13

1099 Kata
Nesya menggedor-gedor pintu kamarnya yang terkunci rapat, diluar sana Ayah dan Bunda sedang tertawa cekikikan karena berhasil mengelabuhi putri sulungnya itu. "Ayah! Bunda! Kok Nesya dikunciin, sih?!" teriak Nesya dari dalam kamar. "Biar kamu nggak pergi, lagi. Anak nakal, seenak aja pulang pergi. Kalau sudah masuk rumah ini, kamu nggak bisa keluar lagi." sahut Hanz santai dari luar. "Tapi, kan Ayah sama Bunda yang nyuruh Nesya kuliah di Luar Negeri. Nesya harus terbiasa di sana, sampai Nesya harus merelakan tahun terakhir Nesya di SMA. Cuman buat Ayah sama Bunda, sekarang Nesya malah diginiin!" protesnya tidak terima. "Bunda sama Ayah nyuruh kamu sekolah disana, bukan kerja apa lagi sampai tunangan!" balas Hanz tidak kalah sengit. Citra mengelus punggung suaminya dengan lembut. "Udah, Yah. Jangan ikut-ikutan teriak, nanti jantung Ayah kumat." tegur Citra. Hanz menurut. "Nesya, kamu Ayah kunci di sana sampai keluarga kenalan Ayah datang." "Hah? Kalau apa hubungannya Nesya sama keluarga temen Ayah?!" protesnya marah. "Mau Ayah jodohkan." balas Ayahnya santai, semenit kemudian, orang tua Nesya sudah melengos pergi entah kemana. Sedangkan Nesya, ia hampir saja menjeduk-jedukkan kepalanya ke tembok. Seharusnya ia tidak perlu pulang, kalau tau begini. "Pengennya jomblo, malah dijodohin!" gerutunya kesal. ***** Rey masuk ke dalam kamarnya dengan menyeret koper besarnya, setelah melalui perjalanan yang amat panjang, akhirnya Rey sampai dirumahnya. Baru saja ingin memejamkan mata, Rey mendengar seseorang masuk kedalan kamarnya. Dari derapan langkahnya, dapat Rey pastikan bahwa itu adalah Regitha. "Abang, oleh-oleh Rere mana?" tanya gadis berusia tujuh belas tahun itu. Rey menggeram kesal karena istirahatnya terganggu. "Re, abang baru pulang. Jangan ditanyain oleh-oleh dulu, dong!" jawab Rey gusar. Bukannya berhenti mengganggu kakaknya, Regitha malah semakin menjadi-jadi dengan ulah usilnya. Gadis berperawakan tinggi bak model professional itu, menyunggingkan senyum jahilnya. "Lah, abang kan udah janji. Mana? Mana janjinya? Idih, pantesan aja ditinggalin kak Nesya. Orang kakak suka ingkar janji." godanya, semakin membuat Rey geram. "Re, sehari ini aja. Jangan ajak abang berantem." ucap Rey dengan nada menahan amarah. Rere meneguk salivanya, baru kali ini kakaknya menganggap serius bercandaannya. Namun, bukanlah Regitha namanya kalau belum membuat orang benar-benar tersulut emosi karena bibir lemeshnya. "Ih, ab--"  "Rere!" tegur seorang wanita berambut pirang se pinggang yang sedang berdiri di tengah pintu. Regitha menoleh, menatap wanita yang baru saja menegurnya. Regitha menyunggingkan cengiran lebarnya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kala melihat tatapan tajam ibunya. "Eh, Mama. Kapan dateng?" ucap Regitha berbasa-basi, sekedar mengalihkan perhatian. Zahra tidak menggubris pertanyaan putri keduanya itu, ia berjalan menghampiri kedua anaknya dengan wajah datarnya. Ketika ia sudah sampai dihadapan mereka, Zahra langsung menyambar Rey dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Gimana, Bang? Dapet, Nesya-nya?" "Nggak." balas Rey ketus. Zahra tersenyum, ia menyuruh Rey dan Regitha duduk di tepi ranjang. "Sini, nak." ajaknya. Rey dan Regitha menurut, mereka duduk di tepi ranjang dengan posisi Zahra ditengah dan diapit oleh kedua anaknya yang sedang di rangkulnya.  "Jangan pernah hancur, cuman karena cinta. Ingat hidup kamu sebelum ketemu dia, bahagia aja kan?"  Regitha menyela ceramah ibunya. "Ma, hidup bang Rey sebelum ketemu sama kak Nesya itu berantakan tau. Pas sama kak Nesya, cuek sama judesnya kan ilang." komentar Regitha, ia melirik Rey dari sudut matanya, kemudian Regitha menyunggingkan senyum jahilnya. "Apa lo, Bang? Napa muka lo ditekuk begitu?" tantang Regitha. "Bener kan, apa yang Rere bilang?" "Berisik." ketus Rey. "Sttt!" tegur Zahra pada dua anaknya itu. "Rere, udah dong. Kok ngajakin abang berantem mulu? Makin gede, makin jahil kamu ya!" Regitha hanya terkekeh mendengar teguran ibunya itu. "Udah, kita lanjutin nanti. Sekarang, kalian siap-siap, yuk?" Rey menaikkan sebelah alisnya menatap Zahra, bingung. "Siap-siap?" "Iy--" "Dasar kudet, kami mau makan malem. BERTIGA doang, gara-gara abang pulang, Rere batal jadi anak tunggal." sahut Regitha dengan mulutnya yang tidak pernah difilter. Rey memutar bola matanya malas. "Ma, dia ini," ucap Rey seraya menunjuk Rere. "Beneran Regitha adik aku bukan, sih? Perasaan dulu emang bawel, tapi nggak ngeselin kayak gini." gerutunya. "Abang!" marah Regitha, ia melipat kedua tangannya didepan d**a seraya menggembungkan pipinya. Saat melihat ekspresi Regitha yang seperti itu, Rey menjadi tidak ragu lagi. "Oh, beneran Rere ternyata. Cara ngambeknya masih sama." Rey terkekeh. Regitha memutar bola matanya malas, ia memilih pergi dari kamar kakaknya itu. Lebih baik ia segera bersiap, karena Regitha berdandan sangat lama, ia harus memulainya dari sekarang. Tidak memedulikan adiknya, Rey mengalihkan pandangannya pada ibunya. "Ma, Rey nggak usah ikut, ya?" pintanya memelas. Zahra dengan cepat menggerakan telunjuknya ke kiri dan ke kanan tepat didepan wajah Rey. "No, no, no. Harus ikut, abang itu kayak bang Toyib tau nggak? Jarang banget pulang ke rumah, sekali-sekali dong kita dinner berempat. Kan udah lama engga, abang sibuk, Papa sibuk, kita semua sibuk."  Rey menghela nafasnya, "Yaudah. Rey siap-siap, dulu ya?. Mama nggak siap-siap?"  "Nanti aja." sahut Zahra. "Mama itu dandannya lama, kayak Rere. Mendingan siap-siap dari sekarang." "Jelas lah lama, mama kan mantan model dan aktris terkenal. Biar perfect." ucap Zahra dengan sombong, persis seperti dirinya saat muda. "Nostalgia, Ma?" sindir Rey diiringi alisnya yang naik turun. Zahra tersipu malu, ia menepuk kecil pundak anak sulungnya itu. "Udah, ah. Ntar Papa bisa marah kalau tau mama belum siap. Kamu cepetan ya."  Setelah itu, Zahra meninggalkan Rey sendirian. ***** Keluarga Wirawan sedang bercanda ria di dalam mobil, Eldy yang sedang menyetir dan Zahra di sampingnya. Di belakang, ada Rey dan Rere yang terus berdebat tentang dress yang Rere kenakan. "Baju macem apa coba, depannya pendek, belakangnya panjang. Kurang bahan?" tanya Rey sinis. "Ini itu namanya fashion! Dasar abang kudet, pantesan jomblo. Orang nggak ngerti selera cewek." jelas Regitha panjang lebar. Zahra yang terus mendengarkan perdebatan kecil kedua anaknya itu terkekeh kecil, ia jadi teringat pada Zafran dan Zaskya yang hoby-nya bertengkar karena hal kecil. "Jadi inget bang Zafran sama Zaskya, ya. Pa?" ujar Zahra pada Eldy yang tengah fokus menyetir. "Iya, nular tuh." jawab Eldy singkat. Tidak lama, mobil Alpart milik Eldy sudah sampai di pekarangan rumah bertingkat dua dengan gaya minimalist itu. "Yuk." ajak Eldy pada seluruh keluarganya untuk turun. "Pa, katanya mau ke restoran. Kok malah ke sini?" tanya Regitha seraya memerhatikan bangunan besar dihadapannya ini. "Iya, kita makan malem di sini. Rumah teman kerja Papa, yuk masuk."  Rey menurut saja, matanya sekilas melihat rumah bertingkat dua dengan cat abu-abu ini. Baru pertama kali Rey ke sini, rasanya akan terjadi sesuatu. **** "Ayo, silahkan duduk." ucap pria paruh baya berusia 45tahun itu. Rey menatap pria itu dengan seksama, bola matanya membulat kala ia sudah mengingat siapa pria itu. Itu adalah Hanz, ayah Tiara yang berarti Ayah Nesya juga. Berarti, dirumah ini, ya! Nesya pasti ada disini. ************************************  Haiiii!!!!! Maaf ya, updatenya lama......  Banyak tugas dan gue pulang jam 5  sore :'). Tungguin updatennya lagi besok, ya! Salam 6®
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN