentang, nanas. Saus mayonnaise sebagai bahan campurannya menghadirkan sensasi tersendiri -ada lidah Amel. Amel mangunyahnya perlahan, sementara Tantoro, manager operasional yang menjadi narasumbernya memperhatikan penuh senyum. “Bagaimana? Enak?” tanya Tantoro. Amel tidak menjawab, hanya menggelengkan kepaa menunjukkan bahwa ia sedang menikmati sajian tersebut tanpa ingin berkata-kata dulu. “Uhm.. uhm..” hanya gumam sebagai ekspresi nikmat yang ditampilkan Amel, ia menuntaskan kunyahannya kemudian menelannya. “Ini.. ini enak banget, dressingnya unik rasanya,” ujar Amel kemudian mengambil gelas erisi air putih lalu meminumnya. “Ini memang menu khas kami, sudah sejak dulu menu menjadi salah satu andalan ciri khas kami,” ungkap Tantoro. Amel melihat ada dua piring di depannya berisi dua menu berbeda, lalu ada dua piring kecil berisi dua light meal yang berbeda pula. Semuanya harus Amel cicipi sebagai bahan tulisan. Amel berpikir, apakah semua menu itu bisa masuk kedalam perutnya, kalau tidak semua sampai habis paling tidak setengahnya. Seperti dapat mengetahui yang Amel pikirkan Tantoro berujar, “Tenang, kalau tidak habis bisa dibawa, lumayan untuk ngemil di hotel,” ujar Tantoro sambil tertawa. Amel tersipu, merasa terbaca oleh lawan bicaranya. Tantoro menyodorkan sajian berikutnya mempersilakan Amel untuk mencicipinya. Sambil melakukan wawancara Amel menikmati menu-menu tersebut meski Amel tidak menghabiskannya karena perutnya tidak muat.. Amel menyelesikan liputannya pada jam sembilan tepat. Ia berpamitan pada Tantoro yang membekalinya dengan menu yang tidak sempat dihabiskan Amel. “Lumayan buat ngemil,” ujar Tantoro sambil mengantar Amel memasuki kendaraan yang diparkir di depan area café. Saat tiba di kamar hotel Amel langsung tidur. Lelahna mengalahkan rasa penasaran pada peristiwa siang tadi. BAB 5. OH… BEGITU Amel sedang menikmati sarapan ketika ada panggilan masuk. Seno. Amel segera meraih handphonenya. “Ya No…” “Mel.” “Kok hp nya mati.” “Gak ada sinyal menarin siang, Mel. Terus low bat dan aku lupa bawa charger.” “Kemarin kamu sama Tita ngapain di Lembang,” tanpa basa basi Amel langsung bertanya. “Di Ratu Gunung, kan,” jawab Seno enteng. Amel mengerutkan kening, kok? “Iya, aku lihat kalian masuk kesana, waktu aku susul Mas Dwiko nelpon, aku udah ditunggu narasumber. Jadi batal.” “Kok gak telpon?” “Kutelpon lah, hap kalian dua-duanya mati. Terus kok bisa bareng Tita, kan Tita lagi tugas ke Jogja,” lanjut Amel dengan suara mulai meninggi. “Pas masuk area hotel sinyal ilang, Mel,” jawab Seno. “Sampai malem sinyal hilang? Memang kalian nginep disana?” “Kubilang tadi kan low bat dan gak bawa charger. Tita juga gitu, sinyal hilang dan lupa gak bawa charger.” “Kok kompak ya.” “Apa sih Mel. Kemarin aku harus ketemu GM hotel itu, kami akan bikin acara disana. Terus Tita, kami pakai jasa kantor dia untuk jadi EO nya. Kemarin dia batal ke Jogja kok, temennya yang berangkat. Makanya Tita jadi bareng aku untuk bahas acara itu. Kita gak berdua kok, ada empat orang tim dari Tita yang nyusul. Mungkin kamu gak liat mereka masuk,” jelas Seno panjang lebar. Tidak ada nada gugup merasa dipergoki. Terdengar normal saja sehingga Amel merasa malu sendiri karena sudah berpikiran terlalu jauh. “Kenapa diem? Cemburu?” lanjut Seno. “Ap .. apaan cemburu. Enggak kok. Ya cuma pengen tau aja kok kalian bisa bareng, padahal kan kamu katanya meeting, terus Tita ke Jogja,” jawab Amel melunak. “Nanti aku bilang Tita deh, ada yang cemburu sama tunangannya,” ujar Seno jahil. “Apa sih kamu. Gak lah, ngapain cemburu. Ya udah aku lanjut sarapan dulu, hari ini ada dua hotel yang bakal aku datangi, toko bakery, dan satu cafe. Kemarin aku sudah mendatangi ada café. Masih panjang nih perjalananku,” lanjut Amel lagi. "Oke, selamat kerja ya… jangan lupa makan, jangan kemaleman tidur,” jawab Seno. Mereka menutup pembicaraan, Amel meletakkan handphonenya lalu melanjutkan sarapan yang tertunda dengan hati tenang. Terjawab sudah kekhawatiran dan kecurigaannya kemarin. *** Amel tengah melakukan wawancara dengan GM hotel yang berada di jantung kota Bandung didampingi oleh PR Manajer nya. Sebuah hotel yang sudah ada sejak tahun 1871 yang tadinya dihuni oleh keluarga berkebangsaan Jerman, Homann. Dalam perkembangan selanjutnya bangunan tersebut dipugar menjadi sebuah hotel yang cukup besar yang masih berdiri sampai saat ini. Amel menyimak penjelasan dari PR Manajer dengan tekun sambil melayangkan khayalan pada masa itu. Ketika orang Belanda masih berlalu lalang di kota ini. Terlebih ketika mendengarkan kisah para pemilik perkebunan teh atau dikenal dengan sebutan Preanger Planters kerap mampir menginap saat akhir pekan lalu menikmati hiburan di Gedung Concordia yang tidak jauh dari lokasi hotel tersebut. Saat ini Gedung Concordia tersebut berfungsi sebagai Musium Konfrensi Asia Afrika. Tidak terasa, sudah hampir tengah hari. Amel menyelesaikan wawancara dan mengambil gambar hotel tersebut, lalu berpamitan. Amel menuju kearah jalan Lengkong Kecil dari hotel tersebut. Ia ingin menikmati mie yang cukup melegenda yang berada di jalan Nursijan. Setelah menikmati satu porsi Yamien manis komplit, Amel melanjutkan perjalanan menuju Hotel kecil yang sudah ada sejak tahun tahun 1945 di dekat Gedung Sate Bandung. Dahulu hotel tersebut bernama Pension Benvenuto, yang sudah berganti nama lain tahun enampuluha. Sampai hari ini hotel tersebut masih beroperasi dan tidak banyak perubahan pada desain arsitekturalnya. Amel berbincang dengan manajer opreasionalnya ditemani secangkir kopi panas, Aroma. Setelah melakukan pengambilan gambar di hotel tersebut Amel melanjutkan perjalanan menuju sebuah bakery yang sudah ada sejak tahun 1946. Sebuah bakery yang sudah ada sejak jaman kemerdekaan, yang bermula beroperasi di Jalan Sumatera lalu tahun 1974 pindah ke jalan Bawean sampai saat ini. Setelah itu Amel melanjutkan perjalanan menuju kawasan Dago, mengunjungi sebuah café kecil di sudut jalan Hasanudin tidak jauh dari sebuah rumah sakit swasta terkenal di Bandung. Saat kuliah, Amel sering mampir kesana, sebagai pengunjung. Saat ini Amel menemui pemiliknya untuk mengetahui lebih jauh mengenai café tersebut. Obrolan mereka diselingi oleh sajian baso goreng, menu top di café itu. Amel sengaja tidak mencicipi Yamien Manis, salah satu menu andalannya karena sudah menikmati seporsi yamien sebagai menu makan siangnya. Amel berpamitan. Saat itu sudah jam tujuh malam lebih. Karena tidak ada yang akan dikunjungi lagi Amel berniat akan segera ke hotel dan tidur cepat. Saat Amel berjabatan tangan berpamitan tanpa sengaja Amel menangkap sosok seseorang yang ia pikir dikenalnya. Namun karena orang itu ada di sudut temaram maka Amel tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Sehingga Amel menganggap itu hanya seseorang yang mirip saja. *** BAB. 6 MALAM MINGGU DI BANDUNG Hari ini adalah hari terakhir liputan Amel di Bandung. Ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah café sekaligus ruang komunitas di Jalan Bungur. Amel lumayan harus bersabar karena lalu lintas saat malam minggu sangat padat menuju tempat yang ditujunya. Padahal jarak dari hotel tempatnya menginap di jalan Dago dalam kondisi normal bisa ditempuh kurang dari setengah jam. Tapi malam ini sudah tiga puluh menit ia belum sampai di tujuan. Saat tengah menunggu lampu merah di jalan Lamping – Cipaganti, Amel melihat dari spion ada yang menyalakan dim. Siapa, pikir Amel heran. Tak lama nada panggil terdengar. Andi Pratama. Lho? Amel pun mengambil handphonenya, langsung mengkatifkan speaker phone karena lampu hijau sudah menyala. “Hai,” sapa Amel. “Hai, Mel. Mau kemana nih?” “Hah? Aku.. mau liputan, ke jalan Bungur.” “Kemana?” “Itu, ke café komunitas itu, yang pernah buka kelas harmonika, itu lho,” jawab Amel. “Oh, iya aku tahu. See you.” Hubungan dimatikan. Lho?! Apa ini? Aneh deh. Semula Amel akan menghubungi kembali tapi karena kendaraan sudah mulai bergerak maka Amel mengurungkannya. *** Akhirnya Amel tiba di tempat yang dituju. Kendaraan berderet di pinggir jalan sehingga Amel harus rela memarkirkan kendaraannya di halaman sebuah tempat makan yang sudah tidak beroperasi sesuai arahan petugas parkir. Amel memarkirkan kendaraannya paling ujung, karena hanya itu yang mudah bagi Amel. Kemudian ia mengambi tas kamera yang ada di jok belakang. Otomatis ia membalikkan badannya untuk mengambil tas tersebut. Saat ia membalikkan badan ke depan ia melihat seseorang berdiri di depan mobilnya. Karena suasana gelap Amel tidak mengenalinya, ia menyangka itu adalah petugas parker, namun rasanya berbeda dengan yang tadi mengarahkannya ke tempat itu. Ia membuka pintu mobil sambil menentang tas, sambil mengaktifkan car lock ia menatap kearah seseorang yang tengah berdiri. Dan dapat dipastikan seorang pria. “Andi?” ujar Amel kaget setelah dapat melihat jelas orang tersebut. Yang ditanya hanya tersenyum sambil menghampiri Amel kemudin mengambil tas kamera dari tangan Amel lalu membalikkan badan berjalan meninggalkan area parker. Amel segera menyusul langkah lebar Adi. “Eh, eh, tunggu jangan cepet-cepet,” ujar Amel. Andi tidak menjawab, tetap melangkah sambil menoleh, tersenyum. Eh, kok?? Sampai di pelataran parkir café yang dituju Andi mendadak berhenti melangkah, Amel yang berada di belakangnya kaget lalu menabrak bagian belakang tubuh Andi. “Eh, kenapa?” tanya Amel sambil memundurkan langkahnya, menjauhkan dadanya yang menempel di punggung Andi. Ia membalikkan badannya kemudian mempersilakan Amel berjalan lebih dulu didepannya. “Kasih kode atau apa gitu kalau mau berhenti. Ini mendadak. Bikin kaget,” Amel menggerutu dalam hati meski wajahnya menampakkan senyum saat Andi mempersilakannya terlebih dahulu. Area café sudah dipenuhi pengunjung, tersisa tempat duduk untuk dua orang pada meja panjang dengan bangku panjang, menghadap ke arah stage. Lalu keduanya duduk, mau tidak mau berdempatan. “Kok bisa disini, harusnya kan di café, pasti penuh kan disana, ayahmu siapa yang damping?” tanya Amel setelah mereks berdua duduk. Andi tertawa kecil, “Enaknya asisten adalah ada jatah libur, apalagi malam minggu. Kalau pemilik, ya harus disana,” jawab Andi. “Lhoooo,, bukan sebaliknya? Owner ya libur dong, asisten yang tangani. Aneh,” jawab Amel. “Malam minggu penuh dan hectic sudah biasa disana, dan semua sudah terlatih tahu harus bagaimana. Malam minggu ada disini bareng kamu, itu baru tidak biasa,” jawan Andi tenang. Eh… wajah Amel memanas karena jengah. Tapi tidak lama, karena kemudian Amel mulai mengedarkan pandangan mengamati situasi disana. “Sebentar ya, aku cari yang punya,” ujar Amel sambil akan berdiri. Tangan Andi menahan punggungnya untuk berdiri, “Tunggu aja, dia yang akan cari kamu,” jawab Andi tenang. Amel menatap bingung. Tak lama terdengar suara, “Andi Pratama. Sebuah kehormatan tempat ini dikunjungi pengusaha muda berbakat,” seorang pria menyapa sambil mendatangi mereka. Andi bangkit kemudian menjabat tangan pria tadi sambil memeluk hangat, lalu keduanya tertawa saling lempar pujian. “Jadi ketemuan?,” tanya Andi pada pria yang kemudian diketahui bernama Handi. “Iya, tapi keliatannya dia kena macet, soalnya dia belum sampai,” jawab Handi. “Amel kan?” tanya Andi. “Iya, tadi kamu bilang dia udah mau sampai,” ujar Handi. Andi kemudian menyentuh pundak Amel, “Bener kan? Gak usah dicari, nanti datang sendiri,” ujar Andi. Amel menatap penuh tanya pada pria yang baru saja bertegur sapa dengan Andi, sementara pria tadi balik menatap Amel. “Amel? Amel Pratiwi? Saya Handi,” ujarnya sambil mengulurkan tangan mengajak Amel bersalaman. Amelpun menyambutnya. “Amel,” ujar Amel pendek kehilangan kata-kata Handi kemudian mengajak Amel dan Andi menuju ruangan berdinding kaca di bagian lain area café. Mereka duduk pada sofa panjang yang ada disana. Percakapanpun mengalir, Amel menyimak dengan serius segala hal yang disampaikan Handi mengenai asal mula ia membuka café komunitas tersebut. Sementara Andi tidak mengganggu meeka dan asyik dengan handphonenya. Sekitar jam setengah sepuluh Amel.mengakhiri wawancara dengan Handi. Lalu berpamitan. Di tempat parkir Amel mengucapkan terima kasih pada Andi yang sudah menemaninya malam itu. "Makasih ya," ujar Amel. "Sama-sama. Berkabar ya, kalau ada waktu ke kebun nanti kita atur," jawab Andi. Merekapun berpisah. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook