15

1186 Kata
Satu bulan kemudian. Hari ini tepat satu bulan kembalinya Nesya dan Rey. Tiga bulan lagi rencananya mereka akan melangsungkan pernikahan, untuk meresmikan hubungan mereka. Rey dengan seragam pilotnya, datang ke rumah sakit tempat Nesya baru-baru ini bekerja. Senyuman tidak dapat pudar dari bibinya, ditangan Rey ada sebuket bunga mawar merah yang berisikan 100 tangkai. Sudah lama Rey tidak memberikan kejutan untuk calon istrinya itu. Para pasien, suster, dokter dan beberapa staff lainnya memerhatikan Rey penuh harap. Menginginkan kekasih sekaligus calon suami seperti Rey. Para dokter muda wanita pun kagum padanya, karena Rey tidak pernah melihat wanita lain selain Nesya. Kaki Rey yang panjang, membawanya terus melangkah ke ruangan khusus bertuliskan "Dokter Umum". Rey memutar kenop pintu itu, dan langsung masuk ke dalamnya. Mata Rey membulat kala ia melihat apa yang sedang di lakukan Nesya. Gadis itu sedang makan siang, dengan sepuluh macam makanan yang tertata rapi di atas meja kerjanya. Box meal, pizza, sup buah, ayam panggang, mie goreng, mocca float, pie aple, beberapa buah-buahan, pempek dan juga cimol. Semua makanan itu terususun terpisah di dalam kotak  Tupperware warna-warni milik Bundanya. Mulut Rey ternganga kala ia melihat separuh dari makanan itu sudah habis, dan Rey belum melihat Nesya mulai kekenyangan.  "Kamu makan semua itu?"  Nesya mendongak menatap Rey yang tengah ternganga lebar karena ulahnya, Nesya malah nyengir lebar. "Sayang, mau?" tanya Nesya seraya mengacungkan paha ayam. Rey menggeleng, "buat kamu aja, abisin." "Bener, ya? Aku nawarin cuman sekali lo, kalo kamu nanti minta nggak bakalan aku kasih." Rey mengangguk. "Makan aja, buruan."  Lima menit kemudian, seluruh makanan itu ludes. Bersih tanpa sisa, Nesya mencuci tangannya dan mengambil beberapa helai tissue di atas meja kerjanya. Setelah selesai mengerigkan tangan dan membersihkan mulutnya, Nesya berjalan menghampiri Rey. "Itu apa?" tanya Nesya seraya menunjuk sebuket besar bunga mawar merah yang ada di genggaman Rey. "Ini? Siomay." jawab Rey asal. Nesya memutar bola matanya malas. "Itu bunga mawar, Rey. Kok siomay." "Nah! Itu tau, ngapain masih nanya?" ujar Rey. Nesya nyengir tidak berdosa. "He he." "He he he he." ulang Rey mengejek. "Itu bunganya mau di pegang mulu? Nggak mau di kasih ke aku?"  "Kamu udah kenyang?" tanya Rey. Nesya menaikkan sebelah alisnya. "Kok nggak nyambung?" "Jawab aja." "Udah." jawab Nesya sedikit kesal. Rey tersenyum penuh arti, lalu memberikan sebuket bunga mawar merah itu pada Nesya. "Buat kamu, aku tadi nanya kamu udah kenyang atau belum, takutnya kalau belum kenyang, bunganya kamu makan. Kan sayang." Nesya memukul bahu Rey keras. "Kamu kira aku sapi?" Rey menggeleng. "Sapi makannya rumput, bukan bunga." Nesya memutar bola matanya malas. "Serah." "Ini bunganya mau di ambil apa enggak? Tadi minta dikasih, waktu di kasih malah didiemin." Dengan malas, Nesya meraih bunga itu. Seketika mood-nya berubah kala aroma menyedapkan dari bunga itu menusuk hidung mancungnya. "Harum banget! Makasih, sayang!" ucapnya girang. Bahkan Nesya sampai memanggil Rey dengan sebutan sayang dengan mudahnya hari ini. "Apa perlu, aku bawain ginian tiap hari?"  "Buat apa?"  "Biar tiap hari kamu panggil sayang." ujar Rey seraya terkekeh. "Pengen banget, ya?" goda Nesya. "Biasa aja," jawab Rey pura-pura ketus. Nesya terkekeh, sudah lama mereka berdua tidak seperti ini.  "Rey?" panggil Nesya. "Hm?" sahut Rey. "Kamu tumben, dateng ke sini masih pake seragam. Habis landing?"  Rey mengangguk. "Iya, habis dari singapore. Terus aku kangen kamu, jadi langsung ke sini." Lagi-lagi Nesya terkekeh mendengar tuturan Rey. Rasanya hari ini ia sangat bahagia, bahkan Nesya merasa bahwa hari ini adalah hari terberuntung untuk dirinya. "Unch, ada yang kangen nih." ejeknya. "Emang kamu enggak? Kan aku udah seminggu nggak pulang." tanya Rey dan dijawab gelengan oleh Nesya. "Nggak kangen aku?" tanya Rey lagi. Dan, Nesya kembali menggeleng. "Beneran enggak?" tanya Rey lagi dan dibalas gelengan lagi oleh Nesya. "Yaudah." ucap Rey malas. Nesya terkekeh kembali. "Nggak salah lagi, Rey." "Udah males." ketus Rey. "Kalo sampe hitungan ke lima masih ngambek, aku suntik, nih!" ancam Nesya. "Suntik aja, nggak takut. Jarum kecil doang." tantang Rey. "Aku suntik pake suntikan printer, mau?"  "Gila dasar." ujar Rey seraya menoyor kepala Nesya. "Biarin, yang penting udah nggak ngambek lagi. Wek!" ucap Nesya seraya menjulurkan lidahnya, mengejek Rey. Rey menaikkan sebelah alisnya. "Kata siapa aku nggak ngambek lagi?"  "Masih ngambek?" tanya Nesya, Rey mengangguk sebagai jawaban. "Yaudah, aku balik ke London aja. Pieter nggak pernah ngambek."  "Loh!" sahut Rey cepat. "Kok malah Pieter?!" "Berenti ngambek, atau aku balik ke London?" ancam Nesya dengan wajah seriusnya. Rey mengalah dan akhirnya mengakhiri drama ngambeknya, membuat Nesya tersenyum girang.  "Gitu dong."  "Lagian, ngapain ngancem bawa-bawa Pieter sih." ketus Rey. "Kok marah lagi? Nantang beneran?" "IYA, AKU NGGAK MARAH LAGI, SAYANG." ucap Rey seraya menyunggingkan senyum terpaksanya. "Nurut banget, sih. Jadi sayang pake banget, deh!" gemas Nesya seraya mencubit-cubit wajah Rey. "Sakit, jangan dicubitin! Mending di cium, kan enak."  Nesya menoyor kepala Rey. "Enak di kamu, namanya." Rey terkekeh, kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dari dalam kantong celananya dan menyodorkan amplop itu pada Nesya. "Ini apa?" tanya Nesya seraya meraih amplop itu. Rey menunjuk amplop itu dengan dagunya. "Buka aja." Karena penasaran, langsung saja Nesya membuka amplop itu. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar kertas yang berisikan banyak huruf dan angka. Setelah membaca isinya, mata Nesya langsung berbinar. "New York?!" pekiknya tidak percaya. Rey tersenyum kala Nesya memekik girang. "Baca lagi yang satunya." ujarnya menyuruh Nesya membaca sisa kertas di dalam amplop itu. Lagi, Nesya mengambil kertas yang tersisa didalam amplop coklat itu dan membacanya lagi. Dan sekali lagi, matanya membulat sempurna kala mendapatkan kejutan yang bertubi-tubi dari Rey. "Dubai!" pekiknya tidak kalah girang dari yang tadi. "Kita berdua? Ke New York, ke Dubai?" "Iya, sayang." jawab Rey seraya mengacak puncak kepala Nesya dengan sayang. "Eh, kamu nggak kerja emang?"  Rey menggeleng. "Aku ambil cuti lagi, cape. Selama ini aku nggak pernah cuti, waktu jemput kamu di London aku cuti 30hari dan cuman ke pake 12 hari." Alis Nesya terangkat satu. "Kok cutinya bisa sampe sebulan gitu?" Rey menggedikan bahunya. "Nggak tau juga, mungkin karena aku spesial." ucapnya percaya diri. Nesya memutar bola matanya malas untuk yang ke sekian kalinya. "Serius, Rey." "Aku serius, Nes. Aku nggak tau kenapa di izinin." ujar Rey jujur. "Yaudahlah, mungkin kamu beneran spesial." ujar Nesya acuh. Ia kembali menatap tiket yang sudah berada di genggamannya. Nesya membaca lagi tiket itu, dan matanya terbelalak kala melihay jadwal keberangkatan mereka. "Rey!" pekiknya. "Apa?" jawab Rry singkat. "Ini serius?" tanya Nesya seraya menunjuk tiket itu. "Serius, lah."  "Kita berangkat malam ini?!" tanya Nesya lagi dan dijawab anggukan oleh Rey. "KITA MAU KE LUAR NEGERI LIMA JAM LAGI, AKU BELUM SIAP-SIAP. BELUM MINTA CUTI, DAN KAMU DENGAN SANTAINYA DUDUK DISITU?" geram Nesya. "Aku udah siap, udah izinin kamu juga sama pak Broto juga. Kamu tinggal packing aja, beres." ujar Rey santai. "Rey, pulang sekarang!" geram Nesya. ------------------------------------------------------------------- Hai! Sorry bangetbkalau part ini jade gaje, aku bkin part khusus Nesya dan Rey aja kali ini. Biar kaliam puasnekwk. Gimana? Seeet atau berlebihan? Aku nggak berpengalaman buat orang baper, jadi aku cuman bisa kayak gini, hehe. Selamat malam mingggu buat yang nava sekarang dan Happy Sunday buat yang baca besok. Jangan lupa komen dan vote ya! Aku suka baca komen kalian, kadang bikin ngakak. Walaupun aku nggak bales, hehe maafin aku ya... ®©
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN