17

1017 Kata
"Happy birthday, darling." Rey menghampiri Nesya seraya menyodorkan kue ulang tahun yang ia bawa, dengan gerakan matanya Rey menyuruh Nesya untuk meniup lilin itu. Nesya paham dengan bahasa tubuh Rey, ia memejamkan matanya sebentar, meminta permohonan dan meniup lilinnya. "Thank you, sayang! Bahkan aku lupa kalau aku ulang tahun, hehe." ujar Nesya seraya terkekeh pelan. Rey mengangguk dan meletakkan kue itu diatas nakas, ia berjalan ke kasur dan mengambil sesuatu yang tersembunyi dibelakang bantal. Rey kemudian memberikan buket bunga itu kepada Nesya. Saat Nesya ingin menyambutnya, Rey malah menyembunyikan lagi bunga itu dibalik punggungnya. "Loh?" dahi Nesya mengkerut karena bingung. Rey tersenyum tipis penuh arti, ia kemudian meraih tangan kanan Nesya. Lelaki itu berlutut dan mendongakan kepalanya seraya menatap wajah Nesya yang sudah memerah. "Kamu mau ngapain?" tanya Nesya gugup. Rey tidak menjawab, ia kembali menyodorkan bunga yang tadi. Nesya menyambut bunga itu dengan tangannya yang gemetaran. "Jangan gugup." kata Rey. Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dengan posisinya yang masih berlutut seraya menggenggam tangan kanan Nesya erat. Persis seperti posisi orang sedang melamar. Nesya mengangguk patuh. "Iya." Rey kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya, itu sebuah kotak cincin. Rey membuka kotak itu, dan menyodorkannya pada Nesya. "Nes, dari awal kita ketemu, 7tahun yang lalu, aku nggak suka banget sama kamu. Gadis bodoh, yang suka nangis sendirian. Tapi, kamu itu kutub utara dan aku kutub selatan, mau gimana pun aku dorong kamu menjauh, pasti yang terjadi malah saling tarik-menarik. Aku juga bingung, kenapa gadis kayak kamu yang terpilih buat jadi pendamping aku. Cowok batu dingin tapi pedas. Rasanya lucu. Aku nggak pandai berpuisi kayak Dilan, atau berjuang seperti Nathan. Tapi, ini caraku mencintai kamu. Aku bukan cowok romantis, walaupun aku manis. Dan, ini kali pertama aku kayak gini. Mungkin orang bakal ketawa kalau liat aku yang kayak gini, tapi aku nggak peduli. Waktu itu aku pernah lamar kamu, di ruang tamu, malam sabtu, dirumah kamu. Tanpa bunga, tanpa persiapan, tanpa cincin dan sebagainya. Sekarang, aku mau lengkapin semua itu. Jadi, aku mau ulang lamaran aku sekali lagi, walaupun jawabannya tetap sama. Tapi, semoga ini menjadi momen ulang tahun terbaik untuk kamu, ya. Anesya Jasmeen, for the second and last. Will you marry me?" Nesya menutup mulutnya tidak percaya, airmata bahagianya mengalir dengan derasnya. Gadis itu menganggukan kepalanya, pertanda ia menyetujui ajakan Rey. "Yes!"  Rey tersenyum bahagia, ia memasangkan cincin emas putih berhiaskan berlian itu di jari manis Nesya. "I Love you!"  "I Love you, more." balas Nesya. Rey kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya.  **** "Odannn!" pekik Tiara, suara cemprengnya menggelegar ke seluruh rumah Jordan yang sangat besar itu. "Mana, sih!" gerutu Tiara. Sudah setengah jam ia berkeliling mencari kekasihnya itu, kakinya sudah pegal karena menyusuri rumah Jordan yang sangat besar bak istana ini. Rasanya Tiara ingin menenggelamkan lelaki itu ke lautan atlantis. Suaranya sudah hampir habis karena terus berteriak, lebih melelahkan karena dirumah ini sedang tidak ada orang, hanya ada Jordan namun Tiara tidak tau dimana lelaki itu berada. Tiara menghentakkan kakinya kesal, lalu mebalikan tubuhnya dan seketika ia memekik kaget, karena Jordan sudah berada di belakangnya. Kesal, Tiara memukul keras pundak kekasihnya itu. "Dasar hantu! Ilang tiba-tiba, muncul tidak di duga."  Jordan nyengir lebar, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Hantu mana ada yang cakep kayak aku." ucapnya. Tiara memutar bola matanya malas. "Terserah kamu, lah." Jordan tertawa melihat wajah bete Tiara, ia mengusap lembut puncak kepala gadisnya itu. "Kamu kenapa nyariin aku?"  Awalnya Tiara bete, namun ia ingat tujuan awalnya datang ke sini. Seketika raut wajah kesal gadis itu berubah menjadi cerah. "By, kamu inget nggak sekarang hari apa?" tanya Tiara dengan senyum sumringahnya. Jordan memutar bola matanya keatas, seperti memikirkan sesuatu. "Hari Minggu, kan?" jawabnya lantang. "Ish!" Tiara menonjok bahu Jordan kesal. "Bukan itu! Kamu nggat inget, ini hari apa?" "Ini hari Minggu, kan? Apasih yang salah?" tanya Jordan kesal. "Coba kamu inget-inget, sekarang hari apa! Bukan hari Minggu biasa, inituh hari istimewa. Masa kamu lupa?" Jordan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh!" serunya seraya menjentikkan jari telunjuk dan tengah ke udara. "Hari ini aku ada meeting! Makasih ya sayang, udah diingetin. Aku pergi dulu, bye!"  Kemudian, cowok berperawkan tinggi semampai itu langsung melengos pergi entah kemana. Meninggalkan Tiara yang geram dan siap untuk meledak. "JORDANNN!"  ***** "HAHAHA!" Nesya tertawa sekencang-kencangnya mendengarkan cerita adiknya. Bahkan ia tidak menghiraukan Rey yang terus-terusan cemberut karena sudah hampir 2jam Nesya bertelfon ria dengan kembarannya. Nesya melirik Rey yang sedang rebahan di sofa seraya menekuk wajahnya, ia tersenyum samar. "Ra, bentar." ucapnya seraya menjauhkan ponselny. "Rey!" teriak Nesya dan Rey langsung menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban. Nesya kemudian mengayun-ayunkan tangannya ke udara, membuat gesture mengusir. "Balik ke kamar kamu sana, Rey. Udah malem, kalo kamu ketiduran disini, ntar ribet. Belum sah." suruh Nesya. Rey berdecak kesal, dengan berat hati ia berjalan keluar kamar Nesya. Kembali ke kamarnya, untuk istirahat karena masih banyak tempat yang akan mereka kunjungi besok. Setelah Rey benar-benar pergi, Nesya kembali menempelkan benda pipih berwarna rosegold itu ke telinga kanannya. "Lanjutin, Ra." "Iya kak, tadikan aku bete banget gara-gara dia lupa ini ulang tahun aku. Terus dia langsung pergi ke tempat meeting kan, habis itu dia telfon katanya laptonya ketinggalan. Dia minta anterin laptopnya ke kantor, ya udah aku anterin. Ternyata, dia kasih kejutan di dalam ruang kerjanya. Aku spechless banget, ruang kerja dia di hiasin bunga sama balon. Ya ampun, kakk. Tiara kira Jordan lupa, ternyata dia sengaja. Dia juga lamar aku, kak!" pekik Tiara dari sebrang sana, nadanya terdengar heboh dan sangat senang. Nesya ikut tersenyum bahagia karena adiknya juga bahagia. "Ah, kakak senang banget. Kayaknya ini best 23th birthday kita, ya. Di kasih kejutan dan di lamar. Rasanya, udah nggak ada lagi yang mau aku minta sama Tuhan. Aku udah punya orang-orang yang sayang sama aku, keluarga yang lengkap. Semoga setelah ini, nggak ada masalah lagi." Tiara tersenyum walaupun tidak bisa Nesya lihat. "Iya, kak. Kalau ada yang berani gangguin keluarga kita lagi, siap-siap aja berurusan sama Tiara." ujarnya angkuh seraya terkekeh pelan. ------------------------------------------------------- Hai! Miss me? I think not, wkwk. Maaf keun part ini rada kurang sreg :). Tapi insyaallah hari ini bakalan double update. Tungguin aku, ya! ®©
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN