16

1080 Kata
Rey memerhatikan dirinya di cermin, ia mengenakan kacamata hitam, jeans berwarna biru, kaos hitam dan jaket jenis boomber berwarna hijau army. Rey tersenyum samar, lalu ia melangkahkan kakinya menuju motor besarnya.  Sadar akan kesalahannya, Rey menepuk jidatnya. "Gue kan mesti jemput Nesya, ngapain bawa motor" rutuknya. Kemudian, Rey menaruh helmnya dan memutar haluan untuk menaikki mobil ferarri berwarna biru muda metalic miliknya. Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Saat melewati jalan yang sepi, Rey mengeluarkan benda pipih berwarna jet black miliknya, mengutak atik benda itu sebentar dan menempelkan headset pada kedua telinganya. "Hallo?" sapa Rey. "Nes, aku udah jalan ke rumah kamu." ucapnya. "Hah?" dahi Rey mengeryit kala mendengar jawaban gadis itu. "Udah di bandara?" "Yaudah, aku putar balik langsung ke bandara." ucap Rey final. Ia langsung memutar setir mobilnya menuju bandara. Lima belas menit berlalu, Rey sampai dan memarkirkan mobilnya diparkiran khusus karena ia akan menitipkan mobilnya di sini untuk waktu yang lama. Rey kemudian masuk seraya menarik sebuah koper dan sebuah tas yang ia tenteng. Mata Rey meneliti setiap sudut bandara, ia belum menemukan tanda-tanda dmana Nesya berada. Sedangkan dirinya sudah menjadi pusat perhatian para wanita yang mengagumi ketampanannya. Bahkan ada wanita yang terang-terangan memotret dirinya. Rey terus saja berjalan mencari Nesya tanpa memedulikan semua itu. "Sayang!" pekik seorang gadis yang sedang mengenakan hoodie putih dan celana jeans merah menyala. Rey mengernyitkan dahinya kala melihat penampilan gadis itu, dia adalah Anesya Jasmeen. "Kamu udah dari tadi, di sini?" tanya Rey. Nesya mengangguk riang. "Ternyata Bunda udah siapin kopernya. Terus aku buru-buru ke sini." Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "yaudah, check ini yuk." ajak Rey. Nesya mengangguk, mereka kemudian check in dan segera masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan terbang. "Rey!" panggil Nesya. "Hm?" sahut Rey. "Kamu kan supir, apa rasanya di supirin sama orang kayak sekarang?" tanya Nesya dengan wajah polosnya. Alis Rey terangkat satu. "Siapa yang supir?" Nesya dengan santai menunjuk wajah Rey seraya menyunggingkan senyum lebarnya. "Kamu, supir." "Aku bukan supir, Nes. Aku pilot, you know pilot." ujar Rey dengan malas. "Sama aja, sayang." "Beda, lah!" sentak Rey cepat. "Supir kerjaannya apa?" tanya Nesya. "Nyetir kendaraan." jawab Rey malas. "Pilot kerjaannya apa?" tanya Nesya lagi. "Nyetir pesawat." jawab Rey malas, lagi. "Pesawat itu kendaraan apa bukan?" "Ya." jawab Rey malas dan seketika matanya melebar setelah menyadari kesalahannya. Ia menelengkan kepalanya menatap Nesya yang tengah menahan tertawa. "So, what's the difference of supir and pilot? Sama-sama nyetir kendaraan, kan?" ungkap Nesya dengan senyum penuh kemenangan. Rey memutar bola matanya malas, kalau soal berdebat ia selalu kalah dengan Nesya. **** Setelah hampir 15 jam lebih mengudara, akhirnya pesawat yang ditumpangi Nesya dan Rey sampai di Bandara John F. Kennedy, New York. Mata Nesya berbinar kala melihat pemandangan di sekelilingnya. Apa lagi banyak bule ganteng yang berkeliaran di sini. Nesya adalah cewek normal, wajar saja kalau mata menangkap lelaki tampan ia akan menoleh. "Ekhem!" tegur Rey seraya menatap Nesya tajam, ia melipat tangannya didepan d**a. Nesya menoleh dan mendapati tatapan mengerikan Rey, Nesya menyunggigkan cengiran lebanya. "He he." Rey memutar bola matanya malas. "Aku baru tau, mata kamu jelalatan." Nesya mengangguk setuju. "Iya, aku juga baru sadar. Biasanya aku cuman mandangin para suami aku."  Rey mengerutkan dahinya. "Suami kamu?" tanyanya. Nesya mengangguk lagi, kali ini lebih bersemangat dari yang tadi. "Iya, Anesya Mendes Rios  Dallas Lachowski Malik. Ada lima." ucapnya seraya mengacungkan lima jarinya didepan wajah Rey. "Mimpi." ujar Rey datar seraya menoyor kepala Nesya, ia langsung berjalan duluan meninggalkan gadis itu. "Lah! Kok Nesya di tinggal!" teriak Nesya. Ia segera belari menyusul Rey yang hampir hilang dari pandangannya. "Rey! Nesya takut di culik om-om genit!" ***** N esya berjalan di belakang Rey seraya mengerucutkan bibirnya, bagaimana tidak? Daritadi lelaki itu terus mengabaikannya, kan hati Nesya jadi sakit. Rasanya kayak di tikam seribu jarum, disayat pisau tertajam, dibuang kedasar lautan, sakit. Lebay. Sehabis check in di hotel, Rey langsung keluar tanpa mengajak Nesya. Untung saja Nesya melihat cowok itu saat ia masih belum jauh, jadi, ia sempat menyusul Rey. Sayang, perjuangannya sia-sia. Bukannya berjalan seraya bergandengan tangan seperti pasangan romantis lainnya, mereka malah berjalan beriringan. "Rey!" pekik Nesya kesal, ia sudah lelah berjalan mengikuti lelaki itu. Langkah mereka terhenti di Zebra Cross dengan banyak orang lalu lalang diatasnya, Rey berbalik dan menatap Nesya seraya tersenyum tipis, saking tipisnya tidak ada yang menyadari kalau lelaki itu sedang tersenyum. Nesya sempat termagu sebentar, lalu ia tersadar dan segera menghampiri lelaki itu. "Kamu, kenapa sih!" kesalnya. Bukannya menjawab, Rey malah terkekeh geli. Nesya semakin gondok dengan calon suaminya itu, gantian, sekarang Nesya yang ngambek dan jalan duluan meninggalkan Rey. "Gak jelas banget sih! Kadang ketawa, kadang marah-marah, kadang diem, kadang romantis." gerutunya. Nesya terus berjalan entah kemana, sampai ia tidak sadar, bahwa Rey tidak ada dibelakangnya. Merasa seperti orang gila karena berbicara sendirian, Nesya membalikkan tubuhnya ke belakang. Meneliti semua orang yang ada dibelakangnya, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya kala ia sadar bahwa Rey tidak ada dibelakangnya. Nesya mulai menggigiti kuku-kuku jarinya, ia panik karena tidak tahu ini dimana. Rasanya ia juga tidak membawa uang sepeser pun, bagaimana ia bisa menumpang taxi untuk kembali ke hotel? Nesya mengeluarkan benda pipih berwana rosegold dari kantong celananya, ia mencari-cari kontak Rey. Namun, ia lupa kalau selama disini mereka menggunakan nomor baru. Dan, Nesya tidak mempunyai nomor Rey. Nesya menepuk jidatnya dan merutuki kebodohannya. "Kalo tau ujungnya begini, mendingan gue diem dikamar aja!" Tidak punya pilihan, Nesya kembali ke jalan yang ia lalui tadi. Dengan ingatannya yang kuat, gadis itu berjalan terus sampai ia kembali ke hotel tempat ia dan Rey menginap. Sekitar satu jam untuk Nesya berjalan kembali  ke hotel, tadi saat ia mengikuti Rey rasanya tidak selama itu. Mungkin karena ia tidak sadar berjalan sejauh itu Nesya tersenyum bahagia saat melihat tempat yang ia cari sudah berada dihadapannya. Dengan sisa tenaganya gadis itu segera masuk, dan menaikki lift untuk spai ke kamarnyabyang berada di lantai 5. Saat ia membuka pintu kamarnya, Nesya bingung karena lampu di kamarnya mati. Rasanya tadi ia tidak mematikan lampu. Nesya menggedikan bahunya, dan berjalan mencari tombol lampu yang terletak didekat kasurnya. "Manasih!" gerutunya seraya meraba-raba tembok dihadapannya. Tangan Nesya kemudian menyentuh sesuatu yang ia yakini sebagai tombol lampu, dengan cepat, gadis itu langsung menekannya dan kamarnya yang gelap langsung terang seketika. Mata Nesya membulat, kala ia menatap apa yang berada diatas  kasurnya. Tiba-tiba, Rey muncul dari belakang. Ditangannya terdapat sebuah kue yang ditancapi lilin angka 23.  "Happy Birthday, darling" ----------------------------------------------------------------- Hai! Gimana? Baper tidakkkkk  hehehe Next? Jangan lupa Komen dan vote yaaaaaaaa  Rara cantika
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN