"Bun, Nesya nggak suka pake baju beginian!" protes Nesya seraya mengayun-ayunkan dress biru malam tanpa lengan yang melekat indah pada tubuhnya itu.
"Sekali, sekali kek, Kak. Masa mau ketemu calon penampilan Kakak biasa, biasa aja. Yang ada cowoknya minder." sahut Tiara yang tengah duduk di kasur Nesya.
"Iya, bener kata Tiara. Ntar cowoknya ilfeel, mau jadi jomblo seumur hidup?" goda Bundanya.
Nesya menggerutu kesal, menatap dirinya di cermin dengan dress biru malam se lutut tanpa lengan yang ia kenakan saat ini. Rambut pirangnya ia biarkan tergerai sampai ke pinggang.
Kaki indahnya di balut higheels berwarna silver setinggi 5cm, karena tubuh Nesya lumayan kecil. Sekarang, tampang imut-imutnya sudah digantikan dengan penampilannya yang lebih dewasa, lebih sesuai dengan umurnya yang sudah menginjak kepala dua.
"Tiara, temenin kakak disini, ya? Bunda mau keluar dulu, cek keluarga temen Ayah." ucap Bunda seraya berdiri.
Tiara mengangguk patuh, seraya mengangkat jari-jarinya ke udara membentuk huruf 'O'. "Siap, Bunda."
Citra tersenyum menatap kedua putri kembarnya itu, setelah itu, Citra langsung keluar kamar Nesya, untuk menyusul Hanz yang sudah di bawah.
"Ra." panggil Nesya pelan.
Tiara yang sedang menatap benda pipih berwarna rose gold di genggamannya itu, langsung mendongak menatap kakanya. Mata Tiara menangkap wajah panik Nesya. Dan, Tiara sudah tau apa penyebabnya.
"Apaan, Kak?" sahut Tiara acuh, setelah itu ia kembali menatap layar ponselnya.
Nesya geram, kemudian ia merebut ponsel Tiara dengan kasar. "Perhatiin gue dulu, gue lagi pusing setengah modar, lo asik-asikan main handphone!"
Tiara memutar bola matanya malas. "Slow down aja, Kak. Cowoknya baik, ganteng, mapan, kaya. Hidup lo bakalan bahagia, kaya gue sama Jordan. Gue jamin, deh."
"Enak banget lo ngomong, gue yang udah bertahun-tahun sama Pieter aja nggak punya rasa apa-apa! Hidup gue kenapa abstrak sini, sih!" gerutu Nesya kesal. "Apa salah Nesya, Ya Allah."
"Salah Nesya udah ninggalin, Rey." sahut Tiara.
Nesya melirik Tiara tajam. "Lo bukannya bantuin gue, malah mojokin gue."
Tiara menghela nafasnya. "Udah gue bilang, Kak. Lo bakalan bahagia sama dia, hidup lo terjamin. Semua penderitaan lo akan berakhir, sumpah deh."
"Apa sih yang bikin lo se yakin itu, Ra? Siapa sih orangnya, Raja Arab?"
"Raja Arab udah tua kali, Kak. Mau lo?"
"Pangeran Arab maksud gue."
Tiara terkekeh. "Ini mah lebih dari Pangeran Arab."
Nesya menaikkan sebelah alisnya. "Seriously?"
Tiara mengangguk semangat. "Dia Raja, dikerajaan cinta lo bedua." ujar Tiara, kemudian ia tertawa terpingkal seraya memegangi perutnya. Airmatanya bahkan ikut mengalir di sela tawanya, padahal bagi Nesya tidak ada yang lucu.
****
Rey terus pada pikirannya yang selalu bertanya-tanya, apakah benar ini rumah Nesya, apakah Nesya berada disini. Dan sebagainya.
Kaki Rey tiada henti ia hentak-hentakkan, tidak sabar menunggu gadis yang sedang dipanggil oleh ibunya tadi datang ke sini.
"Bang, nggak sabar ya lo?" bisik Regitha pelan.
Rey melirik tajam Rere yang duduk tepat disampingnya itu. "Berisik!"
Regitha mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian menelengkan kepalanya ke samping, menatap sebal ke arah ibunya.
"Mama! Bang Rey, tuh! Rere ngomong baik-baik, malah di ketusin!" rengeknya.
"Stt!" sahut Zahra, menguruh Regitha diam. Semakin membuat gadis itu kehilangan moodnya.
Tidak lama, Citra datang dengan dua gadis berwajah mirip disamping kiri dan kanannya.
Rey mendongakan kepalanya, menatap tiga wanita yang ada di hadapannya kini. Mata Rey membulat sempurna, kala ia melihat seorang gadis mengenakan dress biru malam yang tengah dirangkul oleh ibunya.
Mulut Rey ternganga, kala melihat penampilan Nesya malam ini. Cantik, itu yang ada didalam benak Rey saat ini. Gadis itu benar-benar berbeda, dengan setelan dress yang yang ia kenakan.
Rey meneguk salivanya saat Nesya tidak sengaja menatapnya, gadis itu juga nampak terkejut saat melihat Rey bersama keluarganya berada disini.
Nesya mengalihkan pandangannya, menatap Tiara yang sedang tersenyum jahil padanya. Nesya menatap Tiara penuh tanda tanya, mereka seperti berbicara melalui telepati.
"Udah gue bilang, kan. Hidup lo bakalan bahagia." ujar Tiara.
"Nah, ini kedua putri saya." ujar Hanz seraya merangkul kedua putrinya.
Eldy mengangguk-anggukan kepalanya. "Yang ini," ucapnya seraya menunjuk Nesya. "Nesya kan?"
"Iya, Pa! Itu Nesya, aduh kamu tambah cantik, ya!" seru Zahra dengan semangat.
Nesya tersenyum kikuk, ia masih belum bisa menetralkan pikirannya. Ia menatap Bundanya yang berdiri dibelakang mereka, dengan penuh tanda tanya. "Bun, ini maksudnya apa?"
"Ini lho, Nesya. Kamu mau di jodohkan sama Rey, seneng nggak?" bukan Citra yang menjawab, namun Zahra.
"Hah?" ucap Rey dan Nesya bersamaan.
"Tuh, Pa! Kaget aja barengan, pasti jodoh ini mah." ujar Zahra seraya terkekeh pelan.
Baik Nesya maupun Rey, mereka sama-sama terdiam. Mungkin wajah mereka basa saja, namun hati mereka sedang melompat kegirangan.
"Tinggalin mereka berdua aja yuk, biar ngobrol." ajak Zahra.
Dasar Zahra, ia tersenyum jahil seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Rey. Baru kali ini Rey mengetahui sikap lain dari ibunya, jahil.
*****
Hening. Itu lah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana Nesya dan Reu saat ini. Mereka duduk berhadap-hadapan di ruang tamu yang besar ini.
Tidak ada yang membuka suaranya, bahkan Rey hanya diam saja. Karena, ada sedikit rasa marah dengan Nesya membuat lelaki itu hanya diam.
Nesya mulai tidak nyaman dengan suasana akward mereka saat ini, akhirnya ia mengalah dan mulai membuka percakapan.
"Kamu marah?" tanya Nesya.
Bodoh, tentu saja Rey marah.
"Ya." balas Rey acuh.
Nesya menundukkan kepalanya. "Maaf." cicitnya pelan.
"Maaf?" ulang Rey, lelaki itu tertawa hambar. "Lo itu aneh."
Nesya mendongakan kepalanya, menatap Rey aneh. "Aku? Aneh?" tanyanya.
Rey mengangguk. "Ya, lo itu aneh. Di kejar semakin jauh, di diemin malah datang sendiri."
"Emang kapan gue dateng ke, lo?" tanya Nesya.
"Ini buktinya. Mau lo pergi kemana pun, ujung-ujungnya ketemu gue kan?".
Nesya terkekeh. "Gue bodoh banget ya Rey?"
Rey mengangguk membenarkan pertanyaan Nesya. "Lo itu cewek terbodoh, plin plan, ceroboh, bocah, perut karet---"
"Nggak ada yang bagus apa di diri gue?" sela Nesya cepat.
"Ada, kok." jawab Rey seraya tersenyum.
"Apa?"
"Nesya cantik."
"Cuman cantik doang?"
Rey mengangguk. "Cuman cantik."
Nesya membuang mukanya kearah lain. Membuat Rey terkekeh karena itu.
"Bercanda, kok." ujar Rey. "Nesya itu cewek tercantik, baik, pinter. Makanya bisa jadi dokter. Sayang, kekuranganya cuman satu."
Nesya menaikkan sebelah alisnya. "Kekurangan aku apa?"
"Kekurangannya, kamu jomblo."
"Kata siapa?" tanya Nesya.
"Kata aku barusan, lah." jawab Rey.
"Aku nggak jomblo kok. Ayah udah jodohin aku."
"Iya, jodoh kamu kan aku."
Nesya terkekeh. "Pede banget, ya."
"Tapi mau kan?" goda Rey.
"Mau apa?" tanya Nesya.
"Jadi istri Rey."
Alis Nesya terangkat satu.
"Ini ngelamar?" tanya Nesya dan dijawab anggukan oleh Rey.
"Cincinnya mana? Kamu dari dulu nggak pernah romantis emang, ya." protes Nesya.
"Ntar semuanya nyusul, yang penting jawab dulu. Mau apa enggak? Tapi aku yakin sih, jawabannya pasti mau." ucap Rey percaya diri.
"Pede banget, Mas." balas Nesya dengan malas.
"Jadi?" tanya Rey menunggu jawaban.
Nesya menghela nafasnya. "Apa yang bikin kamu sampai segininya, sih? Aku udah nyakitin kamu, ninggalin kamu. Apa yang kamu harepin dari aku?"
Rey meraih kedua tangan Nesya, menggenggamnya erat dan menatap mata gadis itu lekat-lekat. "Aku nggak peduli dengan apa yang sudah di belakang. Semuanya aku anggep sebagai ujian, sampai pada akhirnya kita sampai di tahap ini. Dipertemukan lagi, aku rasa perjuangan itu mulai membuahkan hasil."
"Tapi, aku nggak pantes buat kamu Rey." ucap Nesya bergetar. Matanya mulai dilapisi kaca bening yang siap mengalir jika ia berkedip.
"Nesya, mau seperti apapun kamu. Seburuk apapun kamu, bagi aku kamu yang paling sempurna. Seorang cewek bodoh, yang selalu nyembunyiin masalahnya dengan senyuman. Dan, bisa ngeluluhin cowok batu kaya aku." ungkap Rey.
Airmata terharu dari pelupuk mata Nesya tidak dapat di bendung lagi. Ia menangis bahagia mendengar tuturan manis dari bibir Rey.
Rey mengernyitkan dahinya, kala melihat Nesya yang tiba-tiba menangis. Dengan cepat, Rey mendekati Nesya. Rey menangkup wajah Nesya dan menyeka airmatanya. Lelaki itu langsung memeluk Nesya erat.
"Kenapa nangis?" tanyanya.
"Aku seneng, Rey. Ternyata kamu sesayang itu sama aku, aku kira kamu bakalan benci aku. Aku nyesel pernah ninggalin kamu, maafin aku." ujar Nesya sambil terisak didalam pelukan Rey.
"Jangan minta maaf, aku cuman perlu jawaban."
"Kamu udah tau jawabannya, Rey." ujar Nesya terkekeh pelan.
Rey mendorong Nesya pelan, dan menatap gadis itu lekat-lekat. "Kamu mau?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Nesya.
"Makasih!" ucap Rey senang dan langsung menarik lagi Nesya kedalam pelukan hangatnya. "I love you, Nes."
Nesya tersenyum didalam pelukan Rey. "I love you too, Rey."
------------------------------------------------------------------
Haiiiiii
Maafkan part ini radagaje:(((
Gimana?puas nggak? Wkwk
Aku mau tamatin di part 20 boleh nggak?
By the way, jangan lupa comment dong. Aku suka bacain komen kalian, hihihi.
Udah ya. Bubay
®©